Yurification System

Yurification System
Chapter 37 - Elixir Kiss


__ADS_3

“Nee-sama~ tolong buka mulutnya.. Aaaannnn~” ucap Ciel.


“Ciel, mau sampai kapan kau mengambil bagian ku? Liiiily-chan~ buka mulut mu.. Aaaaannn~” ucap Sia.


Di ruang makan keluarga Marquess Rommel, Ciel dan Sia saling berebut hak untuk menyuapi ku. Untuk mengurangi ketegangan dari dominasi kekuatan mereka, aku menerima suapan makanan mereka secara bergantian.


Namun, sepertinya mereka tidak terlalu puas dengan keputusan ku dan berlomba-lomba untuk mencari siapa yang sanggup menyuapi ku lebih banyak.


Kenapa suasana ruang makan ini terasa tegang?


Untuk menjelaskan situasinya, coba bayangkan tentang rubah ekor sembilan dan naga surgawi yang makan di satu ruang. Untuk ras manusia itu adalah pemandangan yang cukup langka terlebih dominasi dari tubuh fisik mereka sudah cukup memberi rasa takut.


Ciel mengeluarkan sembilan ekor rubah nya dan Sia menampakkan tanduk naga suci miliknya. Melihat dua pemandangan ini sudah menyebarkan rumor mengenai hubungan ku dengan mereka.


Setidaknya, sudah ada dua rumor yang beredar di kediaman Marquess Rommel.


Rumor yang pertama adalah perubahan aura tubuh ku yang tampak mencolok dan rumor mengenai hubungan ku dengan dua ras tinggi. Untuk rumor yang kedua, itu terjadi setelah beberapa Maid melihat ku keluar dari kamar tidur ku dengan noda merah yang membekas di pipi dan leher ku setelah Ciel dan Sia keluar.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi mereka berteriak histeris saat melihatnya.


Aku sudah terbiasa dengan rumor aneh yang beredar mengenai diri ku dan memilih untuk menghiraukannya.


Kejadian canggung ini dimulai setelah persiapan pagi ku selesai, Mio yang membangunkan ku pun berjalan di belakang ku.


Mio sedikit berlebihan kali ini, ia memaksa ku mengenakan pakaian formal untuk acara makan pagi.


Kenapa aku harus memakai pakaian formal untuk acara makan bersama?


Umm.. itu ada alasannya.


Alasan Mio mengenakan ku pakaian formal adalah kehadiran sang Ratu yang ikut makan bersama keluarga kami.


Pemandangan pagi ku di isi dengan melihat sampah yang belum terbuang.


Aku sedikit menghela nafas yang cukup berat untuk meluapkan perasaan ku.


“Pagi hari ku sangat suram” gumam ku sembari melirik sang Ratu.


Aku mengikuti Mio dan duduk di kursi bagian ku. Ruang makan ini sedikit lebih ramai dengan kehadiran sang Ratu beserta sampah yang mengikutinya. Aku tidak ingin melihat pemandangan busuk ini lebih lama lagi dan ingin kembali ke kamar ku.


Tapi, sebelum melakukan itu..


“Emm..? Nee.. Mio. Apakah Ciel dan Sia sudah makan pagi?” tanya ku kepada Mio.


Hampir saja aku melakukan tindakan yang buruk sebagai tuan rumah dengan membiarkan tamu-tamu ku pulang dengan tangan kosong. Selama persiapan pagi ku bersama Mio, aku membaca beberapa perubahan yang terjadi di Yurification System. Sistem hadiah milik Mio telah menghilang dan berubah menjadi sistem pembelian barang yang berasal dari dunia lain.


Salah satu barang yang bisa ku beli menggunakan Yurification Poin adalah Chocolate Box. Sebelumnya, aku sempat membeli Chocolate Box dan berbagi dengan Mio. Karena isi Chocolate Box cukup banyak, kami kesulitan menghabisinya. Makanan aneh yang berasal dari dunia lain itu terasa manis dan lembut di lidah.


Saat aku membeli Chocolate Box, Mio tampak terkejut dengan benda yang muncul tiba-tiba dari tangan ku. Aku sedikit berbohong dan mengatakan itu adalah sihir Alchemist yang kupelajari dari buku sihir.


Maafkan aku, Mio. Karena kekuatan Yurification System itu sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata.


“Ah! Ciel-sama sedang berjalan-jalan di taman dan Sia-sama sedang terbang mengelilingi hutan untuk melihat keadaan. Mereka akan berpamitan setelah Lily-sama menyelesaikan urusan yang satu ini” balas Mio.


“Kalau begitu, Marquess Rommel. Apakah aku boleh mengajak dua teman ku untuk makan pagi bersama?” ucap ku sembari menatap wajah Ayah ku.


Raut wajah Ayah ku sedikit naik dan berkeringat kecil. Di sampingnya, Sebastian tengah membisikkan sesuatu di telinga Ayah ku.


“Ekhem! B-Boleh saja..” balas singkat Ayah ku.

__ADS_1


“Terima kasih, Marquess Rommel” aku membalasnya dengan senyuman lembut.


“Kuuh!” Ayah ku tiba-tiba memegang dadanya seperti menahan rasa sakit.


Aku menghiraukannya dan memberi kode kecil ke Mio. Mio yang mengerti kode kecil ku pun bergegas pergi menjemput Ciel dan Sia.


Suasana hening dan canggung kembali terasa di ruangan ini hingga Ayah ku mengucapkan sesuatu kepada ku.


“Ekhem! Lily.. apa kau tidak mau mempertimbangkannya lagi?” tanya Ayah ku.


Ugh.. sepertinya Ayah ku masih belum menyerah untuk memasukkan ku ke keluarga kerajaan. Sang Ratu terlihat tenang namun tangannya bergetar kecil setelah mendengar ucapan Ayah ku. Sang Ratu ketakutan tetapi menahan rasa takut itu dengan topeng muka datarnya.


Menjadi Ratu di sebuah Kerajaan tampaknya cukup berat. Untung saja, aku memiliki jawaban yang mampu menutupi sifat egois Ayah ku.


“Aku tidak bisa menerimanya..” ucap ku sembari menggelengkan kepala ku.


“Aku..” aku mengambil nafas panjang.


“Tidak ingin menikahi laki-laki dan ingin menikahi perempuan..” ucap ku dengan senyuman manis ke Ayah ku.


*Ctaaaak!!


*Plaaank!!


Sepertinya, ucapan ku yang baru saja terucap menimbulkan kegaduhan kecil. Butler dan Maid yang berdiri di dalam ruangan saling berbisik membicarakan ku. Pengawal sang Ratu pun ikut berbisik mengikuti alur bisikan pelayan kami.


“Lily! Apa yang baru saja kau katakan!” bentak Ayah ku dengan menghentakkan tangannya di atas meja makan.


“Apa kau tahu arti dari ucapan mu itu!” tatapan Ayah ku kini menatap tajam ke arah ku.


“Tentu saja, daripada hidup bersama dengan laki-laki yang seperti itu-“ aku menatap sampah yang duduk di depan ku dengan tatapan dingin.


“Uweeek~ hidup ku akan sangat menderita” lanjut kata-kata ku.


“Maaf menyela pertengkaran kecil kalian, Marquess Rommel. Perlukan aku menjelaskan aturan pernikahan di Kerajaan kita supaya Lily-chan mengerti?” sang Ratu mencoba melerai pertengkaran kami dengan kekuatan statusnya.


“...” Ayah ku hanya terdiam dan menarik nafas yang cukup berat.


“Lily-chan, aturan pernikahan di Kerajaan kita adalah laki-laki dengan perempuan. Tidak ada catatan mengenai pernikahan sesama perempuan” ucap sang Ratu.


“Kalau begitu, dengan kekuasaan mu. Buat aturan tentang itu” balas singkat ku.


“Uguu!” balasan singkat ku sedikit menyudutkan rasa takut sang Ratu.


“Hmm.. kau tidak ingin melakukannya? Sebagai peliharaan, kau cukup berani menentang majikan mu. Kurasa, aku perlu menghukum peliharaan nakal yang satu ini” aku menatap sang Ratu dengan tatapan tajam.


“Hiiiieeekkk!!” topeng sang Ratu pun hancur dengan jeritannya.


“Haaaah~ bagaimana dengan ini. Buatlah sebuah aturan yang memperbolehkan sesama gadis untuk menikah dan aku akan memberikan mu ini.”


“Huh?”


Sang Ratu menatap ku dengan raut wajah kebingungan. Sebuah senjata terakhir yang telah ku persiapkan untuk serangan kejutan. Sebuah Elixir yang ku beli dengan harga mahal dari Ciel. Elixir yang mampu menyembuhkan segala penyakit yang dibayar dengan menyerahkan ekor ku!


Menyerang titik lemah sang Ratu dengan kesehatan Putri Pertama Kerajaan.


Fufufu.. rencana ini sangat sempurna untuk mendapatkan peliharaan yang akan menuruti majikannya.


Aku mengeluarkan botol kaca Elixir dari saku pakaian ku.

__ADS_1


“T-Tidak mungkin!! Bukankah itu!” sang Ratu tiba-tiba berdiri dari kursinya.


“Ya, itu benar. Ini adalah benda yang kau butuhkan, bukan?” aku sedikit menggoda sang Ratu dengan melempar botol kaca Elixir di udara.


Sang Ratu mengabaikan kata-kata ku dan memperhatikan Elixir di tangan ku dengan seksama.


“Aku akan memberikannya dengan satu syarat.. Hmm.. kau tahu harus melakukan apa kan?” sekali lagi, aku menggoda sang Ratu dengan menggoyangkan botol kaca Elixir.


“A-Apakah itu asli?” tanya sang Ratu.


“Hmm.. kenapa kita tidak mencobanya?” aku membuka tutup botol Elixir dan menuangkan setengah isi dari Elixir ke dalam mulut ku.


“Eh?” sang Ratu sangat terkejut dengan tindakan ku.


Aku lalu bergegas menuju sang Ratu dan menatap wajahnya.


“Huh? Em.. A-Apa?” ucap sang Ratu yang kebingungan.


Aku memberi gerakan kecil untuk menunduk dan sang Ratu memahaminya.


“S-Seperti ini?” sang Ratu menunduk secara perlahan dan aku mencium bibirnya.


“Umm!!!”


“Lily!!”


Ayah ku sangat terkejut dengan tindakan ku sedangkan sang Ratu terdiam menerima suntikan Elixir yang mengalir dari bibir ku.


“Oneee-samaa!!”


“Liiily-neee!!”


Di saat yang bersamaan, Ciel dan Sia masuk ke dalam ruang makan dan kedua adik tiri ku yang berteriak histeris.


“Neee-samaa!! Aku datang! Are?” ucap Ciel dengan nada gembira.


“Huaaa!! Adik kecil imut ku ternodai!!” ucap Sia.


“Eh? Nee-sama??” ucap Alice yang menatap Ciel.


“Eh? Adik kecil imut??” ucap Alyssa yang menatap Sia.


Setelah aku selesai memberikan Elixir dari bibir ku, sang Ratu perlahan kembali duduk di atas kursi. Kini, aku menatap Ciel dan Sia yang baru saja memasuki ruang makan dan ingin menyapanya.


Untuk beberapa alasan yang tidak ku mengerti. Ciel, Sia, Alice, dan Alyssa saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Ciel dan Sia kemudian mendekati ku lalu menarik tubuh ku di antara mereka. Alice dan Alyssa berdiri dari tempat duduknya dan menarik tubuh ku dari Ciel dan Sia.


Kilauan kilat tipis keluar dari tatapan mereka dan saling berbenturan.


Um.. apa yang sedang terjadi?


“Uhuk!! Ugh!! Kepala ku!” sang Ratu memegang kepalanya. Dari suara nadanya, sang Ratu terlihat seperti kesakitan.


Kilauan cahaya emas perlahan menutupi tubuh sang Ratu. Setelah cahaya itu menutupi seluruh tubuhnya dan mereda, tubuh sang Ratu berubah menjadi sosok yang tidak ku kenal. Berbeda dari penampilan sebelumnya yang dipenuhi dengan keriput usia tua, sosok sang Ratu di depan ku terlihat seperti gadis remaja yang cantik dan anggun.


“Tubuh ku menjadi aneh..” ucap sang Ratu.


Kegaduhan kecil terjadi lagi, kini Butler dan Maid yang berada di ruang makan membicarakan sosok sang Ratu yang berubah menjadi muda.


Di sisi lain, Ciel dan Sia tengah berselisih dengan Alice dan Alyssa. Aku bisa mendengar nama ku disebut oleh mereka. Perselisihan kecil itu pada akhirnya dimenangkan oleh Ciel dan Sia yang sekarang berdiri di sisi ku dan menyuapi ku.

__ADS_1


Sepertinya, aku menjadi bahan perselisihan mengenai hak menyuapi diri ku.


Ciel dan Sia terlihat bahagia menyuapi ku sedangkan Alice dan Alyssa menahan rasa iri mereka dari kejauhan.


__ADS_2