
Sial.. Wajahku terus saja memerah mengingat ciuman tadi. Padahal ini bukan yg pertama kali bagiku dengannya, tapi tetap saja aku tak bisa menyembunyikan rona malu dipipiku ini.
Saat ini aku sedang menemani Kenzo berkunjung ke beberapa storenya. Memeriksa semua sarana prasarana juga produk yg ada disana. Sebenarnya ini bukanlah tugas seorang direktur. Namun entah mengapa ia tetap bersikukuh ingin datang dan memeriksanya secara langsung.
Tak ku sangka diusianya yg masih muda ia bisa memimpin perusahaan sebesar ini, bahkan ia berencana membuka store baru lagi di pinggiran kota, ia ingin semua masyarakat bisa mendapatkan barang yg terbaik dengan harga yg masih terjangkau.
Kunjungan kami berakhir jam 7 malam. Benar2 hari yg melelahkan pikirku. Ku kira dihari terakhirku aku bisa merasakan sedikit waktu luang, tapi ternyata tidak, Kenzo malah membuatku sangat sibuk seharian ini.
"Di hari terakhirmu ini apa kamu tidak ingin memberiku sesuatu untuk kenang2 an?". Ucap Kenzo menatapku dengan senyum smirknya.
Sudah sejam ini dia menahanku diruangannya dan tidak mengijinkanku pulang.
"Aku tidak punya apapun Ken. Aku hanya ingin berterima kasih karena sudah menerimaku magang disini dan bersikap baik padaku. Dan mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu lagi." Ucapku sambil menatapnya dan memberikan senyum termanisku.
Aku merasa bahagia pernah dekat dengannya, dicintainya. Tapi sepertinya kita tidak ditakdirkan bersama. Mau tidak mau aku harus menerima lamaran kak Alex, dengan begitu papa tidak akan merasa berhutang budi dan bersalah lagi dengan keluarga mereka.
__ADS_1
Mendengar kata terakhirku sontak membuat Kenzo tertegun, dia seperti tidak percaya dengan apa yg ku ucapkan. Karena tadi saat ia menciumku aku sama sekali tidak menolak, dan berpikir bahwa kita sudah bersama.
"Apa yg kamu katakan? Kamu ingin meninggalkanku?". Tanya Kenzo tak terima.
"Maaf, aku harus menerima lamaran itu Ken. Aku hanya ingin papa bahagia. Aku akan sedih jika harus melihatnya kembali terpuruk karena rasa bersalahnya." Ucapku sedikit parau, mencoba menahan tangisku agar tidak tumpah di depannya.
Ku lihat sorot matanya semakin tajam menatapku, aku tahu saat ini ia pasti sudah sangat marah dengan keputusanku. Tapi inilah yg harus aku lakukan, semua ini diluar kendaliku.
"Baiklah ini sudah larut, aku pulang ya.. Kamu juga pulanglah dan istirahat." Sahutku lagi dan segera pergi dari ruangan Ken.
Sesaat sebelum aku masuk kedalam mobilku, ada lengan kokoh yg menarikku kuat, membuatku jatuh dalam pelukannya. Dari aroma tubuhnya aku sudah tahu, dia Kenzo. Tak kusadari ternyata dia mengejarku.
"Apa kamu tidak percaya padaku? Bukankah sudah ku katakan aku akan memperjuangkanmu. Mengapa kau malah pergi??". Tanya Ken semakin erat memelukku.
__ADS_1
"Maaf Ken, aku harus. Bukan aku tak percaya padamu. Justru aku yg tidak percaya diri. Kamu pria yg hebat, banyak gadis yg akan mau denganmu. Aku merasa tidak pantas, lebih baik kita berjalan masing2 saja. Aku tak ingin mengecewakan orang tuaku." Jawabku.
"Kamu serius dengan ucapanmu? Kamu tidak ingin bersama denganku? Benar begitu?". Ucapnya lagi masih tidak percaya.
"Terima kasih ya untuk 3 bulan ini. Aku bahagia pernah dicintai olehmu."
"Selamat tinggal."
Maaf Ken maaf jika ini menyakitimu, aku berharap kau akan selalu bahagia meski tanpa aku.
"Tunggu!!! Dengarkan aku baik2 Keyra!! Jika kamu memilih pergi, jangan pernah sekalipun kau menampakkan dirimu lagi dihadapanku. Karena jika itu terjadi maka mulai saat itu juga aku akan membawamu dan tidak akan pernah melepaskanmu." Ancamnya setengah berteriak karena aku yg telah berlari menjauh.
Tenang saja Ken, aku pun takkan sanggup jika melihatmu lagi. Aku takut tak bisa menahan perasaanku bila didekatmu. Sekali lagi maafkan aku.
__ADS_1