
" cuman apa?, besok gak usah kerja lagi. aku yang akan urus semuanya. "
" Erick jangan, aku minta maaf. aku gak bisa apa-apa. kalau aku gak lihat itunya gimana aku bisa mencari tau karakteristik dari pembunuh itu. "
" bisa aja kan dari luka yang dia bikin itu menjadi petunjuk mengenai pembunuh nya. toh lagian aku cuman lihat lukanya bukan lihat alat vitalnya. "
" kan sama aja, kamu lihat luka pada alat vital pria tua itu. "
" apa yang mau aku lihat Erick, lagian alat vitalnya itu sudah gak berbentuk lagi. "
" kan sama aja. aku gak mau mata mu itu melihat barang milik orang lain. kamu cuma punya aku dan selamanya akan jadi milikku. bahkan jika di kehidupan ini aku tidak bisa memilikimu seutuhnya akan ku pastikan di kehidupan selanjutnya kau akan tetap menjadi milikmu. "
wajah Erick terlihat memerah bahkan deru nafasnya sangat bisa di rasakan. Vanya tau jika saat ini Erick tengah menahan amarahnya. untuk mencari aman Vanya meminta maaf kepada Erick
" iya Vanya minta maaf, Vanya gak akan ngilangin lagi. nanti kalau ada kasus yang sama Vanya suruh yang lain aja. "
" good girl. "
setalah mengucapkan dua kata tersebut tanpa aba-aba Erick mengecup singkat bibir tebal milik Vanya.
Vanya tersentak mendapatkan bibir Erick menyatu dengan bibirnya.
" jangan coba-coba melirik pria lain, aku kurung nanti kamu di kamar ku. "
" dasar orang aneh. "
" ish bukan aneh, aku gak mau kehilangan kamu. "
Vanya terkekeh melihat perubahan sikap Erick yang sangat drastis. Erick dan Vanya memiliki kepribadian yang sama yaitu sering berubah-ubah sesuai mood mereka.
Erick membenamkan wajahnya di Curug leher Vanya dan tertidur di atas tubuh Vanya.
Vanya sadar jika sang kekasih telah tidur tepat di atas tubuhnya itu, mengelus rambut Erick dengan sangat lembut bahkan senyuman Vanya terukir di bibirnya.
Vanya yang merasa nyaman dengan pelukan dari Erick ikut tertidur.
*
*
*
keesokan paginya, Vanya membuka matanya dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. dia menyadari akan satu hal, jika kini dia terbangun di kamarnya dengan Erick yang masih terlelap.
" kayanya Erick angkat aku semalam. "
saat ingin bangun, tangan Vanya di tarik oleh Erick.
" morning kiss dulu baru berangkat kerja. " ucap Erick yang ternyata sudah bangun
Vanya kembali dan mengecup kedua pipi Erick yang masih terpejam matanya.
" kenapa di pipi, di sini dong. "
Erick menunjuk bibirnya
Vanya menghela nafas panjang ketika menghadapi sikap manja milik Erick itu.
" belum gosok gigi Erick, bau mulut. "
" ya udah aku gosok gigi dulu. "
Erick beranjak dari tempat tidurnya dan berlari kecil menuju kamar mandi.
" Erick nanti dulu aku mau mandi. Nanti aku terlambat ke kantor. "
" gak mau wleeeee. "
Erick menjulurkan lidahnya kepada Vanya.
Vanya hanya bisa menarik nafas panjang, itulah sifat Erick yang paling Vanya bikin naik pitam.
__ADS_1
Erick bukan hanya menggosok gigi tetapi dia juga mandi pagi dan itu berhasil membuat Vanya kesal.
jika Erick mandi deluan dapat di pastikan jika Vanya akan terlambat sebab ketika Erick sudah berada di kamar mandi maka akan butuh waktu 1-2 jam untuk menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi.
selang beberapa waktu kemudian, akhirnya Erick keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. menampilkan dadanya yang bidang dan pundak yang tergolong lebar.
Vanya menatap tajam ke arah Erick dan di balas Erick dengan menaik turunkan alisnya.
tidak mau membuang waktu Vanya bergegas masuk kamar mandi dan segera membersihkan badannya.
*
*
*
kini keduanya tengah berada di meja makan untuk sarapan bersama. Vanya mengambil sehelai roti dan mengolesnya dengan selai strawberry kesukaannya.
tidak lupa Vanya juga membuatkan kopi untuk Erick dan mengoleskan selai kacang pada rotinya.
seperti biasa mereka sarapan tanpa suara sedikit pun. Erick dan Vanya merupakan tipe orang yang sangat tidak suka jika kegiatan makan mereka di ganggu walaupun hanya sekedar untuk mengajak bicara.
setelah selesai sarapan Vanya memakai sepatu pantofel miliknya dan segera mengambil tasnya untuk berangkat.
saat ingin berjalan ke arah pintu keluar, tangan Vanya di tahan oleh Erick.
Vanya melupakan sesuatu dan sesegera mungkin dia berbalik ke arah Erick dan.....
cup......cup.....cup.....
Vanya mengecup kedua pipi Erick dan juga mengecup singkat bibir Erick.
Erick ingin meraih tengkuk leher Vanya namun itu di sadari oleh Vanya dan dia segera menjauh dari hadapan Erick
" jangan gila, aku sudah pakai lipstik. "
" ya udah tinggal pakai lagi nanti. "
" ish gak boleh, belum nikah. "
" ya udah ayok kita nikah. "
" Erick sudah deh aku cape, sudah aku mau berangkat. "
Erick tersenyum puas ketika melihat sang kekasih sudah pasrah dengan perdebatan mereka.
Erick menatap punggung Vanya yang semakin menjauh dan memasuki mobilnya.
" dadah Erick aku berangkat dulu. muach "
Vanya melepas kiss bye nya untuk Erick.
senyum Erick kini kembali terukir di bibir sexy nya itu.
" tidak ada satupun yang boleh menyakiti kamu atau membuat kamu kesal. hanya aku yang boleh. "
Erick masuk kedalam rumah Vanya dan menutup pintu rumah itu.
di sisi lain Vanya kini sedang dalam perjalanan yang sangat macet parah. entah apa yang terjadi hingga membuat kemacetan yang begitu besar.
" arghh gara-gara Erick nih kejebak macet kan aku. bisa terkena SP kalau gini ceritanya. "
suara klakson mobil yang saling bersaut-sautan mengiringi kemacetan yang lumayan panjang itu.
" ini ada apa sih di depan. kenapa macet banget. "
sudah 2 jam lamanya Vanya terjebak macet entah apa yang sebenarnya terjadi. Vanya ingin putar balik, tapi sayangnya posisi Vanya tengah berada di tengah-tengah jalan yang di apit oleh mobil di depan, belakang dan samping kanan kiri.
" kalau tau gini aku pakai motor aja. "
Vanya memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya itu dan berjalan memastikan sedang terjadi apa di depan sana yang membuat kemacetan begitu parah.
__ADS_1
saat berada di sumber kemacetan itu sendiri Vanya melihat jika terdapat truk Tangki minyak yang mengalami kecelakaan hingga membuat badan mobil itu rebah dan minyak yang mereka bawa tertumpah keluar.
ada perasaan aneh dalam hati Vanya ketika melihat truk tangki minyak itu.
" bagaimana mungkin, sebuah truk tangki minyak mengalami kecelakaan tapi tidak terbakar. "
" apakah rebahnya mobil ini sangat pelan hingga tidak menyebabkan kebakaran? "
" tapi tidak mungkin sebuah truk tangki minyak bisa kecelakaan dengan mudah jika pengemudinya membawa dengan kecepatan normal. belum lagi jalan ini merupakan jalan lurus saja dan sedikit menanjak.
Vanya bergelut dengan pikirannya sendiri, dia memperhatikan dengan seksama semua orang yang ada di sekitar tangki minyak itu.
" kalau pun dia kecelakaan karena melaju dengan kecepatan tinggi, pasti akan ada kerusakan pada mobil ini. entah lecet atau mungkin kacanya akan pecah. "
Vanya berusaha sekeras mungkin untuk berfikir dengan kejadian yang ada di depan matanya itu. saat sedang asik dalam pikirannya sendiri ada sosok pria menarik perhatian Vanya.
pria itu menggunakan Hoodie berwarna merah darah. dia menutupi kepalanya dengan topi dan juga kupluk yang ada di Hoodie itu.
Vanya memperhatikan gerak-gerik dari pria itu, Vanya sadar jika kejadian saat ini sudah tidak beres.
pria ber Hoodie itu selalu menengok ke arah bawah mobil. Vanya mengikuti arah pandang pria itu dan pemandangan yang Vanya lihat adalah cairan minyak yang kini sudah mengalir tepat di bawah kemacetan mobil.
Vanya semakin yakin jika ada yang tidak beres, hatinya berdegup dengan cepat bahkan nafas Vanya mulai tersengal
" ya Tuhan kenapa jantung ku berdegup dengan sangat cepat. apa yang akan terjadi. "
Vanya berlari ke arah mobilnya, dia melihat ke arah belakang jika kemacetan ini semakin panjang. dia pun melihat ke arah depan banyak pemilik mobil yang turun dan memilih untuk melepaskan pembatas jalan antara lajur kiri dan kanan.
Vanya yang melihat itu sangat heran apa yang sedang di lakukan oleh orang-orang itu. dia menghampiri beberapa orang yang kini sedang mencabut pembatas jalan berwarna hitam putih itu.
" permisi pak mohon maaf kenapa pembatas jalan ini di cabut. "
Vanya bertanya dengan tutur kata yang lembut dengan pria itu, tapi pria itu justru membentak Vanya.
" mbak saya ini sedang ada meeting di kantor, meeting itu sangat penting bagi saya. jika saya tidak menghadiri meeting itu saya bisa kehilangan pekerjaan saya. mbaknya mau tanggung jawab atas kehidupan saya dan anak istri saya jika saya tidak memiliki pekerjaan!!!. "
ucap pria itu dengan nada yang terkesan membentak.
yang tersentak kaget ketika mendapati pria itu menjawab pertanyaan dengan nada yang cukup tinggi.
" Yee si bapaknya, aku kan tanya baik-baik malah di jawab kasar kaya gitu. "
protes Vanya dalam hati
setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya pembatas jalan yang di bongkar paksa itu muat ketika di lalui mobil.
banyak mobil yang akhirnya memutuskan melewati pembatas jalan itu termasuk Vanya.
" ada betul nya juga orang tadi, ini aja aku sudah terlambat sekitar 2 jam. "
Vanya melihat ke arah belakang melalui spion mobilnya, dia melihat jika hanya tersisa dua mobil yang berada di belakang mobilnya.
" apakah mereka akan menunggu sampai truk itu di bereskan. aku salut dengan ke sabaran mereka. "
Vanya melajukan mobilnya hingga sekitar 500 meter terdengar suara dentuman yang begitu keras yang disertai dengan teriakan beberapa orang.
DUAR ..........
Vanya menepikan mobilnya ke samping dan dia melihat jika ada satu orang pria yang tengah berlari tergopoh-gopoh.
Vanya menghampiri pria tersebut dan bertanya apa yang sedang terjadi.
" permisi pak, apa yang terjadi ? "
" tadi saya sedang melihat-lihat truk tangki itu, pas saya lihat ada pria ber Hoodie merah mengeluarkan korek saya berteriak agar jangan menyalakan koreknya. tetapi dia malah menyalakan koreknya dan saya berlari secepat mungkin. saat saya menoleh ke arah belakang pria itu melemparkan korek itu tepat di minyak yang mengalir di bawah mobil-mobil. "
saat sedang menjelaskan kejadian yang bapak itu lihat, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang semakin ramai. hingga pria itu ingin berlari namun Vanya menarik tangannya untuk ikut dengan Vanya.
okeee guys
sampai sini aja dulu ya
__ADS_1
jangan lupa like, vote, and subscribe 💋🌺