
🍁🍁🍁
Cup!
Kali ini Tae hee yang dibuat terkejut, Doo hae menciumnya bahkan terasa jika bibirnya tengah dilumat pelan dan intens. Kekasihnya ini berbahaya, hanya dengan sebuah ciuman saja sudah membuat jantungnya berdebar. Pemuda itu tersenyum saat tahu jika gadisnya membalas ciumannya dengan sangat baik, mereka tidak perduli saat ini tengah berada di mana, mereka hanya perduli jika mereka saling mencintai.
Beberapa menit kemudian, bis pun berhenti di pemberhentian yang menjadi tujuan pasangan kekasih ini. Setelah memberikan ucapan terima kasih pada sang supir yang ternyata telah mengenal Doo hae, keduanya segera turun dari bis sambil bergandengan.
"Anak muda jaman sekarang, bikin iri saja." Supir bis bergumam saat melihat bagaimana Doo hee begitu perhatian pada kekasihnya, sementara Tae hee yang mendengarnya hanya bisa merona karena malu.
Setelah keduanya turun, bis itu melanjutkan perjalanannya. Tae hee ingin melepaskan genggaman jemari Doo hae yang sejak tadi bertautan dengan jemarinya. Ia merasa malu jika akan menjadi perhatian orang selama perjalanan mereka menuju ke rumahnya.
"Ada apa?" tanya Doo hee karena menyadari jika Tae hee menolak dirinya.
"Aku hanya malu jika menjadi pusat perhatian, apalagi jika oppaku sampai melihatnya ... aku harus menjawab apa."
Cha Doo hae hanya tersenyum simpul memahami perasaan kekasihnya, ia pun berhenti berusaha meraih jemari gadis itu. Tak lama sekarang dirinya yang di landa kegugupan karena kini keduanya telah sampai di kediaman Kim Tae hee, karena gadis itu memiliki kunci cadangan untuk memasuki rumah besar itu.
"Jangan gugup. Taehyung oppa tidak makan orang," canda Tae hee malah membuat pemuda itu semakin khawatir.
"Semoga saja oppa-mu menyukaiku," ujar Doo hae.
"Tentu saja, seandainya tidak pun, aku akan memaksanya untuk menerimamu."
"Siapa yang akan kau paksa, gadis nakal!" seru sebuah suara.
" Ah ... oppa hehehe."
Tae hee mengaruk kepalanya yang tak gatal, ia tak menyangka jika ucapanya malah didengar secara langsung oleh Taehyung. Sementara Doo Hae hanya menundukan sedikit tubuhnya saat pria yang ia kenal sebagai oppa dari gadis yang kini malah menggenggam tangannya.
"Siapa kamu?" tanya Taehyung.
"Dia Doo hae, kekasihku oppa."
"Aku tak bertanya padamu!" bentak Taehyung membuat dua muda-mudi itu bergetar ditempat.
"Maaf Hyung, namaku Cha Doo hae. Aku ...." Doo hae menggantungkan ucapannya karena ragu apakah ini akan berakhir baik, " Aku kekasih Tae hee." Doo hae meyakin hati bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini.
Taehyung hanya diam tanpa ekpresi, ia bergantian menatap keduanya dengan tatapan dingin.
"Tae oppa, di mana kau?" tanya sebuah suara yang sangat dikenali oleh Doo hae, pemuda itu terkejut tapi berusaha tetap tenang.
"Tae hee, nanti oppa ingin berbicara denganmu. Sekarang oppa akan menemui eonnimu dulu," ujar Taehyung sambil kembali menaiki tangga.
"Hyung tunggu! A-aku ingin melihat istrimu."
__ADS_1
Doo Hae mengabaikan tatapan tajam dari Taehyung dan penasaran dari Tae hee. Ia ingin menemui pemilik suara yang ia yakini adalah Noonanya yang hilang sejak beberapa bulan yang lalu.
"Oppa, ijin kami ikut."
.
.
Ceklek!
"Kenapa lama sekali oppa, aku kelaparan menunggumu kembali mengambilkan makanan untukku. Oh ... ada Tae hee ternyata dan-"
"Ternyata itu benar kau Noona!" seru Doo hae mendekati Hye rim yang terbelalak saat melihat kehadiran adik laki-lakinya di sini.
Hye rim turun dari ranjang dan segera memeluk tubuh pemuda itu erat, "Aku merindukanmu Hae-aa."
Taehyung dan Tae hee yang bingung hanya terdiam ditempat masing-masing.
"Hye rim Noona, kenalkan ini kekasihku. Aku rasa tidak perlu memperkenalkannya lebih lanjut karena kau pasti lebih mengenal dirinya," ujar Doo hae sambil menarik gadis itu yang kini malah menatap Hye rim dan Doo hae bergantian.
"Kalian saling mengenal?" tanya Taehyung.
"Tentu saja hyung, dia Noonaku yang hilang sejak ... aku lupa sejak kapan noona hilang. Yang jelas mendekati satu tahun, mungkin saja." Doo hae memasang wajah mode berpikir ala detektif amatiran
"Jadi kalian bersaudara?" tanya Tae hee akhirnya bersuara.
"Aku akan turun dan mengambil beberapa buah untuk Hye rim," ujar Taehyung sambil beranjak meninggalkan kamar.
"Noona, katakan padaku. Bagaimana bisa kau menikahi pria seperti itu, auch ... sakit chagia!" pekik Doo hae karena Tae hee mencubit pinggangnya.
"Pria yang kau maksud adalah oppa-ku, kalau kau lupa."
Doo hae tersenyum salah tingkah menghadapi kekasihnya yang tengah merajuk, sementara Hye rim hanya tersenyum menatap kedekatan kedua adiknya.
🍁🍁🍁
Sudah satu minggu Sunny bekerja di perusahaan Park kompany sebagai sekretaris utama presdir Park, ia baru tahu jika selain dirinya ternyata ada dua sekretaris lain yang memiliki tugas masing-masing.
Dirinya yang dipilih oleh Presdir Park untuk menduduki jabatan sekretaris utama, membuatnya kesulitan dalam lingkungan pekerjaan. Ia dianggap telah menggoda sang atasan sehingga mendapatkan posisi itu dengan mudah, bahkan kini dirinya di kucilkan dan tak jarang di bully oleh karyawan wanita lainnya yang juga tak menyukainya.
"Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Jimin saat ia melihat wajah Sunny yang biasanya ceria hari ini malah terlihat sebaliknya.
"Tidak ada apa-apa, Presdir Park. Aku baik-baik saja," jawab Sunny mencoba tersenyum.
"Kuharap kau berkata jujur," ujar Jimin.
__ADS_1
"Sekarang kita akan ke mana?" tanya Sunny.
"Ke Jeju, kita akan ada rapat di sana. Mungkin bisa sampai berhari-hari," kata Jimin santai. Tapi tidak dengan gadis itu, ia sangat terkejut bahkan ia tidak mengetahui perihal perjalanan bisnis yang akan ia lakukan selama beberapa hari kedepan.
"Tapi Presdir Park-"
"Kau bisa memanggil namaku jika kita hanya berdua, apakah kau melupakan perintahku?" potong Jimin sambil menatap lekat bola mata indah milik Sunny.
Cup!
Sunny terbelalak karena serangan mendadak yang ia dapatkan dari Jimin, ciuman pemuda itu terus berlanjut selama 10 menit.
"Hahh ... hahh ... kau-"
"Itu hukumanmu karena telah berkali-kali melanggar perintahku!" seru pemuda itu sambil menyeringai senang.
Sunny tak lagi beradu arguments dengan atasannya yang selalu ingin menang sendiri, ini memang bukan ciuman pertama yang terjadi diantara keduanya. Karena Jimin telah mengambil firstkiss Sunny sejak pertama ia bekerja, tapi entah kenapa gadis itu tak pernah melayangkan tangannya untuk sekedar memberi tamparan atas sikap kurang ajar sang Presdir tampan itu. Ia malah cenderung menyukai apa ia terima saat bekerja, yaitu hukuman berupa ciuman manis jika ia telah dianggap melakukan kesalahan versi sang atasan arogan yang sialnya sangat tampan di matanya.
"Kau memang memanfaatkan segala salahku untuk kesenanganmu, Tuan Park!" seru Sunny tanpa rasa takut. "Jangan coba untuk menciumku lagi, atau kau ingin wajah tampanmu itu berhiaskan beberapa warna biru."
"Wah ... kucingku sudah pandai mencakar rupanya. Tapi baiklah, sekarang aku tak akan menciummu ... tapi nanti aku akan langsung menidurimu begitu kita tiba di hotel."
"Oppa!" pekik Sunny kesal.
Itu adalah salah satu perintah wajib dari Jimin, agar Sunny memanggilnya dengan sebutan Oppa jika mereka diluar lingkungan kantor.
"Haha ... lihatlah wajah merahmu yang menggemaskan itu," goda Jimin.
"Diamlah, aku akan menelfon adikku dulu sebelum dia khawatir ketika tahu aku tidak pulang malam ini."
"Baiklah, aku akan diam sekarang."
Jimin hanya tersenyum saat mendengarkan perbincangan sekretarisnya dengan sang adik. Ia tidak merasa menyesal telah memiliki tunangan secantik dan semenarik Sunny, jika ia tidak bisa menahan diri, sudah sejak awal ia menarik gadis itu ke ranjangnya dan membuatnya mendesahkan namanya sepanjang malam. Memikirkannya saja sudah membuat sesuatu di bawah sana beraksi dan hal itu membuatnya merasa tak nyaman.
Beberapa jam kemudian, keduanya telah tiba di pulau Jeju. Kini Jimin tengah melakukan cek in untuk mendapatkan kamar mereka, ia yang menunggu di loby bisa melihat jika atasannya tengah berdebat dengan resepsionis. Ia pun segera menghampiri untuk tahu permasalahanya.
"Ada apa ini?"
"Maaf Sunny-ya, sepertinya kita harus mencari hotel lain saja."
"Kenapa begitu, Tu ah, maksud saya Oppa," ucap Sunny kikuk.
"Di sini kehabisan kamar kosong, hanya ada satu dan aku tahu kau pasti keberatan jika kita berbagi kamar. Maka sebaiknya-"
"Maaf Nona, serahkan saja kuncinya. Kami akan berbagi kamar," kata Sunny pada resepsionis.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya," sahut gadis yang bertugas mengatur cek in para tamu tersebut.
Gadis resepsionis itu segera menyerahkan kunci yang diminta oleh Sunny, setelah mendapatkan kunci dan tahu kamarnya yang mana, gadis itu segera berlalu meninggalkan Jimin yang tersenyum di belakangnya. Ia masih tak menyadari jika ini adalah tak-tik dari pemuda itu yang ingin mereka satu kamar, bahkan ia telah bekerja sama dengan gadis resepsionis tadi. Sungguh akal bulus yang licik, seribu satu cara ia lakukan untuk bisa dekat dengan Sunny, walau harus memanipulasi dengan dalih pekerjaan.