
di suatu daerah di salah satu pulau terbesar di Indonesia. suasana begitu terik dan panas, namun rindang dan hijaunya pepohonan yang mengisi sebagian dari pulau itu membuat suasana pada pulau itu sangat tenang.
tidak banyak suara bising dari kendaraan baik kendaraan roda dua maupun roda empat, sebab sebagian besar dari pulau itu masih menjadi Hutan rindang yang tidak tau dimana ujungnya.
pulau yang kerap di sebut dengan paru-paru dunia ini tidak hanya terdiri dari hutan yang rindang saja, tetapi juga terdapat beberapa kota besar. salah satunya ialah kota Samarinda yang merupakan ibukota dari provinsi Kalimantan timur.
kota Samarinda adalah kota tempat dimana Vanya berpindah tugas. dia berangkat dari Bandung ke Samarinda bersama dengan Erick.
saat menginjakan kakinya pada salah satu bandara di kota tersebut Vanya memperhatikan suasana bandara dengan tangan kanan yang menutupi bagian matanya dari silaunya matahari.
dia berjalan dan sesekali memperhatikan orang-orang yang ia lewati. dari raut wajahnya tampak raut wajah yang sedikit terpukau ketika melihat beberapa wanita.
setelah di rasa cukup puas melihat daerah sekitar bandara, Vanya bersama dengan Erick melangkahkan kakinya menuju mobil yang memang sudah di pesan oleh Erick.
mereka berdua memasuki mobil itu dan mobil itu pun berjalan sesuai dengan alamat yang sudah di berikan.
sepanjang jalan Vanya memperhatikan pepohonan yang begitu rindang dan hijau.
" ternyata memang benar ya, kalimantan hutan semua. " ucap Vanya
" kata siapa hutan semua, kamu baru melewati satu daerah saja belum semuanya. " ucap Erick sambil memainkan handphone.
Vanya tidak merespon ucapan Erick, dia terus menatap ke arah luar jendela.
merasa lelah dengan perjalanan ya g tidak juga kunjung sampai, Vanya akhirnya terlelap dalam dekapan Erick.
melihat sang kekasih yang terlelap dalam dekapannya, Erick segera menutup matanya juga dan akan ikut bersama dengan Vanya ke alam mimpi.
***********
sebuah mobil Avanza silver berhenti tepat di sebuah rumah dengan 2 lantai. rumah tersebut cukup mewah dan juga berada di salah satu perumahan elit di kota tersebut.
" Van bangun kita sudah sampai. " ucap Erick membangunkan Vanya dengan menepuk-nepuk pelan pipi Vanya.
Vanya mendesah pelan ketika merasa tidurnya di ganggu. Vanya terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Erick menuntun Vanya untuk memasuki rumah dengan warna kuning pastel ya g di padukan dengan warna putih itu.
" ini rumah siapa Rik ? " tanya Vanya sambil memperhatikan setiap sudut rumah tersebut.
" rumah kita. " hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Erick
" kamu sewa berapa bulan? "
" aku beli. "
Vanya tidak kaget lagi jika sang kekasih mengatakan hal tersebut. dia sudah sangat terbiasa dengan apa saja yang dilakukan Erick dengan uang yang dia miliki, hanya saja dia sedikit terkejut mengapa Erick harus membeli rumah di kota yang bukan tempat asal mereka.
Vanya hanya dapat menghela nafas mendapati jawaban Erick.
__ADS_1
mereka segera membereskan barang bawaan mereka, mulai dari pakaian hingga perlengkapan wajah.
Vanya berjalan menuju kamar Erick namun Erick sudah tidak ada di dalam kamarnya.
" Erick " Vanya berteriak mencari keberadaan Erick.
sunyi tidak ada jawaban sama sekali yang menjawab panggilan dari Vanya.
Vanya yang tidak mendapat jawaban dari sang kekasih ke sekeliling rumah.
" luas juga rumah ini bisa encok pinggangku kalau bersihkan rumah ini sendiri. "
ucap Vanya ngedumel sepanjang langkah kakinya.
Vanya melangkah kan kakinya menuju ke teras belakang rumah, dia yakin jika sang kekasih berada di teras belakang.
benar saja Erick sedang berada di teras belakang dengan sebuah alat di tangannya yang saat di isap akan keluar asap. ya alat yang dia pegang itu adalah sebuah Vape.
Vanya beranjak mendatangi Erick yang tengah asik dengan kegiatannya.
" jangan terlalu banyak, nanti batuk. " ucap Vanya yang langsung duduk di samping Erick.
bukannya mengiyakan ucapan Vanya, Erick justru menarik tangan Vanya dan menuntun Vanya untuk duduk di pangkuannya.
Vanya ingin protes namun saat ia melihat tatapan Erick yang terlihat datar, Vanya langsung terdiam tanpa suara dan bahkan tanpa gerakan.
melihat Vanya yang hanya diam saja Erick kembali menghisap benda itu dan menghembuskan asapnya tepat di wajah Vanya.
asap dengan bau mint yang di hembuskan oleh Erick masuk ke dalam hidung Vanya dan membuat empunya ter batuk.
" uhukk uhukk Erick!! " ucap Vanya
" kenapa sayang? " balas Erick dengan tatapan Susan di artikan
" kamu kenapa sih? lagi hor*y??" ucap Vanya dengan nada yang sedikit kesal
Erick terkekeh pelan mendengar ucapan Vanya yang sedikit kesal.
" kalau aku lagi hor*y, bukan asap yang ku hembuskan ke kamu, tapi tinta putih. " ucap Erick menarik pinggang Vanya agar tidak ada jarak di antara mereka
" ih Erick apaan sih gak jelas banget. "
melihat wajah Vanya yang memerah Erick tertawa lepas hingga tak terasa cairan bening keluar dari matanya.
" ish aku kangen Erick yang dulu. " ucap Vanya
" Erick yang pendiam, bahkan ketika di bully pun dia akan memilih diam? " jawab Erick
" bukan gitu......"
__ADS_1
" kalau di ingat-ingat geli juga ya, dulu aku selalu di bully sama orang sinting yang tidak ada otak. padahal dulu aku hanya ingin memiliki teman dan akan di sayang sama orang dan juga orang tua ku maka dari itu aku jadi anak yang pendiam dan penurut karena aku pikir dulu aku nakal jadi tidak punya teman. "
" ternyata sama saja mau aku jadi nakal ataupun penurut sekalipun tidak ada bedanya, bahkan lebih parah. tapi sekarang aku beruntung bisa dapat wanita cantik dalam hidup ku yang selalu ada di samping ku. "
Erick menatap wajah Vanya dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh arti.
" Erick sudah jangan di bahas. kita gak usah bahas masa lalu ayo kita mulai hidup kita yang baru. jangan terlalu melihat ke belakang Rik lihat lah ke depan"
setelah mengucapkan kata itu Vanya menatap wajah Erick yang sedari tadi sudah menatapnya. tatapan mereka saling bertemu hingga Erick menarik tengkuk leher Vanya dan menyatukan kedua bibir mereka.
Vanya memberontak ketika Erick menyatukan bibirnya, namun dengan sigap Erick menahan tangan Vanya yang mungil dengan satu tangannya.
mereka berdua kini tengah hanyut dalam ciuman yang memabukkan itu. hingga Erick mengangkat tubuh Vanya menuju kamarnya.
Vanya ingin memberontak namun tenaganya kalah kuat dengan Erick yang memiliki badan yang sangatlah gagah dan kekar.
sesampainya di kamar, Erick langsung menghempaskan tubuhnya bersama dengan Vanya ke atas ranjang.
wajah Vanya terlihat sedikit panik ketika Erick kini sudah berada di atas tubuhnya.
" Erick........."
Erick tidak menghiraukan ucapan Vanya dia terus saja menatap Vanya yang kini sudah berada di dalam kekungannya.
tanpa menunggu waktu lama Erick mengambil tali yang berada di dalam laci kamarnya dan mengikat kedua tangan Vanya ke arah atas dan juga mengikatnya dengan kayu jati pada ranjang itu.
" Erick jangan melewati batas. " ucap Vanya
Erick hanya tersenyum smirk mendengar ucapan Vanya dan selang beberapa detik kemudian tanpa aba-aba Erick kembali menyerang bibir milik Vanya.
ciuman mereka semakin dalam hingga akhirnya ciuman itu turn pada leher Vanya.
Erick menjelajahi leher jenjang milik Vanya dengan hidungnya yang mancung itu dan juga kumis tipis yang ada di bawah hidung Erick.
" ehm Erick. " eluh Vanya ketika merasakan kumis tipis milik Erick pada leher jenjangnya
setelah merasa puas dengan leher Vanya kini Erick naik ke arah telinga milik Vanya. dia menggigit daun telinga Vanya dan membisikan sesuatu yang berhasil membuat Vanya tertegun
" kamu milik ku, selamnya akan tetap jadi milikku. tidak ada satupun yang boleh menyakitimu kecuali aku. jangan coba-coba pergi dari aku, jika kau pergi dari aku akan ku cari kau hingga ke lubang semut sekali pun."
" seperti kata mu tadi, ayo kita mulai hidup yang baru. kita buka lembaran baru di kota yang baru juga. "
*
*
*
oke sampai sini dulu ya guys ya
__ADS_1
jangan lupa like vote and subscribe 💋🌺
maaf ye guys kalo alurnya kurang jelas baru pemula soalnya