
Makan malam keluarga Marquess Rommel berjalan seperti biasa. Kedekatan keluarga kami makin erat dari sebelumnya, itu karena aku telah mengakui Marchioness Amagi sebagai Ibu baruku.
“Ayah.. Mama.. Sepertinya aku tidak ingin menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh Raja dan Ratu?” pintaku di pertengahan makan malam. Setelah memikirkannya lebih jauh lagi, aku memilih untuk tidak menghadiri undangan pesta itu.
“Eh? Onee-sama?”
“Lily-nee?”
Alice dan Alyssa menatapku dengan perasaan gelisah. Tatapan yang dipenuhi rasa kecewa itu tertuju kepadaku.
Ah, benar juga.
Alice dan Alyssa belum pernah menghadiri pesta yang diadakan oleh keluarga kerajaan. Undangan pesta itu adalah jalan mereka untuk melihat istana kerajaan dari dekat. Secara tidak langsung, aku merusak keingintahuan mereka.
Sebastian berbisik sesuatu di telinga Ayahku dan berbalik menatapku dengan senyuman tipis di wajahnya.
Ugh, firasat buruk ini. Aku bisa merasakan adanya jerih payah yang harus kulakukan untuk lari dari keadaan ini.
“Benar juga, aku hampir melupakan insiden itu. Maafkan Ayah, Lily!” ucap Ayahku dengan nada tinggi.
“Tidak apa-apa, Ayah. Untuk sementara waktu, aku tidak ingin menghadiri pesta bangsawan lain atau teman-temanku.. Uhm? Teman? Kurasa yang satu itu akan menjadi pengecualian. Teman, huh? Aku ingin tahu bagaimana keadaan Ciel dan Sia” jawabku.
“Anooo.. Onee-sama..”
“Lily-nee..”
“Lily-chan.. Ekhem.. Lily.. Jika kau tidak ingin menghadiri pesta itu. Lily akan sendirian di tempat ini. Apakah itu akan baik-baik saja?” ucap Mama.
“Tidak apa-apa, Mama. Untuk sementara waktu, Mio akan mengurus semua keperluanku sepanjang hari dan-” aku menghentikan kata-kataku dan membasahi bibir mungilku menggunakan lidah.
“Keperluan di malam hari” lanjut ucapku sembari tersenyum kecil ke arah Mio.
Di sampingku, Mio terlihat berdiri menahan rona merah di wajahnya dengan tubuh yang bergetar kecil.
“Moooo~ Itu akan merepotkan Mio, Bukankah begitu, Mio?” tanya Mama.
“Eh? Mio? Apakah aku selalu merepotkanmu akhir-akhir ini?” tanyaku kepada Mio untuk menjawab pertanyaan Mama.
“Erhm.. Uuu.. A-Aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk melayani Lily-sama sepanjang sisa hidupku” balas Mio untuk menjawab pertanyaan kami.
Sejujurnya, aku dan Mama hanya menjahili Mio untuk melupakan rasa takut yang sedang kualami.
Tidak, itu bukanlah rasa takut.
Lebih tepatnya, aku sudah muak untuk menahan tatapan hina yang tertuju ke arahku. Untuk itulah aku membuka topik pembicaraan ini demi mendapatkan simpati dan empati keluargaku.
“Alice.. Alyssa.. Mengapa kalian terlihat sedih seperti itu?” sebagai Kakak mereka, aku menyadari ekspresi gelap yang dipancarkan adik-adikku.
__ADS_1
“Pesta pertama tanpa kehadiran Onee-sama, bukankah itu terasa hampa?”
“Neee.. Lily-nee.. Apakah kejadian itu terasa sangat menyakitkan?”
“Eh, kejadian itu? Tentu saja tidak. Aku hanya terlalu lelah untuk menghadapinya sekali lagi” aku membalas pertanyaan kedua adikku dengan senyuman lebar.
Jadi, mereka kecewa karena aku tidak menghadiri pesta itu?
Kuuh! Adik-adikku sangat peduli terhadapku.
Ucapanku ini membuat keluargaku tertunduk dan menghembuskan napas yang cukup berat.
Erm.. Ini terlihat seperti mereka memikirkan kejadian itu terlalu dalam.
Sejauh pemahamanku, setiap keluarga bangsawan tergabung ke dalam kelompok yang berbeda-beda dan secara kebetulan posisi Ayahku mendukung keluarga kerajaan.
“Marchioness Amagi, ini hanya perasaanku saja. Apakah kita perlu berganti haluan? Dengan konflik yang dialami Lily. Keluarga kerajaan tidak terlalu penting untuk kewajibanku sekarang..” ucap Ayahku.
“Eh? Kita akan melakukan pemberontakan?” balas Mama.
“B-Bukan seperti itu! Kita hanya berganti haluan saja. Candaanmu itu lebih mengerikan dari biasanya, Marchioness Amagi.”
“Bukankah itu ditujukan kepada Marchioness Amagi bukan Amagi sebagai istri?”
Eh, apa itu? Apakah itu bentuk pertahanan diri dari Mama demi dipanggil sebagai istri oleh Ayah?
Uhm.. Mari kita pahami posisi kebangsawanan keluargaku.
Wilayah yang dikuasai oleh Ayahku merupakan pertambangan besi dan pertanian gandum. Letak rumah ini berdekatan dengan hutan yang berisi monster dan tanaman hutan yang belum terjelajahi secara sempurna. Patroli hutan memiliki jadwal rutin yang telah ditetapkan dan wilayah kami masih bergantung kepada pembagian pajak keluarga kerajaan.
Itu artinya jika keluargaku ingin melakukan pengkhianatan. Kita harus menunjukkan kepada keluarga kerajaan mengenai “Kita tidak membutuhkan bantuan kalian lagi!” atau yang semacamnya.
“Ah! Begitu rupanya!” tiba-tiba saja aku terpikirkan ide baru dan berseru dengan suara lantang.
“Itu artinya.. Kita akan berhenti menjadi bangsawan?” tanyaku kepada Ayahku.
“Hng!! L-Lily.. I-Ide itu..” tubuh Ayahku bergetar setelah mendengar ide kecilku.
“Sebastian, bukankah itu ide yang bagus? Aku tidak perlu memikirkan pajak kerajaan dan keluhan rakyatku?” lanjut ucapan Ayahku dengan nada serius.
“Tuan, tolong jangan bercanda menggunakan nada serius. Itu terdengar seperti anda ingin melarikan diri dari tanggung jawab bangsawan kerajaan” balas Sebastian.
“Ekhem! Tetapi itu adalah ide yang bagus, Lily-sama. Serangan yang tidak terlihat itu akan mengguncang keluarga kerajaan. Berdasarkan pengeluaran pajak pada tahun sebelumnya, wilayah ini meningkatkan pajak sebesar 2% dan pengeluaran uang pribadi Marquess Rommel untuk penyambutan diplomasi kerajaan tetangga yang berakhir gagal. Ekhem! Bangsawan di kerajaan kita akan berkurang dan beban Raja menjadi meningkat. Kurasa, itu hukuman kecil yang pantas untuk mereka” puji Sebastian sembari tersenyum ke arahku.
“Hmm.. Umm.. Entah mengapa ini seperti kebetulan tetapi aku penah membaca adanya anggaran berlibur keluarga di catatan keuangan Marquess” ucap Mama.
“Hmm.. Aneh sekali. Kebetulan itu seperti telah direncanakan sebelumnya, itu artinya..” sorotan tatapan tajam dari Mama tertuju kepada Ayah yang terlihat santai menikmati makanan penutup.
__ADS_1
“Aneh sekali, mengapa undangan pesta ini bertepatan dengan jadwal liburan keluarga? Ya.. Ini sangat aneh sekali. Sebastian.. Jadwalku untuk satu tahun penuh tidak ada yang salah, bukan?” ucap Ayahku dengan santainya.
“Tentu saja, Tuan. Tidak ada kesalahan di setiap waktu luang yang tersedia. Semua telah terisi sesuai kebutuhan. Untuk berjaga-jaga, perlukah kita memulangkan sebagian pengawal dan pelayan?” balas Sebastian.
“Maksudmu memulangkan mereka beserta surat pengunduran diri sebagai bangsawan kerajaan?” ucap Ayahku sembari tersenyum dan menahan tawa kecilnya.
Sebastian hanya tersenyum sinis setelah mendengar perkataan Ayahku. Percakapan orang dewasa ini sangat sulit dimengerti olehku. Sejauh yang kudengar, Ayah dan Mama berencana melakukan liburan keluarga tepat di hari pesta keluarga kerajaan.
“Mioo.. Aku serahkan keperluan Lily kepadamu!” ucap Mama kepada Mio.
“Tentu saja, aku akan mempersiapkan semua kebutuhan Lily-sama” balas Mio.
“Alice.. Alyssa.. Sesuaikan kebutuhan kalian untuk berlibur setelah makan malam. Kita akan kabur.. Ekhem! Berlibur ke kerajaan tetangga.”
Erm.. Aku tidak salah dengar, bukan?
Kabur? A-Apa maksudnya itu?
Jadi, ini bukan berlibur melainkan kabur?
“Sebastian, tolong persiapkan kereta kuda keluarga. Pastikan untuk menjemput kita di pagi hari sebelum pesta keluarga kerajaan dimulai!” perintah Ayahku kepada Sebastian.
“Tentu saja, Tuan! Demi kabur dari kerajaan busuk ini, kami akan setia mengikuti anda” balas Sebastian sembari membungkukkan tubuhnya sebagai rasa hormat.
T-Telingaku baik-baik saja, bukan?
I-Ini bukan pertama kalinya aku mendengar kata-kata “kabur” dalam pembicaraan mereka.
A-Aku akan memastikannya sekali lagi!
“M-Mama.. K-kita akan pergi berlibur?” tanyaku kepada Mama.
“Hmng? Ada apa, Lily? Kau sangat penasaran dengan liburan keluarga ini?” balas Mamaku.
“Umngh!” aku hanya mengangguk.
“Kita hanya berlibur ke kampung halamanku yang berada di perbatasan kerajaan tetangga. Itu adalah tempat yang nyaman untuk berlibur dengan pemandangan indah di sekelilingnya.”
“Uhm.. Urm.. A-Aku mengerti” balasku.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuaku.
Hanya saja, bukankah ini yang disebut melarikan diri dari tanggung jawab?
Ugh.. Aku tidak tahu lagi. Setidaknya, beberapa pengawal dan pelayan kami mendukung rencana ini.
Anooo.. Ayah.. Mama.. Tolong jangan mengeluarkan ekspresi mengerikan dengan senyuman manis di wajah kalian.
__ADS_1