
"Saya terima Nikahnya Siska Raihani bin Muhammad Arif dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai," dengan satu tarikan nafas Ivan mengucapkan ijab qabul dengan lancar,
"Bagaiman para saksi, sahh?" Tanya sang penghulu kepada para saksi,
"Sah." Jawab mereka serentak.
Semua tersenyum bahagia termasuk kedua orang tua mereka.
Siska Raihani seorang wanita berparas cantik, serta keras kepala, Dia anak tunggal dari keluarga Wijaya, Dia dijodohkan oleh Ayahnya dengan anak temannya,
Cowok yang sama sekali tidak dikenal oleh Ririn, tetapi karena tidak ada pilihan Ririn terpaksa menerimanya.
***
Setelah semua tamu pergi satu persatu, Ririn sudah diizinkan masuk kekamar. Ririn membanting tubuhnya dikasur lembut miliknya yang dihiasi dengan taburan bunga mawar,
"Apes bangat hidup gue," sambil mengaruk-garu kepalanya yang tidak gatal,
Clik,,clik,,clik
Suara pintu pertanda bahwa ada orang yang mau masuk ke dalam kamar,
Dengan cepat Ririn langsung duduk karena pasti cowok itu yang akan masuk,
"Maaf," ucapnya karena tatapan kami beradu dalam hitungan detik,
'Aneh," guramku dalam hati karena dia langsung menundukkan pandangannya,
Ku lirik Ivan sedang asik membaca sebuah buku di sofa yang berada dikamar, buku yang sangat tebal entah buku apa itu Aku tidak tau.
Aku tidak memperdulikannya langsung kutarik selimut dan merebahkan tubuhku, menuju kealam mimpi.
Aku terbangun di tengah malam karena kebelet, Ku lihat ada seseorang yang sedang tertidur di sofa, tanpa menggunakan selimut.
Entah kenapa malam ini hatiku merasa tidak tenang hingga jarum jam menunjukkan tiga puluh menit lagi jam tiga pagi,
Ririn mendengar kalau ada seseorang yang sedang berada dalam kamar mandi,
"Ya ampun boros banget, cuman buang air kecil tapi menggunakan air seperti yang mandi saja," guramku dalam hati, Ririn terus saja memejamkan matanya agar dia bisa tertidur tapi hasilnya nihil, Ririn sama sekali tidak bisa tidur.
Suara rintihan air di dalam kamar mandi sudah tidak lagi terdengar, mungkin Ivan telah selesai mandi.
Hari ini Ririn bangun kesiangan, Ririn melihat setiap sudut kamarnya untuk mencari seseorang,
"Di mana Dia?" Mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ririn bergegas pergi kekamar mandi yang sudah tersedia di dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri. Ririn turun kelantai bawah untuk mengambil sarapan.
Seperti biasanya dirumah sepi tidak ada Papa dan Mama Ririn.
Mama Ririn seorang wanita karir dan memiliki perusahaan sendiri begitu juga dengan Papanya, Ririn memang terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya akan tetapi Ririn kurang mendapat kasih sayang dari orangtuanya hingga membuat perilakunya menjadi buruk.
"Bi." Teriak Ririn yang baru saja turun dari tangga,
Terlihat wanita paruh baya sedang berlari kecil menuju sumber suara,
"Iya ada apa non?" Tanya Bi mila seorang Art dirumah Ririn,
"Saya mau keluar sebentar dulu, kalau ada yang cariin saya, bilang aja Saya mau ke Minimarket!" Ririn menekan setiap kalimat yang keluar dari lisannya.
"Iya Non." Ucap Bi Mila.
________
Ririn terkejut karena di teras Ivan sedang duduk menikmati kopi,
"Kamu mau kemana?" Tanya Ivan dengan muka datar,
"Mmm Mau ke," Ririn bingung mau jawab apa karena Ririn akan pergi ke acara pembalapan motor liar, sebagai ketua genk jadi Ririn harus ikut dalam pertandingan ini.
"Mau kemana?" Ivan mengulang pertanyaannya,
"Mau ke Minimarket." Ucap Ririn dengan satu tarikan nafas panjang.
Ririn bergegas ke bagasi penyimpanan motornya,
Betapa terkejutnya Ivan saat melihat Ririn keluar dari bagasi penyimpanan kendaraan,
dengan menarik keluar motor sport.
Ivan dengan cepat menghampiri Ririn,
"Buat apa motor ini?" Ucap Ivan sambil membantu Ririn untuk mendorong motornya keluar,
"Nggak usah bantuin." Ucap Ririn karena Ririn orangnya nggak suka dibantuin,
"Di pakailah massa di makan." Ucap Ririn dengan ketus.
"Kenapa Kamu tidak pergi menggunakan mobil?"
"Karena Saya tidak suka." Ucap Ririn menaiki sepeda motornya dan menggunakan helm
"Bagaimana kalau Kamu kecelakaan?"
__ADS_1
"Kamu ngatain saya supaya kecelakaan ha!" Dengan menaikan sedikit suaranya.
"Bukan begitu maksud Saya." Ucap Ivan menahan emosinya karena suara milik istrinya lebih tinggi darinya,
"Udalah nggak usah banyak alasan, minggir sana saya mau pergi!" Ucao Ririn masih menggunakan nada yang sama.
Ivan langsung minggir dari motor Ririn,
"Ya Allah kuatkan hambamu ini, untuk menghadapi hari-hari berikutnya." Ucap Ivan sambil megelus dadanya.
________
Jarum jam menunjukkan pukul enam sore hari, Ivan mulai merasa cemas karena sejak dari pagi Istrinya belum pulang kerumah, sudah berapa kali Ivan mencoba menghubungi Istrinya tapi hasilnya nihil Ririn masih tidak bisa dihubungi.
Suara motor milik Ririn memasuki halaman perkarangan rumah dengan sedikit mengganggh pendengaran orang karena suara motornya sangat bising, Ivan langsung membuka gorden kamarnya dan melihat kebawah ternyata benar itu suara motor Ririn.
Plak,,
Ririn menutup pintu kamar cara membantingnya hingga membuat orang yang mendengarnya terkejut, begitulah yang dialami Ivan sekarang terkejut sangat hebat dan hampir saja jantungnya mau copot.
Ivan langsung melihat wajah Istrinya yang sangat kusam, dan segera mengalihkan pandangan melihat ponselnya.
"Ini semua gara-gara Kamu!" Ririn menunjuk muka Ivan yang sedang duduk di sofa,
"Gara-gara Aku, memang apa salahku?"
"Karena Kamu semua menjadi seperti ini," dengus Ririn dengan kesal sampai tak sudih melihat wajah Ivan,
"Maksud Kamu apa, coba jelasin biar Aku bisa merubahnya." Ucap Ivan dengan melembutkan tutur katanya dan duduk disebelah Ririn,
"Jangan dekat-dekat dengan Saya!" Ririn menjauh dari Ivan yang sedang duduk disampingnya.
Karena Ivan tidak mau perdebatan makin panjang, Dia memutuskan untuk pergi dari kamar, begitulah sifat Ivan disaat dia berada dalam masalah dia akan pergi untuk menenangkan diri.
Ririn merasa kurang enak hati kepada Ivan karena respon Ivan yang langsung saja pergi keluar dari kamar.
'Apakah dia marah?' Tanya Ririn dalam hatinya sendiri.
Ririn melirik jam yang sedang berada di dinding kamarnya, tiga puluh menit lagi jam sembilan malam, kenapa Ivan belum balik juga sejak perdebatan tadi sore Ivan menghilang tanpa jejak.
Pintu kamar terdengar terbuka ternyata itu Ivan, Ivan meletakan kopiah yang ia pakai tadi, dan menyimpannya di kemari bajunya, tak sedikit pun Ivan melirik kearah Ririn, Ivan langsung saja kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai Ivan keluar, ternyata Ririn masih belum bisa tidur karena merasa bersalah soal yang tadi.
Ivan mengambil gawainya di laci meja rias Ririn,
Entah apa yang dibaca Ivan membuat wajahnya mejadi merah dan kusam sekali, tanpa Ivan sadari ternyata Ririn memperhatikan setiap gerak gerik Ivan.
__ADS_1
"Ada apa yang terjadi dengannya?" Gumam Ririn dalam hati.
#Bersambung