
*Splash!
*Blup!
Kami menikmati pemandian air panas bersama-sama.
“Fuuuuaaahhhh~” ucap Ibu Mio.
“Mmmpphhh~” hela nafas Mio.
“Muuunnyaa~” tanpa sadar aku mengucapkan kalimat ini setelah memasuki kolam air panas.
Sensasi air panas yang membasahi kulit ku terasa sangat nyaman dan membuat ku sedikit mengantuk.
“Lily-sama, ini silahkan..” Mio bergerak ke sisi ku sembari membawa baki kayu yang berisi makanan ringan.
“Uhn? Apa ini?” aku mengambil salah satu makanan ringan dari baki kayu yang dibawa Mio.
“Dango” balas Mio.
“Dango?”
Ini pertama kalinya aku melihat makanan seperti ini. Makanan ini berbentuk bulat dan memiliki warna yang berbeda. Aku sedikit menyentuhnya dan tekstur luarnya terasa kenyal.
“Lily-sama.. tolong buka mulut Lily-sama..” Mio tiba-tiba menyuruh ku untuk membuka mulut ku. Sebelum aku menyadarinya, Mio telah memegang sumpit yang berisi dango dan siap menyuapi diriku.
“M-Mio, aku bisa makan sendiri.”
“Aaaaaaa!!” Mio memaksa ku untuk membuka mulut ku.
A-Apa boleh buat!
Mio adalah pelayan ku kan?
Tidak masalah bagi seorang pelayan memanjakan majikannya kan?
“Em.. Uh..” aku pun menyerah dan membuka mulut ku.
“Lily-sama...” Mio memasukkan dango ke dalam mulut ku.
A-Apa ini!
Makanan ringan ini terasa kenyal dan manis!
“Mmmphh!!!” aku sangat menikmati makanan manis ini. Makanan manis untuk bangsawan kerajaan memiliki bentuk yang menarik namun makanan ringan sederhana ini memiliki keunggulan tersendiri.
Mio kembali menyuapi mulut ku dengan dango miliknya, hingga satu porsi dango milik Mio telah habis ku makan.
“Mio, boleh ku pinjam sumpit mu?” pinta ku.
Aku sedikit merasa bersalah karena memakan satu porsi dango milik Mio.
“Eh? Lily-sama bisa menggunakan sumpit?” tanya Mio.
Aku menggelengkan kepala ku.
“Tapi, aku bisa mencobanya!” ucap ku dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Lily-sama, menggunakan sumpit untuk mengambil dango itu susah loh..” goda Mio.
“A-Aku ingin mencobanya!”
Ibu Mio yang berada di samping ku hanya tersenyum dan menikmati satu porsi dango miliknya.
“Mio.. biarkan Lily-sama mencobanya dan jangan menyembunyikan sumpitnya” ucap Ibu Mio sembari merebut sumpit yang disembunyikan Mio.
“Ehehe..” Mio hanya tersenyum setelah ketahuan menyembunyikan sumpit di balik baki kayu yang ia bawa.
“Ini Lily-sama, silahkan mencobanya” ucap Ibu Mio.
Aku menerima sumpit pemberian Ibu Mio dan mencoba menjepit satu dango. Karena dango berbentuk bulat, aku sedikit kesulitan menjepitnya. Sumpit yang ku gunakan selalu menggeser dango dan tekstur dango yang kenyal membuatnya semakin sulit untuk dijepit.
“Uh, ini sangat sulit untuk dijepit” aku sedikit mengeluh. Menggunakan sumpit sedikit rumit bagi ku karena aku tidak terbiasa menggunakannya.
Etika makan untuk kaum bangsawan kerajaan kami menggunakan garpu, sendok, dan pisau. Sedangkan alat makan bernama sumpit ini baru diperkenalkan setelah kerajaan kami bekerjasama dengan salah satu kerajaan timur.
“Mio.. mendekat lah.”
“Hehe.. kenapa Lily-sama? Sudah menyerah menggunakan sumpit?”
Sepertinya Mio sedikit sombong hanya karena ia bisa menggunakan sumpit.
“Miiiioooo~” aku sedikit menggunakan serangan andalan ku. Menatap Mio dengan mata berkaca-kaca adalah kelemahan terbesar Mio.
“L-Lily-sama..” Mio menatap ku dengan ekspresi tak menentu dan segera mendekat ke arah ku.
Di jarak yang dekat ini, aku mengambil satu dango milik ku dan meletakkannya ke dalam mulut ku.
Mio yang berada di depan ku terlihat kebingungan. Aku segera memegang wajahnya dan menempelkan bibir ku ke bibirnya. Ini adalah teknik yang sering digunakan oleh induk burung kepada anak-anaknya dan siapa yang menyangka jika cara seperti ini sangat berguna.
“Dengan cara ini, aku tidak butuh sumpit untuk menyuapi Mio” ucap ku yang dipenuhi kemenangan.
*Pang!!
“Uhng?” aku mendengar suara aneh di sekitar ku. Beberapa wanita yang menikmati pemandian air panas menatap diri ku dan Mio. Wajah mereka dipenuhi dengan rona merah menyala yang terlihat jelas.
“T-Terima kasih, Lily-sama” ucap Mio dengan nada yang kecil.
Aku segera menatap Mio dan melihat ekspresi wajahnya dipenuhi dengan rona merah menyala.
“Emm.. sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk kembali pulang?” ucap Ibu Mio yang memecah suasana.
“Eh??” aku sedikit terkejut.
“Miooo.. cepatlah sadar dari mimpi indah mu dan habiskan makanan yang tersisa!” perintah Ibu Mio.
“Ah! benar juga! Mioo!!” aku segera mengambil dua dango yang tersisa dan menyuapi Mio dengan cara yang sama.
“Muuuu-Nyaaahmm!!” aku sedikit memaksa Mio untuk menerima suapan dari mulut ku.
Dengan ini, skor antara diri ku dan Mio menjadi seimbang!
*Pang!!
*Takk!!
__ADS_1
*Dang!!
Suara aneh kembali terdengar di sekitar ku. Kali ini, beberapa wanita dan pengurus pemandian air panas terbaring di lantai dengan darah kecil keluar dari hidung mereka.
“Lily-sama, mari kita bergegas pulang sekarang” ucap Ibu Mio yang tiba-tiba berdiri dan berjalan meninggalkan kolam pemandian air panas.
“Muunya~ Muuu~ Lu-Luly-sumuu~” Mio menarik tangan ku untuk keluar dari kolam pemandian air panas sembari mengunyah dango yang tersisa di mulutnya.
Kami bergegas mengeringkan badan dan memakai pakaian ganti. Pakaian yang diberikan Mio sangat cocok di tubuh ku terlebih dengan dekorasi pita yang menghiasi kepala ku.
Saat kami keluar dari penginapan, orang-orang di sekitar ku memandangi ku dengan seksama.
Apakah pakaian ku terlihat aneh di mata orang umum?
Mio menggenggam erat tangan ku dan menatap tajam orang-orang yang mengamati ku.
“Tenang saja, Lily-sama. Mereka hanya terpesona dengan keimutan Lily-sama. Benar kan, Mama?”
Ibu Mio berhenti berjalan dan mengendong tubuh ku.
“Tentu saja, Lily-sama adalah Maid kecil yang imut dan manis” goda Ibu Mio.
“T-Terima kasih” ucap ku.
Pujian halus seperti ini membuat suasana hati ku merasa senang. Ini pertama kalinya aku menikmati suasana hangat seperti ini.
Tanpa terasa, kami telah sampai di depan pintu rumah keluarga Mio. Saat kami hendak memasukinya, terlihat Ayah Mio yang telah menunggu kehadiran kami di depan pintu masuk sembari membawa karangan bunga di tangannya.
“Selamat ulang tahun, Helena!!” ucap Ayah Mio.
“Selamat ulang tahun, Mama!!” kini Mio mengucapkan kalimat itu sembari mengeluarkan bunga kecil dari sela-sela saku pakaiannya.
“Ah! S-Selamat ulang tahun, Helena-san!” ucap ku untuk memeriahkan suasana.
“A-Apa yang kalian lakukan?” Ibu Mio menahan rasa malunya setelah Ayah Mio melakukan kejutan kecil.
“Mama pasti tidak mengira jika Ayah mempersiapkan kejutan seperti ini kan?” Mio sedikit menggoda Ibunya.
“Masih ada kejutan lainnya di dalam loh! Mari kita masuk ke dalam!” ajak Ayah Mio sembari mendorong tubuh Ibu Mio untuk masuk ke dalam rumah.
Mio pun mendorong tubuh ku untuk ikut masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah Mio, aku bisa mencium aroma masakan makan malam dan melihat sebuah kotak kecil sebagai hadiah kejutan untuk Ibu Mio.
Ini mengingatkan ku pada satu hal.
Aku tidak mempersiapkan hadiah untuk Ibu Mio!
A-Apa yang harus ku lakukan untuk memberinya hadiah?
A-Aku perlu sesuatu yang spesial sebagai hadiah!
Saat ini, aku hanya bisa memikirkan satu hadiah spesial yang cocok untuk Ibu Mio.
Tapi, hadiah kecil itu memerlukan persiapan yang matang.
“Mio.. boleh aku meminta beberapa lembar kertas?” pinta ku kepada Mio.
__ADS_1
Tanpa memberi sebuah jawaban, Mio bergegas mencari selembar kertas.
Menggambar kontrak spirit di atas kertas bukanlah ide yang buruk sebagai hadiah ulang tahun kan?