
" bagaimana jika kamu tidur sama saya, tenang akan saya bayar kok."
pria tua Bangka itu berkata seperti tidak ada doa sedikit pun.
mendengar ucapan atasannya itu Vanya sedikit terkejut dan langsung bangkit dari tempat duduk nya.
" maaf pak, saya memang menginginkan gaji tim saya di naikan. tetapi saya masih mempunyai harga diri sebagai seorang wanita. jadi lebih baik tidak usah naik gaji jika harga diri saya di pertaruhkan. permisi pak."
Vanya yang hampir di kuasai oleh amarah memilih untuk pergi dari ruangan sang atasan.
" cih dasar sombong, lihat aja nanti pasti aku bisa merasakan tubuhnya itu. "
pak Simon berdecak mendapat penolakan dari Vanya
Vanya berjalan ke ruangannya dengan ngedumel sepanjang lorong menuju ruangannya.
" gila kali si tua Bangka satu itu, kalo dia punya banyak duit kenapa harus aku yang mau dia tiduri. kalau aja bunuh orang itu gak dosa mati sudah orang itu hari ini. "
sesampainya di ruangan kerjanya Vanya langsung mendudukkan dirinya. melihat Vanya dalam raut wajah Vanya yang tidak seperti biasanya salah satu dari tim mereka pun membuka suara
" kamu kenapa Vanya? pak Simon ngomong apa sama kamu?"
tanya salah satu teman Vanya yang bernama Diki.
Vanya menarik nafas dan menghembuskan kasar, dia bingung bagaimana harus memberitahu rekan-rekannya tentang masalah ini.
" jadi gini guys, kantor pusat komplain sebab kasus penyanderaan ini belum ada titik terang sama sekali. jadi mereka memutuskan untuk mengalihkan kasus ini kepada tim lain yang mereka anggap lebih profesional."
mendengar penjelasan dari Vanya tim yang diketuai oleh Vanya dan beranggotakan 6 orang ini sangat terkejut. lantaran mereka semua tau jika yang membuat mereka terlambat menyelesaikan kasus ini adalah pak Simon itu sendiri.
" ya gak bisa gitu dong, kan kita terlambat karena dia juga yang selalu menghalangi jalan kita untuk melakukan sebuah penyelidikan."
ketus salah satu anggota Vanya yang bernama Agatha
" sudahlah kamu kaya gak tau bagaimana Pak Simon kalau sudah berurusan dengan duit. "
ucap Diki yang berusaha menenangkan Agatha
"Duit, duit duit dan duit. cuman itu aja yang ada di pikiran Pak Simon. eh btw masalah duit, gaji kita tetap jadi naik kan ?"
ucap salah satu anggota tim Vanya yang bernama Astrid
ya Astrid kakak kelas Vanya dulu, yang selalu merundung Erick sang pujaan hati. namun begitu, Vanya tidak pernah mencampuri urusan itu, sebab baginya yang berlalu biarlah berlalu.
pertanyaan Astrid ini berhasil membuat Vanya langsung terdiam dan meremas rambutnya.
" Vanya jawab......"
Astrid menekankan Vanya untuk menjawab
Vanya yang sudah putus asa hanya dapat mengucapkan satu kalimat
" maaf guys...." sesal Vanya
mereka yang paham ucapan Vanya hanya bisa terdiam menatap Vanya yang tengah menunduk. beda dengan yang lainnya Astrid justru merasa tidak terima dengan keadaan
__ADS_1
" lah bukannya saat rapat kemarin semuanya sudah sepakat jika gaji tim kita di naikan, lalu kenapa sekarang tidak jadi. "
ucap Astrid tidak terima
" gak ada cara lain gitu supaya gaji kita tetap naik? "
Diki bertanya kepada Vanya
" kita bisa tetap naik gaji, tapi ada syaratnya" Vanya menjawab dengan berat hati
" apa itu syaratnya, aku bisa lakukan apapun itu syaratnya. "
ucap Astrid antusias
Vanya kembali menarik nafasnya dan membuang kasar hembusan nafasnya itu
" syaratnya, pak Simon mau aku menemani dia tidur. jika aku mau dia akan bernegosiasi dengan kantor pusat untuk tetap memberikan kita kenaikan gaji."
Vanya menjawab dengan lesu namun dapat di lihat terdapat sebuah amarah di dalam matanya.
para rekan satu tim Vanya yang mendengar itu sangat terkejut dan mereka tidak percaya jika pak Simon berkata seperti itu kepada Vanya. mereka memang mengenal pak Simon dengan orang yang sangat brengsek tapi tidak dapat di sangka jika pria itu dengan terang-terangan berbicara akan hal itu kepada bawahannya.
" ya udah sih, tinggal tidur layani pak Simon apa susahnya. gak usah jual mahal deh jadi perempuan sok jual mahal padahal aslinya emang murahan kan. kamu tau gak gara-gara kamu nolak pak Simon gaji kami bisa saja di potong egois banget sih jadi orang. "
mulut Astrid sudah di luar batas dan itu berhasil membuat amarah Vanya hampir bangkit, namun berusaha ia tahan.
Diki yang mendengar ucapan Astrid sangat terkejut dan dia langsung membentak Astrid dengan nada yang cukup keras
" ASTRID KAMU GILA YA, KAMU HARUSNYA MENSUPORT VANYA BUKAN MALAH MENDORONGNYA UNTUK TERJUN KE JURANG. DI SINI YANG SANGAT DI RUGIKAN JUSTRU VANYA, COBA KAMU BAYANGKAN BAGAIMANA JIKA KAMU BERADA DI POSISI VANYA. "
" ya gampang sih, kalo aku di posisinya dia aku mau lah. bukannya sok jual mahal. "
bukannya diam Astrid malah menjawab pertanyaan Diki.
mendengar jawaban dari Astrid, Vanya terkekeh pelan sambil bertepuk tangan.
" Astrid Astrid, sebenarnya aku gak mau ngomong tapi kamu yang memaksa ku untuk berbicara."
" kamu mau tau alasan kenapa aku menolak tawaran rendahan pak Simon ?. satu karena aku punya harga diri sebagai seorang perempuan. yang kedua aku tidak bodoh, aku mengetahui semuanya termasuk hubungan kamu dengan pak Simon."
seketika mata Astrid membulat dan gelagapan tidak jelas bahkan Astrid berbicara saja sampai terbata-bata
" k-kamu ngomong apa sih, jangan alihkan pembicaraan deh."
" sepertinya atasan kita yang satu ini sudah lupa jika aku adalah Stevanya Angelina yang merupakan seorang profiler. "
" dan ya satu lagi, sebenarnya kasus penyanderaan itu sudah aku selesaikan. dan ya sudah terungkap siapa dalang di balik kasus penyanderaan itu. "
Astrid terlihat panik mendengar kata yang di lontarkan Vanya kepadanya.
" maksudnya apa sih Van, katanya kasus ini sudah di berikan untuk tim lain sekarang kamu bilang kasusnya sudah selesai. jadi yang betul yang mana."
ucap Diki yang merasa bingung
" betul tuh gak konsisten banget jadi orang."
__ADS_1
ucap Astrid
" kalian mau tau yang sebenarnya terjadi itu bagaimana ?"
" jadi............"
*flashback on
kemarin malam dimana terjadi perdebatan antara Erick dan Vanya membuat Erick merasa kasihan terhadap Vanya. akhirnya Erick memasuki kamar sang kekasih dan memberitahu Vanya tentang apa yang dia ketahui dari kasus ini.
" Vanya kamu sudah tidur?"
" eugh, belum aku gak bisa tidur."
" kamu masih mikirin kasus penyanderaan itu ?"
bukannya menjawab pertanyaan dari Erick, Vanya justru menarik nafas panjang dan membuangnya secara kasar.
" kamu mau tau sesuatu ? " ucap Erick
" apa itu ? "
" apa kamu tidak merasa janggal dengan kasus kali ini ?, apa kamu tidak sadar jika kasus ini selalu berputar di situ-situ saja."
" ya aku tau, hanya saja saat ini aku sedang pusing memikirkan kasus penyelundupan narkoba yang terus menerus di teror untuk segera di selesaikan. "
" ku beritahu kau sesuatu.kasus penyanderaan itu semuanya settingan. mulai dari Korban tempat kejadian barang bukti dan lainnya. "
" kamu ingin tau siapa dalang di balik semua ini. dia teman satu tim kamu dia ingin menggeser posisi kamu sebagai ketua tim dan sebagai profiler di tim. maka dari itu dia memanfaatkan hubungannya dengan atasan kamu untuk menjebak kamu. "
" maksudnya gimana aku masih gak ngerti."
" Astrid."
Erick menyebutkan satu nama yang sangat dia kenal bahwasannya Astrid adalah teman semasa SMA mereka dulu.
" Astrid memiliki hubungan dengan atasanmu itu yang bernama Simon Eduardo. apakah kamu tidak menyadari akan hal itu ? "
mendengar perkataan itu Vanya langsung teringat dengan tingkah laku Astrid semenjak dia bertemu dengan pak Simon.
tanpa babibu lagi Erick langsung memberikan bukti yang dia miliki kepada Vanya. dari semua bukti yang di berikan Erick kepadanya, betapa terkejutnya Vanya ketika dia melihat satu Vidio yang isinya hubungan panas antara pak Simon dan Astrid.
tanpa pikir panjang pada saat malam itu juga Vanya langsung memberikan semua bukti yang dia dapatkan dari Erick kepada kantor pusat. ketika kantor pusat ingin bergerak untuk memberikan peringatan kepada kedua manusia tidak tau diri itu. Vanya memilih untuk menahannya dan membiarkan drama yang mereka buat itu terus berjalan.
" mereka yang memulai mereka juga yang harus mengakhiri. "
* flashback off
*
*
*
okeee guys sampai sini dulu jangan lupa like vote and subscribe 💋🌺
__ADS_1
kalau ada kritik dan sarannya boleh diketik di kolom komentar ygy.