Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 8


__ADS_3

🍁🍁🍁


Kring ...


Kring ...


Kring ...


Jam weker berbunyi nyaring membuat gadis yang tengah tertidur itu terjaga, sambil menguap dan mata terpejam ia meraih benda berisik itu dengan meraba-raba nakas.


Kring ...


Kring ...


tik!


Jam itu berhasil di matikan.


"Masih gelap begini jam sialan itu sudah berisik!" seru gadis itu sambil kembali berbaring.


Tok!


Tok!


Tok!


Pintu kamarnya di ketuk keras, bahkan seperti ingin mendobrak saja. Dengan malas gadis itu berjalan lunglai menghampiri hendak membuka pintu yang ia yakini sebentar lagi akan terlepas dari engselnya.


'Ceklek!'


"Aku harap kau memiliki kepentingan hingga menggangguku di hari libur ini, Park Jimin pabo!"


"Yaaak!!! gadis pemalas~ seharusnya kau berterimakasih padaku selaku Oppa-mu yang sudah sudi membangun babi gendut tukang tidur sepertimu!" hardik Jimin sambil berlalu.


"Yaaakkk pendek!! kau hanya tua 5 menit dariku dan itu tidak berarti kau adalah oppa-ku," sahut gadis itu berteriak keras hingga menyebabkan seisi rumah mendengar suaranya.


"Ada apa ini pagi-pagi sudah bertengkar?!" hardik Tuan Park yang mendatangi asal keributan.


"Dia memulai lebih dulu Appa!" pekik gadis itu.


"Aku?! kenapa menyalahkan aku? Aku hanya membangunkannya Appa," sahut Jimin acuh.


"Ckckck ... kalian ini cuma berdua tapi ributnya seperti satu pasar!" hardik Tuan Park lagi kepada kedua anaknya.


Tuan Park meninggalkan lantai dua dengan kesal, pasalnya setiap hari ada saja yang menjadi bahan keributan kedua anak kembarnya itu.


"Lihat! karena kau Appa marah padaku," sinis Jimin sambil mengikuti sang Appa.


"Huhh ... kau memang salah dan pantas Appa memarahimu!" teriak gadis itu lagi.


"Park Jira~ jaga sikapmu itu, kau seorang gadis jika kau lupa itu." Nyonya Park menegur dengan kembali berteriak pada putrinya saat ia mendengar suara lengkingan sang putri dari lantai atas.


"Kau juga sama saja yeobo ... Kita mengikutimu yang suka berteriak padaku dulu bahkan hingga sekarang," keluh Tuan Park sambil memijat kepalanya pusing.


"Hehe ... maaf yeobo," sahut Nyonya Park.


"Eomma membawa pengaruh buruk," ejek Jimin yang sudah duduk di meja makan bersama sang Appa.

__ADS_1


"Diam kau! lebih baik cepat habiskan sarapanmu dan pergilah bekerja," ujar Nyonya Park sambil menatap tajam Jimin yang kini malah tersenyum padanya.


"Baiklah eomma-ku yang cantik," kata Jimin.


'Braakk!'


Suara pintu yang ditutup keras mengejutkan ketiga orang itu dan menyebabkan kekesalan Jimin dan beranjak hendak mendatangi Hira di kamarnya.


"Sudahlah Jimin, jangan hiraukan adikmu itu. Lebih baik cepat habiskan sarapanmu dan kita segera ke kantor," ucap Tuan Park.


"Hmm ... baiklah Appa," kata Jimin sambil kembali duduk.


"Bagaimana dengan proyek pembangunan yang bekerja sama dengan Kim enterprise?" tanya Tuan Park.


"Baik Appa, semua berjalan dengan lancar. Jangan khawatir semua dalam kondisi yang tidak mengecewakan,"


"Kau memang bisa di andalkan, lalu tentang perjodohan itu ... ku harap kau akan menerimanya," tutur Tuan Park hati-hati.


Jimin menghentikan kegiatannya yang sedang menikmati sarapan, ia memandang kosong ke arah sang Appa. Ia tidak tahu harus bagaimana, ia tidak ingin di jodohkan tapi ia juga tak bisa menolaknya karena tidak ingin mengecewakan orangtuanya.


"Aku~ terserah Appa saja," kata Jimin. "Aku sudah selesai," tambahnya lagi sambil beranjak.


Tuan Park tak menjawab, ia hanya melihat Jimin yang berjalan keluar. Ia tahu jika pemuda itu keberatan dengan perjodohan yang ia lakukan, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun. Karena ini adalah permintaan mendiang ibunya sebelum meninggal, yaitu menikahkan Jimin dengan cucu dari sahabatnya. Alhasil Tuan Park terpaksa menjodohkan sang putra, dan untung saja Jimin faham akan kondisinya dan tidak menolak perjodohan ini.


🍂🍂🍂


"Oppa~ kau tidak berniat membawa istrimu pergi bulan madu? pernikahan kalian sudah berjalan selama beberapa bulan dan kau masih saja dingin padanya," ujar Tae hee.


"Diamlah, itu bulam urusan anak kecil sepertimu." Taehyung berlalu dari hadapan Tae hee, tapi gadis itu tidak berhenti untuk membuat oppa-nya menyerah.


"Diamlah, oppa sekarang sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa meninggalkan kantor untuk saat ini." Taehyung membungkam Tae hee dalam sekejap.


Tae hee hanya memandang dalam diam kepergian Taehyung, ia menyeringai saat memikirkan sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


Tuutt ...


Tuutt ...


"Ada apa Hee-aa?" tanya sebuah suara dari seberang telfon.


"Ah ... oppa~ aku butuh bantuanmu."


"Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk adik kesayangan oppa hmm??"


Tae hee tersenyum senang mendengar perkataan seseorang tersebut.


.


.


"Untuk apa membawa pakaian sebanyak ini Hee-aa?" tanya Chaerin saat melihat Tae hee memasukkan banyak pakaian ke dalam koper.


"Kau akan menemaniku selama beberapa hari ke Australia, jika Taehyung oppa yang kau cemaskan ... itu tidak perlu," jawab Tae hee.


"Tapi aku-"


"Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, jadi jangan khawatir. Sekarang ayo kita pergi," potong Tae hee.

__ADS_1


Chaerin tidak bisa menolak saat Tae hee menariknya meninggalkan rumah dan menuju bandara. Ia khawatir Taehyung akan marah besar padanya, tapi ia juga tidak bisa menolak keinginan adik iparnya. Hingga akhirnya ia hanya pasrah ketika sudah berada di pesawat hingga akhirnya ia dan Tae hee sampai ditujuan dengan selamat.


Setelah menempuh perjalanan udara beberapa jam lamanya, Tae hee dan Chaerin tiba di Ausi dengan selamat. Sebuah mobil sport sudah menunggu keduanya ketika mereka keluar dari bandara. Tae hee mengeluarkan ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang, lagi.


Tuutt ...


Tuutt ...


Tuutt ...


"Haiiisss ... kemana seh dia sampai tidak mengangkat telfonku," gerutu Tae hee.


Chaerin hanya memperhatikan Tae hee tanpa berkata sepatah katapun. Ia mengikuti adik iparnya saat memasuki mobil yang telah tersedia untuk mereka. Sementara gadis itu masih sibuk dengan ponselnya.


Tuutt ...


Tuutt ...


"Ahh ... akhirnya~"


"Ada apa Tae hee-aa-"


"Aku dan Chaerin eonni sudah berada di Australia, kapan oppa akan membawa Taehyung oppa kemari?" tanya Tae hee tidak sabar dan memotong ucapan pemuda di seberang telfon.


"Kalau tidak ada kesulitan ... dua hari lagi kami akan tiba," sahut pemuda itu.


"Baiklah Jimin oppa, terimakasih banyak atas bantuanmu."


'Plip!'


Ponsel pun dimatikan.


"Siapa dia?" tanya Chaerin.


"Jimin oppa?" tanya Tae hee balik.


"Iya,"


"Dia sepupu kami, yang artinya dia sepupumu juga sekarang. Kau tenang saja Taehyung oppa tidak akan memarahimu jika ada Jimin oppa," sahut Tae hee tersenyum tulus.


"Aku belum pernah bertemu dengannya," ucap Chaerin.


Sepanjang perjalanan mereka berdua mengobrol, Chaerin merasa Tae hee sudah tidak menjaga jarak lagi dengannya. Bahkan gadis itu kini sudah bisa tertawa lepas ketika ada lelucon yang terlontar, hingga akhirnya merekapun tiba di hotel yang cukup mewah dengan arsitektur yang menganggumkan.


"Ini indah sekali~ selama ini aku hanya bisa berangan-angan mendatangi tempat seperti ini," ungkap Chaerin menganggumi keindahan hotel tersebut.


"Eonni, apa kau mengingat sesuatu tentang masa lalumu setelah kau sadar dari koma. Tae hee memandang Chaerin intens, sehingga gadis itu merasa risih.


"Aku tidak ingat apapun, saat aku sadar mereka mengatakan jika menemukanku terdampar di tepi laut. Setelah beberapa Minggu tinggal bersama mereka memintaku untuk menggantikan putrinya yang kabur saat pernikahan, dan sebagai rasa balas budi karena telah menyelamatkanku. Aku bersedia untuk menikahi oppa-mu," jelas Chaerin panjang-lebar.


"Terdampar di tepi laut?" tanya Tae hee setengah bergumam. "Mungkin Taehyung oppa bisa membantunya untuk mencari tahu tentang siapa dirinya dan masa lalunya," tambahnya.


"Kau mengatakan sesuatu Hee-aa?" tanya Chaerin yang mendengar Tae hee bergumam tidak jelas.


"Hehe ... tidak ada ... sebaiknya kita cepat ke kamar dan beristirahat." Tae hee menghindari dan memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


Chaerin hanya tersenyum dan mengikuti langkah riang Tae hee didepannya, ia merasa seperti pernah memiliki adik perempuan juga. Tapi itu bukan Tae hee yang jelas, gadis itu menggelengkan kepalanya untuk mengusir halusinasi yang sejenak mengganggunya. Ia merasa yakin jika suatu hari nanti ia akan bisa lepas dari masalah ini dan kembali berkumpul bersama keluarga kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2