
Aku tidak terlalu mengerti bagaimana konsep pesan bekerja, tetapi tumpukan mayat yang berdiri menyambut kedatangan seseorang akan menjadi pesan penting yang tidak terlewatkan, bukan?
Sesuai dengan intruksi yang kubuat, Mio membangun menara mayat di pintu masuk Istana Kerajaan. Mereka berdiri dengan memperlihatkan senyuman yang dipaksakan dan postur tubuh tegak yang menyambut kedatangan tamu.
“Tidak terlalu buruk, Mio!” aku memuji pekerjaan sempurna yang dilakukan Mio dan melontarkan jari jempol sebagai tanda kesempurnaan atas kerja kerasnya.
“Ehehe.. Lily-sama.. Jangan lupakan taruhan kita,” balas Mio.
Suasana hati Mio tampak berbeda dari biasanya, senyuman aneh terukir di wajahnya dan napas beratnya tertuju ke tubuhku.
“Taruhan, huh? Apa yang kau inginkan, Mio?” tanyaku.
“I-Ituu.. Uhm.. B-Boleh aku tidur bersama Lily-sama setelah kita kembali?” balas Mio dengan suara kecil yang penuh keraguan.
“H-Hanya itu?” balasku.
Mio menganggukkan kepalanya dan menatap wajahku dengan senyuman manis.
“Itu adalah permintaan yang pantas untuk diriku, Lily-sama. Tidur bersama dengan Master yang kucintai adalah kebahagiaan terbesar yang tidak bisa tergantikan oleh sesuatu,” ucap Mio dengan memperlihatkan rasa hormatnya sebagai pelayan pribadiku.
“Miooo..” mendengar ucapan Mio yang lembut itu, jantungku berdegup kencang dan menjadi gelisah. Rasa nyaman yang pernah aku alami bersama Mio menjadi kerinduan besar yang sulit terucap oleh kata-kata. Ciuman yang pernah kami lakukan menjadi pengikat atas hubungan kami.
Mio perlahan berjalan ke arahku dan duduk di sampingku, senyuman lembut itu ditujukan sebagai pelayan pribadi yang terlalu peka dengan kondisiku. Tangannya menyentuh rambutku dan membelainya seperti menenangkan perasaanku.
“Tenang saja, Lily-sama. Setelah semua ini berakhir, mantan Marquess yang terkenal dengan keganasannya di medan perang akan menjadi senjata yang tajam untuk melindungi keluarganya. Kita hanya melakukan pembelaan kecil atas serangan yang dilakukan keluarga kerajaan.”
Uhh.. Sepertinya Mio salah paham tentang perasaan hatiku.
B-Bukan berarti aku kecewa dengan salah paham ini. Hanya saja, keadaan ini akan menjadi canggung jika kerinduanku terukir dengan jelas di wajahku.
Aku tersenyum untuk menutup perasaanku dan menahan rasa malu yang mulai muncul ke permukaan wajahku.
“Uhm.. Mari kita pulang dan tidur. Kurasa.. Aku sedikit mengantuk setelah semua ini..”
Itu alasan yang cukup logis, bukan?
Ini pertama kalinya aku melewati jam malam untuk anak seusiaku, pelanggaran pertama yang kulakukan bersama Mio. Ini terasa sangat mendebarkan bagiku, seperti anak nakal yang berkeliaran di malam hari dan mengabaikan perintah orang tua.
[Lily-chan.. Lebih baik kita kembali sekarang.. Aku sudah tidak sabar melihat Mio yang melampiaskan perasaan terpendamnya..]
Uhmm.. Dewi.. Apa maksudnya itu?
[Hari sudah larut malam, waktunya menjadi gadis yang baik dan kembali pulang untuk tidur.]
Setelah Dewi mengucapkan kalimat itu, sebuah kekuatan sihir berwarna emas telah menyelimuti tubuhku dan Mio. Pandangan mataku tiba-tiba berubah dari Istana Kerajaan ke kamar tidurku. Pakaian yang aku kenakan pun berubah menjadi baju tidur dan sambutan hangat dari Zoe yang menjaga kamar tidurku.
“Selamat datang kembali, Master. Apakah perjalanan kecilmu terasa nyaman?” dalam wujud kupu-kupunya, Zoe hinggap di atas kepalaku dan menghisap keringatku yang menjadi sumber tambahan sihirnya.
“Unn~ Tidak buruk juga.. Sumber energi sihir milik Master memang yang terbaik!” teriak Zoe dengan nada riang.
“Ah! Master.. Alice dan Alyssa datang berkunjung untuk tidur bersama. Setelah menjelaskan situasi rumit yang sedang terjadi, mereka melaporkan keadaan itu ke—“
*Toookk.. *Toookkk..
Penjelasan Zoe terpotong oleh suara ketukan di pintu kamarku.
__ADS_1
“Lily?” ucap seseorang di balik kamarku.
*Kreeeek..
Tanpa menunggu jawabanku, seseorang membuka pintu kamarku dan memasukinya.
“Mama??” seseorang yang memasuki kamar tidurku adalah Marchioness Amagi. Tampilannya sedikit berubah dari biasanya. Mama mengenakan pakaian militer dengan tongkat sihir yang panjang ditangannya dan postur tubuhnya yang tampak waspada. Jika tidak salah, tongkat sihir itu adalah staff militer yang sering digunakan oleh penyihir kerajaan.
“Lily-chan..” ucapan Mama terdengar lembut namun tubuhku merespon sebuah tanda bahaya yang mendekat. Instingku berkata jika Mama sedang marah kepadaku.
“Apa yang telah kau lakukan di jam malam seperti ini, Lily-chan?”
“Lupakan tentang jam malam, hari telah berganti menjadi pagi.”
“Apa yang telah kau lakukan di pagi hari seperti ini, Lily-chan?” lanjut pertanyaan Mama dengan tersenyum.
Rambut halusku tiba-tiba berdiri setelah mendengar pertanyaan itu dan tubuhku bergetar menandakan tekanan yang tidak biasa dari Mama.
“Uhmm.. Mengurus sesuatu yang menyerangku?” balasku dengan nada kecil.
Mama berjalan kecil ke arahku dan memukul lembut kepalaku dengan tongkat sihirnya.
*Tuukk..
Pukulan yang lembut itu mengenai kepalaku, tidak ada rasa sakit yang kurasakan dan tekanan berat yang kurasakan sedikit menghilang. Mama menatapku dengan perasaan cemas dan menghembuskan napas beratnya.
“Haaaah.. Aku tahu Lily-chan akan baik-baik saja. Tetapi! Jangan membuat Mama khawatir, Lily-chan!” seru Mamaku dengan tersenyum kecil.
I-Ini..
“A-Aku minta maaf.. M-Mamaaa..” aku sedikit membungkuk dan menatap lantai kamarku untuk meminta maaf.
“Tidak apa-apa, jangan ulangi perbuatan ini lagi, Lily-chan. Masalah yang menyangkut harga diri keluarga harus diselesaikan secara bersama-sama! Itu adalah peraturan nomor satu untuk keluarga Rommel!” seru Mama.
“Dan Mio.. Tolong jangan memanjakan Lily-chan seperti itu!” seru Mama kepada Mio.
“S-Saya minta maaf, Marchioness Amag,” balas Mio.
“Sudahlah.. Hari masih cukup panjang untuk perjalanan panjang kita. Sekarang..”
Mama mendekat ke arahku dan menggengam tanganku.
“Mari kita tidur bersama, Lily-chan..” ucap Mama dengan menarik tubuhku ke atas kasur dan meletakkan tongkat sihirnya di samping tubuhnya.
“A-Anooo.. Mama.. A-Aku telah berjanji kepada Mio untuk tidur bersama.”
“Eh? L-Lily-chan lebih memilih Mio daripada Mama?” tanya Mamaku dengan nada sedih.
“Uhh.. Err..” aku kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.
“M-Mama.. Apakah Mio boleh ikut tidur bersama?” pintaku kepada Mama.
“Muuuuuu~” wajah Mama sedikit cemberut dan menatap Mio.
“T-Tidak apa-apa, Lily-sama. Malam ini aku akan tidur di kamar pelayan,” ucap Mio dengan bergerak melangkah ke pintu keluar.
__ADS_1
Sebelum Mio pergi meninggalkanku bersama Mama, aku bergerak dengan cepat menggunakan Sakura Dash dan menarik tubuh Mio ke atas kasur.
*Buuuugg..
“Haaauu..” teriak kecil Mio.
Kamar tidurku sedekit lebih sempit sekarang, Mio dan Mama berada di sisi kanan-kiriku.
Bukankah lebih baik tidur bersama untuk melewati pagi yang dingin daripada sendirian?
Ekpresi wajah Mama masih cemberut sedangkan Mio tampak gelisah dengan keadaan ini.
“Unn.. Ini terasa sangat hangat dan nyaman.. Selamat malam, Mio.”
“Selamat malam, Mama..”
“Ah! Aku hampir lupa, Mioo..” aku sedikit menoleh ke arah Mio dan mencium bibir lembutnya.
*Chuuu..
Dengan gerakan yang singkat itu, ucapan selamat malam untuk Mio berhasil dilakukan.
“L-Lily-chan? M-Mama tidak mendapatkannya?” tanya Mama dengan menatap bibir Mio yang basah dari ciumanku.
“U-Untuk saat ini.. Anoo..” aku terlalu takut untuk menjawabnya. Hubungan kami tidak sedekat itu dan terasa akan sangat memalukan jika melakukannya.
“Pertama Mio.. L-Lalu kedua tamu spesial itu.. Ratu bahkan juga ikut terjun ke dalamnya.. Alice dan Alyssa juga pernah melakukannya, bukan?” tanya Mama seperti mendesakku.
“Tetapi.. Mama ditinggalkan begitu saja?” lanjut tanya Mama.
“Uuuhhh.. I-Ituu..” kata-kataku makin berat untuk menjawabnya.
“Liiiilyy-chaann..” Mama terus memaksaku untuk melakukannya dan keringat dingin mulai membasahi rambut kepalaku.
“S-Sekali sajaa..” jawab kecilku.
“Eeeh? Hanya sekali?” lanjut dorongan Mamaku.
“Uuuuuhhh.. Selamat malam, Mama!!”
*Chuuuu..
Dengan dorongan yang makin kuat, aku mencium bibir Mama dengan cepat dan membenamkan wajahku dengan selimut tebal. Wajahku terasa panas dan perasaan memalukan ini memenuhi tubuhku dengan cepat.
“N-Neeee.. Lily-chan.. Mama masih belum puas..” goda kecil Mamaku dengan tersenyum lebar.
Tanpa mempedulikan godaan kecil dari Mamaku, aku segera memasuki alam mimpi dan kabur dari desakan kecil Mamaku yang memainkan rambutku.
“Uumm.. Tolong jangan menggangu camilan makan malamku,” protes Zoe yang hinggap di rambut kepalaku.
Mama tampak sangat bahagia dan Mio terlihat canggung.
Sementara itu, Zoe tampak biasa saja dengan keadaan ini.
Uuuhh.. Aku makin mengantuk dan kelopak mataku terasa berat.
__ADS_1
“Selamat malam, semuanya.. Huuummm..” dengan ucapan terakhir itu, alam mimpi yang telah menunggu kedatanganku terbuka lebar dan menerima kedatanganku dengan sempurna.