
"Iyalah," ujar Ivan diiringi dengan senyuman.
Setelah mereka selesai memakan es krim. Ivan dan Ririn kembali melanjutkan perjalanan, di dalam mobil keduanya hanya terdiam Ririn sedari tadi menatap keluar jendela kaca mobil sedangkan Ivan hanya fokus kedepan untuk menyetir mobil.
Ririn tersenyum sendiri karena merasa sangat bahagia setelah sekian lama senyumannya telah pudar.
Ivan dan Ririn telah menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam, mereka tiba disebuah apartemen.
Ivan memarkir mobilnya di tempat parkir dan setelah itu ia menurunkan semua barang-barang mereka dan membawanya di lantai dua bersama denga Ririn dan satpam.
Apartemen meraka tidak terlalu besar hanya ada satu kamar, ruangan tamu dan dapur. Walaupun sedikit sempit tapi itu tidak di permasalahkan oleh Ririn. Ririn langsung duduk disofa ruangan tamu sedangkan Ivan membawa semua koper mereka di kamar.
Ririn merasa bingung karena di sini cuman ada satu kamar, apa mereka akan tidur dikamar itu berdua. Tidak, itu tidak boleh terjadi.
"Rin, kita makan diluar saja karena di dapur masih belum ada makanan yang bisa di makan," jelas Ivan kepada Ririn.
"Ayok," jawab Ririn beranjak dari duduknya dan segera mengikuti langkah Ivan yang sudah mau keluar.
Ivan meraih tangan Ririn dan menggandengnya dengan cepat Ririn menarik tangannya.
"Apaan sih, cari-cari kesempatan saja," ujar Ririn yang masih berbicara dengan ketus.
"Memanganya nggak boleh ya?" tanya Ivan melihat wajahnya Ririn.
"Nggak lah!" ujar Ririn mempercepat langkahnya agar Ivan tidak melihat wajahnya yang sudah berwarna merah jambu,
"Kenapa aku jadi malu ya?" gumam Ririn dalam hatinya.
"Aneh, cuman digituin saja sudah marah apalagi kalau," guram Ivan karena bingung dengan tingkah laku istrinya.
"Rin, tungguin aku dong," ujar Ivan sambil berlari kecil untuk mengejar Ririn yang jaraknya lumayan jauh.
Di dalam mobil keduanya hanya diam saja tidak ada diantara mereka yang ingin memulai pembicaraan. Sesekali Ivan melirik Ririn yang sedang terdiam saja sedari tadi.
"Rin, kamu mau makan dimana?" tanya Ivan.
"Di mana saja terserah kamu," jawab Ririn.
Ivan memarkirkan mobil di sebuah rumah makan yang sangat terkenal di kota ini.
Keduanya saling memesan makanan mereka masing-masing, keduanya hanya asyik memakan makanan tanpa adanya komunikasi satu sama lain. Setelah selesai makan mereka kembali melajutkan perjalanan untuk pulang ke apartemen. Sebelum pulang Ririn dan Ivan mampir kesupermarket terlebih dahulu,
"Rin, kita mampir kesupermarket dulu untuk membeli isi kulkas."
"It's ok," jawab Ririn dengan santai.
Ivan mendorong keranjang belanja yang telah tersedia dan segera mengambil barang apa saja yang mau untuk dibeli. Ivan yang memilih semuanya sedangkan Ririn hanya mengikutinya saja.
Ririn hanya mengambil permen longbar sebanyak tiga kotak.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Ivan yang kebingungan melihat istrinya yang memasukan permen longbar di dalam keranjang.
__ADS_1
"Suka-sukaku lah, kamu nggak mau bayar ya?" tanya Ririn karena tak terim Ivan menegurnya untuk membeli banyak permen.
"Kalau aku nggak mau bayar gimana?" ujar Ivan.
"Kamu tenang saja, aku punya uang kok untuk bayar barang belianku," ucap Ririn pergi meninggalkan Ivan dengan membawa tiga kotak permen longbar ditangannya.
Barang balanjaan Ivan dan Ririn lumayan banyak untuk persiapan satu bulan kedepannya. Di apartemen Ivan membantu Ririn untuk bersih-bersih mulai dari memasukkan satu persatu baju di dalam lemari sampai memasukkan cemilan di dalam kulkas. Semua pekerjaan cepat selesai apabila di lakukan dengan kerjasama begitu juga dengan mereka, pekerjaan yang mereka kerjakan sudah terselesaikan.
Ririn meringis kesakitan karena ia merasakan perutnya keram,
"Aww."
"Kamu kenapa?" tanya Ivan melihat ekspresi Ririn yang kesakitan sambil memegang kedua pinggulnya.
"Kamu sakit perut ya," ujar Ivan khawatir dan segera ke kamar untuk mengambil minyak kayu putih yang akan dioleskan diperut Ririn.
Ririn sudah berada di dalam kamar mandi dan ternyata sekarang Ririn sedang kedatangan tamu yang tak diundang.
"Aww, bagaiman ini aku sudah lupa bawa roti juga," gumam Ririn dengan meringis kesakitan.
"Rin, kamu dimana?" Ivan sedikit berteriak karena Ririn sudah tidak ada dikursinya.
"Aku di dalam sini," jawab Ririn dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana apa sakitmu sudah mulai meredah?" tanya Ivan dengan khawatir.
"Kak Ivan," ucap Ririn yang suaranya hampir tidak bisa terdengar.
"Ia kenapa Rin?" tanya Ivan yang mulai merasa khawatir dengan keadaan Ririn di dalam sana.
"Boleh," jawab Ivan.
Tanpa berpikir panjang Ririn mengirimkan pesan kepada Ivan melalu WhatsApp.
'Kak tolong beliin roti gabus di minimarket terdekat." Isi pesan dari Ririn.
'Maksudnya apa, kakak bingung." Ivan kembali mengirim pesan kepada Ririn.
'Kakak ke minimarket saja, setelah sampai disana kakak telphon aku, terus berikan gawai kakak kepada kasir tapi kasirnya harus cewek." Balas Ririn.
Terlihat dua centang biru berarti Ivan telah membaca pesannya.
"Ada-ada saja," gumam Ivan.
"Tunggu sebentar dulu, Kakak sekarang mau pergi kesana kamu jangan kemana-mana ya." Tanpa berpikir panjang Ivan langsung pergi ke minimarket yang dekat dengan apartemen mereka.
Butuh waktu sepuluh menit akhirnya Ivan sampai keminimarket.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya seorang kasir perempuan yang melihat Ivan yang sedari tadi kebingungan.
"Maaf sebelumnya mbak, apa mbak bisa bantu saya untuk mencari barang pesanan saya," ujar Ivan dengan sopan.
__ADS_1
"Yang mana Pak?" tanya kasir tersebut.
"Sebentar ya," ujar Ivan segera menghubungi nomor istrinya.
Ivan memberikan ponselnya kepada kasir tersebut, entah apa yang mereka bicarakan yang Ivan tau hanyalah kasir tersebut tersenyum.
"Sebentar ya Pak, saya ambilin dulu pesananya," ujar kasir tersebut dan mengembalikan ponsel Ivan.
Kasir itu membawa plastik hitam yang isinya entah apa,
"Ini pak," ujar kasir itu memberikan pesanan kepada Ivan.
"Berapa?" tanya Ivan memberikan uang yang ber lembar merah.
"Terimakasih," ucap kasir dan mengembalikan uang yang lebih. Ivan hanya tersenyum dan segera menuju mobil agar pesanan Ririn sampai ketangannya.
"Ini Rin," ucap Ivan yang menunggu di depan pintu kamar mandi.
"Mana, tapi terlebih dahulu, kakak pejamkan matanya," ujar Ririn dari dalam kamar mandi.
"Iya," jawab Ivan yang menutup matanya.
"Jangan ngintip ya," ujar Ririn sambil mengambil plastik di tangan Ivan.
Setelah selesai Ririn kembali keluar dari kamar mandi, di lihatnya Ivan sedang asyik membaca buku.
"Rin, kamu tadi kenapa?" tanya Ivan yang masih fokus membaca buku yang berada ditangannya.
"Nggak kenapa-napa," jawab Ririn dan duduk di samping Ivan.
"Massa tapi kamu kelihatan kesakitan," ucap Ivan khawatir dengan keadaan Ririn.
"Entah, aku mau ke kamar dulu," ujar Ririn berlalu meninggalkan Ivan.
"Dasar wanita aneh," guram Ivan.
Di dalam kamar Ririn terlelap tidur dikamar karena kecapean selama seharian ini. Begitu juga dengan Ivan terlelap tidur di sofa di ruang tamu.
Ririn sengaja memasangkan alaram di sepertiga malam agar ia bisa melaksanakan sholat tahajjud.
Dringgg, dringg,
Alaram Ririn berdering tetapi Ririn masih belum juga terbangung. Alaram sudah beberapa kali berdering hingga membuat Ivan terbangun.
"Bunyi apa itu?" tanya Ivan sambil mengucak-ngucek matanya. Dengan langkah sedikit berat Ivan berjalan kearah bunyi tersebut. Bunyi itu berasal dari dalam kamar.
Ivan masuk karena Ririn lupa untuk mengunci pintu.
"Yaampun pasang alaram tapi nggak bangun-bangu, memang dasar istri kebo," ujar Ivan menghampiri alaram dan segera menekan tombol off.
"Ya Allah sekarang sudah jam setengah tiga," ucap Ivan dan mencoba untuk membangunkan Ririn.
__ADS_1
"Rin, ayo bangun."
#Bersambung.