
“Nee.. Ciel..”
“Ini hanya perasaan ku saja atau Saintess baru itu memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mempermainkan makhluk buas yang tercipta dari kegelapan murni?”
“Jika di bandingkan dengan kekuatan ras kita yang berbeda, bukankah kekuatan untuk seorang manusia sangat terbatas? Terlebih, aku tidak merasakan adanya energi sihir yang keluar dari tubuh Lily-chan.”
“Itu terasa seperti gerakan dan kelincahan Lily-chan berasal dari kemampuan alami tubuhnya yang mampu bergerak cepat seperti itu.”
“Bagaimana menurut mu?”
Saat Ciel dan Sia melakukan ritual sihir pemurnian, Sia memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk mengamati perkelahian kecil yang di alami Lily.
Melihat pertarungan Lily yang cukup sederhana dan efisien, sebuah pertanyaan besar muncul di dalam kepala Sia.
Dari sudut pandang ras miliknya, kemampuan umat manusia dalam bertarung hanya mengandalkan peralatan dan sihir. Setelah melihat kemampuan Lily yang bergerak menyerang titik vital serigala hitam membuat Sia berpikir ulang mengenai kemampuan umat manusia yang sebenarnya.
Itu adalah pertama kalinya Sia melihat pertarungan yang efisien tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak untuk melakukan satu gerakan rumit dalam seni berpedang.
Semua gerakan seni berpedang yang pernah Sia lihat dari umat manusia adalah gerakan yang tidak berarti. Keindahan dan tingkat efektifitasnya jauh berbeda dari ayunan pedang milik Lily.
“Sia, apa kau lupa? Lily-chan adalah seorang Saintess. Kemampuan itu berasal dari Dewi yang mengangkatnya sebagai Saintess. Itu bukan rahasia umum mengenai kemampuan Saintess yang di luar pemahaman ras lain” balas Ciel.
“Y-Ya, aku paham mengenai kekuatan Saintess. Hanya saja, tanpa menggunakan sihir dan menyerang secepat itu. Bukankah itu memerlukan konsentrasi dan daya tahan tubuh yang besar? Aku mungkin mampu meniru gerakan secepat itu tapi untuk berapa lama? Tubuh ku pasti akan hancur untuk sementara waktu setelah melakukan gerakan secepat itu.”
“A-Aree? Kau bisa melakukan gerakan seperti itu?” tanya Ciel.
“Untuk ras naga, kami sudah terbiasa terbang menukik dan menahan tekanan udara yang berat. Gerakan secepat itu memiliki tekanan udara yang besar dan konsentrasi penuh untuk tetap tersadar. Lily-chan mungkin memiliki perlindungan tubuh sebagai Saintess tetapi..” tatapan Sia kini tertuju kepada Mio yang berdiri di samping Lily.
“Manusia yang satu itu membuat ku bertanya-tanya, trik apa yang dia lakukan untuk bertahan dari tekanan udara yang besar” lanjut ucapan Sia.
“Emm, aku tidak tahu pasti tapi bukankah gerakan Lily-chan dan gadis itu sangat serasi? Lihat saja, mereka sepertinya sedang bertanding untuk membunuh serigala hitam. Kuh! Aku ingin mengikuti pertandingan itu!”
“Benar juga, pengamatan mu sangat tajam untuk hal sekecil itu, Ciel. Aku hampir tidak menyadari keserasian gerakan mereka.”
Angin kecil berhembus melewati Ciel dan Sia. Kelopak bunga sakura dan aroma harum dari kelopak bunga sakura menghiasi ritual pemurnian yang semakin meluas.
“Aaah.. aroma ini terasa sangat menenangkan. Mungkin aku akan tertidur lelap setelah membersihkan area hutan ini” ucap Sia sembari menghirup aroma kelopak bunga sakura yang terbang melewatinya.
“Hnngg~ Kunn~ Kunn~” menanggapi ucapan Sia, telinga rubah Ciel bergetar dan hidungnya sibuk menghirup aroma harum yang tersebar di sekitarnya.
“A-Aroma ini! Sepertinya aku pernah mencium aroma ini sebelumnya” ucap Ciel.
“Tapi.. di mana? Kuh! Aroma ini terasa familiar bagi ku tapi aku tidak mengingatnya” keriput kecil muncul di kening Ciel, sihir pemurnian yang dilakukan Ciel sedikit memudar karena konsentrasi Ciel yang sedikit memudar untuk mengingat sesuatu.
“C-Ciel.. sihir pemurnian mu menjadi berantakan!” Sia sedikit panik karena sihir pemurnian Ciel hampir memudar dan gagal.
__ADS_1
“Huwaaaa~ M-Maaf, Sia.” Ciel memperbaiki sihir pemurniannya dan menenangkan pikirannya untuk berkonsentrasi pada ritual pembersihan.
“H-Hampir saja aku gagal mengendalikannya” Ciel berhasil mengendalikan sihir pemurniannya yang hampir gagal.
“Mooo~ fokuslah untuk sementara waktu” ucap Sia.
“Ah! mengenai aroma yang terasa familiar ini. Aku pernah mencium aroma ini sebelumnya, jika tidak salah sewaktu diri ku menjalani pelatihan seni berpedang di Kuil guru ku. Dahulu, guru kami pernah berteman baik dengan seorang ahli pedang dari umat manusia. Kemampuan berpedangnya bahkan tercatat dalam sejarah ras kami sebagai pendekar pedang legendaris yang mampu menandingi pahlawan ras kami hanya dengan kemampuan pedangnya saja.”
“Kukira ras mu sangat tertutup dengan ras manusia, ternyata kalian pernah berhubungan dengan ras manusia sebelumnya” balas Sia menanggapi informasi yang diberikan Ciel.
“Ya, ini sedikit membuat ku bernostalgia dan ingin bertemu dengan guru ku. Mungkin aku perlu mencari bunga yang bagus dan minuman kesukaannya.”
“Entah kenapa itu terdengar seperti mengunjungi makam guru mu. Tunggu dulu! Mungkinkah guru mu itu..”
“Em! Aroma kelopak bunga sakura dan teknik pedang itu. Aku kembali mengingatnya. Setelah aku menjadi Saintess, tubuh ku melupakan teknik pedang itu. Sekarang, dimana aku bisa mendapatkan pedang yang mampu bertahan dari gerakan cepat seperti itu?” air mata Ciel sedikit menetes membasahi pipinya. Ingatan lama Ciel yang hampir terlupakan kembali ke dalam hatinya.
Sebelum menjadi seorang Saintess, Ciel mengandalkan teknik pedang sebagai kekuatan utamanya. Setelah menjadi Saintess, kekuatan suci yang mendominasi tubuhnya menutupi kemampuan berpedangnya dan tersegel ke dalam kenangan lama miliknya.
“Um.. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mu, Ciel. Tapi, kurasa Lily-chan bisa membantu mu mencari sebuah pedang yang sesuai. Lihat saja itu..” Sia mengalihkan pembicaraannya ke arah Lily.
Tepat di depan mata mereka, gerakan yang dilakukan oleh Lily tidak dapat dijangkau mata dan kilauan dari mata pedangnya menepis kepala serigala hitam yang tersisa.
Saat Lily memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang, sebuah bunyi nyaring dari sarung pedang dan pedang milik Lily yang bertemu membuat barisan serigala hitam berjatuhan dengan kepala yang terlepas dari tubuh mereka.
“Heeeh!!”
Ciel dan Sia yang menyaksikan kejadian itu hanya terdiam membisu. Gerakan yang tidak bisa mereka lihat dan eksekusi yang bersih itu membuat tubuh mereka bergetar dipenuhi rasa kekaguman.
“A-Apa kau melihat itu, Ciel?” tanya Sia untuk memastikan.
“L-Luar biasa..” ucap Ciel yang terpaku menatap Lily.
“B-Bagaimana caranya? Gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat!”
“Gerakan yang sangat indah..”
Ciel dan Sia memiliki dua pandangan berbeda setelah melihat kemampuan Lily.
“Dengan gerakan seperti itu, beban di tubuhnya sangat besar. Apa Lily-chan baik-baik saja?” Sia mengamati kondisi fisik Lily dari kejauhan.
“Tunggu dulu, apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa Lily-chan tiba-tiba berubah menjadi gadis rubah?” dari kejauhan, Sia melihat Lily yang menggoda Mio dan menjilati ketiaknya.
“Kuuh~ aku juga ingin melakukannya juga! Sudah lama aku tidak mandi seperti itu” ucap Ciel.
“Eh? M-Mandi?”
__ADS_1
“Em! Itu adalah teknik mensucikan tubuh untuk ras rubah. Apa kau mau mencobanya?” ucap Ciel sembari melirik Sia.
“Ah! Ciel! Kita selesaikan ini secepatnya. Sebelum adanya monster kegelapan yang menjadi masalah utama di tempat ini muncul!” Sia mulai memusatkan konsentrasinya untuk mempercepat ritual pemurnian dan menghindari pertanyaan Ciel.
Tepat setelah Sia mengucapkan kalimat itu, pemandangan di depan mereka berubah dan menampilkan sosok serigala hitam raksasa yang dipermainkan oleh Mio. Tampak dari kejauhan, Lily berjalan mencari pepohonan yang rindang untuk tertidur di bawahnya.
“Eh? Bukankah sumber masalah tempat ini sudah dikalahkan oleh bawahan Lily-chan? Ah! Maksud ku Nee-sama?” balas Ciel.
“Huh? Haah? Apa yang baru saja terjadi?” mendengar balasan Ciel, Sia tampak kebingungan dengan situasi yang telah terjadi.
“Sia, monster yang baru saja dipermainkan oleh bawahan Nee-sama adalah sumber masalah polusi di hutan ini” ucap Ciel untuk menjelaskan situasi yang telah terjadi.
“Tunggu! Monster kegelapan yang seperti itu adalah penyebab polusi hutan ini?”
“Uhuh! Bawahan Nee-sama berhasil mengalahkannya dalam waktu singkat. Seperti yang diharapkan dari Nee-sama..”
“S-Sebentar! Aku tidak merasakan adanya keanehan dari monster yang baru saja dipermainkan itu. Melihat monster itu dipermainkan dengan mudah terasa aneh, bukan?”
“Oh, itu karena aku memasang sihir penghalang agar teror mereka tidak menganggu ritual pemurnian kita. Mungkin karena penghalang yang ku pasang, kau tidak merasakan energi mengerikan dari monster kegelapan itu.”
“Sihir penghalang?” ucap Sia dengan ekspresi bertanya-tanya.
*Ctaaak!!
*Praaak!!
Ciel menjentikkan jarinya dan sebuah pecahan energi sihir tersebar di sekitar mereka. Sensasi dari udara yang terasa berat dan aura mencekam mulai dirasakan oleh Sia.
“I-Iniii..” menyadari perubahan yang terjadi di sekitarnya, Sia menjadi lebih waspada dari sebelumnya.
“Ciel.. sejak kapan kau memasang sihir penghalang?” tanya Sia.
“Eng? Kau tidak menyadarinya? Fufu~ anggap saja itu adalah keahlian dari ras ku” balas Ciel dengan tersenyum lembut.
“Aku sampai tidak menyadarinya” balas Sia dengan tersenyum ke arah Ciel.
“Terima kasih atas pujiannya” ucap Ciel.
Ciel dan Sia melanjutkan tugas pemurniannya dan berakhir di sore hari. Kondisi hutan kembali normal, pepohonan dan tunas kecil kembali hidup dalam lantunan melodi alam.
Ciel, Sia, dan Mio duduk menikmati pemandangan sore hari yang menjelang malam. Mereka duduk mengelilingi Lily yang tertidur nyenyak di atas pangkuan Mio. Mio merubah posisi tidur Lily setelah ia puas bermain-main dengan serigala hitam raksasa.
Udara dingin mulai berhembus menyambut malam hari, Lily perlahan terbangun dari tidur siangnya lalu mengajak Ciel dan Sia untuk mandi bersama serta makan malam di dalam kamarnya.
Tubuh Ciel dan Sia terlihat kelelahan, jadi mereka menerima tawaran manis Lily.
__ADS_1