
" aku akan membalas semua perbuatan mu yang telah membuat ku malu di depan orang banyak. tunggulah tanggal mainnya Vanya, aku akan membuat mu hancur hingga tak terbentuk. kali ini kau tidak akan pernah bisa selamat, kau akan mati di tangan ku."
Astrid berbicara dengan sangat angkuh dan yakin jika Vanya akan tewas di tangannya.
" bagaimana mungkin kamu melakukan itu, mana ada agen BIN melakukan pembunuhan."
" jangan sok suci deh, ingat korban pertama dalam drama kita itu mati karena keteledoran dirimu. toh lagian aku jadi agen BIN hanya untuk mencari tau tentang dalang dari kasus yang terjadi dan aku akan berkerjasama dengannya dengan merahasiakan dan menyembunyikan dia dari kejaran agen lainnya, terus aku akan mengambil sedikit keuntungan dari kejadian itu."
Simon yang mendengar pernyataan di buat sangat terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
*
*
*
di sisi lain, Vanya tangah beristirahat makan siang. istirahat kali ini Vanya gunakan untuk pulang dan memasak makanan yang simpel.
setelah selesai memasak Vanya pun berangkat ke tempat di mana Erick sang kekasih di tahan.
Vanya menatap wajah Erick yang terlihat datar. Vanya merasa tidak enak dengan Erick namun dia juga sangat lelah dengan kelakuan Erick beserta teman-temannya.
" ini di makan, aku sudah masak. "
Erick tidak menjawab Vanya, dia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang penuh arti.
" dimakan dong makanannya atau mau aku suapi aja? "
bukannya menjawab ucapan Vanya, Erick hanya terus menatap wajah Vanya dan itu berhasil membuat Vanya salah tingkah.
" aku minta maaf karena sudah tahan kamu di sini tapi ini supaya kalian gak mengulangi kejadian yang sama lagi. kamu gak takut jika nama kamu jelek nantinya akan berpengaruh ke perusahaan kamu kan? "
" tidak ada yang tau jika aku memiliki sebuah perusahaan, hanya kamu seorang yang mengetahuinya."
ucap Erick yang kini tatapannya telah berpaling ke kotak bekal yang Vanya bawakan.
" sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu dan teman-temanmu itu membakar rumah orang? orang itu ada bikin salah apa sama kalian. sampai-sampai harus kalian bakar rumahnya. "
Vanya melontarkan pertanyaan kepada Erick namun matanya fokus membuka kotak berisi makanan yang ia bawa.
" bangunan itu memang di sebut rumah tapi bukan untuk tempat di mana seharusnya orang akan pulang jika ia merasa lelah. tetapi bangunan itu merupakan rumah tempat untuk menyembunyikan bahan kimia yang mereka perjualbelikan. "
" maksud kamu rumah itu sengaja di sewa untuk menyimpan barang dagangan mereka gitu? "
__ADS_1
" ya bisa di bilang begitu. "
mendengar pernyataan dari Erick Vanya hanya mengangguk sambil menyuapi Erick makanan yang sudah ia masak.
" tetapi kenapa harus kamu bakar? tidakkah ada cara lain. bagaimana jika suatu saat rumah yang kamu maksud tempat untuk pulang jika kita merasa lelah itu, akan di hancurkan oleh orang lain juga?."
" jika rumah itu hancur maka aku pun akan ikut hancur bersama dengan rumahku itu."
setelah mengucapkan kata tersebut Erick kembali menatap Vanya dengan tatapan yang sangat susah untuk di artikan.
" kamu kenapa sih menatap aku kaya gitu? ada yang salah ya sama wajah aku?"
bukannya menjawab Erick justru tersenyum jahat yang sangat khas dengan dirinya.
" ish kamu mikirin apaan sih? jangan mikir yang aneh-aneh ya."
" mikirin yang aneh kaya mana, aku hanya menatap wajah wanitaku yang sangat menggemaskan ini. "
" mulai gombalnya."
Erick tersenyum melihat tingkah sang wanita yang sangat menggemaskan menurut dirinya, namun saat sedang menatap wajah sang wanita Erick langsung menyipitkan matanya
" mata kamu sedikit sembab, kamu habis menangis? "
" hah masih sembab ya mataku, perasaan aku nangis nya malam kemarin kok masih kelihatan sembab." batin Vanya
" enggak kok tadi cuman kemasukan debu doang "
" apa yang kamu pikirkan, sudah ku bilang jangan menoleh kebelakang jika hanya membuat hatimu sakit. masa lalu itu sudah lewat jadi biarkan dia pergi dan tidak usah di kenang lagi."
seketika Vanya langsung meneteskan cairan bening dari matanya. dia ingin menangis tetapi tidak dapat dia lakukan.
" tunggu aku, setelah aku keluar dari tahanan ini aku akan membawamu ke suatu tempat yang pasti akan sangat kau sukai dan kau boleh berteriak sesuka hatimu di sana. kau boleh menangis sekencang apapun aku akan berada di samping mu."
bukannya berhenti Vanya justru semakin terisak mendengar perkataan dari Erick. dia merasa sedikit bersalah karena menahan sang kekasih di tahanan itu.
" mungkin besok atau lusa aku akan keluar dari sel ini. asistenku belum mendapat kesepakatan jaminan dengan pihak kepolisian disini. jadi malam ini aku belum bisa di bebaskan."
mendengar itu Vanya kembali menatap Erick yang terlihat tersenyum kecil namun sangat manis melebihi manisnya madu murni.
" kenapa ?, apa kamu berpikir jika mereka akan mendengar perkataan mu tadi pagi. mereka semua orang-orang ku, jadi mereka hanya ber akting seolah-olah tidak mengenal diriku. sebenarnya mereka bisa saja langsung membebaskan ku.
" tetapi orang-orang kantor pusat itu bukanlah orang-orang ku, jadi mereka yang merupakan orang-orang ku harus membuat jaminan untuk membebaskan ku dan pekerjaan mereka tidak akan terancam. kau mengetahui betul bukan bagaimana sistem tahan menahan."
__ADS_1
Erick berbicara dengan wajahnya yang terlihat sedikit angkuh dan sombong. Vanya akui jika Erick merupakan orang yang sedikit berpengaruh karena uang yang dia miliki.
Vanya hanya terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Erick. melihat Vanya yang hanya diam Erick mengelus Surai rambut Vanya dan setelahnya dia menarik sedikit dagu Vanya dan mencium dahi Vanya selama 10 detik lamanya.
petugas polisi yang sedari tadi memperhatikan mereka langsung membalikan badannya membelakangi Erick dan Vanya.
Vanya nampak tersipu malu mendapatkan perlakuan Erick yang begitu manis padanya. pipinya nampak merah merona di buat oleh Erick.
" jangan di sini deh, malu di lihat orang. "
" oh malu ya kalau di sini, gimana kalau kita pindah aja ke kamar nanti setelah aku keluar dari sini."
Erick menaikan alis kanannya sama persis yang dulu Vanya lakukan kepada Erick.
" Erick!!! "
Vanya menyebut nama Erick dengan penuh penekanan, seperti memberikan isyarat untuk diam.
bukannya diam Erick justru tertawa hingga mengeluarkan sedikit cairan bening dari matanya. Vanya yang awalnya kesal akan sikap Erick kini dibuat terharu.
" lama aku tidak melihat kamu ketawa selepas ini Erick, aku senang jika kamu tertawa lepas seperti ini"
" hahahaha, come here "
Erick memeluk Vanya dan menciumi seluruh inci wajah Vanya. mereka berdua nampak sangat serasi dan berhasil membuat orang yang melihat mereka merasa iri.
Erick terus menciumi wajah Vanya, mulai dari pipi kanan, pipi kiri, dagu, dahi, hidung hingga yang terakhir erick mengecup singkat bibir Vanya.
mendapat perlakukan seperti itu Vanya hanya bisa terdiam dengan mulut yang terbuka lebar, sebab dia tidak percaya apa yang baru saja ia alami.
" aku masuk dulu ya ke dalam, waktu kunjung ya sudah habis. jaga diri baik-baik selama aku ada di dalam sini, jangan lengah dalam bertugas ingat itu."
" iya aku akan selalu mengingat itu."
mereka berdua sangat asik melepas rindu satu sama lain.
namun tanpa mereka sadari, sedari tadi terdapat dua pasang mata yang tengah memperhatikan mereka dari arah pintu masuk.
" tertawa lah sepuasnya, sebab malam ini adalah malam terakhir kalian akan tertawa. besok hanya akan ada tangisan yang memilukan untuk kalian tetapi sangat merdu untuk diriku. "
setelah berkata seperti itu sosok yang sedari tadi memperhatikan Erick dan Vanya langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantor polisi itu.
*
__ADS_1
*
*