
" Tertawa lah sepuasnya, sebab malam ini adalah malam terakhir kalian akan tertawa. besok hanya akan ada tangisan yang memilukan untuk kalian tetapi sangat merdu untuk diriku. "
setelah berkata seperti itu sosok yang sedari tadi memperhatikan Erick dan Vanya langsung melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantor polisi itu.
hari semakin gelap kini Vanya mendapat tugas piket untuk lembur. dia sedang berada didalam ruang kerjanya sambil menonton drama yang belakangan ini dia ikuti.
hari semakin malam kini Vanya merasa perutnya telah bernyanyi ria meminta untuk segera di isi. kini Vanya berjalan menuju minimarket terdekat untuk membeli beberapa cemilan untuk mengisi perutnya yang telah bernyanyi.
di gelapnya malam Vanya berjalan kaki seorang diri. posisi minimarket itu sekitar 400 meter dari kantor tempat Vanya bekerja. jalan yang Vanya lalui sangat sunyi dan pencahayaan yang sedikit redup.
Vanya merasa ada suara langkah kaki yang mengikuti dirinya. dari langkah kaki yang dia dengar sepertinya orang itu merupakan wanita, langkah kakinya yang kecil namun sangat cepat dan juga suara hak yang bersentuhan dengan jalan semakin membuat Vanya yakin jika sosok yang mengikutinya ada seorang wanita.
saat mendengarnya lebih jelas lagi ternyata terdapat dua suara langkah kaki dari arah yang bersamaan.
gadis itu menambah kecepatan langkah kakinya, dia ingat jika jalan yang dia lalui ini merupakan jalan yang bercabang jadi dia menggunakan kesempatan itu untuk belok ke sebelah kiri.
Vanya berhenti tepat di samping bangunan rumah yang menutupi pandangannya untuk melihat siapakah yang sedang mengikutinya tadi.
di tunggu-tunggu namun orang tersebut tak kunjung muncul di hadapannya.
" apakah dia berbelok ke arah lain ? "
Vanya berbicara sendiri dengan rasa bingung pada pikirannya. dia bergulat dengan pikirannya, apa mungkin dia hanya halusinasi mendengar suara langkah kaki itu.
Vanya tidak ambil pusing dia melanjutkan langkahnya menuju ke minimarket terdekat.
sepanjang perjalanan pulang Vanya kembali melihat ke arah sekitar tempat dimana tadi dia mendengar suara langkah kaki tersebut.
dia menyadari satu hal ketika melihat ke arah sekitar, ternyata terdapat cctv yang terpajang di sana. dia berpikir jika besok pagi dia akan meminta izin untuk melihat Vidio kamera cctv tersebut untuk membuktikan jika ada orang lain selain dirinya malam itu.
Vanya memang terkenal sangat berani jika menghadapi kasus kriminal dan memecahkan kasus pembunuhan. namun satu kelemahan Vanya, dia sangat takut terhadap makhluk halus terlebih lagi pocong.
baginya pocong merupakan makhluk yang sangat mengerikan, sebab pocong adalah wujud terakhir dari seseorang yang telah meninggal sebelum di kuburkan.
*
*
*
keesokan paginya
__ADS_1
suasana kantor Vanya di buat gempar pagi ini, mereka mendapat kabar jika mantan atasan mereka tewas di gedung apartemen milik simpanan dirinya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Astrid.
kini Astrid telah menjadi tersangka utama, sebab hanya Astrid yang mengetahui tempat persembunyian mereka berdua.
kondisi mantan atasan mereka itu dalam keadaan yang sangat menggemaskan. wajahnya memang tidak ada luka sedikit pun, namun korban dalam keadaan telanjang bulat tanpa benang sehelai pun.
bukan hanya itu, terdapat bekas ikat pinggang pada leher korban yang menandakan jika korban di bunuh dengan cara di cekik menggunakan ikat pinggang yang tergeletak di sebelahnya.
dan yang lebih mengerikan lagi terletak pada kelamin korban, yang dimana pada alat vital korban banyak sekali luka sayatan yang cukup dalam dan juga jarum yang menancap pada alat vital korban.
para pria yang melihat jasad korban berhasil di buat linu dengan apa yang mereka lihat. tebakan para detektif saat ini merujuk pada Astrid. kemungkinan besar Astrid lelah berhubungan badan dengan Simon dan membuatnya nekat mengakhiri hidup Simon.
namun perkiraan ini belum sepenuhnya akurat, hanya sekedar perkiraan sementara sampai barang bukti di temukan.
" ini betulan Astrid yang menjadi tersangka utamanya. bukankah mereka berdua memiliki hubungan, ya walaupun hanya sekedar hubungan ranjang. "
Diki melontarkan pertanyaan kepada kedua rekan kerjanya itu.
" kalau secara naluriah, sepertinya pelakunya wanita. karena pria mana yang tahan jika melakukan hal sekeji ini apalagi pada alat vital. menonton di sosial media yang kepentok kayu saja sudah terasa ngilu, apalagi dia harus melakukan sendiri dengan menggores alat vital ini dan menusuknya dengan puluhan jarum. "
insting seorang profiler Vanya mulai bekerja, dia terus memperhatikan jasad korban. meski merasa malu untuk melihat alat vital milik pria, Vanya harus terlihat profesional sebab luka yang ada hanya pada alat vital itu saja. dari luka itulah Vanya bisa sedikit menganalisis bagaimana orang tersebut melukai sang korban
Vanya kembali memperhatikan jasad korban, dia kembali melihat alat vital sang korban yang sudah tidak berbentuk itu.
" kalau aku lihat-lihat sepertinya pelaku dari kasus kali ini sangat menyukai kegiatan memasak. "
" kenapa bisa kamu simpulan demikian? "
" bisa di lihat dari kerat yang di buat, bukankah kerat ini biasanya di gunakan untuk mengerat ikan yang akan di goreng. biasanya tujuannya agar bumbu ungkep nya bisa meresap dengan sempurna. "
" dan lagi, sepertinya pelaku lebih dulu menusukan jarum pada alat vitalnya lalu setelah merasa puas dia kemudian mengerat nya."
orang yang mendengar perkataan dari Vanya itu langsung memperhatikan luka kerat itu. dan ternyata benar saja jika tusukan jarum itu tidak ada satupun yang tepat berada di luka kerat yang di buat oleh si pelaku.
" tapi aku rasa, pelakunya bukanlah Astrid melainkan orang lain. sebab aku tau jika Astrid tidak bisa memasak. jangankan memasak membersihkan ikan saja dia tidak bisa. "
meskipun hubungan keduanya tengah renggang saat ini, namun Vanya sangat mengetahui jika rekan kerjanya...... UPS maaf, mantan rekan kerjanya itu tidak bisa memasak dan sejenisnya.
semua orang kini tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing. tugas Vanya kini telah selesai dan dia segera menuju ruangan kerjanya untuk menarik beberapa kesimpulan dari apa yang dia prediksi.
ketika sedang memikirkan kasus kali ini, tiba-tiba saja Vanya mendelik geli ketika mengingat dirinya yang tadi terus memperhatikan alat vital dari korban tersebut.
__ADS_1
" ihh ya Tuhan, ampunilah anakmu ini yang mau tidak mau harus memperhatikan itu alat vital. gak ada niatan untuk melihatnya tapi harus Vanya lihat, kalau Vanya tidak lihat nanti kasus ini susah untuk di pecahkan. "
" aduh gimana ya kalau Erick tau aku lihati barang laki-laki. pasti nanti dia marah terus orang itu di gebukin. eh tapi gimana mau gebukin kan barang laki-laki yang aku lihat orangnya udah berpulang jadi gimana cara dia gubuknya. "
Vanya terus saja bergulat dengan pikirannya hingga ia tidak sadar jika sedari tadi dia tengah di perhatikan oleh Diki dan Agatha.
" woyy ngomong sendiri aja, gak takut kesambet setan apa? "
itulah Diki, dia selalu saja mengagetkan semua orang yang ada di kantor itu.
" dik, kamu bisa gak sih jangan kejutkan orang, gimana kalau orang itu punya riwayat jantung apa gak mati di tempat. "
" ya ya ya, itulah Diki tiada hari tanpa mengejutkan orang. "
" yeee kalian mah kan aku gak sengaja kok aku di marahi sih. "
ya itulah jurus andalan Diki jika dirinya terkena Omelan dari Agatha dan Vanya.
saat tengah asik berbincang dan tertawa ria, kini tawa mereka terhenti ketika suara handphone milik Agatha berbunyi.
kini perhatian mereka tertuju pada Agatha yang terkejut melihat layar ponselnya yang menampilkan mana si cerewet.
kedua temannya mengetahui jika si cerewet yabg di maksud adalah salah satu detektif yang bekerja sama dengan tim mereka.
" kenapa dia nelpon sih, apa ada bukti baru yang di temukan? "
" coba angkat aja dulu tha, takutnya penting. "
" iya betul kata Diki, di angkat aja dulu."
tanpa menunggu waktu lama, Agatha langsung menjawab panggilan telpon dari rekan kerjanya tersebut.
" iya hallo kenap cep. "
"............... "
" hah yang betul kamu, astaga kasusnya pak Simon saja belum ada 24 jam dan sekarang ada lagi korban pembunuhan. "
*
*
__ADS_1
*
*