
“S-Spirit?” ucap Ayah dan Ibu tiriku secara bersamaan.
Di ruang kerja Marquess Rommel, Ayah dan Ibu tiriku mengamati spirit kupu-kupu yang berada di atas kepala kami. Aku, Alice, dan Alyssa terseret ke dalam situasi rumit dan merepotkan. Dengan terpaksa, aku menjelaskan tentang kontrak spirit dan lingkaran sihir pemanggilan spirit yang terukir di lantai kamarku.
“Jadi begitu, dengan kata lain. Lily berhasil melakukan ritual pemanggilan spirit dan ledakan energi sihir itu berasal dari spirit itu?” tanya Ayahku sembari mengamati Zoe.
“Um! Itu benar, Ayah.”
“Zoe, bisakah engkau memperkenalkan dirimu kepada kedua orang tuaku?”
Aku memerintahkan Zoe untuk memperkenalkan dirinya.
Zoe yang berada di atas kepalaku tiba-tiba bergerak terbang menyesuaikan sudut pandang kedua orang tuaku.
“Perkenalkan, namaku adalah Zoe. Spirit suci yang mengendalikan ruang dan waktu, pembawa bencana untuk orang-orang sesat, serta pemegang neraca keadilan!” ucap Zoe dengan lantang dan percaya diri.
“Perkenalkan juga kedua adik-adikku. Errr...” setelah memperkenalkan dirinya, Zoe sedikit kebingungan dengan kedua adiknya.
“Ah! Alice... Alyssa... Apakah kalian sudah menemukan nama yang cocok untuk spirit kalian?” tanyaku sembari menatap Alice dan Alyssa.
“Zeta!” teriak Alice.
“Zara!” teriak Alyssa.
“Sekali lagi, perkenalkan kedua adik-adikku yaitu Zeta dan Zara. Spirit kembar yang menjujung tinggi keadilan dan penguasa elemen sihir” lanjut ucapan Zoe.
Zeta dan Zara terbang mengikuti Zoe seperti memperkenalkan diri mereka dihadapan kedua orang tuaku. Berbeda dengan Zoe yang aktif berbicara, Zeta dan Zara terlihat seperti spirit pendiam.
“Erm... L-Lily-chan? Sejak kapan Lily-chan tertarik dengan hal semacam ini?” untuk pertama kalinya, Ibu tiriku berbicara kepadaku.
“Ung? Entahlah... Aku hanya memenuhi rasa penasaranku saja” aku membalasnya dengan nada yang datar.
Jawaban yang keluar dari mulutku membuat Ayah dan Ibu tiriku saling bertatapan. Mereka terlihat kebingungan untuk merespon kejadian ini.
“Ugh... Ini akan menjadi masalah besar jika Raja dan Ratu mengetahuinya. Terutama pihak kuil yang sangat menjengkelkan” ucapan Ayahku terdengar berat di setiap kata-katanya.
“M-Marquess R-Rommel, sepertinya kita harus merahasiakan kejadian ini. Pemanggilan spirit merupakan ritual suci yang digunakan oleh Saintess kerajaan untuk menjaga kekuasaan mereka di mata publik. Jika mereka mengetahui hal ini, aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan karena kekuasaan Raja dan Ratu tidak bisa membatasi kekuasaan Saintess” ucap Ibu tiriku.
“Um, apakah ini akan menjadi masalah yang besar?” aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Ibu tiriku.
“Lily-chan? Ah... Tidak... Jangan khawatirkan tentang hal kecil itu. Kita akan melindungimu! Percayalah kepada kami!”
Ucapan Ibu tiriku terdengar sangat mencurigakan. Itu terdengar dia seperti menyembunyikan sesuatu yang penting untuk keluarga ini. Terlebih, sikap Ibu tiriku seperti dipaksakan. Jujur saja, aku tidak menyukai sifatnya yang penuh rahasia dan memaksakan dirinya itu.
“Umm... Marchioness Amagi. Bolehkah aku memanggilmu Mama?”
Mungkin, pertanyaanku terdengar sangat aneh.
“Eh?”
Bahkan Ibu tiriku sangat terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba itu.
Aku sudah menduga ini sebelumnya. Jarak antara aku dan Ibu tiriku terbilang sangat jauh. Semenjak Ayahku menikahi Ibu tiriku, aku tidak pernah berbicara dengannya. Perasaan aneh yang mengganjal di dalam hatiku seolah berkata untuk mendekati Ibu tiriku secara perlahan.
Uh... Perasaan yang aneh ini. Entah mengapa, aku pernah mengalami ini sebelumnya.
Perasaan aneh macam apa ini?
Karena itulah aku memberanikan diriku untuk menanyakan hal penting itu.
“Umm... Maaf jika ini terkesan memaksa, Marchioness Amagi.”
__ADS_1
Aku berdiri dan membungkukkan badanku sebagai permintaan maaf.
“Ah... Lily-chan!” Ibu tiriku segera berdiri mendekatiku dan memeluk tubuhku.
Ketika Marchioness Amagi memeluk tubuhku, sebuah kehangatan yang sulit dikatakan membuat sebagian hatiku bergetar.
Perasaan aneh ini?
Apakah ini yang disebut dengan merindukan sosok seorang Ibu?
“Tidak apa-apa, Lily-chan. Justru aku sangat senang jika Lily-chan memanggilku Mama. Dengan begitu, aku memiliki tiga gadis yang manis dan imut untuk dibanggakan!” seru Ibu tiriku.
“Uhm... T-Terima kasih... M-Mama...” perasaan aneh di dalam hatiku perlahan menghilang.
Ahhh...
Seperti inikah rasanya memiliki seorang Ibu?
Ini terasa seperti biasa saja. Tidak ada perubahan yang berarti untuk diriku.
“Fufu~ Lily-chan telah mengakui diriku sebagai Ibu! Sekarang, waktunya kita merayakan pencapaian ini!”
Ibu tiriku tiba-tiba melepas pelukannya dan mengepalkan tangannya dengan penuh semangat. Penampilannya yang canggung terhadapku tiba-tiba berubah dan itu membuatku tertawa setelah melihatnya.
Tanpa sadar, aku tertawa kecil. Penampilan konyol Ibu tiriku terlihat sangat lucu.
Ah... Sepertinya aku harus membiasakan ini.
“Mama, tolong jangan berlebihan!” ucapku untuk menangkan situasi.
“Onee-saaamaaa!!”
“Lily-neeeee!!”
Yup, mereka terbang dalam artian yang sesungguhnya. Karena posisi kami duduk di atas sofa, Alice dan Alyssa melompat ke tubuhku dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Karena Onee-sama telah mengakui Mama. Berarti kita bisa tidur bersama setiap malam!”
“Benar! Dengan ini, Alyssa bisa mencium bibir Lily-nee setiap malam!”
*Ctaaang...
*Ctaaakk...
*Braaakk..
*Tiiiingg..
Tiba-tiba saja, Maid dan Butler yang bertugas di dalam ruang kerja Marquess Rommel menjatuhkan barang-barang mereka. Deklarasi yang diucapkan oleh Alyssa membuat kegaduhan kecil di antara Maid dan Butler yang sedang bertugas.
“A-Alyssa... A-Apa yang baru saja kau katakan?” tubuh Mama terlihat bergetar dan menatapku.
“L-Lily-chan... Ah... Ahahaha... Itu hanya candaan sesama kakak-adik, bukan?” Mama terlihat seperti menenangkan pikirannya dengan hal positif dan menganggap ucapan Alyssa hanyalah candaan yang dibuat oleh Alyssa.
“Mama, apakah itu salah? Padahal Mama dan Papa selalu melakukannya setiap malam?” ucap Alyssa dengan nada polos.
“Puuuuffuuuuu!!” Ayahku tiba-tiba tersedak.
“Apakah melakukan hal yang sama dengan Lily-nee adalah kesalahan?” tanya Alyssa.
“T-Tidak, itu bukan hal yang salah. Erm... J-Jangan terlalu sering untuk melakukannya” balas Mama.
__ADS_1
“Eeeehh...” Alyssa melayangkan protesnya.
“Alyssa, hubungan yang seperti itu hanya boleh dilakukan untuk orang dewasa.”
“Benarkah? Jika Alyssa sudah dewasa. Alyssa boleh mencium Lily-nee setiap hari?”
“Aaaahh!!”
Percakapan antara Mama dan Alyssa berakhir dengan kekalahan Mama.
“Tidak! Bukan seperti itu! Hubungan terlarang seperti itu tidak boleh dilakukan oleh sesama keluarga!” ucap Mama dengan nada keras.
“Uumm... Asalkan Lily-nee bukan bagian dari keluarga. Kita bisa melakukannya? Kalau begitu, Lily-nee...” Alyssa tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku.
Bisikan kecil dari Alyssa menyuruhku untuk mengubah bentuk tubuhku ke gadis rubah.
“Ehehe... Lily-nee...” Alyssa tersenyum manis di depanku.
“Haaaah... Apa boleh buat...” balasku.
Aku menyerah dan mengikuti permainan Alyssa.
Tepat di depan kedua orang tuaku, aku berubah menjadi gadis rubah berekor sembilan.
“Bagaimana dengan ini, Mama? Alyssa bisa mencium bibir Lily-nee tanpa mempedulikan masalah sebelumnya!”
“Bukan seperti itu maksudnya!!” Mama terlihat sangat panik setelah melihat keseriusan Alyssa dan perubahan bentuk tubuhku.
“Umm... Aku tidak mempermasalahkan itu. Jika Alyssa menginginkannya, kita bisa melakukannya setiap hari” ucapku.
“Liiiily-neee... Ehehe...” Alyssa tiba-tiba memeluk tubuhku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
“O-Onee-samaaa...” tepat di sampingku, Alice terlihat murung dan menarik lenganku.
“Tentu saja, Alice juga boleh melakukannya kok.”
Yah, aku tidak cukup kejam untuk mengabaikan perasaan Alice.
“Terima kasih, Onee-samaaaa!!” mengikuti gerakan Alyssa, Alice memeluk tubuhku dan membenamkan wajahnya di dadaku.
“Umm... Lily-sama.”
Di belakangku, Mio berjalan mendekatiku dengan ekspresi datar.
“Ah, Mio. Tentu saja, aku juga akan melakukannya kepadamu” ucapku kepada Mio.
“Terima kasih, Lily-sama” balas Mio dengan tersenyum manis ke arahku.
“Tunggu sebentar! Sejak kapan hubungan kalian menjadi seperti ini?” tanya Mama dengan nada serius.
“Apakah hubungan yang seperti ini salah, Mama?” tanyaku.
“Jika hubungan yang seperti ini salah, bukankah hubunganku dengan Ratu juga salah?” lanjut tanyaku.
“Guuhu!! Bukan itu masalahnya, Lily-chan!” seru Mama.
“Mama tidak membenci hubungan yang seperti ini! Yang Mama benci adalah...”
“Mengapa Lily-chan tidak mengajak Mama untuk melakukan hubungan yang seperti itu juga!”
“Mama seperti tertinggal!”
__ADS_1
“Puuuuufuuuuu!!” Ayahku yang sedari tadi terdiam tiba-tiba kembali tersedak.
“Sepertinya, keluargaku berkembang ke arah yang salah” gumam kecil Ayahku.