Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 19


__ADS_3

🍁🍁🍁


"Cukup sudah kau menghindariku selama seminggu ini, Sunny-ya!" sentak Jimin emosi.


"Apakah perkerjaan sudah selesai, jika sudah bukankah akan lebih baik jika kita kembali ke-"


"Kau membuat kesabaranku habis Nona!" sinis Jimin.


"Lalu kau mau aku bagaimana? Kau ingin aku bersikap biasa saja setelah apa yang kau lakukan saat kau mabuk, itu maumu?!" bentak Sunny sambil menangis.


Jimin membatu mendengar perkataan Sunny, "Apa yang katakan?"


"Tidak ada," ujar Sunny sambil berbalik hendak meninggalkan Jimin.


"Jelaskan padaku. Apa maksud dari ucapanmu!" perintah Jimin sambil mecekal pergelangan tangan Sunny erat, hingga membuat gadis itu meringis.


"Lepas! Kau menyakitiku," ujar Sunny dengan mata berkaca-kaca.


Jimin yang melihat gadis itu mulai menangis, akhirnya memilih untuk melepaskan pegangannya, tapi setelah itu ia memeluk tubuh Sunny yang bergetar erat. Gadis itu hanya terdiam dipelukan pemuda yang entah sejak kapan, bisa membuat jantungnya berdebar kencang walau hanya melalui sentuhan kecil.


"Apapun yang telah aku lupakan tentang malam itu ... aku mohon jangan menghindariku lebih lama lagi."


"Jika kau tidak mengingatnya, maka aku tidak akan memberitahumu. Aku tindak ingin-"


Jimin menghentikan perkataan Sunny menggunakan ciumannya, ia menarik pinggang gadis itu agar semakin merapat pada tubuhnya dan memperdalam ciumannya. Terkejut tentu saja, tapi gadis itu tidak menolak, ia sudah lelah mencoba untuk memberontak pada atasan yang semaunya sendiri seperti Tuan Park.


"Kau ...," geram Jimin disela ciumannya ketika sedikit demi sedikit ingatan tentang malam itu ia dapatkan.


'Kenapa kau menahan semuanya sendiri, apakah aku sebegitu tidak layak untukmu sehingga kau tidak ingin aku bertanggungjawab atas perbuatanku!"


"Aku pergi dulu, jangan menungguku malam ini. Kau beristirahatlah," ucap Jimin setelah melepaskan ciumannya.


Brakk!!


Tubuh Sunny melorot sesaat setelah pintu tertutup dengan keras, air matanya mengalir tanpa perintah. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Jimin setelah ini, ia tidak ingin dianggap sebagai wanita tidak tahu malu yang memanfaatkan kesempatan. Maka dari itu ia memilih untuk menghindar dan menjauh, tak mengira jika akhirnya semua terungkap dan berakhir kemarahan pria itu.


🍁🍁🍁


"Suamiku, ini sudah malam kenapa masih saja berada di luar?" tanya Nyonya Cha.


"Aku hanya mencari udara segar, Yeobo."

__ADS_1


"Ayo kita masuk, angin malam tidak baik untuk tubuhmu yang akhir-akhir ini tidak sehat. Lebih baik kita duduk di dalam dan aku akan membuatkan coklat hangat untukmu," kata Nyonya Cha sambil membimbing suaminya meninggalkan teras.


"Baiklah, kau selalu bisa memaksaku."


"Jangan begitu, aku hanya tidak ingin kau sakit nanti!" seru Nyonya Cha merajuk pada suaminya.


"Aku hanya bercanda jangan diambil hati," sahut Tuan Cha sambil mencubit pipi sang istri.


"Duduklah dulu, aku akan mengambilkan coklatnya untukmu."


Tuan Cha menuruti perkataan sang istri, ia duduk di sofa ruang tamunya yang hangat. Mata tuanya yang masih tajam menatap punggung wanita yang selama 18 tahun ini setia di sisinya, walau dulu pernikahan mereka terjadi hanya karena permintaan dari mendiang sang istri pertama, tapi kini ia sudah benar-benar mencintainya sepenuh hati, tapi tetap tak melupakan wanita pertama yang pernah ia miliki dulu.


"Apa yang kau pikirkan sehingga melamun begitu?" tanya Nyonya Cha sambil meletakan gelas berisi coklat hangat.


"Bagaimana menurutmu jika kita sekeluarga pindah ke Seoul?" tanya Tuan Cha tiba-tiba.


"Jika menurutmu baik begitu, aku hanya akan menurutimu." Nyonya Cha tersenyum menenangkan.


"Aku yakin, Doo Hae menetap di sana bukan tanpa alasan. Dia pasti yakin jika Hye rim berada di sana dan tentang Sunny, aku yakin dia pasti merepotkan adiknya itu dengan tipu muslihatnya. Dia tidak akan mengaku jika kabur dari perjodohan," ujar Tuan Cha.


"Yang kau katakan ada benarnya, aku juga sudah memberi kabar pada Tuan muda Park dan meminta bantuanya untuk menemukan Sunny, dia tidak marah dan bersedia membantu kita menemukan gadis nakal itu."


"Tuan muda Park tidak marah dan membatalkan perjodohan mereka? ini aneh ... bukankah awalnya dia juga menolak pernikahan ini dan seharusnya dia marah dan membatalkan pertunangan mereka."


"Lalu bagaimana dia akan membantu menemukan Sunny jika selama ini mereka tak pernah dipertemukan?" tanya Tuan Cha.


"Aku sudah mengirimkan foto Sunny padanya," jawab Nyonya Cha.


"Hmm ... itu bagus. Lalu bagaimana dengan adik ipar? apakah dia harus di beritahu tentang kecurigaan kita jika Hye rim berada di Seoul."


"Sebaiknya tidak, buat dia sibuk mengurus perusahaan di sini. Entah kenapa aku mencurigai adik dari mendiang Eonni-"


"Aku sudah lama mencurigainya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat berambisi menguasai sesuatu yang bukan miliknya," potong Tuan Cha.


"Apakah sudah ada buktinya? sebaiknya kau juga berhati-hati terhadapnya," ujar Nyonya Cha.


Tuan Cha dan Nyonya terus berbincang hingga larut, mereka sepakat untuk membuka cabang perusahaan di Seoul dan secepatnya mereka akan pindah ke sana. Tanpa mereka sadari dibalik tembok seseorang menguping pembicaraan keduanya, ia terlihat menyeringai sambil meninggalkan tempat itu setelah di rasa mendapatkan informasi yang cukup.


"Tuan akan semakin mencintaiku dengan kabar yang aku miliki sekarang," ujar sosok misterius itu sambil menyimpan ponselnya setelah merekam perbicaraan kedua orang pemilik rumah ini.


"Ada apa?" tanya Tuan Cha saat melihat sang istri berulang kali melirik sekitar ruangan.

__ADS_1


"Entahlah, hanya saja aku merasa jika kita di awasi. Sepertinya rumah sendiri juga sudah tidak aman," ucap Nyonya Cha dengan kesal.


"Ya sudah, kita kembali ke kamar saja."


"Baiklah," sahut Nyonya Cha sambil beranjak dari sofa bersama Tuan Cha dan meninggalkan ruang tamu.


🍁🍁🍁


Sebulan kemudian, hari ini adalah hari pernikahan Hye rim yang sebenarnya. Walau hanya Doo hae yang menemaninya, itu sudah lebih dari cukup baginya. Setelah tadi pagi mendaftarkan pernikahan secara sah, dan beberapa jam kemudian mereka melakukan pemberkatan di gereja terbesar yang berada di Seoul, dan sejak pukul 5 sore tadi acara resepsi pernikahan di lakukan di sebuah hotel berbintang dengan kemewahan yang terlihat jelas.


"Noona, aku punya kejutan untukmu!" teriak Doo hae sambil memeluk Hye rim dari belakang.


"Hehh bocah, bisakah kau lepaskan tanganmu dari tubuh istriku?!" ancam Taehyung.


"Tapi istrimu adalah Noona-ku, kau tak bisa merubah hal itu."


Taehyung menggeram menahan kekesalan, karena bocah itu selalu saja membuatnya tak bisa menjawab. Sesuatu membuatnya menyeringai, ia yakin kali ini ia akan berhasil.


"Tae hee-ya, jika oppa melihatmu berpegangan dengannya maka-"


"Yaakk Hyung! Kau mau menindasku."


" Kau yang lebih dulu menindasku," ujar Taehyung tak mau kalah.


"Sudah-sudah, kenapa kalian berdua malah ribut begini! malu di lihat orang."


"Maaf Chagia, tapi bocah tak sopan ini yang memulainya!" seru Taehyung tak mau kalah.


"Stop oppa, Doo hae-aa, jangan dilanjutkan. Mana kejutanmu Hae-aa?" tanya Hye rim memecah perang tatapan tajam diantara dua lelaki kesayangannya.


"Ah iya, gara-gara kamu Hyung aku jadi lupa!" pekik Doo hae.


"Kau!" seru Taehyung.


Taehyung menghentikan umpatan yang akan keluar karena Doo hae sudah pergi terlebih dahulu dari hadapannya dengan tergesa.


"Tae hee-ya, ada apa dengan kekasihmu itu, apa dia selingkuh secara terang-terangan?" tanya Taehyung pada sang adik saat ia melihat Doo hae menarik tangan seorang gadis cantik.


Serentak Hye rim dan Tae hee yang sedang mengobrol bersama beberapa tamu berpaling, keduanya terkejut tapi dengan reaksi berbeda.


Namun, sebelum Taehyung atau Tae hee bereaksi Hye rim lebih dulu bangkit dari duduknya untuk kemudian menghampiri gadis yang di bawa oleh Doo hae, hingga menimbulkan tanda tanya pada dua kakak beradik dari keluarga Kim tersebut.

__ADS_1


"Sunny-ya, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga Eooni," ujar Sunny sambil membalas pelukan Hye rim erat.


__ADS_2