
" Sudah dapat Van, cepat ke sini kamu pasti akan sama terkejutnya dengan aku. "
" baiklah aku akan secepatnya pergi ke sana. "
Vanya menatap wajah Erick yang kini kembali datar. Erick menepuk kan tangannya untuk memanggil pelayan restoran itu dan meminta bill nya.
setelah membayar makanan mereka, Erick menarik tangan Vanya membawanya ke dalam mobil milik Vanya.
sepanjang perjalanan Erick tidak bicara sepatah kata pun. Vanya mengetahui jelas jika sang kekasih tidak menyukai pekerjaan dari Vanya karena baginya itu akan membahayakan nyawa Vanya.
" terima kasih sudah menjemput ku, kembalilah ke kantor mu pasti ada pekerjaan bukan. berhati-hatilah dalam bekerja. kau tau bukan jika pekerjaan mu ini sangat berbahaya. "
Vanya hanya mengangguk pertanda dia mengerti apa yang di ucapkan oleh Erick.
setelah Erick turun dari mobil miliknya itu, Vanya menginjak pedal gas menuju kantor tempat dia bekerja.
sesampainya di sana suasana kantor cukup sepi, dia berjalan dengan tergesa-gesa. hingga akhirnya langkah kaki Vanya berhenti tepat di ruangan kerjanya.
dia tidak melihat satu pun rekan kerjanya dalam ruangan itu. tanpa berfikir curiga Vanya kini membuka laptopnya dan di membuka file yang di kirimkan oleh Kaila kepadanya.
terdapat 3 file yang Kaila kirim, Vanya membuka satu per satu file yang di kirimkan oleh Kaila.
Betapa terkejutnya Vanya ketika melihat isi dalam file tersebut. Vanya yang merasa bimbang antara percaya atau tidak percaya langsung menghubungi Kaila.
" kai ini betul informasi yang kamu dapatkan. "
" sebenarnya masih ada beberapa informasi yang belum aku cek kebenaranya, tapi semua yang aku kirim ke kamu itu sudah sangat benar. "
baru satu file yang dia buka, Vanya sudah di buat terkejut setengah mati. kemudian Vanya hendak membuka file yang kedua, namun ada perasaan bimbang dalam hati Vanya.
tapi perasaan bimbang itu tidak dapat mengalahkan rasa penasaran Vanya terhadap ketiga orang tersebut.
ketika membaca ketiga isi dari file tersebut Vanya memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
banyak kebenaran yang selama ini di tutupin oleh Carlos.
jadi memang benar jika selama ini Vanya dan Carlos merupakan teman dekat. pasalnya Carlos dan Vanya tergabung dalam circle yang sama.
Vanya tidak menyangka jika selama ini Carlos tergabung dalam sebuah organisasi gelap yang di pimpin oleh pak Simon yang tidak lain dan tidak bukan merupakan atasan Vanya dan juga atasan Carlos.
banyak lagi kebenaran yang Vanya dapatkan ketika membaca isi file itu.
Vanya nampak frustasi dengan apa dia lihat ada sedikit rasa iba di dalam hatinya terhadap Astrid. tanpa sadar Vanya mata Vanya kembali mengeluarkan cairan bening.
" kamu kenapa Vanya? "
Diki yang baru memasuki ruangan terkejut saat melihat Vanya meremas rambutnya dan meneteskan air mata.
Vanya tidak menjawab pertanyaan dari Diki, dia justru menangis tanpa menghiraukan kehadiran Diki.
Diki merasa Vanya tengah menghadapi masalah, jadi Diki memilih untuk menenangkan Vanya terlebih dahulu.
" sudah ya Van, nanti sakit kepala mu kumat. jangan terlalu banyak nangis. "
Vanya sedikit tenang ketika Diki sedikit mengelus rambut Surai Vanya.
setelah melihat Vanya sudah sedikit tenang, Diki duduk di kursi yang berada di depan meja Vanya.
" kamu kenapa? ada masalah ? "
Vanya hanya menggelengkan kepalanya.
" terus kenapa ? "
" itu Astrid, ternyata dia lagi mengandung. aku gak tega sama bayi yang ada di dalam kandungannya. "
__ADS_1
Vanya kembali meneteskan air matanya.
Diki hanya bisa menghela nafas, dia sangat tau karakter Vanya. Vanya memang di kenal dengan sifat keras kepalanya dan tomboi, namun di balik semua sifatnya itu, Vanya memiliki sifat yang sangat lembut dan sangat manja.
" astaga Vanya, aku kira kamu lagi ada masalah. emangnya sudah berapa bulan kandungan Astrid. "
" aku juga gak tau, tapi kayanya di lihat dari surat keterangan hamilnya sudah sekitar 5 bulan lalu. "
" sudahlah Vanya, mungkin memang takdirnya. Tuhan sayang sama dia makanya Tuhan gak mau dia datang di dunia yang kejam ini. "
*
*
*
kini jam kerja mereka sudah habis, Vanya beberes dan segera pulang.
Vanya memilih untuk berbelanja beberapa bahan makanan untuk dia masak.
Vanya sudah berada di rumahnya dengan luas 7x9 meter itu. rumah yang sederhana namun sangat banyak kenangan di dalamnya.
Vanya memilih untuk membersihkan diri dan memakai beberapa lotion untuk kulitnya.
saat ingin memasak tiba-tiba bel rumah Vanya berbunyi
Ting...Ting..... Ting
Vanya membuka pintu rumah itu, dan ternyata itu adalah Erick. mereka berdua masuk dan memasak bersama.
*
*
mereka telah selesai memasak makanan mereka dan kini keduanya sudah berada di meja makan tengah menyantap makanan mereka.
mereka telah selesai makan dan membereskan meja makan serta perabotan yang di gunakan untuk makan.
kini Erick sudah berada di ruang keluarga, Erick menyalakan sebuah televisi. Vanya menghampiri Erick dan tanpa basa-basi Vanya langsung menerjang Erick yang tengah duduk dan memeluknya.
Erick sudah terbiasa dengan kelakuan Vanya yang seperti itu. dia mengangkat rubah Vanya dan mendudukkannya di pangkuannya.
kini tatapan mereka saling bertemu, Erick menatap mata Vanya dengan sangat dalam dan juga dapat di lihat ketulusan di mata Vanya.
" Erick kamu tau gak? Astrid sama pak Simon sudah gak ada. mereka berpulang di waktu yang bersamaan. bahkan mereka tewas dalam keadaan yang sangat mengenaskan. "
" hah bagaimana mungkin, bukankah mereka berada dalam sel karantina. "
" mereka melarikan diri, kami bahkan baru ingin mencari tau tentang anak buah pak Simon yang menyamar menjadi petugas keamanan di situ. tapi ternyata mereka sudah pergi deluan. "
" sudah bagus mereka cuman di penjara. palingan beberapa tahun aja. eh tapi lebih milih kabur. "
" itu yang aku stres banget mikirnya. belum lagi, baru tadi aku tau kalau Astrid tengah mengandung. "
Erick menaikan alisnya yang menandakan dia heran dengan apa yang dia dengar.
" iya dia nikah sama Carlos 3 bulan yang lalu, tapi aku bingung dalam surat keterangan hamilnya itu tertulis jika dia memeriksakan kandungannya sekitar 5 bulan lalu. "
" berarti anak yang di kandungnya bukanlah anak Carlos? "
Erick memang tipe cowok yang bisa di ajak bergosip. terutama tentang perkelahian rumah tangga.
Erick memperhatikan wajah Vanya, dapat Erick lihat dengan jelas jika Vanya kini tengah merasa sedih.
" kamu kenapa sedih ? " ucap Erick
__ADS_1
" aku kasihan sama anak di dalam kandungan Astrid. padahal kan lucu kalau dia ada jadi aku bisa cium pipinya. "
Erick yang mendengar perkataan Vanya seketika tersenyum seringai
" kamu suka anak kecil ? " Erick bertanya dengan maksud yang sangat bisa di tebak.
" iya suka banget. "
tanpa curiga Vanya menjawab dengan sangat girang
" kalau gitu kita bikin aja. "
Erick berbisik tepat di telinga Vanya, dan hal ini berhasil membuat bulu kuduk Vanya berdiri.
" apaan sih gak jelas banget. "
Vanya memalingkan wajahnya ke arah samping.
" katanya suka anak kecil, ya udah kita bikin aja. "
Erick menarik pinggang Vanya agar tidak ada jarak di antara mereka.
wajah Vanya kini memerah seperti kepiting yang tersiram air panas.
" aku becanda sayang, kita bikinnya nanti tunggu sah dulu. setelah sah baru kita bikin banyak-banyak. "
Erick berkata seperti tidak ada beban sama sekali bahkan Erick tertawa dengan sangat lepas hingga air mata keluar dari matanya itu.
berbeda dengan Erick yang berbicara tanpa beban, Vanya melotot mendengar ucapan Erick dan dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" oh iya btw, Pak Simon meninggal karena di bunuh juga. "
Erick kembali bertanya kepada Vanya
" iya, sepertinya sebelum di bunuh dia di siksa dulu. alat vitalnya di tusuk jarum dan setelah itu di sayat dengan pisau. "
Vanya menjawab pertanyaan Erick namun pandangannya masih tertuju pada layar handphone miliknya itu.
Erick yang tadinya tertawa kini ekspresi wajahnya kembali datar dan menatap Tajam ke arah Vanya.
" apa kamu bilang, alat vitalnya di sayat pisau? "
" iya, kenapa ada yang salah ? "
Vanya kembali bertanya kepada Erick tanpa melihat wajah Erick yang kini telah berubah dengan sangat cepat.
" jadi kamu lihat alat vital milik pria tua itu ? "
Erick berbicara dengan nada bicara yang sangat tidak bersahabat.
setelah mendengar intonasi bicara dari Erick Vanya baru paham dan langsung menatap wajah Erick yang kini telah berubah menjadi datar kembali.
dengan secepat kilat Erick membalik tubuhnya dan menghempaskan tubuh Vanya di sofa. mereka yang awalnya duduk kini berbaring di atas sofa dengan posisi Vanya berada di bawah kekungan Erick.
" Erick aku cuman....... "
" cuman apa?, besok gak usah kerja lagi. aku yang akan urus semuanya. "
*
*
*
oke sampai sini dulu ya guys ya
__ADS_1
jangan lupa, like, vote and subscribe 💋🌺