Yurification System

Yurification System
Chapter 2 - Kembali Terbuka


__ADS_3

*Taaak.. taaaak... taaaaak...


*Bllluppp...


*Swwiissshh...


Di ruang dapur, aku sedikit melakukan percobaan kecil pada bahan makanan yang telah ku beli dari Yurification Shop. Makanan itu berbentuk kotak kecil dengan keriput yang melilit seperti benang kusut. Di bagian bungkusnya terdapat plastik kecil yang berisi minyak, sayuran kering, dan butiran bumbu yang mengeluarkan aroma sedap.


Makanan yang ku beli itu adalah Samyang Carbonara. Sebuah makanan yang bisa dibuat oleh siapa saja dengan mengikuti petunjuk yang tertera di balik bungkusnya. Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mencari bahan lain yang cocok untuk melengkapi hidangan Samyang Carbonara.


Jadi, aku pergi ke bagian dapur untuk mencari bahan pelengkap Samyang Carbonara.


Meski begitu, Mio yang menemani ku terlihat begitu khawatir ketika aku ingin menggunakan kompor sihir untuk memasak bahan pelengkap. Saat aku ingin menggunakan pemantik api untuk menyalakan kompor sihir, Mio berteriak panik dan merebut pemantik api dari tangan ku.


Umm.. aku masih belum bisa mengendalikan aliran sihir. Tapi, apakah itu terlalu berbahaya jika menyalakan kompor sihir menggunakan pemantik api?


“Lily-sama..”


“Aku tahu jika tubuh Lily-sama sangat kuat. Jika terjadi ledakan kecil di dapur, mungkin Lily-sama mampu bertahan hidup. Tapi, bagaimana dengan yang lain?” ucap Mio dengan nada yang tegas.


Perkataan Mio terdengar masuk akal.


Kenapa aku tidak memikirkan itu sebelumnya?


Tanpa sengaja, aku menghiraukan keselamatan orang-orang di sekitar ku?


“M-Maaf, Mio. A-Aku terlalu bersemangat untuk membuat makanan ini” balas ku sembari memperlihatkan makanan yang telah ku beli dari Yurification Shop.


“Mooo.. jangan membuat ku khawatir, Lily-sama” ucap Mio sembari mengelus rambut kepala ku.


“Umm.. Lily-sama. Jika boleh tahu, makanan apa itu?” tanya Mio.


“Ini? Ahh.. ini adalah hasil kreasi terbaru dari sihir alkemis yang telah ku kembangkan untuk membuat makanan” ucap ku.


Umm.. aku tidak bisa mengatakan ke Mio, jika itu adalah makanan dari dunia lain.


Kurasa, alasan yang seperti itu masih bisa digunakan untuk sementara waktu.


“Eh?” raut wajah Mio mendadak menjadi hitam.


“Lily-sama.. apakah Lily-sama kekurangan makanan akhir-akhir ini?!”


“Apakah makanan yang ku buat terasa tidak enak?!”


“Apakah makanan ku seburuk itu?!”


Ekspresi wajah Mio yang terlihat gelap berubah menjadi suram, ia lalu tertunduk lesu dan memegang kepalanya.


“M-Mio.. aku hanya melakukan percobaan kecil saja” balas ku.


“Unnn..” balas suara Mio yang terdengar kecil dan lesu.


“M-Mio.. mau berciuman?” tanya ku.


“Dengan senang hati!” ekspresi wajah Mio kembali ceria.


“Kalau begitu...” aku memperhatikan sekeliling ku. Beberapa Maid dan juru masak tengah di sibukkan oleh persiapan makan pagi Marquess Rommel. Terlihat cukup aman untuk melakukan ciuman ringan.

__ADS_1


“Miooo..” aku memanggil nama Mio dengan nada yang lembut.


“Yaaa.. Lily-sama” Mio meresponnya dengan berlutut di depan ku. Pandangan matanya tertuju pada bibir ku dan pupil matanya yang menatap ku seperti anak anjing.


Pemandangan yang seperti ini tidak pernah membuat ku merasa bosan.


Dengan kecupan kecil dari bibir ku, Mio menerima perasaaan cinta dari ku. Bibir Mio yang lembut itu perlahan bergerak menyusuri sela-sela bibir ku.


Mio melepas ciuman bibir ku dan membelai rambut kepala ku.


“Lily-samaaaa..” seperti anak anjing yang memohon perintah tuannya. Mio menatap mata ku dengan tatapan yang di mabuk cinta.


Aku kembali mencium bibir Mio dan menggigit kecil bibirnya. Sensasi lembut yang membasahi bibir ku menciptakan jejak air liur yang panjang saat aku melepas ciuman bibir Mio.


“Miiiooo..” melihat Mio yang berlutut di depan ku. Aku ingin menciumnya tanpa henti.


“E-Ekhem!!” sebuah suara yang cukup berat terdengar di telinga ku. Suara itu terdengar sangat familiar dan bisa ditebak pemiliknya.


Aku menghiraukan suara itu dan melanjutkan ciuman kecil ku ke bibir Mio.


“Ekhem! Uhuk!”


Sensasi lembut saat menyentuh bibir Mio membuat ku melupakan suara berat itu.


“Lily.”


Ah, sekarang dia mulai memanggil nama ku.


Aku menghiraukan panggilan itu dan kembali menelusuri bibir lembut Mio hingga tubuh ku terasa seperti melayang di udara.


Jejak air liur yang cukup panjang terlihat jelas di depan ku. Bagi orang lain, itu mungkin menjijikan tapi untuk Mio. Dia dengan senang hati akan menelan bukti cinta ku.


Sebenarnya, aku tidak ingin menanggapi suara itu. Hanya saja, sumber suara itu adalah pemilik tempat ini.


“Ah.. selamat pagi, Marquess Rommel” aku mencoba memberi salam hangat yang sudah lama tidak ku ucapkan.


“...”


“...”


“...”


“Umm.. Marquess Rommel. Bisa turunkan tubuh ku sekarang? Kurasa pantsu ku terlihat oleh mereka” walaupun aku tidak melihatnya, namun insting wanita ku bisa merasakan tatapan mesum dari Butler di belakang ku.


“Grrrr!!” Marquess Rommel merespon kata-kata ku dengan menurunkan tubuh ku dan menatap balik Butler yang melihat pantsu ku.


“Hiiieekk!!” beberapa Butler mengalihkan pandangan mereka dari tatapan mematikan Marquess Rommel.


“Ekhem, Lily.. boleh ku tahu pakaian apa itu?”


“Lalu.. apa yang sedang kau lakukan di sini?”


Pertanyaan yang terasa canggung itu keluar dari mulut Marquess Rommel. Di sampingnya, Sebastian memberi kode kecil yang menyuruh ku untuk menjawab pertanyaan Marquess Rommel.


“Ahh.. aku sedang melakukan percobaan kecil untuk memasak sesuatu. Apakah Marquess Rommel ingin mencicipinya?” jawab ku dengan tersenyum kecil.


“Kuuhu!!” beberapa Butler yang berdiri di belakang tubuh Marquess Rommel tiba-tiba terjatuh ke atas lantai. Kejadian itu membuat keributan kecil yang cukup menggangu Marquess Rommel.

__ADS_1


“Ekhem!” hanya dengan satu kalimat itu, suasana kembali hening.


“Lily.. apa kau mau membuatkan sarapan untuk kami semua?” tanya Marquess Rommel.


“Unnngg??” aku memiringkan kepala ku.


“Maksud ku.. untuk Alice, Alyssa, dan Ama-“


“Tentu saja!” sebelum Marquess Rommel menyelesaikan kata-katanya. Aku menjawabnya dengan penuh keyakinan. Melihat jawaban ku yang cepat ini, Marquess Rommel terdiam memandangi ku.


“Kalau begitu.. Mioo..”


“Tolong ambilkan celemek untuk ku” perintah ku kepada Mio.


“I-Ini Lily-sama” sahut Mio. Melihat reaksi tubuh Mio yang kaku, sepertinya ia memahami situasi yang telah terjadi.


Aku menerima celemek pemberian Mio dan memakainya.


Hmm.. entah kenapa. Aku merasa seperti kekurangan sesuatu.


Benar juga!


“Mioo..”


“Y-Ya, Lily-sama?”


“Bisa bantu aku membuatnya?”


“Tentu saja!”


Aku hampir melupakan satu hal yang cukup penting.


“Marquess Rommel.. Umm.. A-Apa kau masih merencanakan pernikahan itu?” tanya ku dengan nada yang rendah.


Marquess Rommel tertegun setelah mendengar pertanyaan ku. Ekspresi wajahnya terlihat rumit, ritme nafasnya menjadi berat, dan gerutu kecil yang terdengar samar-samar.


“Hmm.. bukankah Ratu sudah berada di tangan mu?” balas Marquess Rommel.


“Ummm?” aku membalasnya dengan anggukan kecil. Aku juga tidak yakin, jika Ratu berada di pihak ku atau tidak. Kurasa, aku perlu memeriksa kesetiaan Ratu itu di lain hari.


“Kalau begitu, tidak ada alasan lain untuk memaksa mu melakukan semua itu” mendengar jawaban yang positif itu membuat tubuh ku terasa bahagia.


Tanpa sengaja, bibir ku menampilkan senyuman hangat.


“Umm.. Marquess Rommel. Boleh aku membisikkan sesuatu?” ucap ku.


“K-Kenapa Lily? Apa itu sulit dikatakan?” tanya Marquess Rommel.


“Y-Ya, ini harus di dengar oleh telinga Marquess Rommel saja.”


Marquess Rommel perlahan menurunkan tinggi badannya. Aku lalu bergerak mendekati telinga Marquess Rommel untuk mengucapkan sesuatu.


“Terima kasih, Ayah” dengan ucapan singkat itu, aku mencium pipi Ayah ku dan kembali ke sisi Mio.


Aku melihat ekspresi wajah Ayah ku yang dipenuhi kejutan. Wajah dingin itu perlahan mengeluarkan senyuman yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Di sampingnya, Sebastian terlihat menangis dan menahan air matanya menggunakan sapu tangan.


Setelah kejadian kecil itu, aku mencoba memasak Samyang Carbonara sesuai petunjuk di kemasannya seperti merebus bahan utama, mengeringkan bahan makanan yang sudah matang, dan mencampurnya dengan bumbu yang telah dipersiapkan. Sebuah makanan sederhana yang mengeluarkan aroma sedap telah siap di hidangkan.

__ADS_1


Aku sangat percaya diri dengan hasil masakan ku ini. Semua berjalan lancar hingga kejadian kecil terjadi di ruang makan. Alice dan Alyssa menyeret tubuh ku untuk kembali ke ruang dapur demi mendapatkan porsi kedua dari Samyang Carbonara.


Sepertinya, makanan itu terlalu enak di lidah mereka.


__ADS_2