
Dalam sekejap, anggota keluarga Mio kini bertambah. Sosok gadis kecil yang bergabung bersama kami di ruang makan adalah seorang spirit yang berhasil terpanggil oleh kontrak spirit Ibu Mio.
Sosok spirit ini tidak jauh berbeda dengan Mio, rambut pendek berwarna coklat cerah dan sepasang iris mata coklat yang bersinar terang menambah keimutan gadis kecil ini.
Yang membedakan gadis kecil ini dengan gadis kecil biasa adalah aura yang menyelimuti tubuhnya. Sebuah aura yang tenang dan berwarna kehijauan terbang mengelilingi tubuhnya. Saat aku mengamati dirinya, ia memandang balik ke arah ku dan tersenyum seperti menyapa ku.
Mio dan Ibu Mio duduk disampingnya sembari menahan isak tangis yang masih belum selesai. Sepertinya, mereka masih menyimpan kerinduan terdalam pada sosok Adik Mio yang telah pergi.
Ayah Mio ingin bergabung dengan mereka, hanya saja..
“Um? Bisakah kalian menyingkirkan mata pedang kalian menjauh dari kepala ku?” ucap Ayah Mio.
Ya, Ayah Mio kini sedang terjebak oleh dua mata pedang yang membatasi pergerakkannya.
“Nimi, cobalah makan ini..” Ibu Mio mencoba menyuapi sosok spirit yang menggunakan wujud anaknya.
Untuk suatu alasan emosional, spirit yang terpanggil ini mewarisi nama Adik Mio yang telah meninggal.
“Nimiiii~” Mio pun mencoba menyuapi Nimi dengan makanan kecil diatas sendoknya.
Pemandangan ini terasa menenangkan, tapi..
Kenapa dada ku terasa sakit setelah melihat Mio seperti ini. Aku tahu ini adalah hubungan yang wajar untuk melepas kerinduan terdalam pada sosok adiknya.
Hanya saja..
Aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
Apa yang telah terjadi pada diri ku?
Aku berdiri dari kursi ku dan beranjak pergi meninggalkan ruang makan keluarga Mio.
Aku keluar dari rumah Mio dan berjalan menyusuri jalanan kota sembari menikmati suasana angin malam. Melihat kehangatan keluarga Mio dan luka hati yang perlahan terobati di keluarga mereka membuat ku teringat pada satu hal.
“Keluarga kah?” aku bergumam kecil seolah mencari jawaban atas pertanyaan kecil ku.
“Aku juga ingin merasakan keluarga yang seperti itu, tapi..”
Apa yang baru saja ku pikirkan?
Mendapatkan kehangatan keluarga seperti itu dengan kondisi fisik ku yang seperti ini?
Itu sangat mustahil kan?
Tanpa terasa, kaki ku melangkah ke sebuah taman kota yang ditumbuhi bunga-bunga berwarna violet. Ini pertama kalinya aku melihat bunga yang bercahaya violet di malam hari. Angin yang berhembus lembut ini menerpa tubuh ku dan memberikan rasa nyaman yang menenangkan.
[Apa kau baik-baik saja, Lily-chan?]
Oh, suara ini? Ada Dewi rupanya?
[Tidak biasanya Lily-chan galau seperti ini, apa ada masalah besar?]
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala ku dan duduk di atas bangku taman yang telah disediakan.
Kehangatan keluarga Mio sedikit membuat ku iri dengan perlakuan mereka terhadap sesama anggota keluarga. Berbeda dengan keluarga ku yang terlalu dingin dan diam tanpa komunikasi.
[Fufu.. jadi itu masalahnya? Lily-chan tidak perlu khawatir. Kenapa tidak mencoba berkomunikasi dengan adik-adik mu dahulu? Lily-chan bisa menggunakan isi buku sihir sebagai topik pembicaraan.]
Em.. apa itu akan baik-baik saja?
[Semua akan baik-baik saja, Lily-chan. Komunikasi itu perlu untuk membentuk suatu hubungan sosial. Tanpa komunikasi, semua akan berjalan biasa saja.]
A-Aku mengerti.
A-Aku akan berusaha untuk berbicara dengan adik-adik ku.
[Kyuuu! Aku tidak sabar dengan hubungan adik yang terlalu mencintai kakaknya! Yuri memang bagus dan Siscon merupakan bumbu tambahan yang menyegarkan. Tapi, Siscon Yuri adalah hidangan utama yang sempurna untuk dinikmati!]
Aku tidak memahami apa yang Dewi katakan selanjutnya. Tapi, sejauh yang ku pahami ia ingin aku akrab dengan adik-adik tiri ku kan?
Berbicara dengan adik ku terasa sangat berat dan tidak ada salahnya untuk mencoba berbicara dengan mereka kan?
Mendengar perkataan Dewi yang berbicara pada ku malam hari ini, suasana hati ku menjadi lega. Mungkin ada satu kesempatan kecil dimana keluarga tiri ku bisa menjadi keluarga baru ku seutuhnya. Walau pun dengan kerja keras yang panjang dan menahan perasaan yang tidak menyenangkan.
[Fufu.. sudah merasa lega?]
“Um!” aku mengangguk untuk merespon perkataan Dewi.
[Sudah waktunya untuk pulang, Lily-chan. Aku akan mengantar mu. Ah! Aku akan mengantar mu ke ruang kamar mandi rumah Mio.]
Eh? Kenapa kamar mandi?
[Ups! Aku lupa. Ini pertama kalinya Lily-chan merasakan sihir teleportasi. Jadi, Lily-chan agak sedikit merasakan mual dengan perubahan tempat yang tiba-tiba.]
Beruntungnya, ini adalah ruang kamar mandi milik keluarga Mio. Aku mencari tempat yang cocok untuk mengeluarkan isi perut ku.
Semakin aku menahannya, aku bisa merasakan makanan dari perut ku yang mencoba naik ke permukaan.
Uguh! Ini terasa menjijikan.
[M-Maaf Lily-chan. Aku akan memberi sedikit sihir pemulihan.]
Tiba-tiba saja tubuh ku memancarkan cahaya kuning emas dan perasaan mual yang kurasakan perlahan menghilang.
Bukan kah ini sihir yang berguna?
[Fiuh..! Hampir saja. Kalau begitu, aku permisi dahulu untuk menikmati adegan selanjutnya?]
Huh? Apa maksudnya?
Aku segera keluar dari kamar mandi keluarga Mio dan bertemu Mio yang hendak memasuki kamar mandi.
“Lily-sama?”
__ADS_1
Melihat ekspresi Mio yang memasang raut muka khawatir, sepertinya aku telah pergi terlalu lama.
“Apa Lily-sama baik-baik saja? Aku mendengar suara kecil di dalam.”
“Ah! I-Itu..” jangan bilang Mio mendengar suara ku saat menahan rasa mual.
“Lily-sama, beristirahatlah di dalam kamar ku” Mio segera meraih tangan ku dan menuntun ku ke kamar miliknya.
Untuk ketiga kalinya aku berada di dalam kamar Mio.
Hari semakin malam dan cahaya redup kamar Mio membuat ku ingin terlelap tidur di atas kasur Mio.
“Lily-sama..” Mio mendekat ke tubuh ku dan melepas pakaian yang ku kenakan.
“Eh? M-Mio?”
“Mungkin ini bukan kediaman Marquess Rommel. Tapi, aku masih bertugas menjadi pelayan pribadi Lily-sama.”
“Uh! Uhm..” aku tidak bisa memprotes kata-kata Mio.
“Lily-sama, mungkin baju tidur ini terlalu besar dan tampak biasa saja. Tapi, ini terasa nyaman untuk tidur” Mio segera melepas pakaian yang ku kenakan dan menggantinya dengan pakaian tidur yang telah ia siapkan.
Pakaian tidur yang diberikan Mio sedikit terlalu besar dan terasa longgar.
“Um! Aku tidak tahu jika selonggar ini. Tapi.. ini boleh juga!” ucap Mio yang menahan air liurnya.
Apa ini?
Aku merasakan ada yang aneh dari sikap Mio.
“Lily-sama.. kemarilah!!” Mio kini berbaring diatas kasurnya dan mengajak ku untuk ikut berbaring di sampingnya .
Aku mulai bergerak menaiki kasur Mio dan berbaring tepat di samping tubuh Mio.
Tanpa di duga, tangan Mio mulai memeluk tubuh ku. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa merasakan nafas hidungnya yang berhembus mengenai rambut panjang ku.
“Lily-sama.. terima kasih..” ucap Mio dengan nada lembut di telinga ku.
“A-Aku sangat senang bisa melihat kembali sosok yang telah lama ku rindu kan. Sekali lagi, terima kasih banyak, Lily-sama. Kebahagiaan kecil ini membuat ku-“ aku menghentikan kata-kata Mio dengan ciuman lembut di bibirnya.
Tanpa sepatah kata yang terucap, aku mengerti perasaan Mio dan Mio menerima perasaan ku.
“Lily-sama..” Mio melepas ciuman ku dan kini posisi tubuhnya berada di atas ku.
“Mio ini milik Lily-sama kan? Apa boleh Mio sedikit serakah untuk malam ini?”
“Huh?” aku ingin menjawab pertanyaan Mio namun bibir kami kembali bertemu.
Di malam yang sunyi ini dan cahaya kecil yang menyinari kamar Mio, kami berciuman hingga tengah malam dan Mio tertidur pulas setelah puas mencium bibir ku.
Aku tidak memprotes tindakan Mio yang satu ini, karena..
__ADS_1
Aku juga menikmati sisi Mio yang serakah ini.
[Yurification Poin +20.000]