
Pernikahan politik, huh?
Di tengah guncangan kereta kuda yang melaju kasar. Aku terpikirkan oleh keputusan Ayah ku mengenai pernikahan politik. Pernikahan politik di Kerajaan ini sudah sering terjadi, terutama dengan campur tangan pihak Kerajaan yang memutuskan pertunangan antar bangsawan sebagai perintah resmi Kerajaan.
Walaupun mereka memegang kekuasaan yang besar, bukan berarti mereka memiliki hak untuk menentukan cinta dan kasih sayang seseorang! Berkat keputusan aneh mereka, tingkah laku bangsawan menjadi di luar kendali dan itu membuat ku muak.
Sejak aku lahir ke dunia ini, hanya pihak keluarga Kerajaan yang memandang rendah diri ku. Teruma oleh Pangeran Pertama yang menjadi Putra Mahkota Kerajaan. Jika aku menikahi Pangeran Pertama, posisi ku akan menjadi Ratu Kerajaan. Posisi itu sangat menggiurkan untuk menggoda ketamakan Ayah ku.
Sudah sejak lama aku memikirkan ini.
Apakah aku dibiarkan hidup selama ini hanya untuk menjadi Ratu boneka miliknya?
Bagi ku, politik adalah racun yang membunuh secara perlahan.
“Jadi, Ayah menjual diri ku hanya untuk ini?” gumam kecil ku.
“Uhm? Onee-sama?” menyadari ucapan kecil ku. Alice memandangi ku dengan ekspresi sedih dan khawatir.
“Lily-nee.. Apa Lily-nee tidak ingin bertunangan dengan Pangeran Pertama?” tanya Alyssa.
Sepertinya Alyssa mendengar keluhan kecil ku.
“Um, bagaimana untuk menjawabnya. Pertunangan seperti ini tidak cocok untuk ku kan?” balas ku dengan nada canggung.
Sejujurnya, aku lebih memilih untuk membunuh Pangeran Pertama daripada bertunangan dengannya.
[Aku setuju dengan yang satu ini!]
Eh? Ada Dewi rupanya.
[Mungkinkah.. aku harus menurunkan kekeringan di Kerajaan ini?]
Um, jika kekeringan terjadi di Kerajaan ini. Bukankah itu akan membuat orang lain kesusahan?
[Kuh! Lily-chan ku sangat perhatian dengan orang-orang tak bersalah. Kalau begitu, apa Lily-chan mau menjadi Saintess ku?]
Saintess?
Aku pernah mendengar ini sebelumnya, bukankah Saintess memiliki kekuatan luar biasa untuk melindungi dunia dari kekacauan?
[Yup! Dahulu Saintess diperlukan untuk memperbaiki dunia ini. Tapi, setelah dunia ini stabil. Keberadaan Saintess tidak diperlukan lagi. Menjadikan Lily-chan sebagai Saintess akan mempermudah membungkam orang-orang ini ... Em! Maksud ku ... melindungi Lily-chan dari kotoran yang paling hina.]
A-Aku sedikit mengerti maksudnya, laki-laki memang mahkluk menjijikan yang pernah ku temui. Mereka hanya mendekati ku jika butuh sesuatu yang berkaitan dengan Ayah ku dan itu sangat menjijikan!
Semua laki-laki di dunia ini sangat menjijikan!
[Tepat sekali, Lily-chan! Laki-laki hanya bug system yang perlu di patch ulang! Um.. Lily-chan.. tolong tahan ini sebentar.]
“G-Guuuhu!!” tiba-tiba aku merasakan rasa sakit di dada ku. Sensasi panas yang terus menjalar ke seluruh tubuh ku membuat ku kehilangan keseimbangan dan terjatuh membentur kepala Mio yang ada di depan ku.
“Aaawuuu!!”
“Kuuuhaa!!”
Aku dan Mio menahan rasa sakit di kepala kami.
[Selesai! Saintess Seeds berhasil di install. Selanjutnya, aku serahkan pada mu Lily-chan! Eh? Ah? Maaf Lily-chan.]
T-Tidak apa-apa, berkat kekuatan Mio. Aku bisa bangkit dari rasa sakit kecil ini dengan cepat.
__ADS_1
Alice dan Alyssa sangat panik ketika kepala ku membentur kepala Mio. Aku melambaikan tangan ku ke kepala mereka untuk mengelus dan menenangkan mereka.
“Aku tidak apa-apa, Alice.. Alyssa.. Onee-chan kalian ini sangat kuat kok” ucap ku dengan nada bercanda.
*Toook! *Toook!
Kusir kereta kuda kami mengetuk kaca jendela utama sebagai tanda untuk bersiap turun dari kereta kuda. Dari jendela samping, aku bisa melihat kereta kuda Kerajaan yang berbaris memanjang.
“Ini pasti akan merepotkan” ucap ku dengan nada datar.
Saat kereta kuda berhenti, aku segera menendang pintu masuk kereta kuda dan berjalan mencari Ayah ku.
“Onee-sama!!”
“Lily-nee!!”
“Lily-sama!!”
Alice, Alyssa, dan Mio mengikuti ku dari belakang. Mencari Ayah ku di tempat ini sangat mudah. Dia selalu pergi membawa pasukan kecilnya yang tidak berguna dan aku bisa menemukannya dengan cepat karena pasukan kecilnya mudah dilihat.
Dari kejauhan, aku bisa melihat pasukan kecilnya yang berbaris bersama pengawal Kerajaan.
Apa itu?
Pesta teh di pagi hari?
“Ayah!” ucap ku dengan nada keras dan menghampirinya.
“Apa maksudnya ini?!” lanjut ucapan ku.
Di depan ku, Ayah dan Ibu tiri ku sedang menikmati hidangan kecil bersama sosok yang ku benci yaitu Pangeran Pertama.
Aku melirik Pangeran Pertama, sosoknya terlalu menjijikan untuk di pandang dan itu membuat perut ku terasa mual.
“Huuuek!” aku berusaha menahan isi perut ku untuk tidak keluar. Muntah di depan sang Ratu itu akan sangat memalukan, tapi..
“Bisa singkirkan sampah ini sekarang?” ucap ku dengan jari telunjuk yang menunjuk Pangeran Pertama.
“Lily! Jaga bicara mu!” ucap Ayah ku dengan nada keras.
“Kau diam saja!” balas ku dengan menatap tajam Ayah ku.
Ayah ku sangat terkejut dengan perlawanan ku ini, biasanya aku selalu mematuhi kata-kata Ayah ku tapi tidak untuk yang satu ini.
“Fufu~ anak yang cukup berani~” sang Ratu yang duduk di depan ku tersenyum menatap ku.
“Pakaian dan pedang yang imut, boleh aku-“
“Aku menolaknya! Cepat pergi dari tempat ini sebelum aku turun tangan membuang kalian!” ucapan ku ini terdengar sangat kasar untuk berbicara dengan Ratu Kerajaan.
“...”
“...”
“...”
Semua orang yang ada di sekitar ku terdiam setelah mendengar ucapan ku.
“Pufufu.. hahaha!! Lucu sekali! Anak mu ini benar-benar sangat lucu, Marquess Rommel!” sang Ratu menahan perutnya dan tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan ku.
__ADS_1
“Aku serius!” ucap ku dengan nada dingin.
“Lily Schwartz De Rommel, pertunjukan yang bagus. Dari semua bangsawan Kerajaan, hanya diri mu yang berani seperti ini. Apa kau tidak tahu jika ucapan mu itu merupakan penghinaan untuk keluarga Kerajaan? Melinda, kau bisa mengurusnya sekarang” ucap sang Ratu.
Tiba-tiba saja, bayangan hitam tubuh sang Ratu membesar dan menampilkan sosok tubuh yang terbalut pakaian hitam.
“Maafkan aku gadis kecil, tapi ini adalah perintah dari Master ku” ucap sosok bayangan itu sebelum melesat ke arah ku.
“Gadis seperti mu memang lucu jika memiliki tata krama-“
Sebelum sang Ratu menyelesaikan kata-katanya, aku bergerak menggunakan Sakura Dash dan Sakura Vanish untuk menjatuhkan sosok Melinda dan meletakkan mata pedang ku ke bagian leher sang Ratu.
“Sepertinya, kau butuh bawahan baru” ucap ku dengan nada dingin.
Angin pagi yang berhembus melewati tubuh sang Ratu terasa dingin dan kelopak bunga sakura bertebaran di depannya. Aroma harum bunga sakura tersebar dan pengawal yang mengelilingi sang Ratu kini terlihat panik setelah sosok yang disebut Melinda terjatuh di atas tanah.
“K-Kau..” menyadari posisinya yang berada di tanduk kematian membuat tubuhnya bergetar.
“A-Apa yang kau lakukan kepada Melinda ku?” tanya sang Ratu yang berusaha menahan gemetar tubuhnya.
Bibir sang Ratu bergetar setelah melihat sosok Melinda yang terbaring di atas tanah.
“Oh, dia? Hanya tertidur di atas tanah. Sebenarnya aku tidak ingin bermusuhan dengan mu tapi kau yang memaksanya. Lebih baik kau bawa sampah menjijikan ini kembali ke istana.. Em! Tunggu sebentar..” aku segera memukul perut Pangeran Pertama.
Pukulan kecil ku ternyata mampu mendorong tubuhnya terbang jauh membentur tanah yang keras dan itu membuat ku terhibur ketika melihat tubuhnya berguling di atas tanah.
“A-Apa yang baru saja kau lakukan! Kau tahu jika dia itu Putra Mahkota Kerajaan kan?!”
Aku kembali meletakkan mata pedang ku ke leher sang Ratu.
“Dengarkan ini baik-baik, tidak semua bangsawan berada dalam kendali mu. Aku memberi mu dua pilihan, menjadi musuh atau boneka milik ku?” tanya ku kepada sang Ratu.
Um! Aku membenci dirinya yang menjadikan bangsawan sebagai boneka politiknya.
Jadi, aku akan menghukumnya dengan cara ini.
Bukankah ini sepadan dengan perbuatannya?
“Bo-Boneka??” tanya sang Ratu.
“Um! Kau akan melakukan apa pun yang ku perintah.”
“Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu!” penolakan tegas sang Ratu ini membuat ku tersenyum.
“Kalau begitu, pilih lah.. kehilangan anak mu atau Melinda?” aku melepas mata pedang yang menekan leher sang Ratu dan berjalan kecil menuju Melinda yang masih tersungkur di atas tanah.
Di atas tubuh Melinda, aku menggores mata pedang ku pada lehernya dan luka kecil terbuka di lehernya.
“T-Tunggu! A-Akuuu..!” sang Ratu mencoba untuk menghentikan tindakan ku.
“A-Aku akan menjadi boneka mu tapi-”
Sebelum sang Ratu protes lebih jauh lagi, aku segera tersenyum dingin ke arahnya dan memperlebar luka kecil di leher Melinda.
“Hiii!! B-Baiklah.. A-Aku akan menjadi boneka milik mu!” ucap sang Ratu dalam keadaan panik.
“Kalau begitu, batalkan niat mu untuk menjadikan diri ku sebagai tunangan Pangeran Pertama dan..” aku menghentikan sebagian kata-kata ku.
“Tolong buang sampah menjijikan itu dari sini.. itu membuat ku ingin muntah” ucap ku sembari tersenyum dan menunjuk Pangeran Pertama.
__ADS_1
[Uhm.. terkadang Lily-chan bisa menjadi manis dan kejam di waktu bersamaan.]