
JIWA POSESIF YANG MERONTAH
Apapun masalahmu maka bicarakanlah baik baik sebelum
mengambil keputusan, jangan biarkan orang lain mengambil kebagahiaanmu dan
jangan biarkan kecemburuan menyelimuti hatimu
Setelah beberapa hari di rawat kini Dira sudah di
bolehkan untuk pulang. Kini seluruh keluarga tengah sibuk untuk menyambut
kedatangan Dira. Kedua ayah dari Dira dan Diego terlalu sibuk untuk mendekorasi
ruangan tamu untuk menyambut kedatangan putri dan juga menantunya. Meskipun
terlihat kompak mendekorasi ruangan tersebut, tak ayal jika mereka akan
melakukan perdebatan kecil demi mendapatkan sebuah dekorasi yang sempurna ya
meskipun itu tentu saja bisa dilakukan oleh seluruh pelayan tetapi mereka tetap
kekeh untuk mengerjakannya tanpa bantuan dari siapapun.
Sementara itu kita beralih menuju ke para ibu ibu yang
kini tengah sibuk menyiapkan makanan berat dan juga beberapa makanan ringan
untuk menyambut putri dan juga menantu dari mereka. Para ibu ibu kini terlihat
kompak dengan di selingi beberapa perbincangan yang membuat keduanya bisa
saling tersenyum.
# di rumah sakit
Kini Dira berdiri di dekat jendela besar yang mengarah
langsung ke jalan raya, Dira melihat padatnya kendaraan yang sedang saling
bersahut sahutan membunyikan kelaksok kendaraan mereka yang sudah tidak sabar
ingin menggiring roda kendaraan mereka menuju ke tempat tujuan dira terus
menatap keluar yang entah apa yang sedang di pikirkannya hingga tanpa ia sadari
kini Diego sudah memeluknya dari belakang
“bagaimana sayang? Apa sekarang sudah siap untuk
pulang ke ruma kita?” tanya Diego tanpa melepaskan pelukannya kepada istrinya.
Sementara itu Dira yang sedang ditanyapun hanya menganggukan kepala saja
pertanda jika dia sudah siap.
Kini Diego membalikkan badan istrinya untuk
menghadapnya
“sayang kamu harus janji, jika ada hal yang mengganjal
pikiran dan perasaanmu tentang diriku maka kamu harus membicarakannya denganku
karena aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali”
“maafkan aku sayang, aku benar benar di butakan dengan
kecemburuanku”
Melihat mata istrinya yang akan menitikkan butiran
kristal dari ujung matanya membuat Diego menarik Dira kedalam pelukannya
__ADS_1
sebagai pertanda bahwa ini bukan kesalahan dirinya semata.
“bagaimana, apa sekarang sudah bisa beranjak dari
ruangan yang terlihat membosankan ini sayang,”
“tentu saja”
Diego kini langsung menggandeng tangan istrinya untuk
melangkahkan kaki keluar dari ruangan yang kini menurut diego bahwa ruangan
yang terlihat membosankan.
“tunggu dulu sayang bagaimana dengan obat yang harus
di tebus di apotek rumah sakit dan juga barang barangku itu” tanya Dira
menghentikan langkahnya.
“jangan pikirkan itu sayang nanti akan ada riko yang
mengurus semuanya sekarang kita hanya perlu berjalan kaki dan keluar dari
bangunan yang penih dengan aroma yang tidak mengenakkan hidungku ini sayang.”
Jawab Diego dengan sedikit watak angkunya yang iya tonjolkan.
“hemm sepertinya es dari kutub hatiku ini belum
meleleh seutuhnya hingga menampilkan watak angkuh dan juga sombongnya sekarang
ini.” Dira menggelengkan kepalanya mendengar ke angkuhan suaminya itu.
“tenang saja sayang jika di depanmu maka kutub es ini
akan meleleh”
“hmmm” Dira hanya mendesah.
ingin agar aku menggendongmu sampai keluar”
“kamu yakin akan menggendongku tanpa harus memerintah
Riko si asistenmu itu”
“ heyy jaga ucapan mu sayang jika itu berkaitan dengan
dirimu maka aku tidak akan membiarkan siapapun laki laki itu akan menyentuhmu
jika sampai hal itu terjadi maka yakinlah bahwa besok dia sudah tidak bisa lagi
menikmati alam yang di ciptakan Tuhan ini.”
“hmm sepertinya jiwa posesifmu meronta lagi dalam
pikiranmu” ucap Dira yang kemudian melanjutkan langkahnya.
# di rumah diego
Setelah sampai di rumah, kini diego membukakan pintu
mobil untuk sang istri dan kemudian berjalan masuk dan ....
“selamat datang kembali sayang” ucap semua orang yang
kini menyambut kedatangan Dira.
“selamat datang Dira sayang” ucap Lily yang sengaja
datang menyambut kedatangan sahabatnya itu.
“selamat datang nyonya muda” ucap para pelayan yang
__ADS_1
kini bekerja di rumah Diego.
Satu persati orang datang untuk memeluk Dira namun
pada saat akan makan tiba tiba Dimas datang dan hendak langsung masuk ke ruang
makan namun naasnya Lily yang sedang ingin keluar sebentar untuk mencarger
ponselnya di ruang tamupun malah menabrak tubuh tegap Dimas...
“maafkan saya Tuan” ucap Lili menundukkan kepalanya
“jalan pake mata dong jangan pake tangan” sarkas Dimas
“lah mata tidak di pake untuk jalan Tuan melainkan
untuk melihat dan lagi tadi saya jalan pake kaki ya bukan pake tangan” ucap
Lili membalas ucapan sarkas dari Dimas
“jelas jelas udah salah malah ngejawab lagi”
“ ya jelas saya jawab untuk meluruskan perkataan tuan”
“hey kalian jangan berdebat begitu di jalan kalian
menghalangi langkah istriku” ucap Diego yang melihat perdebatan antara Dimas
dan Lily
“diam kau” ucap keduanya serempak tanpa mengalihkan
pandangannya
“hey ini rumahku kenapa aku yang di marahi” ucap Diego
tak terima
“ ku bilang Diam” ucap keduanya tambah sinis dan
melihat Diego dengan tatapan membunuh dari keduanya.
“hey kenapa kalian menatapku seperti itu, minggir
kalian” ucap Diego yang kemudian mendorong bahu Dimas agar mereka dapat
berjalan memasuki ruang makan.
“dan lahi jangan seperti itu bisa jadi kalian akan
berjodoh nantinya” ucap Diego kembali melangkah dengan di iringi tawa yang
menggelegar sementara Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka
bertiga.
<><><><>
Jangan lupa untuk tetap
meninggalkan jejak berupa like dan juga komentarnya teman-teman dan jangan lupa
juga untuk memberikan dukungan pada karya ini beri rating bintang lima ya kakak kakak.
Untuk bisa lebih mengenal
author bisa juga ya langsung follow IG author
@viki.amalia.351
Terima kasih sudah mampir
Salam sayang
__ADS_1
V A SYA