
Dengan bantuan dari kekuatan Dewi, aku dan Mio berhasil menyusup ke Istana Kerajaan Aurora menggunakan sihir teleportasi milik Dewi. Tujuan kami mendatangi tempat ini adalah mengembalikan barang yang telah merepotkan keluarga Marquess Rommel.
Yap, mengembalikan pasukan khusus dari kesatuan pembunuh milik Kerajaan Aurora dan menyerahkan tanggung jawab yang telah diterima oleh Ayahku.
Berkat informasi yang diketahui Mio, dia sedikit membuka pakaian laki-laki yang menjijikan dan melihat sebuah simbol yang hanya dimiliki oleh kesatuan pembunuh milik Kerajaan Aurora.
Aku pernah mendengar tentang pasukan pembunuh dari pembicaraan Ayahku bersama Sebastian. Pembicaraan itu terdengar samar-samar, tetapi jika ingatanku benar. Kesatuan pembunuh milik Kerajaan Aurora adalah kumpulan kriminal yang dihukum mati tanpa merasakan kematian.
Dalam sisa hidup mereka ketika menjalani hukuman mati, sebuah simbol khusus yang dilapisi sihir pengekang terukir pada tubuh mereka. Itu adalah simbol yang memaksa mereka untuk tunduk pada perintah dan aturan tertentu yang telah tertanam di simbol pengekangnya.
Salah satu aturan itu adalah pengabdian mereka sebagai pasukan pembunuh yang menuntaskan misi penting kerajaan dan bersifat sekali pakai. Dengan kata lain, entah misi yang ditugaskan berhasil atau tidak. Mereka akan tetap bertugas sampai kematian menjemput mereka dan hukuman selesai.
Setiap anggota keluarga kerajaan memiliki kewenangan untuk memelihara satu divisi pasukan ini.
Itu artinya.. Masih ada beberapa orang yang harus kubunuh untuk memberi pesan kecil kepada sampah itu untuk tidak mengganggu diriku atau keluargaku.
Sebelum aku melakukan hal itu..
Ada baiknya melakukan itikad baik sebelum berkunjung ke Istana Kerajaan.
Sesuai aturan kerajaan dan etika bangsawan, aku membawa oleh-oleh saat berkunjung ke Istana Kerajaan Aurora. Sebuah tombak yang terlilit bendera keluarga bangsawan Rommel tertancap dengan sempurna di atas tumpukan mayat. Bendera yang menjadi simbol bagian dari keluarga Kerajaan Aurora itu berkibar dengan meneteskan darah yang mengalir dari ujung tombak.
“Anooo.. Lily-sama.. Sepertinya itu miring ke samping,” ucap Mio sembari menjulurkan tangannya untuk mengukur kemiringan tombak yang tertancap di tumpukan mayat.
“Seperti ini?” mengikuti arahan tangan Mio ke arah kiri, aku berusaha untuk memperbaiki kemiringan dari hadiah spesial ini.
Akan sangat tidak sopan jika hadiah spesial tidak dibungkus dengan baik, bukan?
*Slaaarkk..
*Tccessss..
*Duuuug..
Aku menarik dan menghunuskan tombak dengan sekuat tenaga. Sepertinya itu terlalu berlebihan untuk dilakukan karena mata tombaknya tertancap ke dalam lantai Istana Kerajaan Aurora.
Karena suara yang kuhasilkan saat menancapkan tombak cukup keras, beberapa penganggu kecil telah bersiap-siap di kegelapan malam. Dengan kemapuanku untuk mendeteksi bahaya, mereka telah memasuki jarak deteksi dan serangan cepatku.
“Mio..” dengan panggilan kecilku, Mio segera berpindah ke sampingku menggunakan Sakura Dash dan meninggalkan jejak kelopak bunga sakura yang memancarkan aroma menenangkan.
“Ekhem.. Paman.. Bibi.. Dan beberapa dari kalian yang tidak terikat dengan mereka. Tolong mundurlah.. Kami tidak ingin membuang waktu untuk meladeni kalian yang lemah. Tujuan kami datang ke tempat ini hanyalah membawa pesan singkat untuk Raja dan Ratu. Keluarga Marquess Rommel telah mendapatkan serangan tanpa sebab dari Pangeran Pertama yang menjadi Putra Mahkota Kerajaan. Dengan kata lain, keluarga kerajaan telah menganggap jika Marquess Rommel keluar dari bagian keluarga yang mendukung Kerajaan Aurora. Untuk itu, kami memberi pesan terakhir ini dengan satu tujuan..”
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, aku dan Mio bergerak menghilang dari pandangan mereka dan muncul secara tiba-tiba di belakang tubuh mereka.
__ADS_1
“Mengembalikan wilayah dan simbol bangsawan yang telah dipercayakan oleh keluarga kerajaan,” lanjut ucapku.
Kemunculanku yang terjadi secara tiba-tiba itu mengakibatkan sebuah serangan kecil yang dilontarkan ke arahku. Serangan yang lambat itu berhasil kuhindari dan dikembalikan secara sempurna. Pisau yang bergerak lambat menuju wajahku terlihat sangat tajam dan memancarkan kilauan kecil seperti cairan berwarna putih. Tubuhku merasakan tanda bahaya dari cairan itu dan tangaku secara refleks mengembalikan pisau itu. Pisau itu terbang ke arah berlawanan dan tertancap dengan sempurna ke leher pemiliknya.
Dari kejauhan, sang pemilik pisau terjatuh ke atas lantai dan mengeluarkan busa putih dari dalam mulutnya.
Uhm.. Apakah itu racun?
M-Mereka menggunakan racun pada senjata lempar?
Melumuri senjata dengan racun?
B-Bukankah itu ide yang cukup bagus?
[Lily-chan.. Tolong jangan lakukan tindakan tak bermoral seperti itu.]
E-Eh.. Dewi?
Mengapa aku tidak boleh melakukan hal seperti itu?
[Racun adalah bahan yang sangat berbahaya untuk tubuh. Jika Lily-chan ingin membuat racun atau melengkapi senjata dengan cairan racun, Lily-chan harus memperhatikan satu hal yaitu ketahanan tubuh dalam menetralisir racun.]
*Swiiingg..
[Kalau begitu.. Carilah gadis yang memiliki ketahanan racun tingkat tinggi! Aku sangat menyarankan hal itu! Kuhuhu~]
Sekali lagi, aku mendengar suara tawa yang aneh dari Dewiku. Tingkahnya yang aneh itu selalu menjadi ciri khas tersendiri bagiku. Tanpa mendengar suara dan tingkah laku anehnya, aku bisa memastikan jika itu adalah Dewi Yuri yang palsu.
Uhh.. Lupakan hal itu..
Aku harus menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat dan kembali pulang tanpa terluka.
Kali ini, sebuah lemparan besi yang berbentuk jarum terbang ke arahku. Dengan gerakan memutar dan ayunan pedangku, jarum besi itu berhasil kutangkis dengan mudah.
“Errmm.. Bisakah kalian tidak melakukan tindakan yang sia-sia seperti itu,” ucap Mio yang mulai kesal dengan serangan satu arah.
“Tujuan kami telah tercapai, bukankah begitu, Lily-sama?” lanjut ucapan Mio sembari menatapku dari kejauhan.
“Umm.. Mio..”
“Ya, Lily-sama..”
“Aku bisa melihat pantsu dan paha mulusmu dengan jelas diposisi seperti itu.”
__ADS_1
“Eh? Tidak apa-apa. Aku sengaja melakukannya untuk mendapat perhatian Lily-sama.. Ehehe~”
Dari balik kegelapan malam, aku bisa melihat ukiran pantsu Mio yang melekat dipaha mulusnya. Posisi diriku dan Mio berada di langit-langit Istana Kerajaan Aurora, yang membedakan dari posisi kami adalah tubuh Mio yang mewalan arah seperti kelelawar dan menarik roknya ke arah bawah.
“Mioo..” ucapku dengan nada tenang.
Menyadari suara nadaku yang terlihat tenang dan serius, Mio kembali ke posisi normal dan merapihkan seragam pelayannya yang mulai kusut.
“Un! Gadis yang baik,” puji singkatku.
Mendengar pujian singkatku, Mio tersenyum dengan lembut ke arahku dan memberikan hormat kecilnya dengan membungkuk setengah badan.
“Mio, sepertinya kita akan kesusahan untuk keluar. Mau bertaruh tentang sesuatu?” tanyaku.
“Ung?” Mio memiringkan kepalanya dan menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.
“Siapa yang bisa mengalahkan mereka dengan cepat, akan mengikuti permintaan sang pemenang—“
“Setuju!”
*Swooossh..
*Praaaangg!!
Sebelum aku menyetujui dan mengesahkan kalimatku, Mio dengan cepat menghilang dari balik kegelapan malam dan menerjang musuh-musuh di sekitar kami.
Kata-kata yang diucapkan oleh Mio sudah tepat, tujuan kami datang ke tempat ini adalah mengirim hadiah spesial dan mengembalikan barang telah tercapai. Tetapi, ada saja orang-orang yang menambah pekerjaan kecil kami. Tujuan sampingku untuk membantai bawahan Putra Mahkota Kerajaan telah berubah menjadi pembantaian massal yang tidak mengenal target.
Tanpa mempedulikan atasan mereka, aku memulainya dengan menyerang secara acak dan sesekali memperhatikan pergerakan Mio. Teknik berpedang milik Mio telah meningkat dengan pesat. Gerakan halusnya dalam memotong daging manusia terlihat sangat elegan dan indah. Bahkan aroma harum yang berasal dari kelopak bunga sakura telah berhasil dia keluarkan. Kemampuan terpendam Mio sepertinya berhasil bangkit setelah ikatan cinta kami diperkuat.
Menyadari tentang hubungan kami yang makin dekat, aku merasakan detak jantungku yang berdegup kencang dan pipiku yang terasa hangat.
Ingatan tentang ciuman pertama kami terpicu di dalam benak otakku.
Sensasi lembut dari bibir Mio..
Kehangatan tubuhnya..
Dan alunan tangannya yang menyentuh rambutku..
Aku ingin merasakan itu lagi..
Tanpa sadar, aku telah memasukkan bilah pedangku ke dalam sarungnya dan membiarkan Mio memenangkan taruhan yang telah kubuat.
__ADS_1
Aku menanti kemenangan Mio dengan duduk santai dan mempersiapkan hatiku untuk mengabulkan permintaan kecilnya.