
Aku, Mio, Ciel, dan Sia makan malam di dalam kamar ku. Hidangan yang kami makan adalah daging goreng dan beberapa sayuran yang cukup untuk mengisi energi yang terbuang setelah menjalani hari yang berat.
Ciel dan Sia menikmati hidangan daging goreng yang Mio masak. Ini adalah pertama kalinya aku menikmati makan malam di dalam kamar ku bersama orang lain selain Mio.
Makan malam ku biasanya di temani oleh Mio dan di hari tertentu aku harus menghadiri makan malam keluarga yang di pimpin oleh Ayah ku. Ah! maksud ku Marquess Rommel.
“Ugh.. M-Mio..” tepat di depan ku, hidangan makan malam di sajikan di atas lantai dengan porsi yang cukup banyak membuat isi perut ku menjerit.
“Sepertinya, aku tidak sanggup lagi memakannya” mendengar ucapan ku, Mio yang duduk di samping ku segera mengambil peralatan makan ku dan menaruhnya pada sebuah troli yang terletak tidak jauh dari pintu keluar kamar ku.
“Ini, Lily-sama..” setelah menyelesaikan tugas kecilnya. Mio kembali duduk di samping ku sembari membawa segelas minuman segar.
“Ah! Lily-sama.. Ada sedikit noda kecil yang menempel di bibir. Boleh aku membersihkannya?” ucap Mio.
“Ung~” aku tidak menjawab pertanyaan Mio dan memberikan bibir ku sepenuhnya untuk dibersihkan.
Sebuah sensasi halus menyentuh bibir ku. Aku bisa melihat dengan jelas bibir Mio yang bersentuhan dengan bibir ku. Setelah Mio membersihkan sisa noda yang menempel di bibir ku, tanpa sengaja mata ku melirik Ciel dan Sia yang sibuk mengamati kami.
“Umm.. Nee-sama. Boleh aku bertanya tentang satu hal yang membuatku penasaran?”
“Um.. Dua hal jika diperbolehkan?” tanya Ciel.
“Ung?” aku membalas pertanyaan Ciel dengan menatap wajahnya.
Hidangan makan malam milik Ciel telah habis dan tampaknya Ciel tidak berencana untuk menambah porsi makanannya.
“Umm.. Nee-sama.. Anoo..” ucapan Ciel sedikit terpotong dan rona wajahnya sedikit memerah.
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Ciel, tapi..
Nee-sama?
Kenapa Ciel memanggilku dengan sebutan Nee-sama?
Bukankah aku yang seharusnya memanggil dirinya Nee-sama?
“Umm.. Katakan saja..” balas ku.
“Nee-sama.. Apakah Nee-sama dengan Mio-sama memiliki hubungan pernikahan?” tanya Ciel.
“Puuufuuu!! Uhuuuk!!” pertanyaan Ciel membuat Mio tersedak karena ia sedang menikmati secangkir teh hangat di samping ku.
“Eng? Kami tidak menikah” balas ku untuk menjawab pertanyaan Ciel.
“Eh?? Tapi kenapa-“
Sebelum Ciel melanjutkan kata-katanya, aku memotongnya dengan sebuah ucapan yang berasal dari hati kecil ku.
“Kami tidak menikah tapi hubungan kami lebih dari itu” ucap ku untuk melengkapi jawaban sebelumnya.
“Puuuuffff!!” kali ini, Sia yang tersedak setelah mendengar jawaban ku.
“Kuuuuuu~” Mio yang mendengar jawaban ku hanya bisa terdiam dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aku bisa melihat telinga Mio yang berwarna merah dan senyum kecil dari balik kedua tangan yang menutupi wajahnya.
“Ah! Begitu rupanya. Jadi, Nee-sama ini adalah kepala keluarga?” lanjut pertanyaan Ciel.
Um, apakah hubungan kami membuat Ciel penasaran?
Perubahan tingkah laku Ciel dan pertanyaan kecilnya membuat ku menyadari ada sesuatu yang terjadi kepada Ciel.
“B-Bisa dibilang begitu” jawab ku untuk menutup pertanyaan Ciel.
“Nee-sama! Tolong terima aku menjadi bagian keluarga mu!” pinta Ciel secara tiba-tiba.
“Puuufuuuu!!” Sia kembali tersedak setelah mendengar pertanyaan Ciel.
“C-Ciel.. A-Apa yang baru saja kau katakan?” ucap Sia sembari memegang tubuh Ciel.
“Menjadi bagian keluarga Lily-chan bukanlah perkara mudah! Terlebih dengan tingkatan bangsawan umat manusia yang merepotkan!” lanjut ucapan Sia.
“Eh? Kenapa aku harus berurusan dengan tingkatan bangsawan manusia?” jawab Ciel.
“Eh? M-Memangnya keluarga apa yang kau maksud?” tanya Sia.
“Tentu saja keluarga Nee-sama! Nee-sama yang akan menjadi kepala keluarga yang memimpin koloni!”
“K-Koloni? O-Oh.. Itu maksudnya..” sepertinya Sia memahami arti dari ucapan Ciel.
“Umm.. bisa tolong jelaskan?” tanya ku.
__ADS_1
Aku sama sekali tidak mengerti ucapan Ciel.
Kepala keluarga?
Pemimpin koloni?
Apa maksudnya itu?
“Ehehe.. Nee-sama! Tolong gigit ekor ku!” pinta Ciel.
“E-Eh?” mendengar permintaan Ciel membuat ku bertanya-tanya tentang arti dari tingkah lakunya.
Di samping Ciel, ekspresi wajah Sia terlihat terkejut dan tubuhnya bergetar hebat.
“C-Ciel?” ucap Sia sembari menahan getaran tubuhnya yang semakin terlihat jelas.
“A-Apa yang baru saja kau ucapkan!” bentak Sia.
“Hnng?” melihat tingkah laku Sia yang berubah, Mio mendekatkan dirinya kepada ku dan membisikkan sesuatu.
“Lily-sama, aku pernah mendengar tentang ini sebelumnya. Di suatu tempat yang dihuni oleh ras tertentu, menggigit ekor adalah simbol pertunangan dan untuk melangkah ke jenjang pernikahan maka kedua pasangan harus menggigit ekor pasangannya. Kurasa, tradisi yang seperti itu berlaku juga pada ras mereka” bisik Mio.
Mendengar bisikan kecil Mio, aku segera menyadari tujuan utama dari Ciel.
Menggunakan tradisi untuk menjalin sebuah ikatan merupakan ide yang cukup bagus.
Tapi, apakah tradisi itu bisa dilakukan untuk sesama gadis?
Terlebih.. bukankah Saintess memiliki aturan seperti tidak boleh menikah?
...
...
Eh? Tunggu dulu!
Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya?!
“Mio, boleh aku bertanya tentang satu hal yang baru saja terpintas di pikiran ku?” tanya ku.
“Eng? Apa itu, Lily-sama?”
“Itu memang benar” balas Mio.
“Jika mengikuti aturan yang berlaku di Kerajaan, pernikahan dijalankan oleh sepasang kekasih yang berbeda jenis kelamin kan?”
“Bukankah semua pernikahan seperti itu?”
“Kalau begitu.. anggap saja kita menggunakan aturan di luar hukum Kerajaan. Mioo..” aku menghentikan kata-kata ku dan menatap kedua mata Mio.
“Jika aku sudah besar, apakah Mio bersedia menjadi pasangan pernikahan ku? Aturan Saintess yang tidak boleh menikah hanya berlaku untuk perbedaan jenis kelamin tapi tidak ada aturan yang melarang ke sesama jenis kelamin kan?”
Entah kenapa, aku bisa mendengar udara dingin yang berhembus melewati ku dan suasana hening yang menerkam ruang kamar ku.
Mio terdiam di depan ku.
“Miooo?” aku bisa melihat dengan jelas tubuh Mio yang terdiam membeku setelah mendengar ucapan ku.
Em, apakah ucapan ku salah?
*Peeeeesssss~
“Mio?”
Ekspresi wajah Mio perlahan berwarna merah dan uap kecil keluar dari kepalanya.
“Mio, apa kau sakit? Wajah mu memerah-“
“Lily-sama!! Moooo! Apa yang baru saja Lily-sama katakan! Mooo!! Mooooooo!!”
Aku ingin mengukur suhu tubuh Mio dengan kening ku, namun Mio mendorong tubuh ku tertidur di atas lantai.
“T-Tolong jangan memberi ku sebuah khayalan yang tinggi. A-Aku hanyalah seorang pelayan yang tidak mungkin menjadi pasangan pernikahan Lily-sama-”
“A-Aku hanyalah-”
Di balik wajah merah Mio, sebuah kekhawatiran yang besar tercermin di dalamnya seperti dua keinginan yang saling menguasai satu sama lain.
Melihat Mio dalam kondisi seperti ini membuat dada ku terasa sakit.
__ADS_1
Perasaan apa ini?
“Mioo..”
“...”
“Nee.. Miioo..”
“...”
Terkadang Mio bisa menjadi keras kepala dan menghiraukan panggilan ku.
Di tengah situasi yang seperti ini, tidak ada yang menyalahkan ku jika menenangkannya kan?
“Miiiooo..” aku memanggil nama Mio sembari mendekap wajahnya ke pelukan ku.
“Fufu~ Apa Mio lupa? Aku sudah memiliki mu seutuhnya. Jadi, itu bukanlah harapan yang tidak mungkin terwujud” bisik kecil ku di telinga Mio.
“A-Aaaah!” mendengar bisikan dari ucapan ku. Wajah Mio kini perlahan dipenuhi dengan senyuman manis.
“Benar juga! K-Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu?” kini Mio sedikit lebih ceria dari sebelumnya.
“T-Tapi.. bagaimana dengan rencana pertunangan Lily-sama yang sudah diatur oleh pihak kerajaan?” tanya Mio.
“Huuuh?!”
“Heeeh?!”
“Lily-chan akan bertunangan?!”
“Nee-sama akan bertunangan?!”
Sia dan Ciel sepertinya mendengar perbincangan kecil kami.
“Lily-chan! Apakah itu benar?!”
“Nee-sama! Apa itu benar?!”
Emm.. bagaimana cara ku untuk menjawab pertanyaan mereka?
Aku melepas pelukan wajah Mio dan kembali ke posisi duduk.
“Oh, itu? kurasa itu akan baik-baik saja selama Ratu Kerajaan ini tidak memaksa Ayah-- Ah! maksud ku Marquess Rommel untuk menjadi tunangan sampah itu” hampir saja aku mengucapkan kalimat terlarang itu.
“Apakah mereka itu adalah orang-orang yang kami temui sebelumnya?” tanya Ciel.
“Um!” aku mengangguk untuk menjawab pertanyaan Ciel.
“Maksud mu, Ibu dari gadis kecil yang penyakitan itu?” tanya Sia.
“Eh? Gadis kecil penyakitan? Apa maksudnya itu?” mendengar ucapan Sia tentang gadis kecil penyakitan membuat ku tertarik mengenai hal itu.
“Lily-chan, apa kau tidak mengetahui kabar tentang ini? Putri pertama kerajaan mu memiliki penyakit yang sulit disembuhkan. Menurut rumor yang beredar, semua Saitness palsu yang dimiliki umat manusia tidak mampu menyembuhkan penyakitnya” ucap Sia.
“Walaupun mereka Saintess palsu, mereka tetap mempertahankan harga diri mereka untuk tidak meminta bantuan kepada kami. Padahal kami memiliki Elixir yang mampu menyembuhkan penyakitnya” ucap Ciel.
“Eh? Ada Elixir yang seperti itu?” tanya ku kepada Ciel.
“Yep, Elixir yang seperti ini Nee-sama!” dari balik telapak tangan Ciel terdapat sebuah botol kaca dengan cairan bewarna emas yang berkilau.
Sebuah ide kecil muncul di kepala ku.
“Nee.. boleh aku membeli Elixir itu?” tanya ku.
“Silahkan Nee-sama. Tapi, bolehkah aku mendapat bayaran dengan menggigit ekor Nee-sama?” balas Ciel.
“E-Eeeh?” aku memperhatikan ekspresi wajah Ciel yang menunggu jawaban ku.
Senyum manisnya memang menawan tetapi..
Entah kenapa, menyerahkan ekor rubah ku untuk di gigit terasa seperti tindakan yang memalukan.
“Nee-sama~” Ciel menunggu jawaban ku dengan tenang dan ekor rubah nya melambai di depan ku.
“I-Ini sedikit memalukan. Tapi, aku juga akan menggigit ekor mu!!” ucap ku dengan keras untuk meredam rasa malu. Setidaknya, dengan menggigit ekor satu sama lain mampu menutupi rasa malu ku.
“EEHH?!!”
“EEEHHH??!!”
__ADS_1
Mendengar jawaban ku ini, Sia dan Mio terlihat terkejut lalu berteriak heboh.