
"Kau marah? Aku minta maaf karena tidak memberitahumu tentang Immo lebih awal," ucap Jimin.
Sunny menepis tangan Jimin yang hendak memeluknya, "Terserah kau saja oppa, toh aku tak berarti apa-apa. Sehingga kau dengan mudah melupakan sesuatu termasuk tentang keluargamu."
"Jangan pernah mengatakan hal itu! Kau tahu ... bagiku kau sangat berarti dan begitu penting," timpal Jimin sambil mencengkram kedua bahu gadis itu.
"L-lepaskan, terlalu erat dan kau menyakitiku."
Jimin tersentak saat melihat air mata mengalir di wajah cantik Sunny, ia sadar jika telah berlaku kasar dan segera melepaskan cengkeramannya. Ia pun segera memeluk tubuh Sunny erat tapi tak sampai menyakiti gadis itu.
"Maafkan aku," pinta Jimin tulus.
"Aku juga minta maaf karena sudah membuat masalah untuk kamu, a-"
Sunny tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Jimin menciumnya, walau awalnya kaget tapi akhirnya ia bisa mengimbangi tiap lumatan yang diberikan oleh pemuda itu.
"Bisa-bisanya kalian bermesraan di kantorku?!" sentak Yiekyung yang tiba-tiba saja masuk dengan membawa sebuah gaun ditangannya.
__ADS_1
"Ck ... kau sangat mengganggu, Immo."
"Oppa kau tak sopan," bisik Sunny setelah menarik ujung baju Jimin.
"Kau yang tak tahu tempat dan situasi!" sinis Yiekyung masih dengan sikap arogannya yang tak mau mengalah.
"Maafkan kami, Immo. A-"
"Apakah kau tidak merasa malu saat calon istrimu yang meminta maaf," sindir Yiekyung.
"Ah ... baiklah. Agar kau puas, aku minta maaf atas keterlambatan kami."
🍂🍂🍂
Daegu
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Seoul ke Daegu, kini Taehyung dan Hye rim tengah beristirahat di salah satu hotel yang berkelas. Dengan fasilitas yang cukup dan pemandangan yang memperlihatkan keindahan Daegu di malam hari membuat Hye rim merasa senang.
__ADS_1
"Apakah kau tidak merasa lelah? istirahatlah dulu karena besok kita akan bertemu klien dan mungkin akan menyita waktu yang cukup lama," ujar Taehyung sambil memeluk tubuh Hye rim dari belakang.
Kini keduanya tengah menikmati keindahan lampu-lampu yang menyala di malam hari, karena posisi kamar berada di lantai atas membuat pemandangan yang di dapat terasa menakjubkan.
"Sebentar lagi oppa, kenapa oppa juga belum tidur?" tanya Hye rim.
"Aku tidak ingin tidur sendirian," jawab Taehyung berbisik. Ia menyempatkan untuk mengecup bahu sang istri yang terekpost.
"Kata mereka pagi hari kita bisa melihat matahari terbit, aku tidak sabar ingin melihatnya."
"Jangan pernah berpikir untuk tidak tidur malam ini karena ingin melihat matahari terbit! Aku tidak mengijinkanmu," ujar Taehyung sambil mendekap lebih erat.
"Ah ... oppa, jangan begitu. Aku ingin melihatnya," rengek Hye rim sambil berbalik, menatap Taehyung dengan pandangan memohon.
"Sekarang ayo kita tidur, kau bisa memasang alarm agar terbangun tepat waktu untuk melihat matahari terbit."
"Baiklah, yang oppa katakan benar. Aku akan mengatur alarm dulu," ujar Hye rim riang sambil melepaskan pelukan Taehyung. Meninggalkan balkon dan Taehyung yang hanya tersenyum melihat keceriaan Hye rim saat ini.
__ADS_1
Walau sifat keras kepalanya lebih mendominasi, tapi Hye rim masih bisa diajak kompromi. Setelah ia pulih dan mendapatkan ingatannya kembali, wanita itu menjadi sedikit berbeda dengan Hye rim yang selama ini Taehyung kenal. Hubungan yang dilandasi kepercayaan yang diberikan oleh Hye rim pada Taehyung membuat pemuda itu bersyukur, karena wanita cantik itu tidak meminta bercerai setelah tahu jika selama ia hilang ingatan telah dimanfaatkan oleh keluarga yang dulu telah menolongnya.
Satu hal yang masih menjadi ganjalan di hati dan pikiran Taehyung saat ini, Hye rim masih belum ingin bertemu dengan orangtuanya. Ia juga mengatakan jika ia selalu dibayangi oleh kesialan hingga mengalami kecelakaan berkali-kali bahkan hampir saja ia merengang nyawa karena hal itu. Entah misteri apa yang terjadi dalam keluarga istrinya itu, yang pasti kini Taehyung tengah menyelediki semuanya. Pertemuan kali ini juga bagian dari rencananya, ia telah menemukan setitik harapan agar biang masalah dan penderitaan istrinya selesai dengan cepat.