Your My HOME

Your My HOME
BAB 18 : Kecewa


__ADS_3

" Vanya Vanya, kamu belum sadar juga ya ternyata. teman-teman mu ini sekarang masuk tim ku. " ucap Rebecca


" gak mungkin bagaimana bisa? bukankah sudah ada kontrak kerja yang kita tanda tangani. dan kontrak itu belum habis bagaimana mungkin mereka pindah tim? "


" semuanya bisa saja mungkin dengan kekuasaan saya. " seorang wanita dengan angkuhnya berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


dapat kalian tebak siapa itu ?


ya benar sekali


wanita itu adalah Bu Chika


Vanya tak habis pikir dengan apa yang di katakan oleh Bu Chika


" sudah saya katakan bukan, jangan main-main dengan saya. "


bukannya takut Vanya justru tersenyum remeh.


" sepertinya ibu deh yang sudah main-main dengan saya. " ucap Vanya


" wow tidak ada kapoknya ternyata, saya bisa bikin kamu kehilangan pekerjaan ini jika saya mau. tapi saya kasihan sama kamu. jadi saya peringatkan kamu jangan main api dengan saya. " ucap Bu Chika dengan intonasi seperti mengancam


" saya tidak akan main api jika tidak ada pemantiknya. dan api itu tidak nyala jika tidak ada percikan api Bu. " ucap Vanya dengan senyuman yang sulit di artikan.


merasa kalah debat dengan Vanya Bu Chika pun memilih untuk meninggalkan ruangan itu.


" cih lebih baik aku pergi dari pada tekanan darah tinggi dan bisa-bisa aku mati konyol. "


batin Bu Chika


suasana ruangan kerja Vanya kini sangat sunyi tidak ada suara sama sekali.


Vanya menatap ketiga rekan kerjanya itu dengan tatapan sendu. dia tidak percaya jika ke tiga orang yang berada di depannya itu akan meninggalkan dia sendiri.


Vanya tidak bicara dia langsung keluar membawa beberapa barang miliknya dalam ruangan itu. Vanya merasa sedikit kecewa dengan ke tiga orang itu sebab tidak ada sepatah kata apa pun yang mereka ucapkan.


Vanya berjalan keluar bangunan tempat ia bekerja selama kurang lebih 3 tahun itu.


dia berjalan dengan langkah yang cukup lebar dan cepat.


saat di mobil handphone milik Vanya berdering.


Vanya menatap layar handphone miliknya itu dan terlihat nama Kaila pada layar ponsel itu.


Vanya tidak mengangkat telpon itu dia membiarkan handponenya terus berbunyi.


sebanyak 9 kali Kaila menelpon Vanya namun tidak di angkat satu pun panggilan itu.


selang beberapa waktu, notifikasi handphone Vanya berbunyi dan menampilkan nama Kaila lagi.


" Vanya angkat dulu aku mau bicara aku mohon, dengarkan aku sekali ini saja. aku mau ngomong sama kamu. " isi pesan Kaila


Vanya ingin mengabaikan saja pesan dari Kaila, namun dia teringat jika dirinya tidak membalas pesan dari Kaila maka Kaila akan terus menerornya.


Vanya memilih untuk melakukan panggilan telepon kepada Kaila.


" halo van, maaf banget Van. aku gak bermaksud untuk mengecewakan kamu. "


" aku terpaksa Vanya menerima tawaran dari Rebecca. kalau aku gak terima tawaran dari Rebecca bisa jadi Bu Chika akan mempersulit hidup ku. "


" aku yakin Vanya kamu tau jika saat ini aku sedang membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit Oma. aku mohon maafkan aku. "


Kaila menjelaskan panjang kali lebar.


" sejak kapan Rebecca mengajak kamu untuk gabung dengan tim nya ? " hanya kalimat itu yabg keluar dari mulut Vanya


" maaf Van, Rebecca sudah mengajak gabung dari bulan lalu yang di dukung oleh Bu Chika. bahkan Joseph, Diki, dan Agatha juga sama. maaf Vanya aku bingung harus gimana. awalnya aku mau ikut kamu tapi Bu Chika ngancam aku kalo aku ikut kamu nanti dia akan membocorkan data pribadiku ke publik. bahkan Rebecca juga mengancam ku akan melukai Oma. "

__ADS_1


terdengar suara Isak tangis Kaila.


" kenapa kamu tidak melaporkan mereka? "


tanya Vanya


" aku tidak punya bukti Van. "


ucap Kaila.


pikiran Vanya sangat gusar dia memilih untuk menginjak pedal gas mobil miliknya itu.


selama perjalanan pikirannya begitu kacau, dia tidak menyangka jika rekan kerjanya yang selama ini selalu bekerja sama dengan baik memilih untuk meninggalkannya sendiri.


Vanya memelankan laju mobilnya dia memasuki sebuah gedung apartemen. dia melangkahkan kakinya menaiki lift apartemen memencet lantai 4.


lift sudah sampai pada lantai 4, ketika pintu lift terbuka Vanya dapat melihat jika lantai apartemen yang satu ini memang lumayan sepi sangat berbeda dengan lantai apartemen lainnya. dari 15 unit yang ada pada lantai itu hanya sekitar 5 unit saja yang terisi.


Vanya melangkahkan kakinya dan sampailah dia pada sebuah unit dengan nomor 54. dia menekan pin untuk membuka pintu unit itu.


saat pintu sudah terbuka Vanya memasuki salah satu kamar dan terdapat seorang pria yang tengah tertidur.


Vanya menjatuhkan tubuhnya tepat di samping pria itu.


" ada masalah apa Hem? " ucap pria itu dengan suara khas bangun tidur


" enggak. " hanya satu kata yang keluar dari mulut Vanya


pria itu membuka matanya dan mengangkat Vanya dan mendudukkan ke atas pangkuannya.


" sekali lagi Erick tanya, Vanya ada masalah apa? " ucap pira itu yang tak lain dan tak bukan adalah Erick


" aku di mutasi ke luar kota. " jawab Vanya dengan lesu


" di kota mana? " tanya Erick sambil melepaskan ikatan rambut Vanya.


" ya udah pindah aja, aku akan antar kamu ke sana. " ucap Erick mengelus rambut gelombang milik Vanya.


Vanya tidak merespon ucapan Erick dia tenggelam dalam lamunannya.


" hey aku lagi ngomong sama kamu ya. " ucap Erick sambil menarik hidung Vanya.


" bukan masalah antar atau enggaknya, tapi aku kehilangan seluruh rekan kerja ku. " ucap Vanya yang terlihat sedih.


tidak ada balasan dari Erick, ruangan dengan balutan warna hitam itu kini sangat sunyi tidak ada lagi suara percakapan antara kedua insan itu.


" mereka kemana? " ucap Erick dengan raut wajah yang sudah berubah datar.


Vanya terdiam, dia tau jika dirinya memberitahu Erick maka sang kekasih akan mendatangi keempat rekan kerjanya itu untuk memberikan pelajaran.


" Vanya aku sedang bertanya kenapa kamu hanya diam. "


" mereka pindah tim investigasi. mereka lebih memilih untuk bersama Astrid dengan gaji yang lebih besar dari yang mereka dapat saat satu tim dengan ku. sepertinya memang benar aku bukan seorang ketua yang baik. "


ucap Vanya


" sudah terlihat bukan, siapa yang benar-benar tulus sama kamu. kamu lihat mereka yang kamu bantu hingga mereka jadi seperti sekarang. itulah namanya kacang lupa kulit. tidak ingat kebaikan orang. " ucap Erick


kini keduanya tenggelam dalam keheningan.


*


*


*


kini hari sudah berganti malam, terdapat dua insan yang berjalan santai dalam indahnya suasana malam.

__ADS_1


" malam itu ternyata indah banget ya. " ucap seorang gadis yang lain dan tak bukan adalah Vanya.


Erick tidak merespon ucapan Vanya, dia terus berjalan dengan menggandeng tangan mungil namun berotot milik sang kekasihnya.


mereka berjalan hingga sampai lah di sebuah danau dengan hiasan lampu berwarna kuning keemasan.


mereka berdua duduk pada bangku yang berada di dekat danau itu. Vanya menyenderkan kepalanya kepada pundak Erick.


" Huft ini adalah malam terakhir aku menikmati suasana seperti ini di kota ini. apakah di kota sana aku akan mendapatkan ketenangan ketika berada di danau ini. " ucap Vanya menutup mata dan menghirup udara di malam hari


" di sana udara masih terjaga, kamu akan mendapatkan ketengan yang sangat ketika kamu berada di sana. bukan hanya malam saja tapi jika alam sedang bersahabat pada siang hari pun akan terasa tenang. "


ucap Erick


" bukan kah di sana sangat panas bagaimana aku bisa mendapat ketenangan di sana? "


" ketika kamu sudah menginjakan kaki mu di sana, kau akan mengerti ucapan ku. " ucap Erick.


Vanya hanya menganggukkan kecil kepalanya. dia terus saja memperhatikan pemandangan danau itu di malam hari.


saat sedang memperhatikan pemandangan danau itu, tepat di bangku yang ada di depan mereka terdapat sepasang kekasih yang kini tengah menautkan bibir mereka.


Vanya yang melihat itu membulatkan matanya dan refleks langsung menatap Erick.


saat pandangan mata Vanya tertuju pada Erick, rupanya Erick sudah menatap Vanya dengan tatapan yang Vanya sangat tau artinya.


perlahan Erick mendekati wajah nya kepada Vanya, jarak di antara mereka kini semakin terkikis. hidung mereka kini telah menyentuh satu sama lain.


Vanya dapat merasakan hembusan nafas Erick yang begitu teratur.


Erick mengangkat tangannya dan menarik pelan tengkuk leher Vanya. merasakan jika Erick menarik tengkuknya Vanya langsung menutupkan matanya.


ketika bibir mereka hampir menyatu tiba-tiba saja.........


drtttt drtttt drtttttt


suara handphone Vanya berbunyi


Vanya yang mendengar handphone nya berbunyi langsung menjauhkan wajahnya dari Erick dan langsung mengangkat panggilan tersebut.


" Fu*k " umpat Erick dalam hati.


" selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu ? " ucap Vanya


" selamat malam juga Vanya, jadi begini saya akan menempatkan kamu ke kota Samarinda di Kalimantan Timur."


ucap seorang pria pada panggilan tersebut


" loh bukannya saya di mutasi di kota Pontianak ya pak? lalu kenapa sekarang di mutasi lagi ke Samarinda? " ucap Vanya.


" mereka butuh bantuan kamu, saya tau kamu mempunyai skil yang begitu sangat berguna di sana nantinya. " ucap pria itu lagi


Vanya dan pria yang berada dalam panggilan itu sempat berdebat, namun Vanya memilih untuk mengalah dan mengikuti kemauan pria itu.


" sudahlah besok aku akan antar kamu ke sama. " ucap Erick


*


*


*


Hay guys


maaf ya kalau episode kali ini agak kurang nyambung gitu atau kurang greget.


btw

__ADS_1


jangan lupa like vote and subscribe 💋🌺


__ADS_2