
Kenzo pov
Jika saja aku tahu semua akan berakhir seperti ini, saat itu aku pasti akan benar2 menidurinya, membuat dia mengandung anakku dan terikat seumur hidup denganku.
Aku tak menyangka dia tega melakukan ini padaku, harusnya dia percaya bahwa aku akan benar2 memperjuangkan dia. Harusnya dia yakin dan kita akan berjuang bersama sama. Bukan malah pergi meninggalkanku seperti ini.
Aku sudah tak tahu lagi apa yg harus aku lakukan sekarang. Alasanku tersenyum, semangat, tertawa, sudah pergi jauh dariku.
Malam ini aku pulang begitu larut, sengaja menghindar dari keluargaku karena aku tak ingin mereka khawatir. Aku pulang dalam kondisi mabuk, yaa ini yg pertama kali.
Aku melampiaskan sakit hatiku dengan minum2. Sempat di club tadi aku menyewa ****** untuk menemaniku tidur malam ini, namun ketika aku menyentuhnya ada perasaan sakit, teringat kembali kala aku menyentuh Keyra yg sedang tidak sadar malam itu.
Hanya 3 bulan, waktu yg singkat untuk Keyra berhasil membuatku jatuh cinta. Setelah ia menjatuhkan aku sejatuh2nya, di pergi dan memilih menikah dengan orang lain.
Aku berjanji pada diriku sendiri, jika ia masih saja menampakkan dirinya didepanku, maka saat itu juga aku akan membawanya, tak akan melepaskannya seumur hidupku.
****
"Pagi semua.." Ku sapa orang tuaku juga adikku yg sudah menunggu di meja makan. Dengan senyuman manisku aku mencoba menyembunyikan raut sedihku pada mereka.
__ADS_1
"Pagi nak, kamu sedang sakit? kenapa pucat gitu?". Ucap mama yg sepertinya sadar dengan kondisiku.
"Tidak ma, hanya lelah. Aku berangkat dulu ya, ada yg lupa aku siapkan untuk meeting nanti siang." Kilahku segera beranjak menghindari mereka.
"Sarapan dulu!". Sahut papa.
"Iya kak sekalian tungguin Ara mau bareng." Ucap adikku.
"Ah tidak usah, nanti saja di kantor pa. Dan maaf Ra kamu berangkat sendiri saja ya, Kakak buru2."
"Baiklah, hati2 sayang. Jangan lupa sarapan."
****
"Pagi pak." Ucap Sarah sekertarisku. Dia sudah kembali dari cutinya dan melanjutkan pekerjaan yg sempat digantikan oleh Keyra.
Tanpa menjawab sapaannya aku masuk ke ruanganku dan mulai berkutat dengan pekerjaanku.
Tokk.. tokk.. tokk..
__ADS_1
"Masuk"
"Permisi pak ini bapak dapat undangan dari Carolina grup, putri mereka akan bertunangan sabtu depan." Ucap Sarah sopan sambil memberikan selembar kertas berwarna silver padaku.
"Baiklah terimakasih, kamu lanjutkan pekerjaanmu."
Ku buka perlahan kertas silver ditanganku ini, desainnya begitu indah dan cantik. Terukir nama Keyra dan Alex diatasnya. Hatiku rasanya benar2 sakit, ternyata dia benar2 melakukan apa yg diucapkannya kemarin. Kenapa dia tega memberiku undangan pertunangannya? Apa dia sengaja ingin membuatku semakin terpuruk?
Berbagai macam pikiran negatif telah merasuki otakku. Dia wanita yg berhasil membuatku jatuh cinta, kini menyiksaku dengan perlahan. Rasanya seperti mempermainkanku dengan sengaja.
Emosiku yg sudah sampai di ujung batasnya pun tumpah. Ku lampiaskan amarahku dengan melemparkan semua yg ada di depanku. Merusaknya dan menimbulkan keributan yg sampai terdengar hingga luar ruanganku.
Karena keributan yg ku buat, asisten dan sekertarisku panik dan bergegas menghampiriku di ruangan. Bisa ku lihat keterkejutan mereka, karena baru kali ini mereka melihatku marah membabi buta seperti ini.
"Maaf pak, apa yg terjadi?". Tanya asistenku gugup.
"Kalian keluarlah, aku sedang tidak ingin diganggu". Ucapku pelan sambil mencoba menahan amarahku.
"Tapi pak.."
__ADS_1
"KELUAR!!!." Teriakku, dan akhirnya mereka meninggalkanku sendiri, melampiaskan segala emosi dan rasa sakit yg sedang ku tanggung sendiri.