Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 21


__ADS_3

🍁🍁🍁


Sunny memicingkan matanya curiga saat Jimin menyerahkan ponselnya setelah pemuda itu mengotak-atik sebentar, tapi ia tetap menerima ponsel itu. Bola matanya melebar, menatap tak percaya pada pesan yang ia baca berasal dari nomor ponsel bernama Nyonya Cha. Atensinya beralih menatap Jimin yang juga sedang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku adalah tunangan yang kau tinggalkan, jadi kau adalah milikku. Suka tidak suka itu sudah mutlak," ujar Jimin sambil menyeringai.


"Kau berbohong padaku!" sinis Sunny sambil mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


"Kau bisa bertanya pada kedua orang tuamu, jika tak percaya padaku."


Sunny berbalik hendak meninggalkan Jimin, tapi dengan cepat pemuda itu menahannya. Sebuah ciuman lembut ia daratkan di permukaan bibir plum Sunny membuat gadis terbelalak, ia memberontak ingin lepas tapi percuma. Tenaga pemuda bermarga Park itu lebih besar jika dibandingkan dengan dirinya.


"Aku sudah mengenalimu sejak awal saat kau datang padaku dengan surat lamaran itu, jika kau mau tahu ... aku tak berusaha membalasmu karena sejak awal aku sudah menyukaimu," ujar Jimin pelan nyaris berbisik di telinga Sunny membuat gadis itu berhenti memberontak.


Jimin merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah wanitanya, jemarinya meraih dagu gadis itu mengangkat wajah tertunduk yang terlihat merona. Menatap bola mata indah yang selalu membuatnya jatuh cinta, hingga akhirnya ia kembali memberikan sebuah ciuman lembut pada bibir merah alami yang menjadi candu baginya, ia menarik tengkuk wanita itu untuk memperdalam ciuman pertama mereka yang mengalir tanpa ada paksaan atau pemberontakan dari Sunny. Pemuda Park itu tersenyum ketika dengan suka rela Sunny mengalungkan kedua tangannya di lehernya dan membalas setiap pagutan yang ia berikan, apakah ia boleh mengira jika wanita itu telah menerimanya dengan suka rela?


"Kau puas sekarang? Aku tak bisa menolakmu lagi atau juga memukulmu," ujar Sunny pelan membuat Jimin tertawa.


"Aku masih belum puas, karena kita belum menikah. Apakah kau akan melarikan diri lagi di hari pernikahan kita kelak, Nyonya Park?" tanya Jimin sambil merangkul pinggang Sunny dan menariknya merapat pada tubuhnya.


"Aku-"


"Di sini kalian rupanya? Aku sejak tadi mencarimu Hyung," ujar Jungkook tak perduli situasi.


"Kau menggangguku saja, apa maumu Jungkook-aa?" tanya Jimin setelah melepaskan rangkulannya.


"Aku ke dalam dulu oppa," ujar Sunny. Ia meninggalkan Jimin yang bersama Jungkook begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari seseorang yang berstatus tunangannya.


"Ini karena ulahmu yang datang tidak lihat sikon!" sinis Jimin menatap Jungkook tajam.


"Kenapa kau menyalahkanku, aku mencarimu karena ingin menanyakan sesuatu yang penting perihal calon mertuamu."


"Ada apa dengan mereka?" tanya Jimin mulai penasaran.

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalu, Tae Hyung memintaku untuk mencari tahu tentang segala sesuatu dari latar belakang Noona Hye rim. Aku mengetahui jika kedua orang tuanya kini telah menetap di Seoul," ujar Jungkook sambil bersandar pada pagar pembatas.


"Benarkah? Aku memang berencana untuk menemui mereka dalam waktu dekat ini. Apa kau tahu di mana sekarang mereka tinggal?" tanya Jimin.


"Hmm ... tahu seh. Tapi apa kau yakin? Aku merasa ada yang tidak beres dengan keluarga itu terutama adik dari mendiang istri pertama Tuan Cha."


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Jimin lagi.


"Dia terlalu menonjol dipermukaan ingin menguasai aset mereka, karena setahuku dialah penyebab dari kecelakaan yang menimpa pada Hye rim Noona setahun yang lalu, karena Noona adalah pewaris utama semua harta dari keluarga mendiang ibunya. Satu hal, ia telah meletakan orang kepercayaannya di sekitar keluarga Tuan Cha sejak lama, dan kecelakaan Hye rim Noona yang tenggelam di lautan itu bukanlah yang pertama, kau bisa bertanya pada Sunny untuk rincian tragis yang di alami oleh kakaknya jika penasaran."


"Apa kau yakin, semua cerita yang kau dapat ini akurat kebenarannya? jangan sampai terjadi kesalahan," ujar Jimin.


"Tentu saja Hyung, detektif yang aku gunakan adalah yang terbaik. Ini alamat rumah Tuan Cha, aku pergi dulu." Jungkook menyerahkan selembar kertas kecil pada Jimin yang berisi alamat lengkap dengan nomor telepon rumah tersebut.


🍁🍁🍁


"Selamat pagi chagi, apakah tidurmu nyenyak tadi malam?" tanya Taehyung pelan berbisik di telinga Hye rim yang kini berada di pelukannya.


"Pagi juga oppa, tidur selama tiga jam menjelang pagi apakah bisa di sebut tidur semalaman?" tanya Hye rim balik dengan suara serak khas bangun tidur.


Hye rim memutar bola matanya jengah, "Alasan oppa terlalu klise."


Taehyung tersenyum mendengar penuturan dari wanitanya yang kini masih berbalut selimut di tubuhnya, sama dengan dirinya yang masih polos tanpa sehelai benangpun di balik selimut yang tengah mereka gunakan.


"Lepaskan aku oppa, aku mau mandi dulu. Oppa juga bangun nanti terlambat ke kantor," ujar Hye rim berusaha lepas dari pelukan posesif suami mesumnya.


"Apakah ada seorang suami yang bekerja di hari pertama setelah pernikahannya?" tanya Taehyung sambil mempererat pelukannya.


"Jangan mencari alasan untuk bermalas-malasan! lepaskan aku oppa," rengek Hye rim saat Taehyung kini malah berada di atas tubuhnya. "K-kau mau apa oppa? aku masih lelah ak- aaakkhh ...." Perkataan Hye rim tergantikan dengan desahan ketika tanpa aba-aba Taehyung malah memasukinya dalam sekali hentak.


"Kau sempit sekali chagia, aarggh."


"Aahh hmmpp."

__ADS_1


Taehyung menyeringai saat Hye rim kembali mendesah di bawah kuasanya, ia menundukan kepalanya mencium bibir merah yang terlihat sedikit membengkak karena ulahnya tadi malam. Gerakan teratur yang membuat wanitanya semakin terbuai menikmati permainannya, Hye rim hanya bisa mendesah sambil mencengkram apa saja untuk menyalurkan rasa yang begitu memabukan.


"Aahhkk oppaa ... aku-"


"Bersama chagi!" seru Taehyung.


Tubuh Hye rim mengejang saat ia mencapai klimaksnya kembali, Taehyung bergerak semakin brutal saat ia mendekati puncak kenikmatan dunia yang tengah ia tuju. Peluh telah membasahi tubuh keduanya, udara dingin Ac sudah tak dapat meredam hawa panas yang keduanya ciptakan.


"Aku mencintaimu, aaarghhh."


Taehyung menekan pinggulnya kuat pada hentakan terakhir saat klimaksnya, pemuda itu menatap manik yang tampak sayu memandangnya, hingga sebuah ciuman terjadi diantara keduanya menutup aktifitas panas pagi ini.


.


.


"Kau baik-baik saja? lebih baik pesan makanan cepat saji saja," ujar Taehyung yang merasa khawatir melihat Hye rim yang terlihat kesulitan berjalan dan meringis setiap dia bergerak.


"Aku tidak apa-apa oppa, lagi pula ini sudah mau selesai." Hye rim tersenyum menenangkan.


"Maafkan aku, terlalu bersemangat dalam menyentuhmu."


Hye rim tersenyum melihat raut penyesalan yang muncul di wajah tampan suaminya, ia adalah hal langka yang membuatnya terhibur. Karena biasanya pria itu hanya akan menampilkan wajah datar atau jutek jika berada di kantor, wajah biasa saja jika bersama teman-temannya, tapi ia akan berubah lembut dengan banyak senyum jika sedang bersamanya.


Saat ini keduanya tengah berada di dapur, Hye rim memasak beberapa makanan untuk makan siang mereka. Jika sarapan Taehyung sudah mendapatkannya di ranjang pagi ini, dan itu membuat wanita itu mendengkus kesal karena ia jadi melewatkan sarapan dan malah di makan sebagai menu utama dari makan pagi suaminya.


"Sini, biar oppa yang bawa ke meja." Taehyung mengambil alih mangkuk berisi sop ayam ginseng, aroma sedapnya membuat Taehyung sangat kelaparan siang ini.


Dalam setengah jam, Hye rim bisa menghidangkan beberapa makanan sehat untuk dirinya dan suami tercintanya. Keduanya makan dalam hening, menikmati bagaimana lezatnya makanan itu memenuhi perut masing-masing.


🍁🍁🍁


Di kediaman Tuan Cha.

__ADS_1


Jimin berhasil menemukan rumah calon mertuanya, ia segera membawa Sunny pulang pada keluarganya bukan tanpa sebab. ia ingin segera menikahi wanita cantik itu, Sunny yang tidak mengetahui jika keluarganya telah pindah le seoul benar-benar terkejut ketika melihat Appa-nya yang membuka pintu saat ia dan Jimin mendatangi sebuah rumah minimalis dari luar dan terlihat mewah begitu pintu itu terbuka.


"A-appa?!" seru Sunny ketika melihat pria paruh baya itu memeluknya tiba-tiba.


__ADS_2