
" Aku rasa pak Simon memasang cctv, namun cctv itu seperti dilepas secara paksa. "
ucap Vanya yang tengah memperhatikan ke langit-langit rumah pak Simon.
mereka yang mendengar perkataan Vanya langsung memperhatikan arah langit-langit rumah pak Simon.
" coba kalian perhatikan sudut itu, bukankah seperti ada lubang yang cat temboknya terangkat sedikit. aku rasa cctv itu di lepas secara paksa oleh pelaku pembunuh ini. "
jelas Vanya
" aku setuju, tidak mungkin jika di rumah pak Simon yang bisa di bilang orang yang berpengaruh dalam kota ini tidak memasang cctv dalam rumahnya. "
tambah Diki
mereka semua kini berada dalam keadaan yang sedikit kacau, pasalnya tidak ada satupun petunjuk yang mereka dapatkan dari kasus kali ini.
" pembunuhan kali ini sepertinya di rencanakan dengan matang."
ucap Vanya sambil terus memperhatikan keadaan rumah pak Simon.
" iya, kasus kali ini sangat rapi. tidak ada satupun barang yang bisa di jadikan barang bukti. bahkan rumah ini pun masih tersusun dengan rapi tidak ada barang yang pecah ataupun rusak. hanya ada bekas noda darah pada lantai dimana pak Simon kehilangan nyawanya. "
Joseph ikut angkat suara
mereka semua kini terdiam ketika tidak mendapatkan sesuatu dari kasus kali ini.
" lalu bagaimana dengan Carlos yang saat ini di tahan. apakah dia terbukti melakukan pembunuhan ?. "
ucap Agatha
" untuk kasus pembunuhan kali ini tidak ada bukti kuat yang bisa menahan Carlos, tapi sampai saat ini Carlos masih di tahan sebab pihak kepolisian butuh beberapa informasi mengenai dunia bawah. "
ucap Vanya yang beranjak dari tempat ia berdiri.
" bukankah kini Carlos di larikan ke rumah sakit jiwa? "
" ya begitulah dik, Carlos stres dikarenakan orang sangat dia cintai harus pergi deluan. dan bahkan yang lebih sakit lagi Carlos harus kehilangan calon bayinya dan juga harus menelan pil pahit ketika mengetahui sang belahan hati melakukan adegan panas dengan pria lain. "
ucap Vanya yang berusaha menjelaskan.
saat mereka tengah berbincang mengenai Astrid dan Carlos tiba-tiba saja handphone milik Vanya berbunyi.
" selamat siang, ada apa Bu. ada yang bisa saya bantu? "
ucap Vanya menjawab telpon itu
" kalian semua ke kantor sekarang. ini penting!! "
ucap wanita di telpon itu
" baik Bu. "
telpon itu terputus dan Vanya memberitahukan kepada rekan kerjanya untuk segera bergegas menuju kantor
" guys kita di suruh kembali ke kantor. Bu Chika bilang ada sesuatu yang penting. "
" nenek lampir satu itu mau apa lagi sih. "
__ADS_1
protes Agatha
" sudahlah ikut aja, aku malas dengar wanita itu mengomel panjang kali lebar. "
ucap Joseph.
kini mereka berempat menuju mobil untuk bergegas menuju kantor.
dalam perjalanan menuju kantor, mereka berbincang-bincang sedikit mengenai kehidupan mereka masing-masing. bahkan tidak hanya berbicara mengenai hidup mereka, ke empat orang itu juga sesekali bergosip tentang kehidupan orang.
" oh iya btw kira-kira hal penting apa ya yang mau di omongin sama Bu Chika? "
ucap Agatha di tengah-tengah gosip mereka.
" entahlah mungkin tentang kasus ini lagi. kamu kaya gak tau aja lagi Bu Chika itu orangnya seperti apa."
ucap Diki
mereka terus saja berbincang hingga tak terasa kini mereka sudah berada di bangunan tempat mereka bekerja.
langkah kaki mereka kini menghiasi indahnya bangunan itu. beberapa staf yang menjaga keamanan bangunan itu membungkuk memberi hormat kepada mereka berempat.
mereka menuju lorong dengan penjagaan yang begitu ketat. terdapat 12 pria dengan tubuh yang kekar sedang menjaga lorong dengan panjang 12 meter dan lebar 5 meter.
mereka melewati lorong itu dan pria dengan badan kekar yang sedang berdiri untuk berjaga.
" gila itu badan oke banget. " ucap Agatha
mereka kini bertemu dengan seorang pria dengan setelah jas hitam dan juga sebuah alat seperti earphone pada telinganya.
" Bu Vanya, silahkan ikuti saya. Anda beserta rekan anda telah di tunggu oleh pimpinan pusat. " ucap pria itu dengan mengeluarkan tangannya menjabat tangan Vanya
mereka berjalan cukup lama melewati beberapa lorong yang tentunya terdapat beberapa penjaga dengan badan yang berotot kekar.
mereka telah sampai di ujung lorong, namun Diki tidak melihat pintu masuk ataupun jendela pada lorong tersebut.
" ini kita di bawa ke sini untuk apa ya? dimana pimpinan kantor pusatnya? " ucap Diki
" sudah diam aja, kita gak pernah ke sini. pasti ada tombol untuk buka salah satu sisi dinding di sini. " ucap Agatha
betul saja apa yang dikatakan oleh Agatha, pria yang memberikan jalan kepada mereka menggeser salah satu sisi dinding yang menampilkan sebuah layar kecil dengan opsi angka untuk memasukan kode rahasia.
pria itu memasukan beberapa angka ke dalam layar itu. dan seketika layar hijau muncul menganalisis wajahnya.
setelah wajah dari pria itu terverifikasi, lorong yang awalnya tidak ada pintu maupun jendela dan sebagainya itu bergerak naik dan menampilkan sebuah pintu kaca yang di dalamnya terdapat beberapa orang tenaga IT salah satunya ialah Kaila rekan satu tim Vanya.
bagian IT memang sangat di sembunyikan keberadaanya sebab sebagian besar dari mereka tidak bisa melakukan ilmu bela diri dan semacamnya.
untuk memastikan keamanan dari bagian IT, maka dari itulah tempat mereka di buat terpisah dari ruang kerja agen lainnya.
...********...
pria yang membawa mereka mempersilahkan mereka untuk memasuki ruangan tersebut.
" silahkan, Bu Chika berada di ruangannya. "
ucap pria itu
__ADS_1
mereka berempat berjalan melewati beberapa orang-orang bagian IT. tidak melewatkan kesempatan yang bagus ini, Vanya bergegas menuju ruangan Kaila untuk sekedar melepas rindu.
" Kaila kangen banget. " ucap Vanya sambil memeluk Kaila
" ih sama kangen juga, biasanya kita cuma dengar suara atau gak Vidio call. " balas Kaila dengan memeluk juga
" nanti dulu kangen-kangen sekarang kita ke ruangan Bu Chika aja dulu. nanti dia bernyanyi tiada henti. " ucap Joseph
kini mereka berlima berjalan menuju ruangan Bu Chika.
sesampainya di ruangan kerja Bu Chika dengan wajah tanpa dosa Diki membuka suara dengan pertanyaan yang berhasil membuat seisi ruangan itu menatap tajam ke arahnya.
" bukannya ini tempat khusus yang di buat untuk tenaga IT untuk melindungi dan merahasiakan keberadaan mereka dari orang-orang? lalu kenapa Bu Chika ada juga di sini bahkan ruangannya terlihat yang paling besar luas dan juga paling...."
belum selesai Diki berbicara Vanya mencubit pinggang Diki dan membuat empunya meringis kesakitan.
" awww apa sih Van, main cubit-cubit aja. "
" bisa gak lihat-lihat kondisi kalau mau bertanya. " bisik Vanya dengan sedikit penekanan.
Diki melihat ke arah meja besar yang ada di ruangan itu. di meja itu sudah terdapat beberapa orang yang sudah duduk menunggu mereka sedari tadi.
" sudah sekarang kalian duduk ada yang mau saya bicarakan!! "
ucap Bu Chika dengan raut wajah yang sangat bisa di pastikan jika empunya tengah menahan amarah.
untuk mempersingkat waktu mereka duduk berdampingan menghadap ke arah seorang pria dengan setelan jas berwarna kuning stabilo.
norak
itulah kata yang cocok menggambarkan sosok pria itu. bukan hanya setelan jas nya yang berwarna mencolok dan terkesan sedikit norak.
tetapi aksesoris pria itu juga berhasil membuat siapapun yang melihatnya sedikit memicingkan mata yang di karena aksesoris yang di gunakan sungguh sangat norak dan terkesan alay.
" sejak kapan dalam dunia intelijen menerima orang seperti ini?" ucap Vanya dalam hati
Vanya sedikit memijit keningnya yang tidak sakit namun sedikit stres melihat pemandangan yang ada di depannya itu.
pria dengan setelan jas berwarna kuning stabilo itu membuka suaranya.
" baiklah teman-teman kita akan masuk ke dalam perbincangan kita kali ini. sebelumnya kenal kan saya adalah Leo Waldi. saya adalah atasan kalian yang memang jarang berada di sini karena kesibukan saya. " ucap.pria itu
sekitar satu jam lebih mereka semua mendengar pidato dari pak Leo mengenai dirinya dan juga hidupnya.
" ingin sekali rasanya ku tutup mulutnya pake kaus kaki ku. " ucap Kaila berbisik
" bener sekali, membuang waktu saja. " balas Vanya
kini pria itu sudah selesai dengan dongeng tentang dirinya yang dia ciptakan. sekarang giliran Bu Chika lah yang berbicara
" baik sekarang saya akan berbicara, tanpa basa basi saya akan beritahu kalian jika job dari tim Vanya akan saya tukar dengan tim Rebecca. "
ucapan itu keluar dari mulut Bu Chika tanpa beban sedikit pun.
*
*
__ADS_1
oke sampai sini dulu ya guys ya
jangan lupa like vote and subscribe 💋🌺