Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part selanjutnya 17


__ADS_3

Gadis resepsionis itu segera menyerahkan kunci yang diminta oleh Sunny, setelah mendapatkan dan tahu kamarnya yang mana, gadis itu segera berlalu meninggalkan Jimin yang tersenyum di belakangnya. Ia masih tak menyadari jika ini adalah tak-tik dari pemuda itu yang ingin mereka satu kamar, bahkan ia telah bekerja sama dengan gadis resepsionis tadi. Sungguh akal bulus yang licik, seribu satu cara ia lakukan untuk bisa dekat dengan Sunny, walau harus memanipulasi dengan dalih pekerjaan.


***


Kamar luas ini terlihat berantakan, pakaian dan sepatu berserakan di lantai. Tampak dua sejoli masih terlelap saling berpelukan di bawah selimut dengan kondisi tubuh polos tanpa sehelai benangpun, walau


sinar matahari masuk melalui celah jendela dan menerangi kamar yang semula gelap, tapi hal itu tak mengusik keduanya.


Beberapa jam kemudian, salah satu dari dua sejoli itu terbangun. Rasa lelah dan sakit yang mendominasi, membuatnya meringis kala ia bergerak melepaskan diri dekapan pria yang memeluknya sepanjang malam. Ia sedikit melirik pria yang masih tertidur lelap, sekelebat kejadian tadi malam seketika muncul membuatnya semakin merasa sesak.


"Aku harus bagaimana terhadapmu sekarang, Presdir Park?" wanita itu bergumam pelan mempertanyakan hal yang tidak terjawab oleh pria yang masih betah merajut mimpi.


Kejadian tadi malam adalah petaka baginya, seharusnya ia bisa mengendalikan diri dan menolak, bukannya malah pasrah saat bos-nya menyentuh lebih jauh karena mabuk. Ya mabuk, saat keduanya sedang mencari makan malam di luar hotel tempat keduanya menginap. Jimin malah bertemu teman lamanya Kim Namjoon, mereka pergi bersama mengunjungi sebuah restoran high class yang membuat Sunny merasa dirinya tidak pantas untuk masuk ke tempat semewah ini. Sebuah kebetulan Pria bermarga Kim itu juga bersama wanitanya, awalnya mereka hanya makan malam bersama, tapi saat semakin larut para pria malah memesan minuman beralkohol tinggi. Untung saja pria Park itu mengijinkan Sunny untuk tidak ikut minum bersama, ternyata alasanya supaya diantara mereka masih ada yang sadar karena Jimin sendiri tidak kuat jika mengkonsumsi alkohol.


Benar saja, baru juga tiga gelas red wine Park Jimin sudah tumbang dan mabuk berat. Pria itu benar-benar tidak toleransi terhadap alchol, akhirnya setelah pamit pada Namjoon yang masih sadar walau sudah meminum beberapa gelas, Sunny membawa Jimin kembali ke hotel dengan susah payah. Tidak hanya itu, berkali-kali pria itu mengatakan jika ia merasa kecewa pada tunangannya yang telah melarikan diri dari pernikahannya. Mendengar hal itu, jujur Sunny merasa tersinggung karena dirinya melakukan hal yang sama dengan gadis yang berstatus tunangan dari pria Park tersebut. Entah kenapa ia merasa sangat membenci gadis itu, ia jadi memikirkan jika tunangannya juga mengalamai hal yang sama.


"Aku terlalu banyak berpikir, akh ... ini sakit sekali," lirih Sunny saat turun dari ranjang.


Sunny melangkah perlahan menuju kamar mandi, ia merasa harus segera membersihkan diri secepatnya. Ia berpikir akan lebih baik jika Jimin melupakan kejadian tadi malam, ia tak tahu harus berkata apa dan pasti akan merasa canggung jika ia ditanyai. Ia benar-benar ingin pergi untuk bersembunyi, tak hal itu tak mungkin ia lakukan.


.


.


.

__ADS_1


"Apakah kau sakit, kenapa wajahmu pucat?" tanya Jimin.


"Tidak, aku tidak-tidak apa."


"Apakah ... tadi malam terjadi hal-"


"Tidak ada! m-maksudku tidak ada hal aneh yang terjadi selain kau meninggalkan ini," ujar Sunny gugup sambil menunjuk bekas kissmark di lehernya.


"Apa kau yakin cuma itu?" tanya Jimin curiga.


Jimin merasa ada yang aneh saat bangun, selain terbangun dalam kondisi telanjang, ia juga menemukan bercak darah di ranjang. Tapi Sunny bersikeras mengatakan tidak terjadi hal selain meninggalkan cupang di lehernya, karena ia tertidur saat ingin melakukan hal lebih, ia merasa alasan gadis itu tidak masuk akal. Apalagi sekarang kondisi gadis yang duduk dihadapannya sekarang tampak tidak baik dan wajahnya juga pucat, pemuda itu yakin jika tadi malam telah terjadi sesuatu, tapi sialnya ia tidak bisa mengingat apapun.


"Baiklah, sebaiknya hari ini kau istirahat saja. Biar aku yang menemui klien sendiri," ujar Jimin.


"Turuti perintahku!" seru Jimin.


"Baiklah," sahut Sunny.


Cup!


Sunny tertegun ketika Jimin mengecup keningnya sekilas sebelum ia pergi, ia bahkan tidak sadar jika pemuda itu telah keluar dari kamar hotel jika tidak mendengar suara pintu yang tertutup.


"Apa dia mencurigai sesuatu? jangan-jangan dia ingat semuanya tentang tadi malam," lirih Sunny sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. "Sebaiknya aku tidur saja, tubuhku masih terasa sangat sakit."


★★★

__ADS_1


"Oppa, apakah hari ini aku sudah bisa kembali bekerja?" tanya Hye rim.


"Tidak! Aku masih mampu membiayai istriku hingga anak-anak kita kelak tanpa kau bekerja juga," ujar Taehyung sambil melanjutkan berpakaian.


"Sini, biar aku yang memasangkan dasi untukmu"


Taehyung tak menjawab, tapi ia berjalan mendekati sisi ranjang di mana Hye rim duduk dengan balutan selimut ditubuhnya. Ia menatap wajah cantik itu ketika serius menyimpulkan dasi di lehernya, tatapannya jatuh semakin ke bawah dan ia bisa melihatnya dengan jelas beberapa tanda kepemilikan yang ia tinggalkan tadi malam.


"Akh ... oppa, apa yang kau lakukan?" tanya Hye rim saat Taehyung malah mendorongnya hingga berbaring dengan dirinya berada di atas tubuh wanitanya.


"Kau tahu, aku sudah kecanduan terhadapmu. Aku rasa bermain sebentar tidak masalah," ucap Taehyung sambil melabuhkan bibirnya di atas permukaan bibir Hye rim yang masih terlihat sedikit membengkak.


"Ahh ... opp-hmmpp," desahan Hye rim teredam ciuman ketika ia hendak memprotes.


Taehyung melepas kembali dasi yang baru saja di pasangkan oleh istrinya, tak lama dirinya sudah full naked dan ia benar-benar menjamah tubuh indah yang semalaman telah ia nikmati. Hye rim hanya bisa pasrah berada di bawah kungkungan Taehyung dan kembali mendesah, suaminya begitu bergairah dan ia cukup kewalahan. Tapi ia merasa bahagia, pria itu sudah berubah dan kini ia merasa sangat bahagia.


"Kau tahu Hye ... aku sadar jika telah jatuh terlalu dalam padamu. Aaarghh, kau masih terasa sempit Chagia."


"Aaakhh oppa perlahan aahh," desah Hye rim ketika Taehyung memacu kejantanannya dengan tak terkendali.


Peluh telah membasahi tubuh keduanya, olah raga pagi ini benar-benar menguras tenaga kedua insan yang tengah memadu kasih. Bahkan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi, tidak diperdulikan. Bahkan Taehyung segera mematikan ponselnya dan kembali bergerak brutal, Hye rim merasakan nikmat yang luar biasa, tubuhnya bergetar hebat ketika ia akan mencapai klimaks dan sepertinya pria itu juga merasakan hal yang sama. Ia semakin mempercepat gerakan hingga membuat ranjang turut bergerak, berderit mengikuti setiap hentakan yang ia lakukan. Hingga akhirnya mereka mendapatkan klimaksnya dengan sempurna.


Napas masih memburu, Taehyung menatap wajah lelah wanitanya dan kemudian memberikan sebuah ciuman hangat sebagai penutup sesi bercinta pagi ini.


"Oppa mencintaimu, jadi ... mari kita bercerai hari ini Chaerin-aa."

__ADS_1


__ADS_2