Wedding (Istri Pengganti)

Wedding (Istri Pengganti)
Wedding Part 4


__ADS_3

"Ahk ... pelan-pelan sedikit!" ringis Doo Hae


"Ini sudah pelan, kau saja yang terlalu manja." Tae hee malah menekan luka itu dengan keras.


"Auch ... yaak! kau sengaja mengasari aku yang sudah terluka begini karena ulah brutalmu itu, dasar perempuan jadi-jadian!" sinis Doo Hae.


"Kau bilang apa? ucapkan sekali lagi."


"Sudahlah, tidak ada gunanya aku terus meladeni kamu yang gak jelas. Sebaiknya kamu perbaiki sikapmu untuk menjadi lebih manis atau, sampai tua nanti kau tidak laku karena tidak ada satupun pria yang suka sama gadis tomboy jadian-jadian seperti dirimu," sindir Doo Hae. Pemuda itu pergi meninggalkan Tae hee yang mematung.


Tae hee tidak membalas ucapan pria asing yang baru saja ia obati, wajahnya memerah menahan amarah yang siap meledak. Ia menggenggam antiseptik dan meremasnya kuat hingga cairan itu keluar dan tumpah. Ia membuang semua alat p3k yang tadi digunakan, kemudian berlalu pergi dari taman itu dengan amarah yang belum reda.


"Lihat saja nanti, kau akan bertekuk lutut di depanku. Jika tidak, jangan sebut namaku Tae hee jika menaklukkan pria sombong sepertimu saja aku tidak bisa," gerutu Tae hee.


***


Drrrttt ...


Drrrttt ...


Ponsel Taehyung bergetar, hal itu membuat fokusnya teralihkan. Ia melepaskan kacamata bacanya dan mematikan komputer terlebih dahulu sebelum menerima telfon dari seseorang yang sangat ia sayangi.


"Hmm ... ada apa menelfon oppa di saat larut begini?" tanya Taehyung.


"Apa oppa tidak mengijinkan Chaerin pulang dan masih bekerja dilarut malam begini." Tae hee sedikit mengeraskan suaranya karena rasa jengkel.


"Kenapa menuduh oppa-mu begitu? lagipula wanita itu sudah ijin pulang sejak jam 4 sore tadi. Ya setidaknya itu laporan kepala cleaning servis padaku," sahut Taehyung.


"Tapi oppa, dia masih belum pulang. Dan aku sangat lapar sekarang!" hardik Tae hee.


"Kau pesan saja seperti biasanya, aku akan mengerahkan orang untuk mencari wanita itu." Taehyung langsung memutuskan sambungan, tanpa mau mendengarkan protesan lebih dari sang adik.


"Ada apa Hyung? kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Jungkook.


"Kau bilang wanita itu sudah ijin pulang sejak jam 4 sore tadi, tapi hingga sekarang wanita itu tidak berada dirumah. Apakah kau tahu sesuatu?" tanya Taehyung.


"dua orang yang mengakui teman satu teamnya, mengatakan jika Chaerin Noona sakit dan ijin pulang. Selebihnya aku tidak tahu," sahut Jungkook.

__ADS_1


"Kalau begitu coba kau cari dia, periksa cctv mungkin saja dia dijadikan korban bully sesama rekannya kerjanya." Taehyung memerintah sambil menyalakan komputer miliknya dan kembali larut dalam pekerjaan.


"Baiklah, tapi apa kau berniat lembur di kantor lagi malam ini? sebaiknya kau pulang Hyung," saran Jungkook.


"Aku akan pulang jika aku mau! tugasmu sebaiknya kau cepat laksanakan," ujar Taehyung.


Jungkook yang malas berdebat lebih akhirnya memutuskan untuk segera pergi keruang cctv, itu jalan tercepat untuk menemukan Chaerin. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kantor terasa lebih menyeramkan jika dimalam hari begini. Didukung dengan sebagian ruangan yang sudah gelap karena para karyawan sudah pada pulang sejak pukul 06 sore tadi.


"Huff ... jika bukan untuk mencarimu Noona, aku tidak akan mau kelantai satu sendirian begini." Jungkook berjalan semakin cepat setelah ia keluar dari lift.


Ruang CEO berada di lantai teratas, yaitu lantai 13. Sedangkan ruang cctv berada di lantai satu di ruangan paling ujung yang jarang di datangi oleh karyawan sekalipun. Jika bukan karena kepentingan, hanya security yang berjaga saja yang bolak-balik keruangan itu. Jungkook merasakan bulu kuduknya merinding sejak tadi, ia tidak suka suasana mencekam seperti ini.


"Dasar bos sialan! jika bukan karena mencari istrinya. Aku tidak akan mau berkeliaran sendirian di kantor malam-malam begini!" sinis Jungkook.


"Siapa yang sebut dengan bos sialan, Jeon Jungkook!"


Jungkook yang sudah hendak membuka pintu seketika mematung saat mendengar suara dingin berasal dari belakang, keringat yang sedari muncul kini semakin mengalir di pelipis. Dengan gerakan kaku ia membalikkan tubuhnya menatap ke asal suara, dan tertawa garing untuk menutupi kesalahannya.


"Aah ... Hyung, aku kira siapa? mengejutkan saja." Jungkook menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Beberapa waktu berlalu, Jungkook memeriksa setiap cctv yang berada di kantor ini tapi Chaerin tidak terlihat sejak jam 3. Satu lokasi yang belum di periksa, toilet wanita dilantai 4 di mana seharusnya Chaerin bertugas tadi siang. Jungkook segera mengecek cctv di sana, Jungkook dan Taehyung menemukan sesuatu yang mengejutkan. Terlihat jika Chaerin di kerjai oleh dua karyawan yang juga bekerja sebagai cleaning servis tingkat senior.


Chaerin di pukul hingga tersungkur, dan disiram air bekas pel lantai dan dikurung di kamar mandi dengan kondisi pakaiannya basah kuyup. Setelah itu pintu toilet itu diberi tulisan toilet rusak dan belum diperbaiki. Taehyung menggeram marah, ia mengepalkan jemarinya kuat hingga buku kukunya memutih. Tanpa berkata-kata ia segara keluar dari ruang cctv dan dengan setengah berlari menuju toilet lantai 4.


"Jungkook-aa, besok kau bereskan dua orang itu. Aku tidak mau melihat mereka bahkan di negara ini sekalipun!" perintah Taehyung.


"Baik Presdir!"


****


Mata hari bersinar dengan terangnya, Seorang gadis terlihat masih terlelap di ranjangnya. Keringat membasahi pelipis dan pakaian tidurnya, ia terlihat tidak tenang.


"Tae hee, kau sudah menghubungi dokter belum?" tanya Taehyung.


"Sudah oppa, tapi dokter pribadimu itu memang lambat! menyebalkan," sinis Tae hee.


"Hari ini kau tidak usah ke kampus, kau jaga wanita ini. Jika ada apa-apa segera hubungi oppa," kata Taehyung.

__ADS_1


Ia segera keluar dari kamarnya dan Chaerin, yea selama ini walau ia berlaku kasar juga terlihat membenci Taehyung tidak mengijinkan Chaerin tidur di kamar lain. Sepeninggal Taehyung, selang beberapa waktu kemudian dokter yang di tunggu akhirnya datang juga.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar di ketuk, Tae hee yang sedang duduk di sisi Chaerin segera bangkit untuk membuka pintu.


"Kau selalu lambat oppa, sebagai dokter yang baik seharusnya kau bisa tepat waktu!" hardik Tae hee.


"Hehehe ... maaf Hee-aa di jalan macet jadi aku terlambat untuk datang," ucap dokter itu beralasan.


"Hahh ... jika pasien yang menunggumu memiliki riwayat sakit jantung kronis maka pasiennya sudah mati lebih dulu sebelum kau datang," sinis Tae hee.


"Hahaha ... kau tidak berubah Hee-aa, masih galak seperti biasanya." Dokter itu melangkah masuk mengikuti Tae hee.


Beberapa menit berlalu, Chaerin sudah diperiksa dengan teliti. Setelah memberikan resep obat dan beberapa vitamin dokter itu pamit undur diri.


.


.


.


.


Chaerin termenung di kamarnya, ia berdiri di jendela menatap ke arah taman yang indah. Ia sedih memikirkan nasibnya, disaat ia baru sadar ia sudah harus menikah dengan orang asing, ia juga tidak ingat siapa dirinya sebenarnya. Belum lagi suaminya sendiri tidak segan untuk menyakiti, terkadang ia ingin mati saja agar tidak merasakan penderitaan ini lebih lanjut.


Tae hee sejak tadi sudah pamit karena tiba-tiba saja ia mendapat kabar bahwa ada ujian dadakan yang sangat mempengaruhi nilai utama dalam kelulusan nanti, dan ia tidak ingin sampai kehilangan kesempatan ini. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, di rumah sebesar ini hanya ada Chaerin seorang. Karena Taehyung maupun Tae hee belum juga ada yang kembali.


Hari ini ia tidak di ijinkan masuk bekerja dengan alasan harus istirahat, untung saja Taehyung menemukan tengah malam itu. Jika tidak ia benar-benar tidak akan bisa melihat hari ini. Mereka berdua keterlaluan, sudah membully-nya tanpa perasaan. Di dalam hati Chaerin berjanji akan membalas mereka berdua.


Saat ini Chaerin berada di dapur, ia sedang memasak makanan, karena biasanya Tae hee selalu ingin di buatkan makan malam. Chaerin meringis merasakan kepalanya kembali berdenyut sakit, rasa sakit ini berbeda ini lebih sakit.


"Noona, masakan makanan yang lezat untukku. Kau tahu ... masakanmu adalah yang terlezat,"


"Hae-aa, kau selalu bisa merayu Noona mu untuk menuruti kemauanmu. Dasar bocah nakal,"


cuplikan demi cuplikan berkelebat di kepala Chaerin, ia akhirnya mematikan kompor karena merasa tidak tahan dan berjalan keluar dari dapur. Tapi belum berhasil ia mencapai tangga, Chaerin sudah lebih dulu pingsan.

__ADS_1


__ADS_2