
🍁🍁🍁
"Sunny-ya, aku sangat merindukanmu."
"Aku juga Eooni," ujar Sunny sambil membalas pelukan Hye rim erat.
"Chagi, siapa dia?" tanya Tae hee pada kekasihnya.
"Dia kakak perempuanku nomor dua," jawab Doo hae sambil tersenyum, tak lupa ia menarik sang kekasih agar semakin dekat dengannya dan memberikan kecupan di pelipis gadis itu.
"Kau tak ingin memperkenalkan dia pada kami, Rim-aa?" tanya Taehyung yang sudah penasaran sejak tadi.
"Ah iya oppa, aku lupa." Hye rim melepasakan pelukannya pada sang adik, "Dia Cha Sunny, adikku sebelum Doo hae." Gadis itu memperkenalkan Sunny pada Taehyung.
"Senang berkenalan denganmu, tapi kalau tidak salah ingat ... bukankah kau sekretaris baru dari Park Jimin, CEO Park Coporation."
"Oppa benar, kita memang pernah bertemu dua minggu yang lalu di kantor. Aku tak mengira jika kau ternyata adalah kakak iparku," ungkap Sunny. Di wajahnya tersirat rasa bahagia karena bisa bertemu dengan kakaknya yang dikabarkan telah meninggal tenggelam di laut.
"Doo hae-ya, terima kasih."
"Tidak masalah Noona!" seru pemuda itu.
"Eonni dan Oppa, selamat untuk pernikahan kalian. Semoga aku bisa mendengar kabar baik secepatnya," ucap Sunny sambil duduk di sisi Hye rim.
"Kabar baik apa?" tanya Hye rim bingung.
"Pasti kabar baik jika kau mengandung, Chagi." Taehyung berbisik di telinga Hye rim hingga membuat wajah wanita itu memerah seketika.
__ADS_1
"Oppa, kau ada-ada saja!" pekik Hye rim malu dan kesal, sementara Taehyung hanya terkekeh melihat wanitanya tengah merona karena godaannya.
"Hae-ya, temani aku mencari cake di sana. Ayo Eonni," ajak Tae hee pada kekasihnya dan juga pada Sunny. Ia berniat meninggalkan oppanya bersama Hye rim.
"Baiklah, aku juga lapar." Sunny bangkit lebih dulu dan berlalu meninggalkan Doo hae.
"Hei kalian, tunggu aku!" seru Doo hae kesal.
"Kenapa kalian pada pergi?" tanya Hye rim saat semuanya meninggalkan dirinya berdua saja dengan Taehyung.
"Mereka cukup pengertian dengan melakukan hal itu," sahut Taehyung sambil menggenggam jemari Hye rim dan mengecupnya, membuat wanita itu lagi dan lagi merona karena perlakuan manis dari suaminya.
Sementara itu, Doo hae tampak mengikuti dua gadis kesayangannya yang sedang berburu cake lezat. Hingga seorang pria menghentikan kegiatan Sunny dan Tae hee, pria yang membuat Sunny membeku di tempatnya.
"Bisa aku berbicara berdua saja denganmu Sunny-ya?" tanya pria itu.
"Jimin oppa, datang-datang sudah mau memonopoli Sunny eonni, menyebalkan sekali!" pekik Tae hee.
"Maaf, aku harus pergi sebentar bersamanya."
Doo hae dan Tae hee hanya memandang kepergian Sunny yang diikuti oleh Jimin, mereka menuju ke balkon utara dari Aula hotel yang luas ini. Sunny merasa membutuhkan tempat yang sepi dan tenang untuk berbicara dengan bos-nya, yang jelas sejak kepulangan mereka dari perjalanan bisnis sebulan yang lalu, gadis itu selalu menghindar untuk berbicara masalah pribadi bahkan sulit ditemui kecuali saat bekerja dan masalah pekerjaan.
"Aku kira kau akan kembali menghindarku seperti sebelumnya," ucap Jimin. Ia bersandar pada pembatas dan menatap wajah cantik yang tampak kesal menatapnya.
"Jika bukan karena takut Anda akan mengacaukan pesta resepsi Eonni-ku, aku tak akan berada di sini sekarang!" sinis Sunny.
"Kau lupa jika pesta ini juga adalah pesta sahabatku, jadi aku tidak mungkin untuk mengacau di sini."
__ADS_1
Sunny mendengkus, ia melupakan hal itu dan malah terjebak di sini bersama seseorang yang selama sebulan ini ia hindari sebaik mungkin.
"Jadi ... apa yang ingin kau bicarakan, Tuan Park?" tanya Sunny akhirnya.
"Kau sudah tahu bukan, jika aku hanya ingin kamu untuk menerima lamaranku dan kita menikah."
Sunny memutar bola mata indahnya bosan, "Aku juga sudah mengatakan padamu, jika aku saat ini tidak hamil dan kau tak perlu bertanggungjawab apapun padaku karena kejadian malam itu.
"Dengar! Aku tak perduli kau hamil atau tidak sekarang," bisik Jimin ditelinga Sunny.
"Lepaskan aku!" bentak Sunny. Jimin telah mencengkramnya terlalu erat karena emosi, karena gadis itu telah berkali-kali menolak lamarannya.
"Kenapa kau menolakku?" tanya Jimin.
Pada akhirnya, ia memang melepaskan cengkramannya tapi tidak melepaskan gadis itu begitu saja. Pemuda itu memeluknya erat tapi tak menyakiti, ia bahkan menelusupkan wajahnya pada perpotongan leher Sunny, menghirup aroma memabukan yang selalu membuatnya tenang. Sementara gadis cantik itu sudah merona dengan jantung yang berdegup kencang akibat perlakuan tak senonoh atasannya, ia tak bisa menolak bahkan cenderung menerima setiap kecupan yang pemuda itu berikan di sekitar bahu hingga lehernya, meninggalkan beberapa kissmark yang terekpost nyata.
"Kau brengsek- hmmpp ...," umpatan Sunny teredam ciuman Jimin dibibirnya. Untuk kesekian kalinya ia harus menerika perlakuan mesum pemuda bermarga Park tersebut, tapi ia tak bisa mendorong agar tubuh itu menjauh.
"Aku menyukai reaksimu yang sensitif tapi pasif terhadap sentuhanku," bisikJimin setelah melepaskan ciumannya.
"A-aku ... aku sebenarnya sudah memiliki tunangan, kami seharusnya sudah menikah jika aku tidak kabur. Tapi aku akan kembali dan meminta maaf padanya atas sikapku yang kekanak-kanakan, jadi aku mohon padamu untuk melepaskanku."
Jimin merenggangkan pelukannya untuk melihat ekpresi dari wajah wanitanya, ya wanitanya. Karena sejak awal ia sudah mengenali jika wanita yang kini menunduk di hadapannya adalah miliknya.
"Jika begitu, kau tak ada pilihan untuk menolakku lagi. Karena kau meminta maaf dengan tulus maka aku memaafkanmu," kata Jimin sambil kembali memeluk Sunny yang kebingungan saat ini.
"Apa maksudmu?!" sentak Sunny sambil melepaskan paksa dekapan yang ia akui hangat, tapi hanya dalam hati.
__ADS_1
Sunny memicingkan matanya curiga saat Jimin menyerahkan ponselnya setelah ia otak-atik sebentar, tapi ia tetap menerima ponsel itu. Bola matanya melebar, menatap tak percaya pada pesan yang ia baca berasal dari nomor ponsel bernama Nyonya Cha. Etensinya beralih menatap Jimin yang juga sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Aku adalah tunangan yang kau tinggalkan, jadi kau adalah milikku. Suka tidak suka itu sudah mutlak," ujar Jimin sambil menyeringai.