
"*Kalian ada dimana sekarang, cepat ke bangunan karantina tempat Simon dan Astrid di karantina. mereka tidak ada di ruangan mereka sepertinya mereka kabur melewati jalur belakang.*"
mendengar akan hal itu mereka bertiga bergegas menuju tempat dimana Astrid dan Simon di karantina.
" ck bikin nambah kerjaan aja si Astrid pake kabur segala."
" sudah gak usah ngomel dulu, kita harus segera sampai di tempat itu."
selang beberapa menit akhirnya mereka telah tiba di tempat karantina tersebut.
suasana begitu ramai, banyak mobil polisi yang berdatangan. Vanya langsung menghampiri kamar dimana Astrid di karantina. saat ia melihat ke sekitar ada sesuatu yang menarik perhatian Vanya
Vanya melihat ada satu penjaga yang gelagatnya aneh. dia mendekati petugas itu dan sedikit basa basi
" selamat siang pak, saya Stevanya Angelin agen dari BIN. bolehkah saya sedikit bertanya?"
" silahkan bertanya akan saya jawab setau saya."
" kira-kira terakhir kali bapa melihat tahanan ada di dalam ruangannya pada pukul berapa."
" kalau tidak salah terakhir saya lihat tahanan itu sekitar pukul 08.30 pagi hari Bu, ketika saya mengantar sarapan."
" kalau saya boleh tau, sarapan pada pagi hari ini apa menunya?"
" kalau untuk itu saya kurang tau, sebab saya tidak memperhatikan makanan tersebut. "
" bagaimana mungkin bapa tidak memperhatikannya, bukankah bapa yang mengantarnya ? bagaimana bisa bapa tidak memperhatikannya."
ketika ingin menjawab pertanyaan dari Vanya, ucapan penjaga tersebut terhenti ketika salah satu rekannya langsung membuka suara
" menu makanan hari ini ada nasi, sayur capcai, dengan lauk ayam asam manis Bu."
mendengar jawaban dari petugas tersebut Vanya mengeluarkan senyuman kemenangan.
" bagaimana bapa bisa mengetahui jika menu sarapan kali ini adalah menu yang bapa sebutkan tadi ?, bukankah yang mengantar menu sarapan hanya satu petugas saja. jadi petugas yang mana yang mengantar makanan?."
mendengar ucapan dari Vanya kedua petugas itu nampak gelagapan. bukannya menjawab pertanyaan dari Vanya, salah satu petugas itu justru berlari sekuat mungkin menuju gerbang. namun satu yang tidak dia ketahui bahwasannya gerbang tersebut telah di tutup.
" gak ikut lari pak sama temannya ? "
Vanya tersenyum melihat wajah sang petugas yang begitu pasrah.
" mari ikut saya !! "
petugas itu hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Vanya menuju suatu ruangan.
ketika berada di dalam ruangan khusus yang mempunyai pembatas antara Vanya dan sang petugas, Vanya terlebih dahulu berkenalan dengan sang petugas.
" boleh saya tau siapa nama bapak ? "
" maaf, saya lagi butuh uang jadi saya mau tidak mau harus menuruti perintah dari mereka."
" baik saya mengerti alasan bapa, sekarang saya tanya siapa nama bapa? "
" nama saya Heri "
setelah itu Vanya langsung menulis nama petugas tersebut dalam sebuah buku catatan kecil.
__ADS_1
" apakah benar bapa membantu saudari Astrid melakukan pelarian? "
" saya hanya menjalankan perintah Bu ? "
" lalu petugas yang satunya tadi apakah sama dengan bapa? "
" iya dia juga ikut andil dalam pelarian tahanan Bu. tapi dia bukan bagian dari penjaga di sini"
" maksudnya dia menyamar menjadi petugas ? "
" iya dia merupakan suruhan dari pak Simon "
" saya mohon bebaskan saya dari sini. anak istri saya pasti akan sangat terkejut jika mengetahui saya terlibat dalam kasus ini."
" akan saya coba sebisa saya."
selang beberapa waktu Vanya mengintrogasi petugas yang bernama Heri tersebut, kini datanglah petugas satu lagi.
" baik pak Heri, pertanyaan saya sudah cukup sampai di sini. tetapi untuk membebaskan bapa itu tidak bisa saya lakukan sebab bapa sudah bekerja sama dalam pelarian tahanan dan juga itu bukan ranah saya."
pak Heri yang mendengar itu terlihat sangat lesu dan menundukkan kepalanya.
petugas lainnya kini mengeluarkan pak Heri dari bilik tersebut dan Vanya memerintahkan orang suruhan pak Simon tersebut.
belum juga Vanya membuka suara untuk melemparkan pertanyaan kepada suruhan Simon itu.
" bahkan jika saya mati pun, saya tidak akan memberitahukan kemana mereka pergi."
" wah...terima kasih sekali atas pernyataan bapak. dengan begini saya tidak perlu memutar otak saya agar bapa mau jujur jika bapa mengetahui kemana perginya kedua tahanan itu."
mendengar pernyataan dari orang suruhan itu Vanya terkekeh geli.
" huft......"
Vanya menghembuskan nafasnya kasar tetapi setelah itu dia tersenyum sangat manis kepada orang suruhan itu. sangking manisnya orang suruhan tersebut tidak dapat mengalihkan pandangan matanya.
" berapa mereka membayar anda untuk melakukan ini semua ? "
bukannya menjawab orang suruhan itu justru tertawa terbahak-bahak seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.
" hahahahahahahaha, kenapa kamu bertanya seperti itu?, apakah kau ingin membayar ku dua kali lipat atau tiga kali lipat dari jumlah yang mereka berikan. "
" tidak ada gunanya saya membayar kamu untuk berkata jujur, saya bisa menggunakan cara lain agar kamu mau memberitahu saya kemana mereka pergi."
" jangan harap saya akan memberitahu kamu, bahkan ketika leher saya akan di potong pun saya tidak akan memberitahukan kepada kalian semua."
Vanya hanya tersenyum menghadapi manusia yang ada di hadapan dirinya.
Vanya pun berniat meninggalkan orang itu sendirian di dalam bilik tersebut. namun saat ingin melangkahkan kakinya keluar pria tersebut kembali bersuara
" cih dasar perempuan lemah, segitu aja kemampuan kamu sebagai profiler yang katanya paling handal dalam memecahkan kasus."
Vanya berhenti sejenak melangkah dan dia menoleh ke belakang melihat wajah orang suruhan tersebut dan setelahnya dia membalikan badannya meninggalkan ruangan tersebut.
orang suruhan tersebut berteriak-teriak mengumpat Vanya ketika Vanya keluar dari ruangan itu.
mendengar akan hal itu ada sesuatu yang dapat diketahui oleh Vanya jika ada rasa takut dalam diri orang itu.
__ADS_1
" bagaimana apa yang kamu dapatkan dari interogasi kali ini ? "
" yang aku lihat sepertinya dia mengetahui jika kemana perginya Astrid dan pak Simon."
" kenapa kamu masih memanggilnya dengan sebutan pak, dia bukan lagi atasan kita."
" ya sudah kebiasaan aja sih."
" ya terserah mu aja sih, tapi baguslah jika dia mengetahui kemana perginya dua orang itu."
" apakah sudah di lacak diaman lokasi terakhir mereka ? "
" Agatha kamu kalau lelah istirahat aja jangan dipaksain kerja deh kan jadi ngelantur gini. kita mau lacak mereka berdua dari mana, mereka saja tidak memegang Handphone mereka."
" tunggu dulu, sepertinya aku ada sesuatu yang bisa memberikan kita petunjuk dari barang yang di miliki oleh mereka "
Vanya berlari kecil menghampiri petugas kepolisian yang sedang berada di bilik interogasi tersebut.
" permisi pak, saya Stevanya Angelin agen BIN. bisakah saya melihat barang-barang tahanan yang yang membantu pelarian."
" boleh mbak silahkan " ucap petugas tersebut
setalah melihat-lihat barang-barang milik kedua petugas tersebut yang berhasil di amankan, Vanya langsung mengambil handphone milik pak Heri dan orang suruhan Simon itu.
" untuk apa kamu ambil handphone milik mereka ? "
" coba kamu buka terlebih dahulu handphone ini. siapa tau kita bisa dapat petunjuk dimana mereka berdua berada."
" sebelumnya sudah di cek, tapi gak ada apapun yang bisa di jadikan petunjuk dimana mereka berada."
" coba buka saja dulu "
Diki pun mencoba untuk membuka kunci dari handphone tersebut. selang beberapa menit kemudian handphone tersebut dapat terbuka dan menampilkan foto wallpaper di handphone orang suruhan Simon.
melihat foto keluarga tersebut Vanya pun memerintahkan Diki untuk mencaritahu seluk beluk tentang keluarga orang suruhan pak Simon itu.
*
*
*
sementara di tempat lain, di tempat dimana Astrid dan Simon bersembunyi dari pelarian mereka.
" akhirnya bisa juga lari dari tempat yang sangat mengerikan itu. "
" kamu benar sayang, aku sungguh membenci suasana di tempat itu. sungguh membuatku muak melihat orang-orang di tempat itu. "
" diam lah ini semua karena kebodohanmu yang mengakui begitu saja apa yang telah kita rencanakan."
" aku akan membalas semua perbuatan mu yang telah membuat ku malu di depan orang banyak. tunggulah tanggal mainnya Vanya, aku akan membuat mu hancur hingga tak terbentuk. kali ini kau tidak akan pernah bisa selamat, kau akan mati di tangan ku."
*
*
*
__ADS_1