
Aku mendengar suara tepuk tangan kecil di belakang ku. Seorang wanita yang mengenakan seragam Guild Adventurer, berdiri di belakang Mio.
“Pertunjukan yang bagus, bahkan Mio akan kalah dalam tiga langkah.”
“Dan untuk Nicholas, surat peringatan akan datang ke rumah mu.”
“Selanjutnya, Hallo.. gadis manis. Darimana kau mempelajari teknik pedang itu?”
Aura yang dipancarkan wanita itu sangat mengerikan, terutama dengan tatapan tajamnya ke laki-laki di belakang ku.
“Um, Mama.. mungkin itu sedikit berlebihan” balas Mio sembari memegang lengan wanita itu.
Eh? Mama?
Wanita ini adalah Ibu Mio?
Mio memberikan bekal makan siang yang ada di tangannya, namun Ibu Mio meletakkan bekal makan siang itu di atas meja kosong yang berada di sampingnya. Pandangan mata kami saling bertemu dan dia tersenyum ke arah ku. Ini hanya perasaan ku saja atau itu adalah isyarat untuk mengajak ku bertanding.
“Gadis manis.. mau mencoba bertanding dengan ku?” ucapnya.
“Eh?” aku sangat terkejut dengan undangan mendadak ini. Perasaan ku ternyata benar, itu adalah undangan pertandingan.
“M-Mama.. Um.. tidak makan siang terlebih dahulu?” Mio sedikit canggung untuk memisahkan kami berdua. Hingga tangan Ibu Mio mengambil pedang dari pinggang Mio.
Bukankah ada aturan mengenai pertarungan disini?
Ibu Mio bergerak ke arah ku dan menghilang tiba-tiba.
Eh, menghilang?!
Kemana Ibu Mio pergi?
Perasaan tubuh ku menjadi tidak enak dan merasakan ada seseorang yang bergerak di atas ku. Aku segera menganyunkan pedang ku ke atas dan kilatan api kecil yang terjadi dari dua pedang yang bergesekan pun terlihat.
*Prang!!
Ibu Mio berada tepat di atas ku dan menyerang ku!
Untung saja aku mengikuti perasaan tubuh ku dan menangkis serangan Ibu Mio. Ini sangat aneh. Setelah aku berhasil menangkis serangan Ibu Mio, waktu berjalan seperti melambat dan titik-titik kecil yang bersinar bermunculan di badan Ibu Mio.
Ah! Aku ingat tentang teknik ini. Ini adalah gabungan teknik dari [Perfect Parry], [Counter Attack], dan [Precision Attack]. Kombinasi ketiga teknik ini adalah menangkis dan menyerang balik musuh dengan memberi serangan ke titik vital musuh.
Uh, apa aku harus menyerang titik vital Ibu Mio?
Apa yang akan terjadi jika Ibu Mio mengalami luka parah?
Apakah Mio akan membenci ku?
Aku menggerakkan tubuh ku untuk menghindar, memberikan serangan [Counter Attack] membutuhkan waktu yang cepat dan respon yang tepat. Waktu yang berjalan di sekitar ku berubah menjadi normal, aku melewatkan kesempatan ku untuk melancarkan serangan balik. Saat ini, pertarungan kecil kami semakin menarik perhatian banyak orang terutama di kalangan petualang dan staff Guild Adventurer.
“Ti-Tidak mungkin!!”
“Siapa gadis cilik ini! Dia bisa menangkis serangan Iblis Tua ini!”
__ADS_1
“Wooah! Teknik yang indah! Baru kali ini aku melihatnya!”
“Apa gadis cilik ini datang untuk mendaftar sebagai petualang? Teknik pedang yang dimilikinya sangat hebat dan kuat.”
“Ini hanya perasaan ku saja atau serangan aliran keluarga Sakura telah melemah?”
Orang-orang di sekitar ku saling berbisik. Mendengar suara mereka, aku merasakan aura buruk yang semakin menguat. Sekilas, aku melihat Mio yang berjalan mundur dan mempersiapkan makan siang dari bekal makan siang yang tergeletak di atas meja kosong. Firasat ku mengatakan jika Ibu Mio akan serius menyerang ku.
“Boleh juga, gadis manis. Siapa nama mu?” Ibu Mio sedikit menjauh dari ku.
“L-Lily...” aku memberikan nama depan ku tanpa memberitahu status kebangsawanan Ayah ku.
“Lily? Mungkinkah.. Oh! Jadi seperti itu! Aku mendengar kisah tentang Lily-chan dari putri ku dan sepertinya dia sangat menyukai Lily-chan.”
Mendengar ucapan itu, aku sedikit menahan rasa malu ku.
A-Apa sih yang dikatakan Mio! Mooo!
“Bagaimana dengan ini, Lily-chan. Jika Lily-chan bisa mengalahkan ku, akan ku berikan putri ku kepada mu!!” ucap Ibu Mio dengan nada yang keras. Ucapan itu menggema di langit-langit gedung ini.
“HAAAA!!” orang-orang di sekitar ku pun terkejut dengan ucapan ini.
Aku sedikit melirik Mio dan mata kami saling bertemu. Berbeda dengan Mio yang biasanya terlihat tenang, Mio memandang ku dengan wajah merah padam.
Haruskah aku memenangkan pertandingan ini?
“Maaf, tapi mengalahkan ku tidak semudah itu!” Ibu Mio kembali bergerak menyerang ku. Kali ini, dia menghilang dan menyerang ku dari berbagai sisi.
*Prang!
*Prang!!!
Serangan demi serangan menghujani ku. Untung saja, aku bisa merasakan pergerakan Ibu Mio dan arah serangan yang mengarah pada ku. Bukan berarti aku tidak ingin menyerang balik, jika Ibu Mio terkena luka parah dari serangan ku. Aku takut jika Mio marah pada ku.
*Prang!
Ibu Mio menghentikan serangannya.
“Refleks yang cukup bagus, sebenarnya dimana titik lemah mu?” Ibu Mio mulai mengamati penampilan ku dari atas hingga bawah lalu menatap Mio.
“Mio, kerja yang bagus!” ucapnya.
Mio yang mendengar ini pun terdiam dan tertunduk di meja yang berisi makanan.
“Makan siang telah menunggu, bukankah kita seharusnya mengakhiri pertarungan kecil ini?” aura di sekitar Ibu Mio kembali berubah. Sebuah aroma harum yang khas tercium dan kelopak bunga sakura berjatuhan.
Eh? Kelopak bunga sakura?
Ibu Mio menyerang ku tanpa terlihat. Suara dan gerakan yang digunakannya sangat berbeda dari sebelumnya. Aku bisa merasakan ratusan serangan yang diarahkan pada ku. Hingga waktu yang berjalan disekitar ku mulai melambat dan aku mampu melihat pola serangan Ibu Mio.
Pertandingan ini tidak akan berakhir jika aku terus bertahan rupanya. Aku menghiraukan serangan Ibu Mio dan bergerak menggunakan [Sakura Dash] untuk mempersingkat jarak. Saat aku berada di depan muka Ibu Mio, dia tersenyum saat melihat ku. Pedang kami beradu sangat cepat dan tanpa sengaja.. pedang ku menggores seragam Ibu Mio.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Pemandangan di sekeliling ku yang seolah melambat memberi ku waktu untuk melakukan [Counter Attack] dan [Precision Strike]. Serangan yang berhasil ku tangkis ku gunakan sebagai titik serangan balik.
__ADS_1
Aku pun menyerang titik vital Ibu Mio, namun dengan serangan minimum yang menggores seragamnya saja.
Di dalam diri ku, aku tidak ingin melukai seseorang yang memiliki hubungan khusus dengan ku.
Serangan balik yang kulakukan seharusnya sudah cukup untuk menyudahi pertandingan ini karena seragam Ibu Mio cukup berantakan. Jadi, kuputuskan untuk kabur dari jarak serangan Ibu Mio menggunakan [Sakura Vanish].
Saat serangan Ibu Mio hampir mengenai tubuh ku, dalam sekejap tubuh ku menghilang dan dikelilingi oleh kelopak bunga sakura lalu muncul di belakang Ibu Mio. Pedang yang kugunakan pun mulai mengarah ke lehernya dan berhenti di titik aman untuk tidak menggoresnya.
*Tang!
“A-Aku menyerah” ucap Ibu Mio.
Pertandingan kecil kami berakhir dengan suara pedang Mio yang terjatuh di lantai. Aku segera memasukkan pedang ku ke sarungnya untuk menyelesaikan pertarungan kami.
“G-Gerakan apa itu tadi?” tanya Ibu Mio.
“Mio! Bukankah kau terlalu keras melatih Lily-chan!” Ibu Mio segera menemui Mio dan memarahinya.
Aku segera mengambil pedang milik Mio yang terjatuh di lantai dan bergegas mengembalikannya.
“M-Mama.. aku tidak melatih Lily-sama.”
“Apa maksud mu tidak melatihnya? Gerakan itu.. bukankah kau yang mengajarinya? Dan.. dimana kau menemukan gadis berbakat seperti ini? bukankah kau bekerja sebagai Maid di kediaman Marquess Rommel?” ini hanya perasaan ku saja atau Ibu Mio sedang menggoda Mio.
“Y-Ya aku memang bekerja di sana dan.. Ekhem! Aku juga tidak tahu kenapa Lily-sama bisa melakukan teknik pedang keluarga kita.”
“Eh, Lily-sama? Siapa itu?” tanya Ibu Mio kebingungan.
“Mioo..” aku berdiri di samping Mio dan menyerahkan pedang miliknya.
“Ah, terima kasih, Lily-sama” Mio segera mengambil pedangnya dan menaruhnya kembali ke sarung pedang di pinggangnya.
“Lily-sama, maaf jika ini sedikit terlambat. Wanita yang haus akan pengalaman bertarung ini adalah Mama ku. Dan Mama, perkenalkan.. gadis manis dan cantik ini adalah Lily-sama.”
“Lily-sama?? Kenapa kau memanggilnya Lily-sama?” balas Ibu Mio dengan nada yang dibuat-buat.
“Karena dia adalah nona muda yang kulayani di kediaman Marquess Rommel” mendengar penjelasan Mio.
Orang-orang yang ada di sekitar ku pun memasang raut wajah yang pucat.
“Bukankah Mama sudah tahu?” tanya Mio.
“Eh? Apanya?” ternyata Ibu Mio hanya bersandiwara untuk memperkenalkan ku di muka publik.
Uh, aku sedikit malu dengan perkenalan semacam ini.
“Dan Lily-sama, ku serahkan putri ku sepenuhnya kepada Lily-sama.”
“Eh??” aku dan Mio saling bersahutan.
“Dengan ini, aku merestui hubungan kalian! Teehe..”
“M-Maaamaaa!!” balas Mio dengan wajah yang dipenuhi rona merah.
__ADS_1