
BRAKK
merasa geram tidak di indahkan perkataannya gadis dengan perawakan yang tomboy itu menendang salah satu punggung gadis yang sedang melakukan perundungan terhadap Erick dan membuatnya terbentur sebuah meja.
Melihat temannya di tendang, ketiga gadis yang merundung Erick ingin kembali menendang ke arah gadis tomboi itu. Namun belum sempat balas menendang kini gadis tomboia itu mengambil salah satu kursi kayu yang sudah sedikit rapuh, dia mengangkatnya serta mengayunkannya kepada ke empat gadis yang ingin membalas tendangannya.
Satu persatu gadis perundung itu di lumpuhkan dengan menggunakan kursi rusak itu, gadis yang membela erick semakin membabi buta memukul hingga akhirnya para gadis perundung itu memilih untuk mundur dan pergi meninggalkan erick dan gadis itu berdua saja.
Gadis itu melempar kursi yang ia gunakan untuk memukul ke-empat gadis tadi dan segera membantu erick untuk berdiri serta membersihkan lukanya.
Kondisi erick sangat kacau, luka lebam erick semakin bertambah banyak. Luka lebam yang sebelumnya saja belum hilang kini muncul lagi luka lebam baru.
“ kamu tunggu di sini sebentar ya, aku pergi ke uks dulu!”
Gadis itu berlari secepat mungkin menuju UKS, melihat hal seperti itu membuat erick tersenyum kecil. Erick merasa apakah gadis ini akan selalu ada buatnya dan menolongnya? Erick juga sedikit terkejut ketika gadis itu mau membantunya.
Tanpa waktu lama gadis itu kembali dengan kotak P3K di tangannya dan langsung mengobati luka erick dan mengompres wajah erick yang sudah sedikit membengkak. Erick terus memandangi wajah gadis itu dan dia memperhatikan setiap inci dari wajah gadis itu.
Kulit wajah yang putih dan mulus, hidung mungil dan mancung ke dalam serta mata yang indah di tambah dengan dagu yang sedikit terbelah.
Merasa di perhatikan oleh Erick sang gadis itu langsung menoleh dan dia memergoki Erick sedang memperhatikan wajahnya, seketika gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan kembali mengobati luka-luka Erick.
Erick yang merasa dirinya kepergok tengah memperhatikan wajah sang gadis merasa malu dan canggung wajahnya pun sedikit memerah.
“ sudah selesai”
Kini luka erick sudah di berikan plester dan luka lebam Erick pun sudah di berikan salep serta wajah yang mulai membengkak sudah di kompres dengan air hangat.
“ oh iya, nama aku vanya dari kelas 10 mipa 3, kamu Erick kan ? dari kelas 12 mipa 1 ? “
Mendengar pertanyaan itu Erick hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum.
Kemudian gadis yang bernama Vanya itu menatap mata Erick seolah-olah sedang menganalisis sesuatu. Tatapan Vanya seakan ingin bertanya sesuatu tetapi dia seperti ragu untuk bertanya.
“ ada apa ? “
__ADS_1
Untuk pertama kalinya Erick membuka suaranya dan seketika raut wajah Erick pun berubah dari yang biasanya datar kini perlahan senyuman mulai terukir di bibir erick.
“ enggak ada apa-apa”
Vanya menjawab tidak ada apa-apa tapi tatapannya tidak lepas dari wajah Erick, dia terus memperhatikan wajah Erick. entah apa yang tengah dia perhatikan tetapi dari raut wajahnya dia seolah-olah mencari sebuah kebenaran dari wajah Erick.
Melihat vanya yang terus memperhatikannya Erick mulai salah tingkah dan untuk menyembunyikan kejadian itu Erick pun mulai melontarkan pertanyaan kepada Vanya
“ kenapa kamu ada di belakang gudang ? “ tanya Erick dengan ragu-ragu
Bukannya menjawab pertanyaan dari Erick, vanya justru tersenyum simpul dan menatap wajah Erick dengan tatapan yang begitu dalam, Hal itu berhasil membuat Erick kebingungan.
“ aku sedang bertanya sama kamu kenapa kamu menatapku seperti itu?” ucap Erick sambil menyipitkan matanya
“ ya baiklah, aku biasanya setiap istirahat selalu di sini ini tempat ku dan tadi aku sedikit terkejut ketika mendengar suara yang membuat membuat telingaku sedikit sakit. Jadi ya tadi niatnya mau aku tegur aja supaya gak ribut lagi eh aku lihat kamu yang lagi di injak-injak sama mereka jadi aku bela deh.” Jelas vanya panjang lebar
Mendengar itu Erick hanya bisa mengangguk saja sambil melihat ke arah kanan dan kiri memperhatikan daerah sekitar gudang tersebut
dalam pikiran Erick saat ini bagaimana bisa seorang anak gadis berada di tempat seperti ini, gelap, sepi, kotor, dan berada di pinggir hutan. Erick larut dalam pikirannya itu dan tanpa sadar kini vanya telah meninggalkannya seorang diri di situ.
Erick yang melihat kejadian itu langsung bergegas kembali ke kelas untuk memulai pelajaran.
Keesokan harinya Erick ingin menemui vanya untuk memberikan coklat sebagai tanda terima kasih karena kemarin vanya sudah menolongnya untuk membersihkan luka-lukanya.
Namun sangat di sayangkan, saat Erick sampai di kelas vanya dia tidak melihat keberadaan vanya dalam kelas itu. Dia mencarinya ke daerah sekitar gudang tetapi Vanya tidak terlihat juga, dia mulai mencari ke segala penjuru sekolah untuk menemukan vanya namun tidak dapat dia temukan.
Erick merasa putus asa dan dia memilih untuk kembali ke kelas untuk memulai kegiatan pembelajaran. Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu erick terus mencari vanya namun sama seperti sebelumnya Erick tidak dapat menemukan vanya.
Kini satu minggu sudah berlalu Erick yang sudah lelah mencari vanya kini memilih untuk kembali pada rutinitasnya setiap hari yaitu membaca buku di perpustakaan. Di dalam perpustakaan Erick terus saja memikirkan vanya.
Saat tengah asik dengan pikirannya Erick melihat ada seseorang gadis yang sedikit familiar baginya dan dia terus memperhatikan itu hingga satu nama terbesit di kepala Erick
“ vanya “
Erick kembali melihat gadis itu dengan sangat jeli untuk memastikan jika gadis itu adalah gadis yang sama yang menolongnya satu minggu yang lalu.
__ADS_1
Semakin di perhatikan Erick semakin yakin jika gadis itu adalah vanya, tanpa menunggu waktu lama Erick langsung menghampiri gadis itu dan ternyata benar saja gadis itu adalah vanya. Melihat bahwa itu adalah vanya senyuman erick sedikit terukir di bibir nya dan dia langsung menyapa vanya dengan bisikan
“ hai vanya “
bisik Erick di hadapan vanya
Mendengar ada yang menyapanya, vanya langsung mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang tadi memanggilnya. mengetahui jika Erick yang memanggilnya vanya langsung tersenyum simpul dan dia mengajak erick untuk membaca buku bersama-sama.
“ hai juga Erick, sini duduk di sini aja kita baca buku bareng.”
Tanpa babibu Erick langsung mendudukkan dirinya tepat di hadapan kursi vanya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Erick lontarkan terhadap Vanya namun sayangnya Erick masih canggung jika banyak bertanya.
Di dalam perpustakaan yang sangat sunyi itu Erick berusaha membuka topik pembicaraan agar sedikit mencairkan suasana yang begitu canggung. Namun Erick sadar saat ini dia sedang berada di perpustakaan yang dimana harus tetap menjaga ketenangan dan kesunyian.
Vanya sepertinya menyadari jika sedari tadi Erick tengah memperhatikan dirinya, kemudian vanya menatap wajah Erick yang sedang membaca buku, lalu ia menopang dagunya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya dia gunakan untuk mengetuk meja dengan jari telunjuknya untuk memberikan kode kepada erick.
mendengar suara ketukan itu Erick langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Vanya, kini mereka saling bertatap-tatapan sepersekian detik lalu vanya mengangkat satu alisnya seolah-olah bertanya ada apa.
Erick yang bingung hanya terdiam sambil menatap vanya dengan tatapan yang sangat dalam. Vanya menghela nafas menyadari jika Erick tidak peka terhadap kode yang dia berikan, vanya berdiri dan berbisik di dekat telinga erick untuk segera mengikutinya
“ ikuti aku, ayo kita keluar”
Tanpa menunggu Erick Vanya langsung meninggalkan Erick sendiri di meja itu.
melihat Vanya yang sudah hilang dari pandangannya Erick langsung bergegas mengembalikan buku yang dia pinjam tadi ke tempatnya semula dan langsung menyusul Vanya yang sudah berada di luar perpustakaan.
*
*
*
okee sampai sini dulu ya guys ya
kalau ada saran atau kritik tulis aja di kolom komentar.
__ADS_1
hehehehe maklum baru pertama kali bikin cerita.
makasih guys sudah menyempatkan untuk membaca.