Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 24


__ADS_3

🍁🍁🍁


Semilir angin mempermainkan helaian rambut yang sejak pagi telah di sisir rapi oleh gadis itu, hal itu tentu saja membuatnya bersunggut-sunggut kesal.


"Kenapa ia belum juga datang? haruskah aku menunggu lebih lama lagi," gerutu gadis itu.


Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik sesuatu, tapi gerakannya terhenti saat seseorang yang sejak tadi ditunggunya muncul dengan senyum tanpa dosa.


"Apakah kau sudah lama menunggu?" tanya seorang pria.


"Bisakah lain kali kau datang lebih terlambat lagi, Park Jimin-ssi?!" sentak gadis itu.


"Maafkan oppa sayang, kau tahu jika di kantor banyak pekerjaan, kan?" bujuknya.


"Makanya, seharusnya kau tak memecatku dan tetap membantumu di kantor!" sinisnya.

__ADS_1


"Baiklah, oppa minta maaf. Jangan marah lagi ok? sekarang kita masuk karena oppa ingin melihatmu mencoba gaun pernikahan kita." Jimin merangkul calon istrinya sambil terus berusaha membujuk agar gadis itu berhenti marah padanya.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya Park, Anda sudah di tunggu oleh Nona Yiekyung di ruangannya." Salah satu pegawai butik menyambut kedatangan Jimin dan Sunny ramah.


Pegawai butik bernametag Yurri mengantarkan pasangan itu ke sebuah ruangan, mengetuknya tiga kali hingga sebuah seruan terdengar.


"Masuk saja!" teriak suara seorang wanita dari dalam ruangan.


"Silakan Tuan, Nona, saya tinggal dulu."


Pelayan itu pergi meninggalkan Jimin dan Sunny di depan pintu, akhirnya pemuda itu masuk setelah mengatur sesuatu dalam dirinya, sejenis menekan emosi yang nantinya akan keluar jika ia berada di sana lebih lama.


"Kau tahukan jika aku bukan pengangguran," sahut Jimin cuek.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Sunny berbisik pada Jimin, pemuda itu hanya mengangguk lesu.

__ADS_1


Sunny yang merasa tak nyaman karena sudah terlambat datang hanya bisa diam, ia mengikuti Jimin duduk di sofa merah yang berada di sudut ruangan.


"Aku juga bukan pengacara (penganguran banyak acara) yang memiliki banyak waktu luang hanya untuk menunggumu," pungkas Yiekyung tak mau kalah.


Jimin memutar bola matanya malas saat mendengar balasan dari wanita yang dikenal dengan ucapannya yang tajam dan tak berperasaan, sialnya lagi dia wanita itu adalah adik dari ibunya.


"Maaf Eonni, kami terlambat dan membuatmu kesal."


"Haha ... tidak apa-apa Sunny-ya. Aku tak marah padamu karena aku tahu kau tidak bersalah, tapi sepertinya si pendek ini tak memberitahumu tentangku!" sinis Yiekyung. Ia berkata dengan tatapannya beralih menatap tajam pada Jimin yang terlihat tak perduli.


"Tatapanmu seakan kau ingin memakanku hidup-hidup, Immo. Aku lupa memberitahukan hal ini padanya," ujar Jimin sambil menggengam jemari Sunny erat.


"Immo?" tanya Sunny bingung.


"Ya, dia adalah adik dari ibuku. Tapi kami hanya berjarak dua tahun dan karena kami hampir seumuran membuatku tak menganggapnya Immo-ku, dia lebih seperti Noona bagiku."

__ADS_1


"Kau tak memberitahu hal ini padaku? Apa aku terlihat seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa?!" sentak Sunny yang berusaha menahan emosinya.


"Kalian tunggu sebentar, aku akan mengambilkan gaun pesanan bocah bantet itu yang khusus ia ciptakan desainnya untukmu. Saat aku kembali jangan berubah menjadikannya kapal pecah," kata Yiekyung sambil beranjak keluar.


__ADS_2