
[Selamat Lily-chan! Saat ini Lily-chan resmi menjadi Saintess!]
S-Saintess?
Aku sangat terkejut dengan perkataan sang Dewi.
Saintess? A-Aku menjadi Saintess?
A-Apa itu mungkin?
[Tentu saja, karena aku telah memilih Lily-chan sebagai perwakilan ku di dunia ini. Oh, ngomong-ngomong.. di dunia ini bukan hanya ada satu Dewi. Jadi, masih ada Saintess lain dengan Dewi berbeda yang tersebar di dunia ini.]
Eh? Bukankah di setiap kerajaan memiliki satu Saintess?
[Lily-chan, Saintess yang ada di kerajaan bukanlah Saintess pilihan kami. Saintess yang ada di setiap kerajaan manusia adalah pilihan manusia. Mereka tidak mendapat kekuatan langsung dari kami.]
[Oh, ada beberapa Saintess yang datang berkunjung.]
[Kuuh! Mereka terlihat imut tapi Lily-chan jauh lebih imut dan manis.]
Tepat setelah sang Dewi mengucapkan kalimat itu, aku bisa merasakan getaran kecil di tanah yang semakin kuat. Pemandangan pagi hari ini tiba-tiba menjadi cerah dan bermandikan cahaya hangat.
Guncangan tanah yang semakin kuat membuat sebagian orang yang berkumpul di tempat ini menjadi panik.
Dari kejauhan, aku bisa melihat seekor rubah raksasa berwarna putih dengan sembilan ekor bermandikan cahaya emas.
Em, Dewi..
Apa rubah raksasa itu berbahaya?
[Ah! Tidak, dia adalah Saintess yang melayani Dewi alam. Dia datang ke sini untuk menyapa Saintess yang baru saja lahir.]
Eh? Rubah itu Saintess?
Dia datang untuk menemui ku?
Dari kejauhan, sang rubah mengubah penampilan tubuhnya menjadi rubah kecil dan berjalan mendekati ku.
Mio berdiri di depan ku sembari memegang pedang di tangannya.
"Mio, tenanglah. Dia datang untuk menemui ku" ucap ku untuk menenangkan situasi.
Berbeda dengan Mio yang berdiri di depan ku untuk melindungi ku. Alice dan Alyssa memeluk erat lengan ku untuk meredam ketakutan mereka.
Marquess Rommel segera membentuk formasi melingkar untuk melindungi sang Ratu yang masih duduk bersimpuh di atas tanah.
Sang rubah berekor emas berjalan melewati Mio dan duduk di depan ku.
"Um, salam kenal. Nama ku Lily Schwartz De Rommel" ucap ku untuk memperkenalkan diri.
Sang rubah memperhatikan bentuk tubuh ku lalu tubuhnya bermandikan cahaya berwarna emas dan membentuk tubuhnya menjadi sosok manusia rubah yang mengenakan pakaian Shrine Maiden.
Penampilannya sama seperti gadis rubah yang pernah ku lihat tetapi yang menjadi perbedaan adalah ekornya yang bermandikan cahaya emas.
"Salam kenal, Lily-chan. Aku adalah Saintess yang melayani Dewi alam, Ciel. Saat Dewi alam bercerita mengenai Saintess baru yang akan lahir, aku sangat penasaran dan terkejut saat mengetahui jika Saintess itu lahir dari keturunan manusia. Humm.. Hum.. Huuum..??" sang rubah yang memperkenalkan dirinya sebagai Ciel kembali mengamati penampilan ku.
"Um, apa ada yang salah dengan penampilan ku? tanya ku.
Ciel menggelengkan kepalanya.
"Aku sangat tertarik dengan pakaian yang dikenakan Lily-chan. Itu terlihat sangat cocok untuk seorang Saintess" balas Ciel.
"Ah, Uhm, Terima kasih."
__ADS_1
"Lily-chan, boleh aku meniru bentuknya untuk dibagikan ke Saintess lain?" pertanyaan Ciel membuat ku kebingungan untuk menjawabnya.
Namun, aku bisa melihat senyuman Mio yang merasa bangga ketika pakaian buatan tangannya menarik perhatian Saintess lain.
Ah, berbicara tentang Saintess.
Apakah Saintess pilihan Dewi lain bukan dari keturunan manusia?
Cahaya langit tiba-tiba menjadi gelap. Sosok naga besar berkulit merah menghiasi langit-langit. Naga besar itu terbang turun ke arah ku dan menyelimuti tubuhnya menggunakan aura emas. Hentakan tubuh naga itu tidak menimbulkan kerusakan yang besar ketika mendarat.
"Ara~ Ciel sudah disini?" ucap sang naga dengan suara yang besar.
"Selamat datang, Sia. Apa kau datang untuk mengunjungi teman baru kita?" balas Ciel.
"Huuum~ gadis kecil ini teman baru kita?" sang naga kini memperhatikan ku.
Sosok naga itu perlahan berubah menjadi gadis naga mengenakan pakaian yang sama seperti Ciel.
Eh, apa ini artinya Shrine Maiden menjadi seragam resmi untuk Saintess?
"Pakaian yang cukup bagus! Saintess kecil, apa nama pakaian ini?" tanya gadis naga kepada ku.
"Ah, itu adalah Shrine Maiden. Pakaian yang dibuat oleh seseorang yang spesial bagi ku" balas ku.
Aku segera menarik lengan Mio untuk berdiri di samping ku.
"Dia yang telah membuatnya" ucap ku dengan tersenyum bangga.
"Untuk kreatifitas keturunan manusia, ini terasa nyaman untuk dipakai. Aku suka pakaian ini" ucap sang gadis naga.
"T-Terima kasih" mendengar pujian dari hasil kerja kerasnya, Mio sedikit salah tingkah.
"Saintess kecil, siapa nama mu? Nama ku adalah Sia. Utusan dari Dewi langit yang mengawasi situasi dari langit" ucap Sia sebagai perkenalannya.
"Um.. salam kenal, nama ku Lily Schwartz De Rommel. Utusan dari Goddess of Yuri" balas ku.
"Woooh!!" tiba-tiba Sia terlihat bersemangat.
Eh? Kenapa mereka terkejut?
"T-Tidak ku sangka Dewi itu berhasil melakukannya!" ucap Ciel.
"Um! aku pikir dia akan menjadi Dewi kesepian tanpa Saintess" ucap Sia.
D-Dewi..
Apa kau kesepian tanpa Saintess?
[Hiks.. Lily-chaaaan~ aku sangat kesepian~]
[Setiap ras ciptaan kami, mereka selalu menolak eksistensi diri ku.. Hiks!]
Aku paham perasaan itu.
[Lily-chaaan~]
Um, berarti aku adalah Saintess pertama mu?
[Un! A-Aku terdengar seperti Dewi kesepian bukan?]
Aku tidak berpikir seperti itu, bagi ku Dewi adalah harapan besar yang menuntun ku ke jalan yang baru.
[Lily-chaaan sangat baik kepada ku. Terima kasih Lily-chan.]
__ADS_1
"Um, apakah ada Saintess lain yang akan datang?" tanya ku untuk mengganti topik pembicaraan.
"Sepertinya hanya ada kami berdua, berbeda dengan kami. Kerajaan mereka memberi pekerjaan untuk mereka sehingga membatasi waktu luang mereka. Sebagai utusan Dewi alam, aku bertanggung jawab menjaga kerusakan alam yang tidak terkendali namun aku memiliki bawahan yang tersebar luas untuk mengatasinya. Jadi, aku kesini karena memiliki waktu luang yang cukup banyak" ucap Ciel.
"Um! Sama seperti ku. Utusan Dewi langit bertanggung jawab untuk kerusakan langit dan aku memiliki banyak waktu luang karena sebagian besar penyebab kerusakan itu telah punah" ucap Sia.
Mendengar penjelasan Sia, aku menjadi penasaran dengan kepunahan satu hal yang mampu merusak langit.
Tunggu sebentar!
Jika di pikirkan kembali, mereka adalah Saintess yang memiliki tugas khusus.
Lalu..
Bagaimana dengan tugas ku?
Dewi, apa yang harus ku lakukan sebagai Saintess mu?
[Tidak ada.]
Eh, tidak ada?
Apa maksudnya itu?
[Berbeda dengan Dewi lain yang memiliki tugas untuk menjaga alam semesta. Aku berbeda dari mereka. Sebagai Goddess of Yuri, aku bekerja sebagai penasihat Dewi lain yang membutuhkan bantuan ku. Mungkin Lily-chan bisa bekerja dengan membantu tugas Saintess lain untuk mengisi waktu luang.]
Membantu Saintess yang lain? Mungkin aku bisa mencoba melakukannya.
"Um, untuk saat ini aku hanya memiliki satu tugas khusus yaitu membantu sesama Saintess jika terjadi masalah tertentu" ucap ku.
"Itu sangat membantu ku, Lily-chan! Terkadang manusia memiliki pemikiran aneh untuk menebang satu hutan tanpa memikirkan kerusakan alam yang bisa menjadi bencana" ucap Ciel.
"Um.. tugas mu berat juga, Ciel. Tapi, karena tugas Lily-chan membantu sesama Saintess. Itu kabar yang sangat baik untuk mu kan?" ucap Sia.
"Umn!! Ini kabar yang sangat baik. Untuk itu, Lily-chan.. tolong bantu aku berburu Wolf Devour di sekitar hutan tempat ini!" ucap Ciel sembari memegang telapak tangan ku.
"WOLF DEVOUR!!" sang Ratu yang mendengar ucapan kami pun terkejut setelah mendengar permintaan Ciel.
"Niiin! Sepertinya kau tahu apa itu Wolf Devour, manusia yang tidak ku kenal" ucapan Ciel sepertinya menusuk hati sang Ratu.
"Uguh!!" ucap sang Ratu untuk menahan luka batinnya.
"Wolf Devour? Apa itu?" aku bertanya karena tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Ciel.
"Wolf Devour adalah monster serigala berbulu hitam yang tercipta dari tetesan darah monster kegelapan. Mereka bergerak memakan apa saja termasuk daya hidup tumbuhan. Mereka cukup merepotkan karena jumlahnya yang terlalu banyak" ucap Ciel.
Mendengar penjelasan Ciel, aku teringat dengan pertarungan pertama ku melawan serigala hitam.
"Mungkin.. itu adalah monster yang pernah kutemui sebelumnya" balas ku.
"Unm, mungkin kita bisa memburunya bersama-sama" lanjut ucapan ku.
Mendengar ucapan ku, Ciel merasa senang dan menarik lengan ku untuk berburu bersama dirinya.
"Tunggu apa lagi, ayoo kita berburu monster meresahkan itu!" seru Ciel sembari berlari menarik lengan ku.
"Tunggu aku, Lily-sama!!" seru Mio yang mengejar ku dari belakang.
"Ara~ bersenang-senang tanpa mengajak ku? Mari kita kejar mereka, Mio" Sia mengikuti pergerakan Ciel sembari mengendong Mio ditubuhnya.
"HIIYAAAAA!!" Mio berteriak di sepanjang perjalanan kami.
Sepertinya, ini adalah tugas pertama ku sebagai Saintess.
__ADS_1
Membantu sesama Saintess?
Itu tidak terdengar buruk.