
🍁🍁🍁
Busan
"Apa kau bilang! Sunny tidak ada di kamarnya?!" bentak Tuan Cha.
"I-iya~ hiks ... hiks ... a-aku tidak tahu kalau dia akan melarikan diri seperti ini," ujar Nyonya Cha gugup dan panik.
Tuan Cha sangat marah saat ini karena putri keduanya baru saja di ketahui telah melarikan diri, sedangkan ia telah memiliki janji temu malam ini dengan calon besannya untuk mempertemukan putrinya dengan putra sahabatnya.
Beberapa bulan yang lalu putri sulungnya Cha Hye rim, telah di culik oleh sekelompok orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Namun, entah apa yang terjadi hingga menyebabkan hilangnya sang putri sulung dari tangan para penculik itu. Tak lama kemudian putra ketiganya Cha Doo Hae, pergi dengan alasan ingin kuliah di luar kota tapi hingga kini malah hilang kontak dan tidak diketahui di mana keberadaannya saat ini, tanpa ia tahu jika sang putra tengah melakukan pencarian terhadap Hye rim. Sekarang putri keduanya Cha Sunny, malah kabur dari perjodohan yang telah direncanakan. Tuan Cha memijit kepalanya yang terasa sakit memikirkan musibah yang tengah terjadi pada keluarganya secara berturut-turut, ia berfikir mungkin karena dosa di masa lampau hingga kesulitan tidak berhenti menghampiri dan membuatnya berada dalam masalah yang seperti ini.
Tuan Cha mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "Tuan Park apakah anda ada waktu siang ini? ya ini mengenai pertemuan kita nanti malam ... ada sedikit masalah."
" ... "
"Aku tahu, aku akan usahakan untuk tiba di Seoul siang ini."
" ... "
Tuan Cha mematikan sambungan telepon setelah ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan dari Tuan Park.
"Hari ini aku akan berangkat ke Seoul, kau baik-baik di rumah selama aku tidak ada beberapa hari ini, yeobo." Tuan Cha meraih tubuh sang istri dan memeluknya berusaha untuk menenangkan.
"Berjanjilah~ kau akan segera membawa pulang anak-anak kita," lirih Nyonya Cha.
"Berdoalah semoga usahaku tidak sia-sia."
"Aku selalu berdoa yang terbaik untuk keluarga kita," lirih Nyonya Cha.
"Hmm ... di mana Chanie? Aku tidak melihatnya sejak kemaren," ujar Tuan Cha.
"Dia sedang tidak enak badan dan masih tidur di kamarnya," sahut Nyonya Cha.
"Benarkah? Aku akan melihatnya sebentar sebelum berangkat," kata Tuan Cha sembari melangkahkan kakinya menuju lantai dua di mana kamar Cha Chanyeol berada. Dia adalah putra keempat dikeluarga ini, baru berusia enam tahun dan sangat manja kepada ketiga saudaranya terutama Hye rim.
Sejak Hye rim tidak berada di rumah, Chanie selalu mencarinya, dan sekarang ia sedang sakit mungkin efek karena terlalu merindukan kakaknya.
'Krieeett!'
Tuan Cha membuka pintu secara perlahan, ia berjalan hati-hati mendekati ranjang untuk melihat kondisi sang putra. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Chanyeol dengan lembut.
"Apakah dokter keluarga kita sudah memeriksa keadaannya?" tanya Tuan Cha.
"Sudah," jawab Nyonya Cha.
"Hmm ... jaga dia dengan baik Yeobo. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," ujar Tuan Cha sambil menatap Chanyeol.
Tuan Cha mendaratkan ciuman sayangnya di kening sang putra, membelai surai coklat dengan penuh kasih sayang. Setelah di rasa cukup ia pun beranjak dari sisi ranjang dan segera keluar dari kamar dengan di ikuti oleh Nyonya Cha. Setelah Tuan dan Nyonya Cha meninggalkan Chanyeol sendirian, mata anak kecil itu terbuka dan meneteskan cairan bening.
"Hye rim Nuuna, cepat pulang~ Chanie rindu," lirihnya pelan.
✨✨✨
Seoul
__ADS_1
Sebuah mobil sport hitam baru saja terparkir indah di halaman gedung perusahaan Kim Enterprise. Saat pintu terbuka keluarlah seorang pemuda berparas tampan dengan stelan casual yang membuatnya terlihat seperti seorang anak remaja karena postur tubuhnya.
Tangan kirinya melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dan tangan kanan menyisir rambutnya kebelakang dengan gaya ponggah, seakan bergaya untuk memamerkan jika ia adalah pria tertampan yang sempurna. Seakan tidak cukup dengan itu, pria itu tersenyum tebar pesona pada gadis yang memperhatikannya hingga membuat sebagian besar dari mereka menjerit histeris.
Jimin mengeluarkan ponselnya, dan terlihat mengetikkan sesuatu sebelum akhirnya ia memasukkan benda pipih itu kembali. Pria itu bersandar pada pintu mobilnya sambil memperhatikan sekitarnya dengan seksama, sesekali ia mendongak menatap gedung tinggi di hadapannya dengan senyumnya yang memikat seolah ingin memperlihatkan pada seseorang yang berada di dalam ruangan di salah satu gedung itu. Tak lama sebuah suara yang familiar terdengar membuatnya tersenyum semakin lebar.
"Yaak ... Park Jimin! hentikan tingkah memalukanmu itu. Sungguh merusak pemandangan," hardik Taehyung yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapan pemuda bernama Park Jimin tersebut.
"Ah ... akhirnya kau keluar juga. Kau tahu aku malas sekali harus naik ke kantormu di atas sana, ayo masuk." pemuda itu masuk ke dalam mobilnya dan diikuti oleh Taehyung.
"Yang menyuruhmu untuk menemuiku siapa? Aku tidak pernah memintamu untuk datang," ujar Taehyung setelah ia mendudukkan bokongnya di kursi penumpang.
"Tae hee yang memintaku untuk menemuimu, jika tidak aku juga tidak ingin bertemu denganmu!" pekik Jimin kesal. Jika bertemu kedua sepupu ini tidak pernah akur, selalu saja berdebat akan hal yang tidak penting tapi tak juga membuat mereka bermusuhan.
"Tae hee? kenapa dengan anak itu, apa dia telah melakukan sesuatu yang merugikanmu atau kau menjadi kacungnya lagi untuk menyampaikan pesannya padaku?" tanya Taehyung tepat sasaran.
"Hahh ... kau tahu sekali kelakuan adik tersayangmu itu! satu hal~ aku bukan kacungnya!" jerit Jimin tak perduli pada keadaan sekitar.
"Dia juga adikmu, Jiminie pabo!" sinis Taehyung tak mau kalah. Beginilah kalau keduanya sudah bertemu, bagai anak kecil yang berebut mainan. Tapi jika dihadapan orang lain keduanya bisa menjaga sikap. Hanya didepan orang-orang tertentu mereka bisa menjadi dirinya sendiri seperti sekarang.
"Sekali lagi kau mengatakan aku pabo, aku tak akan mengatakan kemana Tae hee menculik istrimu!" ancam Jimin.
"Tae hee membawa Chaerin kemana?!"
"Dia membawa istrimu ke ...,"
.
.
.
Dengan wajah datar andalannya ia memandangi awan yang berarak di sisi jendelanya, pikirannya melayang entah kemana saat mendengar apa yang di katakan oleh Jimin tadi.
"Tae hee membawa istrimu ke Australia untuk dikenalkan pada pria di sana dan akan melakukan kencan buta,"
perkataan itu terus berulang bagai kaset kosong di tengah kekesalannya pada sang adik, Taehyung memejamkan matanya berusaha untuk tidur karena lelah dengan semua yang ada dalam pikirannya saat ini. Sementara Jimin, pemuda itu sedang sibuk dengan sebuah majalah dewasa. Membolak-balik halaman dengan wajah bete karena merasa bosan.
"Wanita-wanita ini membosankan, jangan sampai calon istriku nanti juga sama membosankan seperti mereka!" sinis Jimin sambil menghempaskan majalah itu kasar.
"Apakah kau memiliki kelainan atau sex yang menyimpang, Jimin-aa?" tanya Taehyung. Walau ia terlihat tertidur tapi ia mengetahui apa yang diperbuat pemuda yang menggerutu tentang wanita yang sebenarnya berpakaian sexy bahkan di foto hanya menggunakan bikini.
"Aku? Aku tentu saja memiliki sex yang menyimpang. Kau tahu Tae-aa~ aku lebih tertarik melihat abs-mu yang sempurna itu dari pada payudara wanita telanjang di depanku," ujar Jimin terdengar sungguh-sungguh.
"Kau menjijikkan! sudah jangan menggangguku dengan ocehanmu yang berisik itu."
"Siapa yang mau mengganggu? Aku hanya sedang berbicara sendiri," ujar Jimin sambil meraih botol Vodka dan sebuah mini gelas.
"Jangan minum di pesawat jika tak ingin kubuang kau dari atas sini dan berakhir di dasar samudera!" ancam Taehyung membuat Jimin berdecak kesal.
"Kau ini menyebalkan!" pekik Jimin.
"Bukankah kau sudah tahu aku begitu," kata Taehyung.
"Diam kau!" bentak Jimin kesal.
__ADS_1
Setelah saling berteriak satu sama lain akhirnya keduanya tertidur karena lelah, perjalanan menuju Australia masih ada beberapa jam lagi dan kedua pemuda itu memutuskan untuk tertidur sejenak.
✨✨✨
"Kapan kita akan pulang Hee-aa? sudah dua hari kita berada di sini, nanti Taehyung oppa akan marah." Chaerin bergerak gelisah sambil menatap Tae hee yang berbaring santai di ranjangnya.
"Tunggu sampai Jimin Oppa menjemputku, baru aku akan pulang."
"Menjemputmu? lalu aku ...,"
" Ahh ... aku lupa menjelaskan padamu Chaerin-aa. Kau di sini untuk bulan madu dengan oppa-ku," ucap Tae hee santai.
"A-apaa! t-tapi kau mengatakan ki-"
"Ya ... kita akan jalan-jalan selama dua hari setelah itu pulang," potong Tae hee.
"Kau bohong padaku?!" sinis Chaerin menatap Tae hee tajam.
"Dengar, aku hanya ingin kau bisa bertahan di sisi Oppa-ku. Jika kau hamil~ maka hal itu tidak sulit," kata Tae hee menatap Chaerin serius.
"Tapi aku hanya pengganti, dan kau tahu itu. Jika Chaerin asli kembali dan mengambil haknya maka aku akan tersingkir."
"Yang dinikahi oleh Taehyung oppa adalah dirimu, jadi jangan mau mengalah pada wanita jalang itu. Sudahlah ini sudah malam sebaiknya kau tidur," kata Tae hee sambil tersenyum. "Asal kau tahu ... aku lebih suka jika kau tetap bertahan untuk menjadi kakak iparku," tambahnya.
"Terimakasih," sahut Chaerin palsu atau yang sebenarnya adalah ...
.
.
.
Australia bagian kota yang berbeda.
Di sebuah villa mewah di tengah kota, malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya bagi wanita cantik ini. Ia menuangkan jus orens sambil bersenandung, terlihat bahagia hingga tidak menyadari jika seorang pria tengah berjalan mengendap-endap menghampirinya.
"Aakk ... apa yang kau lakukan oppa!" pekiknya terkejut ketika sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya.
"Tidak ada, aku hanya merindukanmu." Pria itu mencium bahu dan leher wanitanya penuh cinta.
"Hahh ... j-jangan begini oppa,"
"Kau tahu, aku tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja karena selalu memikirkanmu. Kenapa hingga saat ini kau masih belum mau menerima lamaranku untuk menikahimu Chaerin-aa?" tanya pria itu sedih.
"Oppa, kau tahu kan jika aku dalam acara melarikan diri. Aku masih belum tahu apakah keluargaku sudah berhenti untuk menjodohkanku dengan putra sulung dari keluarga Kim tersebut atau belum. Aku hanya tidak ingin membuatmu berada dalam masalah karenaku," kata wanita itu sambil memeluk kekasihnya.
"Hmm ... tapi jika kita menikah, Appa-mu sekalipun tidak akan bisa berbuat apa-apa."
"Kyuhyun oppa, aku sangat berterimakasih karena cintamu begitu besar untukku. Bersabarlah ...," tutur wanita itu sambil menghirup aroma pria yang sudah membuatnya nekad meninggalkan rumah hanya demi bisa bersamanya.
TBC ...
Nah bagaimana chingu dengan part kali ini???😅😅😅
Tolong untuk meninggalkan jejak kalian setelah membaca.
__ADS_1