
" tadi saya sedang melihat-lihat truk tangki itu, pas saya lihat ada pria ber Hoodie merah mengeluarkan korek saya berterima agar jangan menyalakan koreknya. tetapi dia malah menyalakan koreknya dan saya berlari secepat mungkin. saat saya menoleh ke arah belakang pria itu melemparkan korek itu tepat di minyak yang mengalir di bawah mobil-mobil. "
saat sedang menjelaskan kejadian yang bapak itu lihat, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan yang semakin ramai. hingga pria itu ingin berlari namun Vanya menarik tangannya untuk ikut dengan Vanya.
" mari pak ikut saya, mobil saya berada di situ."
pria itu mengikuti Vanya dan masuk ke dalam mobil Vanya.
Vanya melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Vanya melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk mengantar bapak-bapak itu agar luka bakar yang dia alami bisa segera di obati.
setelah mengantar bapak itu ke rumah sakit, Vanya menuju kantor menggunakan jalan tembusan atau jalan alternatif.
Vanya melangkah memasuki bangunan tempat ia bekerja. langkah kakinya yang awalnya hanya langkah biasa kini menjadi setengah lari.
" Vanya kenapa kamu baru datang. "
tegur atasan Vanya yang bernama Bu Chika.
" maaf Bu, tadi saya terjebak macet yang panjang di depan Bank sejahtera. "
jelas Vanya sambil sedikit membungkukkan badannya.
" ya sudah sekarang semuanya segera menuju ruang rapat. kita akan membahas kasus sebelumnya. "
Bu Chika berjalan keluar meninggalkan Vanya beserta teman- teman dalam ruangan itu.
"Vanya ya ampun kamu tau gak, Bu Chika itu tungguin kamu sekitar 1 jam lebih."
Diki membuka suara
"aku kejebak macet Diki, bahkan aku bisa keluar dari macet itu juga karena tadi ada bapak-bapak yang bongkar paksa pembatas jalan."
"astaga Vanya untungnya kamu keluar dari kemacetan itu ya, kalau enggak."
Agatha menggantung ucapannya dan menatap ke arah Vanya
" kalau enggak apa, gini deh kebiasaan banget jadi orang. kalau ngomong sukanya di jeda."
protes Diki
" kalau enggak, aku pasti akan ikut terkena api dari ledakan tangki minyak itu. "
semua yang ada dalam ruangan itu langsung menatap ke arah Vanya.
" hah gimana maksudnya?"
Joseph merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Vanya.
__ADS_1
" jadi kemacetan itu di sebabkan karena kecelakaan truk tangki minyak. minyaknya itu tumpah dan mungkin ada yang buang putung rokok sembarang dan terkena minyak. ya jadi gitulah."
Agatha menjelaskan apa yang dia tau dan kemungkinan yang terjadi menggunakan logikanya.
" tapi aku rasa ada yang aneh dari kejadian hari ini. "
ucap Vanya sambil mendudukkan dirinya di kursi.
" aneh gimana?" ucap Diki yang memang tipe cowo yang sangat penasaran akan hal-hal baru dan berbau kejahatan.
bahkan jika bisa dikatakan, Diki bergabung dengan BIN hanya karena sisi penasarannya itu akan kriminalitas.
" sudah-sudah nanti aja kita bahas ini. pasti sekarang kita sudah di tunggu di ruang meeting. "
ucap Joseph
sesudah Joseph berkata demikian semua yang ada dalam ruangan itu segera bergegas menuju ruang meeting.
sesampainya di ruang meeting sudah terdapat Bu Chika beserta atasan pimpinan lainnya.
tanpa membuang waktu lama akhirnya mereka pun membahas beberapa masalah mengenai kasus yang terjadi belakangan ini.
" baik sekarang kita mulai saja pembahasan kali ini. bisakah saya minta mengenai barang bukti yang kalian dapatkan dari kasus pembunuhan yang di alami oleh pak Simon dan saudari Astrid. "
ucap Bu Chika dengan acuhnya
" selalu saja begini, kami yang capek cari bukti eh dia yang dapat kompensasi. sialan pimpinan ini, coba aja dia bukan orang tua sudah ku geprek."
"sejauh ini kami belum mendapatkan bukti apapun, baik dari kasus pak Simon maupun saudari Astrid."
Joseph yang nota bene nya merupakan detektif yang memang sedang bekerja sama dengan tim Vanya itu membuka suara.
" lalu bagaimana dengan Diki, Agatha dan Richard."
Bu Chika menghentikan ucapannya dan celingak-celinguk mencari sesuatu
" dimana Richard? apakah dia belum selesai cuti?. emangnya istrinya itu melahirkan harus butuh waktu istirahat berapa lama sih lebay banget jadi perempuan."
tanpa memikirkan akan apa yang di ucapkan olehnya, perempuan dengan setelan jas ungu itu berbicara seenak jidatnya.
" makin kesini makin seenaknya aja mulut orang ini."
Agatha berbicara kepada Diki yang sedang berada di sampingnya.
"itulah, kok bisa ya kantor kaya gini mau menerima orang kaya dia yang gak pernah kerja sama sekali."
timpal Diki yang memang terlanjur kesal.
" biasalah teh power of orang dalam. Bu Chika kan adik dari jendral kepolisian."
__ADS_1
ucap Agatha dengan memutarkan bola matanya.
Bu Chika yang geram sebab tidak ada lagi yang merespon ucapannya dengan kedua tangannya dia menggebrak meja dan menendangnya.
" kalian ini gimana sih, saya sedang bicara loh dan saya juga bertanya kenapa gak ada yang jawab. dan lagi Vanya bagaimana kasus ini saya butuh bukti dan apapun itu deh yang berkaitan dengan kasus pembunuhan itu."
" dan lagi, beritahu Richard jangan terlalu lebay, istrinya cuman melahirkan lebay banget. suruh dia besok menemui saya, jangan mentang-mentang dia merupakan detektif yang cukup hebat dia seenaknya tidak masuk kerja."
setelah mengatakan hal itu Bu Chika segera meninggalkan mereka di ruang meeting.
" nyenyenyenye gila apa ya, orang melahirkan di bilang lebay. padahal istrinya Richard baru sekitar 5 hari yang lalu melahirkan sudah di suruh masuk aja si Richard. gak tau apa ya sakitnya melahirkan itu gimana."
Joseph pun sudah nampak sangat kesal hingga dia ikut mengumpat Bu Chika.
" gimana mau tau rasa sakitnya melahirkan nikah aja belum. jangankan mau nikah, punya calon aja enggak."
mulut Diki kini sudah tidak bisa di kondisikan lagi.
" sudah-sudah, ayo kita bergerak mencari informasi terbaru dari kasus kemarin."
timpal Vanya
mereka semua bergegas ke tempat kejadian dimana Astrid dan pak Simon terbunuh.
mereka memperhatikan daerah sekitar dan mencari-cari apa saja yang kemungkinan dapat membantu mereka memecahkan kasus pembunuhan kali ini.
kini Vanya dan rekannya yang lain sudah berada di tempat dimana pak Simon terbunuh.
Vanya memperhatikan keadaan rumah pak Simon setelah kasus pembunuhan tersebut.
" kenapa gak ada satu pun petunjuk dari kasus ini? "
ucap Joseph yang sudah terlihat sedikit frustasi dengan keadaan.
" kenapa rumah pak Simon tidak ada cctv nya? bukankah pak Simon merupakan orang yang selalu berjaga di setiap keadaan. lalu kenapa hal sepenting ini tidak dia terapkan? "
ucap Agatha yang merasa heran.
" aku rasa pak Simon memasang cctv, namun cctv itu seperti dilepas secara paksa. "
ucap Vanya yang tengah memperhatikan ke langit-langit rumah pak Simon.
*
*
*
oke sini dulu ya guys ya
__ADS_1
jangan lupa like, vote and subscribe 💋🌺