
" Kamu tidak cemburu, ketika melihat Astrid kekasih mu itu bercumbu dengan pria lain? "
Carlos nampak sangat terkejut dari raut wajahnya Vanya dapat melihat jika Carlos sangat terkejut dan ada amarah di dalam dirinya.
" jangan asal bicara kamu Vanya, Astrid bukanlah wanita yang seperti itu. tidak mungkin dia melakukan itu semua. "
" apa kamu mengetahui apa yang membuat dia di keluarkan dari pekerjaannya itu dan kenapa dia harus mendekam di sel karantina itu ? "
" itu karena kasus penipuan yang dia lakukan bersama dengan pak Simon untuk mendapatkan jabatan milik mu. "
" setelahnya apa kau mengetahuinya ? "
Carlos mengeraskan rahangnya, wajahnya pun terlihat memerah akibat dia menahan amarahnya.
" VANYAAAA "
Carlos berteriak kepada Vanya, teriakannya itu berhasil membuat orang yang berada di sekitarnya itu berlari menuju ruang interogasi dan melihat apa yang sedang terjadi.
Vanya beranjak dari duduknya, dia berjalan melewati Carlos yang masih dalam keadaan menahan amarah.
kini Vanya kembali lagi dengan membawa beberapa foto dan laptop di tangannya.
" kau lihat ini "
Vanya menyerahkan beberapa foto adegan panas antara Astrid dan pak Simon.
" gak mungkin ini pasti editan kan. apalagi yang kalian mau dia sudah pergi jauh kenapa kalian masih mengusik dia. biarkan dia pergi dengan tenang dan biarkan aku mengantarnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. "
kini Carlos tampak sangat kacau, air matanya kini mengalir dengan sangat deras.
" aku akan membantu mu untuk mengantar Astrid ke tempat peristirahatan terakhir. tapi sebelum itu lihatlah Video ini dan kamu akan percaya apa yang aku katakan. "
Carlos memperhatikan Video yang di tunjukan Vanya. hatinya bagai teriris pisau ketika melihat adegan panas sang kekasih dengan pria lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah atasannya sendiri.
setelah melihat Vidio itu Carlos berteriak meluapkan segala beban yang ada dalam dirinya. dia mengamuk di dalam ruangan interogasi dan menendang barang-barang apapun Yang ada di sana.
untuk menjaga keselamatan, Vanya di tarik keluar dari ruang interogasi itu dan Carlos akan di tenangkan dengan suntik penenang.
setelah menerima cairan penenang itu Carlos terjatuh dan tidak sadarkan diri. meski tidak sadarkan diri air mata Carlos masih mengalir dari matanya yang sayu itu.
" gimana apa yang kamu dapatkan?
" aku rasa bukan Carlos pelaku pembunuhan ini. "
" kenapa kamu beranggapan jika Carlos bukanlah pelakunya. "
" alasan kalian menjadikan Carlos tersangka utama itu tidak benar adanya. bahkan Carlos tidak mengetahui jika Astrid memiliki hubungan dengan atasannya itu bahkan sampai terjadi adegan panas. "
" atasan ? " Diki mengerutkan dahinya pertanda dia tidak mengerti dengan semua yang di ucapkan Vanya.
" maksudnya atasan ini bagaimana. "
Agatha menyambung ucapan dari Diki
" aku juga tidak tau, atasan yang dimaksud ini bagaimana. mungkin saja Carlos merupakan salah satu bodyguard di rumah pak Simon atau mungkin yang lain. "
setelah di rasa cukup memberikan informasi yang dia dapat Vanya beranjak dari ruang interogasi itu.
" kamu mau kemana Vanya? "
Diki berusaha mengimbangi langkah kaki Vanya.
" aku mau ke kantor untuk menemui Kaila. aku mau minta dia untuk mencari informasi tentang Carlos, Astrid dan juga pak Simon. "
*
*
*
__ADS_1
Vanya kini sudah berada di dalam ruangan kerjanya. dia segera mengambil handphone miliknya dan langsung menekan nomor untuk menghubungi temannya yang bernama Kaila itu.
" hallo Kai, aku bisa minta tolong gak sama kamu ? "
" bisa, apa yang bisa ku bantu."
" tolong carikan aku apapun informasi tentang Astrid, Carlos, dan pak Simon. aku butuh secepatnya. "
" oke, berikan aku waktu 10-20 menit. "
" baiklah aku akan menunggu kabar dari kamu. "
Vanya menutup panggilan telponnya dengan Kaila.
" aku pergi keluar sebentar, nanti kalau ada yang cari aku bilang aja kalau aku lagi ada urusan sebentar di luar. "
ucap Vanya sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan.
Vanya menuju tempat dimana dia memarkirkan mobil BMW tipe X1 dengan kisaran harga 739 juta Rupiah.
dia memasuki mobil dan segera menginjak pedal gas mobilnya dan mobil itu bergerak dengan kecepatan yang sedang.
setelah selang 10 menit, Vanya kembali memarkirkan mobilnya, bukan di parkiran mobil di kantornya tetapi di parkiran kantor polisi.
dapat kalian tebak apa yang sedang di lakukan oleh Vanya ????
tentu saja dia sedang menjenguk sang kekasih yang tengah di tahan dalam sel itu.
" selamat pagi pak "
Vanya menyapa salah satu petugas yang ada di kantor polisi tersebut dengan senyuman manis milik Vanya. sangat di sayangkan bukannya membalas senyuman dan sapaan Vanya, petugas itu justru meninggalkan Vanya yang tengah tersenyum kepadanya.
" astaga Vanya sabar gak boleh julid. "
Vanya tidak terlalu menghiraukan perlakuan yang sedikit buruk yang dia dapatkan dari kantor polisi ini.
" kenapa kamu datang? "
suara yang sangat Vanya kenal itu berbicara dengan nada yang datar.
" aku mau jemput kamu loh erick. gak boleh emangnya ? "
bukannya menjawab pria dengan tubuh kekar, rahang tegas dan badan yang menjulang tinggi itu malah menatap wajah Vanya dengan sangat intens.
" sudah makan. "
ucap Erick tanpa intonasi apapun yang membuat orang yang sedang berbicara dengan dirinya akan sangat bingung.
tetapi kali ini pria itu tengah berbicara kepada Vanya, jelas Vanya mengetahui betul apa yang di maksud oleh pria itu.
" sudah tadi aku sudah makan di kantor. "
tanpa basa basi pria itu langsung menarik tangan Vanya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil BMW milik Vanya itu.
" Erick..... "
Vanya tau jika pria dengan nama Frederick Alexander itu tengah menahan rasa amarahnya.
" kamu tau bukan, jika aku tidak suka di bohongi ? "
Erick kembali berucap tanpa intonasi.
Vanya tidak dapat menjawab perkataan Erick dia hanya bisa tertunduk. bukan hanya pocong yang Vanya takuti tetapi Vanya juga sangat takut jika dia melihat Erick yang menatap nya datar.
sudah dapat di pastikan jika Erick mengeluarkan ekspresi wajah yang seperti itu Vanya telah melakukan sebuah kesalahan.
di dalam mobil itu Vanya hanya bisa terdiam sembari sesekali menatap wajah Erick yang masih saja sama datarnya seperti tembok.
" turun "
__ADS_1
Vanya terkejut dengan apa yang di katakan oleh Erick. bukannya turun Vanya justru terdiam di tempat.
Erick yang kini sangat berbanding jauh sekali saat masih SMA menarik tangan Vanya keluar dari mobil itu.
mereka berdua memasuki sebuah restoran bintang 4 yang menjadi restoran favorit mereka berdua.
" seperti biasa. " ucap Erick
mereka kemudian duduk di meja yang masih kosong. Vanya menurut saja apa yang di lakukan oleh Erick.
" sudah ku bilang berulang kali, aku mengizinkan kamu kerja dengan syarat jaga kesehatan. tetapi sekarang kamu tidak makan dari kemarin? kamu sudah gak mau kerja lagi ? "
" aku bukan gak mau makan tapi lupa Erick."
" selalu saja itu alasan yang kamu ucapkan sampai aku hapal dengan kata-kata mu itu. "
" jika kejadian ini terulang lagi, aku akan membuktikan kata-kata ku untuk membuat kamu berhenti bekerja. "
Vanya nampak pasrah dengan semua yang di ucapkan oleh Erick. dia tidak dapat membantah sebab sebelum Vanya bekerja mereka telah membuat kesepakatan.
jika terjadi apa-apa terhadap Vanya maka Erick tidak segan-segan untuk mengeluarkan Vanya dari tempat kerjanya itu dengan cara apapun.
di saat suasana sedang sunyi antara Erick dan Vanya, makanan yang mereka pesan kini telah datang.
pelayan itu menghapal pesanan milik Vanya dan Erick. dia mengantar makanan yang sangat di sukai Vanya yaitu steak ayam dengan sayuran dan kentang goreng.
tanpa menunggu waktu lama Vanya menarik piring steak ayam itu dan langsung melahap steak ayam itu.
Erick memperhatikan Vanya yang sedang makan, dia bahkan menyodorkan piring yang berisi steak ayam miliknya kepada Vanya.
Vanya sangat mengenal pria yang berusia 25 tahun yang tengah duduk di depannya itu.
Vanya mengambil piring itu dan menaruhnya di samping piring milik Vanya. dia memotong steak ayam itu dan menyuapkannya kepada Erick.
ya itukah kebiasaan mereka berdua ketika sedang makan bersama. Vanya terus menyuapi Erick hingga piring itu habis tanpa sisa.
" mau lagi ? "
Erick menawarkan untuk menambah lagi.
" sudah aja, nanti malam aku mau masak. jadi nanti malam ke apartemen ya, aku mau masak buat kamu juga sekalian mau ngobrol banyak hal sama kamu. "
" kenapa? kangen ? "
Erick berusaha untuk menggoda Vanya
" banget, kangen banget sama Erick. "
kini mata mereka saling bertemu, mereka bertatapan lumayan lama hingga....
drtttt...drttt...drtt...
suara dering handphone milik Vanya berbunyi. Vanya mengambil handphone milik nya itu dan melihat layar dari benda gepeng itu.
terlihat nama Kaila dalam layar ponsel itu.
" halo Kai, sudah ada apa yang aku minta. "
" sudah dapat Van, cepat ke sini kamu pasti akan sama terkejutnya dengan aku. "
*
*
*
oke sampai sini dulu
jangan lupa like, vote and subscribe 💋🌺
__ADS_1