
🍁🍁🍁
Hiks ... hiks ...
Seorang gadis muda berusia sekitar sembilan tahun tampak menangis di sebuah makam, di sisinya terlihat gadis yang berusia lebih muda darinya hanya duduk melihat saja. Tidak ada guratan kesedihan atau air mata di wajahnya.
"Ayolah Hye rim Eonni, kita pulang juga. Appa dan Ahjuma sudah pulang dari tadi," gerutu gadis kecil itu kesal.
"Sebentar lagi," lirih gadis bernama Hye rim.
"Eonni tahu, semakin kau menangis ... maka Eomma akan menjadi lebih sedih di alam sana."
Gadis muda itu seketika menghentikan tangisannya, "Kau benar Sunny-ya! air mata ini hanya akan membuat Eomma sedih."
Gadis kecil bernama Sunny hanya tersenyum, ia menggandeng tangan Eonni-nya dan pergi dari pemakaman.
"Hye rim Eonni jangan sedih, ada aku yang akan menjagamu."
"Terima kasih. Kau memang adikku yang baik, Sunny-ya."
.
.
"Appa, kenapa membawa wanita ini ke rumah kita?! padahal Eomma baru saja di makamkan."
"Hye Rim-aa, jaga ucapanmu. Dia sekarang adalah eomma-mu, lagi pula ... sekarang dia sedang mengandung adikmu. Appa berharap kau bisa bersikap baik padanya!" perintah sang Appa.
"Dalam mimpi Appa saja!" bentak Hye rim sambil berlari meninggalkan sang Appa.
"Hye!!" teriak Tuan Cha emosi.
"Sudahlah, dia masih dalam suasana berkabung. Sulit juga akan menjelaskan, jadi lebih baik jangan terlalu keras padanya."
"Kau benar, ini juga salahku. Tapi dia tidak tahu jika aku menikahimu dua tahun lalu atas izin dari Sooyoung juga," ujar Tuan Cha sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Tanpa mereka tahu, Sunny mendengar percakapan itu. Sunny yang saat itu berusia tujuh tahun hanya bisa diam dan segera pergi, satu hal yang ia tahu, ia akan segera mendapatkan adik baru. Apakah ia harus membenci sang adik yang tidak bersalah?
.
.
Beberapa tahun kemudian.
Hari ini dikediaman Hann, sedang berlangsung sebuah pesta ulang tahun yang meriah. Tak banyak tamu yang hadir, hanya dari kalangan keluarga dan beberapa teman dekat saja. Semuanya tampak bergembira, tapi tidak yang memiliki acara malam ini, Hye rim tampak sedih dan tidak bersemangat.
Hye rim memandang tajam pada sekumpulan orang-orang yang ia kenali, diantaranya ada Sunny sang adik yang sedang bersama seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Ia tersenyum miris mengingat semua tak lagi sama, sekarang semua orang lebih perhatian pada bocah laki-laki itu, bahkan di hari ulang tahunnya sendiri ia di abaikan.
__ADS_1
"Noonaa ... mau kemana? kenapa tidak mau menemaniku bermain." Bocah laki-laki itu memandang dengan tatapan sendu.
"Pergilah, jangan ganggu aku!" perintah Hye rim pada Cha Doo Hae adik laki-lakinya yang baru berusia delapan tahun.
Hye rim pergi meninggalkan Doo Hae yang hampir menangis, bocah laki-laki itu keras kepala dan terus mengikuti Hye rim yang berjalan menuju kolam renang. Doo Hae yang melihat air begitu banyak merasa senang, ia tidak lagi mengikuti sang kakak, melainkan malah berjongkok di sisi kolam dan bermain air.
"Kenapa malah bermain air di sini? dari tadi aku mencarimu Hae-aa," ujar Sunny yang tiba-tiba saja muncul. "Ada Eonni juga ternyata." Tambahnya sambil tersenyum pada sang kakak.
"Sunny Noona! lihat ... airnya sangat banyak," ucap Doo Hae antusias.
"Awas hati-hati Hae-aa, licin-"
Byuuuur ...
Belum selesai Sunny berkata, Doo Hae sudah lebih dulu jatuh ke dalam kolam renang.
"Hae-aa!!" teriak Sunny panik.
Byuuuur ...
Hye rim dengan gaun ulang tahunnya yang indah melompat ke kolam untuk menyelamatkan Doo Hae yang tidak tampak di permukaan.
"Eonni ...," lirih Sunny di tepi kolam. gadis cantik itu tidak bisa berenang. Hanya Hye rim yang handal jika di dalam air.
Fuuuahh ...
"Ada apa ini?" tanya Tuan Hann yang baru tiba tiba bersama sang istri karena mendengar teriakan Sunny.
"Ya ampun, Hae-aa!" seru Nyonya Hann histeris melihat putranya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Cepat bantu Hye rim mengangkat Doo Hae!" perintah Tuan Hann.
Hye rim menatap tangan yang terulur untuk membantunya naik, terlihat wajah khawatir sang Appa. Tapi ia mengabaikannya, ia keluar sendiri dari kolam dan berjalan perlahan meninggalkan semua yang kini menatapnya dengan berbagai ekspresi.
"Sunny, cepat temani Eonni-mu." Nyonya Hann mendorong pelan punggung Sunny agar ia mengikuti langkah Hye rim.
Di antara kerumunan orang-orang yang mengelilingi Doo Hae yang terbaring, tampak seseorang menatap punggung Hye rim tajam. Seseorang itu menggeram pelan karena gadis yang ia anggap musuh masih saja lolos. Cara apa lagi yang harus ia gunakan agar bisa menyingkirkan putri sulung keluarga Hann.
.
.
Sejak kejadian Doo Hae jatuh ke kolam renang, Hye rim tidak lagi membenci adik laki-lakinya. Bahkan sering ia mengajari bocah lelakinya yang kini berusia lima belas tahun itu untuk berenang, tidak hanya Doo Hae, Sunny juga diajari hingga kini gadis itu mahir dalam berenang.
Kini Hye rim tak lagi menjaga jarak dari keluarganya, kecurigaan terhadap ibu tirinya selama ini tak terbukti. Ia sadar selama ini ia hanya dibutakan oleh kemarahan, karena sang Appa yang tidak bisa setia. Tuan Hann juga merasa bahagia karena ke empat anaknya bisa akur seperti sekarang, ya empat karena beberapa tahun yang lalu Nyonya Hann telah melahirkan lagi anak laki-laki, Cha Chanyeol.
"Hei ... kalian bertiga di sini rupanya." Tuan Cha muncul sambil membawa sesuatu.
__ADS_1
"Apa itu Appa!" teriak Doo Hae dari tengah kolam.
"Hadiah untuk Eonni-mu," kata tuan Cha sambil duduk di kursi.
"Untukku?" tanya Sunny sambil menepi.
"Bukan, ini untuk Hye rim." Tuan Cha tersenyum pada putri sulungnya.
"Benarkah untukku Appa?" tanya Hye rim riang.
Tuan Cha hanya mengangguk merespon pertanyaan dari gadis cantik itu, Hye rim kini tumbuh menjadi gadis yang cantik. Hari ini adalah ulang tahunnya yang dua puluh tiga tahun.
"Appa tidak adil!" seru Sunny sambil cemberut.
"Kenapa berkata seperti itu? Appa selalu memberikan hadiah di setiap anak-anaknya ulang tahun," ujar Hye rim sambil mengambil bungkusan berupa paper bag.
"Tapi Eonni-"
"Pakaian apa ini Appa?!" tanya Hye rim penasaran.
"Itu gaun pertama yang mendiang Eomma-mu buat dulu. Selama ini Eomma Rin yang menjaganya, mendiang Eomma ingin gaun ini diserahkan saat ulang tahunmu yang ke 23 tahun." Hye rim yang mendengar hanya bisa menitikkan air mata haru.
"Tapi Appa, ini adalah gaun pernikahan. Sedangkan aku belum memiliki kekasih apalagi calon suami," ujar Hye rim sendu.
"Kau bisa menyimpannya," ujar Tuan Hann bijak.
"Baiklah!" seru Hye rim riang.
"Sudah, sekarang kalian semua naik. kita makan siang di luar hari ini," kata Tuan Hann sambil beranjak dari kursi.
Hye rim hanya menatap punggung sang Appa yang menjauh, bahkan ia menghiraukan sapaan Sunny dan Doo Hae yang mengajaknya masuk. Ia masih terpaku sambil mendekap paper bag yang berisi gaun pernikahan yang katanya adalah buatan mendiang Eomma-nya.
🍁🍁🍁
"Oppa," panggil Tae hee.
"Hmm ... ada apa?" tanya Taehyung.
"Istirahatlah dulu, kau juga belum makan apa-apa sejak pagi ini."
"Dia juga belum makan sejak tiga bulan yang lalu," lirih Taehyung.
"Jangan begini oppa, Chaerin eonni tidak akan senang jika oppa sakit nantinya." Tae hee menarik tangan Taehyung agar mengikutinya.
Taehyung mengikuti Tae hee dengan terpaksa, sebenarnya ia tidak ingin beranjak meninggalkan Chaerin yang masih belum sadar. Saat itu, ia begitu terkejut saat mendengar suara tabrakan yang begitu kencang dan banyak orang yang mengelilingi seseorang yang tergeletak di jalan, ia tak mengira jika korban tabrak lari itu adalah Chaerin. Setelah dirawat beberapa hari, ia membawa sang istri pulang ke Korea untuk melanjutkan perawatan di Seoul. Hingga kini sudah tiga bulan, wanitanya masih belum sadar koma.
Tanpa Taehyung dan Tae hee sadari, tak lama setelah keduanya keluar dari kamar Taehyung, jemari Chaerin bergerak dan dengan perlahan kelopak matanya terbuka.
__ADS_1
"Hae-aa, Sunny-ya, k-kalian di mana? Aku haus sekali," lirih Chaerin setelah ia sadar sepenuhnya.