Yurification System

Yurification System
Chapter 35 - Predator Malam


__ADS_3

Di balik kegelapan malam yang mendekati puncaknya. Tiga sosok pantulan mata predator malam terlihat. Siluet telinga rubah, tanduk hitam yang indah, dan pita kepala Maid terlihat dari balik pantulan cahaya lentera malam.


Ciel, Sia, dan Mio tengah memperhatikan tubuh Lily yang tertidur nyenyak di depan mereka.


Mereka bertiga menelan air liur untuk menahan rasa haus yang menyerang dan insting alami yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.


Tatapan mata mereka saling berbenturan seperti memperebutkan sesuatu yang penting bagi mereka.


“Ekhem! Mari kita singkat perdebatan kecil ini. Tubuh Nee-sama hanya ada satu dan kita harus membaginya menjadi tiga bagian secara adil. Melihat kondisi tubuh kecil Nee-sama, kurasa bagian kanan tubuhnya cocok untuk ku” ucap Ciel.


“Em.. aku tidak masalah untuk melakukannya di bagian manapun. Setiap bagian tubuh adik imut ku berisi kebahagiaan yang tak tertandingi. Yah, bagian kiri sudah cukup bagi ku” ucap Sia.


Di depan mereka, Mio tampak cemberut mendengar keputusan yang terjadi secara sepihak.


“Lalu.. dimana bagian ku?” tanya Mio.


“Ah!”


“Oh!”


Ciel dan Sia terdiam setelah mendengar pertanyaan Mio.


“Benar juga, bagian tubuh Nee-sama sangat kecil untuk dibagi menjadi tiga bagian. Bagaimana ini?” balas Ciel.


“Umm.. Mio. Bukankah kau setiap hari bertemu Lily-chan? Mungkin ini terdengar seperti permintaan yang egois. Um.. Apakah kami boleh meminjam Lily-chan untuk satu malam?” tanya Sia.


“Moooo~” Mio menggembungkan pipinya sebagai respon penolakan pertanyaan Sia.


Ciel dan Sia menatap mata Mio dengan linang air mata yang membanjiri kelopak mata mereka.


“Uuugh~ kalian curang sekali” menghadapi tatapan mata mereka yang memelas. Mio hanya bisa tertunduk dan mengalah.


“A-Aku akan mengalah untuk kali ini, jangan harap mendapatkan kesempatan kedua!” ucap Mio.


“Kalau begitu, aku akan meninggalkan jejak terlebih dahulu.”


Mio perlahan mendekati tubuh Lily yang tertidur lelap dan memberi kecupan kecil di pipi mungil Lily.


"Fufu~ Selamat Malam, Lily-sama" ucap Mio sembari mengelus kepala Lily.


"Miiiioooo~ Enngg. " Lily mengingau saat Mio mencium pipinya..


Mio tersenyum setelah mendengar namanya. Di dalam hatinya, Mio tidak ingin meninggalkan Lily bersama wanita lain.


"Tolong jangan berbuat yang aneh-aneh kepada Lily-sama!" ucap Mio kepada Ciel dan Sia.


"Tenang saja, kami tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kok" balas Ciel yang menahan tetesan air liurnya.


"Eng! tidak ada hal aneh yang kami pikirkan kok" balas Sia dengan ekor naga miliknya yang meliuk-liuk.


Melihat respon tubuh mereka yang mencurigakan, Mio menghela nafas yang cukup panjang dan kembali mencium Lily. Kali ini, ciuman itu membekas di leher Lily dan meninggalkan noda merah merona.


"Haaaauuuu~" Tubuh Lily meresponnya dengan getaran kecil.


"Setidaknya, aku meninggalkan sebagian kecil jatah ku" ucap Mio dengan tersenyum puas.


"Ciel-sama.."


"Sia-sama.."


"Tolong jangan berlebihan.." ucap Mio sebelum meninggalkan kamar Lily.


Mio perlahan meninggalkan Lily, setiap langkah yang ia ambil terasa cukup berat. Terlebih, Ciel dan Sia mulai melancarkan aksi mereka untuk melakukan kejahilan kecil pada tubuh Lily.

__ADS_1


Sebelum Mio menutup pintu kamar, ia melihat dua mata predator malam yang ingin menyantap buruan di depan mereka.


"Uuh.. semoga mereka tidak berlebihan melakukannya" gumam kecil Mio sembari menutup pintu kamar Lily.


Setelah pintu kamar Lily tertutup, Ciel dan Sia yang menahan insting mereka mulai melancarkan serangan yang telah mereka tahan.


"Kuuuuh~ Adik imut ku kenapa semanis ini sih?" ucap Sia sembari memeluk erat lengan kiri Lily.


"Nee-sama.. bau yang harum sekali.." ucap Ciel yang memulai serangannya dengan mencium aroma tubuh Lily.


Di sela-sela kejahilan mereka, sebuah pertanyaan kecil terlintas di kepala Sia.


"Ciel, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sia.


Mendengar pertanyaan Sia, Ciel menghentikan gerakan kecilnya dan memasang ekspresi wajah kesal.


"Sia, kenapa kau mengganggu kesenangan ku dengan Nee-sama?" nada Ciel sedikit cemberut karena aktivitas kecilnya terganggu.


"M-Maafkan aku, aku hanya ingin bertanya satu hal. Apa kau pernah melakukan apa yang dilakukan Mio-chan sebelumnya?" tanya Sia.


"Melakukan apa yang dilakukan Mio-chan sebelumnya?" Ekspresi wajah Ciel dipenuhi dengan kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sia.


"I-Ituloh.. Ci-" jawab Sia yang sedikit gugup untuk melanjutkan ucapannya.


"Ci?" melihat Sia yang gugup, ekspresi wajah Ciel semakin dipenuhi kebingungan.


"Ci-Ciuman.. A-Apa kau pernah melakukannya?" ucap Sia dengan wajah yang dipenuhi rona merah.


"Ciuman? Aku sering melakukannya."


"Hee..kau sering melakukannya. Heh? HEEEEEH!!" jawaban singkat dari Ciel membuat Sia terkejut.


"Di kampung halaman ku, jauh sebelum aku menjadi Saintess dan menjabat sebagai Kepala Kuil. Setiap anggota baru yang lahir di koloni kami memiliki tradisi unik dengan mencium kening kepala mereka oleh Kepala Kuil. Aku sering melakukannya dan itu tidak aneh bagiku."


"Oh, untuk yang satu itu. Aku belum pernah melakukannya."


"Umm.. ini terdengar cukup aneh. Apa kau mau melakukannya dengan ku?"


"Eh?"


Ucapan Sia membuat Ciel terdiam membisu.


...


...


...


"A-Apa yang baru saja kau katakan!! K-Kenapa kita harus berciuman?!" dibutuhkan waktu yang cukup panjang bagi Ciel untuk merespon kata-kata yang diucapkan Sia.


Akibat dari ucapan Sia, sebuah rona merah menyala terlihat di telinga rubah Ciel yang bergerak naik turun.


"Aku hanya bercanda" balas Sia.


"Boleh saja" tepat setelah Sia mengucapkan kalimat balasannya, Ciel menanggapi ucapan Sia sebelumnya.


"Eh?" Sia seketika terdiam setelah mendengar jawaban Ciel.


Ciel perlahan bergerak mendekati Sia yang tidak jauh berada di depannya.


"T-Tunggu dulu, Ciel. A-Aku hanya bercan- Humpf!!"


Tidak butuh waktu yang lama bagi Ciel untuk mencium bibir Sia.

__ADS_1


...


...


...


"Haaah~ Haaaaaah~ Uuugh!! sensasi aneh apa ini?"


"Hiiieeekk~ rasanya menjijikan!"


Tepat setelah mereka berciuman, sensasi aneh dan menjijikan muncul dari dalam tubuh mereka.


"I-Ini aneh, kenapa Lily-chan dan gadis itu terlihat seperti menikmati ciuman mereka?" gumam Sia.


"Ugoohh! bibir ku terasa aneh" seru Ciel.


Sia menghiraukan Ciel yang sedang tertekan karena sensasi aneh yang baru saja dirasakan. Tatapan matanya kini tertuju pada bubir mungil Lily yang sedang tertidur lelap.


"Mungkinkah?" sebuah pemikiran kecil kembali muncul di kepala Sia.


Sia perlahan mendekati tubuh Lily yang tertidur pulas dan memperhatikan bibir kecilnya.


"Emm.. tidak ada salahnya untuk mencoba kan?" perlahan namun pasti, Sia mendekatkan bibirnya ke bibir Lily.


Sebuah ciuman yang berjalan lambat dan penuh kelembutan terjadi.


"Hnnng!!" sebuah sensasi yang aneh menyelimuti tubuh Sia. Ekor dan tanduk naga miliknya terasa sangat sensitif setelah mencium bibir Lily.


"Liiiiily-chan... Chuuu!!"


"Chuuu!!"


"Chuu!"


Sia berkali-kali mencium bibir lembut Lily dan menjilati area bibirnya. Sensasi aneh yang ia rasakan kini terasa berbeda. Sia terlihat seperti menikmati ciuman Lily yang penuh kelembutan cinta hingga merubah pupil matanya yang dipenuhi simbol cinta.


"Kyuuuu~ Adik manis ku memang sesuatu~" ucap Sia dengan mengelus rambut kepala Lily.


Melihat tingkah laku Sia yang berubah drastis, ekspresi wajah Ciel dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.


"S-Sia?" ucap Ciel.


"Oh.. Ah.. Ciel.. M-Maaf.. Adik kecil ku yang satu ini sangat imut. Jadi, aku sedikit lepas kendali" balas Sia yang melanjutkan kecupan kecilnya di bibir Lily.


"Hmm? Boleh aku mencobanya juga?" tanya Ciel.


"Eeh?"


"Nee-samaaa.. M-Maafkan aku jika sedikit kasar" tanpa menunggu jawaban dari Sia, Ciel mulai merebut paksa bibir Lily dari kecupan Sia.


"Hnnnggg!!"


"Nyaaaa~ Nee-sama.. " sensasi lembut yang dirasakan Ciel membuat dirinya berubah menjadi pribadi yang lain. Telinga dan ekor rubah nya tertunduk lemas menyelimuti tubuh Lily.


"Apa ini? kenapa ciuman Nee-sama terasa lembut dan.." Ciel terlihat seperti orang mabuk.


"Membuat ku ketagihan seperti ini.." lanjut Ciel yang mulai bergerak menyusuri bibir Lily.


"Ciel! Jangan seenaknya merebut bagian ku!"


"Eeeh? Ini bagian ku juga!"


Di malam ini, kedua predator malam ini secara bergantian menikmati buruan mereka hingga pagi hari.

__ADS_1


Lily yang terbangun lebih awal dikejutkan dengan rasa sakit gigitan kecil yang ia rasakan di lehernya dan dua predator malam yang tertidur dengan senyum puas diwajahnya.


__ADS_2