Yurification System

Yurification System
Chapter 16 - Menuju Pemandian Air Panas


__ADS_3

Hari telah berganti malam, aku terbangun dari tidur siang nyenyak ku.


Pemandangan di depan ku tampak berbeda dari biasanya. Langit-langit yang terbuat dari papan kayu dan lentera lilin yang menyinari ruangan terasa berbeda.


Pandangan mata ku masih terasa berat dan rasa kantuk mata ku membuat ku ingin melanjutkan tidur ini.


Namun, sebuah suara pintu ruangan yang terbuka membangunkan ku sepenuhnya. Mio dengan pakaian sederhana memasuki ruang kamar dan mendekati ku.


“Selamat malam, Lily-sama” sapa Mio sembari membawa peralatan kecil di tangannya.


Apa ini?


Kenapa tiba-tiba rambut halus ku berdiri tegak dan perasaan ku menjadi tidak enak?


“Lily-sama, ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan” Mio kini berada di depan ku. Lentera lilin yang ada di dalam ruang kamar sedikit memperlihatkan ekspresi kesal Mio.


“Lily-sama pergi ke kota dengan membawa ijin dari Rommel-sama kan?”


“Ah!” tiba-tiba tubuh ku terasa dingin setelah mendengar pertanyaan Mio.


“Lily-sama?” Dengan tatapan yang dingin, Mio mulai berjalan mendekat ke arah ku.


Keringat dingin membasahi kepala ku berkat tatapan Mio yang menatap tajam ke wajah ku.


“Ehehe..” aku sedikit tertawa kecil tanpa menjawab pertanyaan Mio.


“Sudah ku duga, pantas saja Rommel-sama tidak menjemput Lily-sama saat berada di kota. Bahkan mereka langsung kembali ke Mansion Utama” ucap Mio dengan nada kesal.


Hmm?


Ini sedikit aneh.


Harusnya Mio memarahi ku kan?


Aku sedikit mengusap keringat yang menetes di dahi ku.


“Lily-sama, maaf jika ini kurang pantas tapi mau mandi bersama di pemandian air hangat?” ajak Mio.


“Pemandian air hangat?” tanya ku.


Ini pertama kalinya aku mengetahui ada tempat seperti itu.


“Di kota ini ada beberapa penginapan yang membuka pemandian umum. Ah! Tenang saja Lily-sama! Pemandian laki-laki dan perempuan terpisah kok. Terlebih ada beberapa petugas yang mengawasi di dalam.”


Mandi bersama kah?


Ku rasa itu pengalaman yang cukup menarik. Biasanya, aku hanya mandi sendirian dengan mengusap bagian tubuh yang penting tanpa memikirkan hal lain seperti air panas atau semacamnya.


“Ah! Tapi bagaimana dengan pakaian ku?” tanya ku.


“Fufu.. tenang saja, Lily-sama! Pelayan setia ini telah menyiapkan sesuatu untuk Lily-sama!” Mio dengan percaya diri mengelus dadanya.

__ADS_1


Melihat ekspresi senang Mio, aku hanya bisa merasakan firasat buruk tentang ini. Rasanya seperti aku akan menjadi boneka hidup untuk memuaskan rasa penasarannya.


Ugh, aku tidak ingin melakukannya tapi tubuh ku terasa lengket penuh dengan keringat.


Perasaan ku menolak tentang ini namun tubuh ku terlalu jujur dalam situasi ini.


“Mio, jangan berlebihan!”


*Bonk!


“Atata!!”


Di belakang Mio, tampak Ibu Mio yang membawa handuk dan pakaian di dalam kotak kayu kecil. Mio menerima pukulan kecil yang dilayangkan oleh Ibu Mio.


“Maafkan Putri ku, Lily-sama. Jika sesuatu yang berhubungan dengan keimutan Lily-sama maka Mio akan lepas kendali seperti ini” ucap Ibu Mio.


“Dan Mio.. tolong jaga perilaku mu! Bagaimana pun juga, Lily-sama adalah Master mu!”


“Uuuh.. aku tahu itu tapi.. bukankah pakaian ini sangat imut?” Mio membuka pakaian yang ia bawa. Aku tidak menyadari pakaian itu sebelum Mio menunjukkannya.


Pakaian itu tidak jauh berbeda dengan model Shrine Maiden hanya saja ada tambahan kain berjumbai yang terlihat seperti jahitan seragam Maid.


“Pakaian ini..” Ibu Mio terdiam setelah melihat pakaian yang dibawa Mio.


“Kurasa itu sangat cocok untuk Lily-sama. Kerja yang bagus, Mio!” lanjut ucapan Ibu Mio dengan penuh semangat.


Uh, sepertinya aku tidak bisa menghindari nasib menjadi boneka hidup.


“Dan.. jika Lily-sama mengenakan pakaian imut seperti itu. Sepertinya kita harus membawa senjata untuk berjaga-jaga.”


Eh?


“Fufu.. tentu saja, Mama! Menjaga keimutan dan kesucian Lily-sama adalah tugas utama ku!”


Entah kenapa, Ibu Mio dan Mio memiliki pendapat yang sama untuk urusan yang satu ini.


Aku mengikuti permintaan mereka dan bergegas menuju pemandian air panas. Pemandangan kota saat malam hari memiliki keunikan tersendiri terutama dengan toko yang beroperasi saat malam hari.


“Um, Mio.. boleh aku bertanya sesuatu?” Di tengah perjalanan kami, aku teringat pada pembicaraan merchant exclusive keluarga ku.


“Apa itu distrik merah?”


Mendengar pertanyaan ini, Ibu Mio dan Mio terkejut dan memandangi sekitar.


“Li-Lily-sama! Darimana Lily-sama tahu kata-kata itu?!” Mio sangat panik dan menggenggam tangan ku untuk mempercepat kecepatan jalan kami.


“Eh? Apa ada yang salah?” tanya ku.


“Siiihhh!! Jangan keras-keras Lily-sama. Itu adalah kata-kata yang kasar! Siapa yang mengajari Lily-sama mengenai kata-kata itu?”


“Kata-kata kasar?” aku sedikit kebingungan dengan perkataan Mio.

__ADS_1


Apakah Distrik Merah merupakan kalimat kasar?


Jika itu kalimat kasar, kenapa merchant exclusive keluarga kami sering membicarakannya?


“Ekhem! Dengarkan ini baik-baik Lily-sama! Distrik Merah adalah kalimat yang merujuk pada tempat khusus untuk orang dewasa. Anak kecil tidak boleh mengetahui tempat itu apalagi memasukinya!!”


“Eeeh?? Kenapa?” aku semakin penasaran dengan Distrik Merah.


“I-Itu karena.. ugh! Bagaimana menjelaskan tentang ini, Mama?” Mio sepertinya menyerah untuk menjelaskan Distrik Merah.


“Lily-sama, untuk saat ini Distrik Merah adalah hal tabu yang diucapkan oleh bangsawan kerajaan. Tapi, jika Lily-sama penasaran dengan tempat tersebut maka kita bisa mengunjunginya setelah mandi bersama” balas Ibu Mio.


“Mamaaaa!!” Mio semakin panik ketika Ibunya menjelaskan tentang Distrik Merah.


“Mio, anak-anak cenderung penasaran dengan hal yang belum mereka ketahui dan mereka akan nekat untuk mencari tahu jika tidak mendapat jawaban. Bukankah Lily-sama berada di kota ini tanpa menggunakan kereta kuda dari keluarganya dan berjalan kaki ke kota?”


Eh?


Kenapa Ibu Mio bisa mengetahuinya?


“Dan perlu di ingat! Rommel-sama menitipkan Lily-sama pada mu dengan jaminan keselamatannya.. mengerti?!”


A-Ayah ku menitipkan ku? Pantas saja Mio mempertanyakan tentang hal itu sebelumnya.


“Yah, Distrik Merah memang tempat yang rawan dengan tipu muslihat dan bahaya. Jadi, Lily-sama harus berhati-hati jika melewati wilayah tersebut. Mengetahui lokasi Distrik Merah tidak terlalu buruk untuk berjaga-jaga kan?” ucap Ibu Mio sembari memandangi Mio.


Oh, jadi itu alasannya.


Aku sekarang paham dengan tempat bernama Distrik Merah ini. Singkatnya, Distrik Merah adalah tempat berbahaya dan di khususkan untuk orang dewasa.


Tapi, kenapa harus orang dewasa?


“Uuuhh.. B-Benar juga sih tapi..” balas Mio yang setuju dengan pendapat Ibunya.


“Tenang saja, Mio. Aku tidak tertarik dengan tempat semacam itu. Aku hanya penasaran saja setelah mendengar pembicaraan merchant exclusive keluarga ku mengenai kunjungan mereka ke Distrik Merah” ucap ku.


Mendengar ucapan ku, Ibu Mio tersenyum ke arah Mio.


“Benar kan? Ini jauh lebih aman daripada tidak menjelaskannya sama sekali” ucap Ibu Mio.


“Uuuuh, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Lily-sama pergi ke tempat seperti itu dan merchant exclusive kah.. sepertinya mereka akan mengalami hal buruk di bulan depan.. fufu..” tiba-tiba ekspresi wajah Mio menjadi dingin.


“Ah! haha.. haha..?? K-Kita telah sampai di tujuan. Lihat ini Lily-sama..” tanpa terasa perjalanan kami telah tiba di tempat tujuan dan suara Ibu Mio seperti tertekan sesuatu.


Di depan kami terdapat gedung penginapan besar bernama “Fox Heaven”. Saat kami memasuki pintu utama, beberapa gadis rubah berekor putih mengenakan seragam Maid menyambut kami. Ekor lebat yang berayun dan keimutan telinga berbulu yang berkedut terasa sangat lembut untuk di pandang.


“I-Imut sekali...” tanpa sadar ucapan itu keluar dari mulut ku.


Tunggu sebentar!


A-Apakah ini gambaran tentang diri ku saat menjadi Fox Shrine Maiden?

__ADS_1


A-Aku menjadi imut seperti itu?


T-Tidak mungkin kan?


__ADS_2