Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 22


__ADS_3

🍁🍁🍁


Di kediaman Tuan Cha.


Jimin berhasil menemukan rumah calon mertuanya, ia segera membawa Sunny pulang pada keluarganya bukan tanpa sebab. ia ingin segera menikahi wanita cantik itu, Sunny yang tidak mengetahui jika keluarganya telah pindah le seoul benar-benar terkejut ketika melihat Appa-nya yang membuka pintu saat ia dan Jimin mendatangi sebuah rumah minimalis dari luar dan terlihat mewah begitu pintu itu terbuka.


"A-appa?!" seru Sunny ketika melihat pria paruh baya itu memeluknya tiba-tiba.


.


.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Nyonya Cha sambil meletakan nampan yang berisi air soda dingin dan beberap cookies, kemudian duduk di sisi Tuan Cha.


"Eomma! jangan tanya hal itu dulu," rengek Sunny dengan wajah yang sudah memerah.


"Secepatnya Ahjuma, setelah kedua orang tuaku kembali dari Brazil." Jimin meringis saat tanpa perasaan Sunny menginjak kakinya, tapi gadis itu malah tersenyum seolah tak berbuat salah.


"Itu bagus, semakin cepat semakin baik. Terlebih lagi selagi Sunny masih di sini, kalau dia hilang lagi mau ke mana kita mencarinya." Tuan Cha menyeringai sambil menatap anak gadisnya yang kini menatapnya kesal.


"Appa, kau malah menjelek-jelekkan anakmu sendiri. Nanti yang ada Jimin oppa akan kabur jika tahu aku selalu berprilaku tidak baik dan susah diatur," ujar Sunny.


"Itu tidak akan terjadi, Ahjusi. Sunny telah berjanji untuk setia padaku dan kami akan segera menikah karena permintaannya," ujar Jimin tersenyum simpul.


"Kapan aku mengatakan hal itu?" tanya Sunny berbisik, tapi yang lain bisa mendegarkan suaranya.


"Sudah-sudah kalian in-"


"Sunny Noonaa!" teriak seorang anak laki-laki sambil berlari memasuki rumah.


"Yeolie-aa," sahut Sunny sambil merentangkan kedua tanganya untuk memeluk sang adik.


"Aku merindukan Noona, apakah Hye rim Noona juga pulang?" tanya Chanyeol setelah melepaskan pelukannya. "Aku begitu merindukannya," lirihnya.


"Dia akan pulang, sabar saja aku pasti akan membawamu bertemu dengannya."

__ADS_1


"Kau janji ya, Noona? Aku akan menunggu hingga Hye rim noona ingin bertemu denganku," lirih Chanyeol.


"Kau tidak ingin mengenalkan aku pada calon adik iparku ini?" tanya Jimin yang kini berdiri di belakang Sunny.


"Ah ... d-dia,"


Chanyeol menatap Jimin dengan ekpresi yang menggemaskan, pipi chubinya terlihat menggembung karena kesal mendengar ucapan orang asing yang mengaku sebagai calon iparnya.


"Appa, Eomma, Ahjusi ini siapa? kenapa mengaku jika dia calon ...," ujar Chanyeol sambil menghampiri kedua orang tuanya. "Iparku," tambahnya.


Sementara Sunny sudah salah tingkah karena sikap Jimin yang seenaknya saja, dia harus menjelaskan apa pada bocah berusia tujuh tahun itu. Gadis itu mendengkus kesal sambil meninggalkan Jimin, ia menaiki tangga menuju lantai dua.


"Eomma, di atas ada kamar untukku, kan?" tanya Sunny saat ia tengah berada di anak tangga ketiga.


"Ya ada, di atas ada 4 kamar untuk putra-putri eomma. Masing-masing sudah memiliki nama tertera di pintunya," jawab Nyonya Cha. "Bawa calon suamimu untuk beristirahat juga, Sunny-ya."


"Dia tidak butuh lstirahat eomma, dia hebat dalam pertahanan fisik dan tidak mudah lelah." Sunny melanjutkan langkahnya tanpa sadar akan ucapanya yang membuat Tuan Cha menatap Jimin tajam.


"Kau bisa istirahat di kamar putraku dulu, Chan antarkan Hyung barumu ke kamar."


"Tidak perlu di antar, aku bisa sendiri. Terima kasih karena mengijinkanku untuk beristirahat," kata Jimin sambil menaiki tangga, ia mengejar Sunny dengan cepat.


"Appa, apa benar Ahjusi tadi akan menikah dengan Sunny noona?" tanya Chanyeol.


"Benar sayang, kau harus mendukung kakakmu demi kebahagiaannya. Paham maksud eomma, kan?" tanya Nyonya Cha sambil mengelus surai hitam sang putra.


"Iya, eomma tenang saja. Aku akan mendukung jika dia bisa membuat noona tertawa bahagia," sahut Chanyeol. Walau ia masih kecil, tapi memiliki pemikiran dewasa.


.


.


"Yaaak ... apa yang kau lakukan di kamarku, tuan Park?!" pekik Sunny ketika melihat Jimin telah berada di kamarnya, bahkan pemuda itu mengunci pintunya.


"Jangan berteriak Chagia, kau akan membuat mereka salah paham padaku. Lagi pula aku hanya ingin beristirahat saja," ucap jimin sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

__ADS_1


"Sebaiknya kau benar hanya ingin tidur, ingat kita belum menikah jadi-"


"Aku tahu, aku tak akan menyentuhmu sebelum hari pernikahan kita. Tapi jujur aku penasaran dengan kejadian saat kita berada di-"


"Jangan bahas lagi, kau menyebalkan."


"Tapi itu tidak adil untukku, kau bisa menikmati percintaan kita sementara aku tidak merasakan apa yang kau rasakan. Apa boleh jika aku sedikit mencobanya?" tanya Jimin sambil menatap Sunny intens.


"Dasar manusia mesum!" jerit Sunny kesal.


"Hehe ... jangan berisik chagi," ujar Jimin.


"Itu karena salahmu sendiri, kenapa jadi orang mesum sekali? tapi salahku karena telah menyukaimu," lirih Sunny di akhir ucapanya.


Gadis itu melirik ke arah ranjang, di mana pemuda yang berstatus tunangannya telah terlelap. Wajah tampannya tampak polos, tapi dia sangat mesum jika sedang bersama Sunny.


"Aku tak bisa membencimu, karena aku terlanjur mencintaimu sejak awal. Semoga aku tak salah menjatuhkan pilihan terhadapmu," gumam Sunny sambil ikut merebahkan tububnya di sisi Jimin dan tak lama ia pun terlelap.


🍁🍁🍁


"Kapan mereka berangkat ke Seoul?" tanya seorang pria murka.


"Sudah lebih dari sebulan," cicit gadis itu.


"Lalu kenapa kau masih di sini? bukankah kau kutugaskan untuk selalu mengawasi mereka!" bentak pria itu lagi.


"Maaf Tuan, tapi Tuan Cha tidak membawa saya serta. Alasannya adalah untuk melayani Tuan di sini," ujar gadis itu ketakutan.


"Aku tak butuh kau di sini, lebih baik kau cari cara bagaimana supaya mereka mengijinkanmu untuk menyusul dan tinggal bersama mereka lagi. Jika tidak ... kau akan tahu akibatnya!" ancam pria itu.


"Tapi Tuan, mereka mengatakan tidak membutuhkanku lagi. Tuan Cha bilang agar aku membalas kebaikanmu saja selama ini!" pekik gadis itu keras karena pria itu telah menjauh.


"Kalau begitu ... buat dirimu tak muncul lagi dihadapku! Aku tak ingin melihatmu berada di dunia ini lagi," ungkap pria itu pelan tapi menusuk hati.


"Tapi Tuan, selama ini aku sudah melakukan segalanya untukmu. Bahkan aku memberikan apapun yang kau minta termasuk tubuhku sebagai pemuas nafsumu, setidaknya kasihanilah aku dengan membiarkanku hidup."

__ADS_1


Pria itu berlalu begitu saja tanpa memperdulikan kondisi gadis itu, ia benar-benar iblis yang bersarang di badan manusia.


"Hyung ... kemanapun kau berlari untuk menghindariku, itu percuma. Karena aku akan selalu bisa menemukan jalan untuk membuatmu selalu tunduk padaku, kita akan segera kembali bertemu di Seoul, aku juga sudah merindukan kedua keponakanku yang cantik-cantik. Ah ... sudah saatnya aku mengambil Sunny untuk menjadi istriku, aku jadi tidak sabar." Pria itu menyeringai sadis dengan pemikirannya yang gila.


__ADS_2