Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding part 29


__ADS_3

🍁🍁🍁


Seoul


"Jangan malu, makan yang banyak ya." Nyonya Cha memberikan sepotong ayam pada Tae hee membuat gadis itu tersenyum senang.


Saat ini Tae hee sedang berada di rumah Doo hae untuk makan malam, bukan hanya ia saja tapi Jimin juga datang bersama Sunny.


"Apakah kau ingin menjadi babi gemuk dengan makan sebanyak itu," bisik Jimin yang kebetulan duduk di sisi kirinya.


"Aku akan menjadi babi yang cantik jika begitu," sahut Tae hee cuek.


Doo hae dan yang mendengar itu hanya tersenyum, ia memakan makanannya dengan tenang. Sementara Sunny hanya melihat gadis yang baru kali ini ia temui dengan rasa penasaran, pasalnya baru ini ia melihat adiknya membawa gadis untuk diperkenalkan pada keluarga. Tuan Cha, Nyonya cha dan Chanyeol juga diam sambil mengamati satu sama lain, yang jelas ada sesuatu yang kurang karena ketidak hadiran seseorang malam ini membuat keluarga ini tak lengkap.


"Doo Hae-aa, Sunny-ya apakah kalian mengetahui kabar Hye rim? di mana dia sekarang kami merindukannya," lirih Nyonya Cha sedih.


"Hye rim Noona sedang berada di Daegu eomma," jawab Doo hae yang di angguki oleh Sunny.


"Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" tanya Tuan Cha sambil menatap Jimin dan Sunny bergantian.


"Sudah hampir selesai aboeji," sahut Jimin sopan.


"Hanya tinggal mengambil cincin saja appa," tambah Sunny dengan wajah memerah, jelas ia terlihat bahagia.

__ADS_1


"Kalian membicarakan apa seh?" tanya Chanyeol.


"Anak kecil tidak perlu tahu," sahut Doo hae menggoda adiknya yang kini tampak cemberut.


"Aku bukan anak kecil lagi Hyung!" jerit Chanyeol kesal.


"Kau masih kecil, lihat saja badanmu yang pendek itu."


"Doo hae-aa, berhenti menggoda adikmu. Lebih baik kau goda gadismu saja dari pada adikmu," ujar Tuan Cha menggoda Tae hee.


"Setiap hari aku selalu menggodanya, Appa."


"Kau menyebalkan oppa," rengek Tae hee pelan sambil menginjak kaki Doo hae membuat pemuda itu meringis.


Jimin hanya tersenyum sambil memandang Sunny yang duduk didepannya, sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan keluarga seperti malam ini.


★★


Jimin dan Sunny saat ini tengah duduk di taman belakang rumah, menikmati cahaya bulan yang bersinar terang malam ini. Taman ini di buat oleh Nyonya Cha, karena baru masih belum banyak bunga yang mekar tapi tetap memberikan kesan indah.


"Kalau saja saat itu aku tidak kabur, saat ini kita sudah resmi menjadi suami istri." Sunny duduk bersandar di pelukan Jimin, membiarkan pemuda itu memeluknya erat.


"Apa kau menyesal sekarang?" tanya Jimin berbisik.

__ADS_1


"Sedikit, tapi aku tak benar-benar menyesalinya. Jika dulu aku tak melarikan diri, maka tak akan ada kesempatan untuk bertemu denganmu," kilah Sunny.


"Kau selalu bisa berdebat denganku, tapi aku mencintaimu karena kepintaran yang kau miliki."


"Dan aku mencintaimu karena ketampananmu," rayu Sunny sambil memeluk Jimin yang kini hanya bisa mendengkus kesal.


"Jadi maksudmu ... kalau aku tidak tampan maka kau tidak akan mencintaiku, begitu?!" desis Jimin.


"Entahlah," sahut Sunny cuek.


Sunny menatap wajah Jimin yang menghindari tatapannya, ia tersenyum mengetahui jika kekasihnya tengah merajuk. Ia melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu membuatnya mendapatkan tatapan penuh tanda tanya, tapi tak sepatah katapun yang keluar dari bibir merah pemuda bermarga Park tersebut.


Sunny merangkum wajah Jimin dan menatapnya lembut, "Aku mencintai oppa karena seluruh yang ada pada dirimu, bukan hanya karena ketampanan atau kekayaan, melainkan karena kebaikan yang punya oppa miliki membuatku jatuh terlalu dalam pada pesonamu."


Jimin memeluk gadisnya erat, ia merasa tersentuh karena ucapan Sunny. Sebuah ciuman mengakhiri perbincangan mereka, bermesraan di bawah sinar bulan membuat keromatisan semakin terasa, bahkan mereka tak menyadari jika dua pasang mata sedari tadi mengamati mereka.


.


.


"Jadi ingat saat masa muda dulu, kau tak pernah bersikap seromantis itu padaku oppa!" sindir Nyonya Cha sambil meninggalkan Tuan Cha yang kini kebingungan.


"Bukankah dulu hampir setiap malam aku bersikap romatis padamu Chagia," rayu Tuan Cha sambil mengejar sang istri yang merajuk.

__ADS_1


__ADS_2