#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 10 #Rifqa


__ADS_3

Ivan kembali teringat tentang Rifqa sang kekasih. Berulang kali Ivan mencoba untuk membuka hatinya untuk Ririn tetapi hatinya masih dipenuhi oleh cinta Rifqa membuat Ivan sulit untuk membuka hatinya kembali.


Hari ini Ivan berangkat lebih awal kekantor karena besok dia akan berangkat keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Persi pak." Ucap seorang karyawan memasuki ruangan Ivan.


"Ia, silahkan masuk." Jawab Ivan.


"Apakah Bapak sudah siap untuk berangkat besok?" Tanya karyawan untuk memastikan apakah Ivan sudah siap untuk pergi keluar kota.


"Sudah, memangnya saya akan pergi ke kota mana?" Tanya Ivan dengan eksperesi datar.


"Masih belum ditentukan Pak." Jawab Karyawan dengan tersenyum.


Ivan hanya menjawab dengan ber'oh' saja dan karyawan itu keluar dari ruangan Ivan.


Hari ini Ivan pulang cepat karena harus beres-beres untuk keperluan besok.


Ivan berniat untuk memberitahu tentang pekerjaannya yang akan dilakukan diluar kota.


Ririn sedang duduk ditaman belakang rumah, dirumah Ririn terdapat taman kecil yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga dan memiliki pemandangan yang indah.


"Rin." Ucap Ivan sambil duduk disamping Ririn.


"Mmm." Jawab Ririn yang sedang asik memainkan gawai miliknya.


"Cuek amat sih." Ivan memandang wajah cantik milik Ririn dari samping.


Ririn tidak memperdulikan ocehan dari Ivan, Ririn masih asik memainkan gawainya.


Menit kemudian keheningan tercipta. Ririn asik dengan gawainya sedangkan Ivan asik menikmati pemandangan taman yang indah. Ivan mengambil gawai dari tangan Ririn hingga membuat Ririn terkejut.

__ADS_1


"Kembalikan ponselku." Ucap Ririn yang berusaha mengambil gawainya yang sedang berada ditangan Ivan.


"Nggak mau." Jawab Ivan, kemudian dia berdiri hingga membuat Ririn menjadi sulit meraih ponselnya. Postur tubuh Ririn yang kecil tak bisa menjangkau postur tubuh Ivan yang tinggi.


"Kembalikan." Ucap Ririn melompat-lompat berusah meraih ponselnya.


"Ambil sendiri." Ucap Ivan yang semakin meninggikan tangannya supaya Ririn tidak bisa meraihnya.


Ririn berusaha meraih ponselnya ditangan Ivan tetapi hasilnya nihil. Ririn berhenti sejenak dia berpikir bagaimana cara supaya Ivan menurunkan tangannya dan bisa meraih ponselnya. Semenit kemudian Ririn mendapat ide bagaiman cara supaya ponselnya kembali, Ririn kemudian menggelitik pinggang Ivan hinggan seketika Ivan menurunkan tangannya dan tertawa terbahak-bahak.


"Rasain loh." Ucap Ririn dengan mengejek Ivan dan berlari menuju kamar.


"Awas aja yah, tunggu pembalasanku." Jawab Ivan mengikuti Ririn dari belakang.


Ririn terduduk dikasur dan Ivan menghampirinya.


Ivan menggelitik pinggang Ririn dan juga ikut tertawa, hingga membuat Ririn menggelinjang kegelian dan menjauhkan tangan Ivan.


Ivan tetap menggelitik dan akhirnya memeluk tubuh Ririn.


Entah kenapa perasaannya sangat bahagia ketika ia dipeluk oleh Ivan.


"Rin." Ucap Ivan sedikit merasa canggung dan menyandarkan kepalanya dipundak perempuan yang sedang ia peluk dari belakang.


"Mmm." Jawab Ririn menyembunyikan rasa malunya.


"Aku mau bilang sesuatu." Ivan sedikit ragu-ragu untuk memberitahu bahwa besok ia akan pergi keluar kota.


"Mau bilang apa, bilang saja." Jawab Ririn diiringi senyum bahagia.


"Aku besok akan pergi keluar kota besok pagi," ucap Ivan menghentikan sebentar, Wajah Ririn seketika menjadi cemberut.

__ADS_1


"Tapi nggak lama-lama kok, cuman seminggu." Lanjut Ivan.


Ririn hanya ber'oh' saja.


"Nggak apa-apa kan?" Tanya Ivan kepada Ririn.


"Ia ngak apa-apa," jawab Ririn,


"Tapi ngapain kamu keluar kota?" lanjut Ririn.


Seketika Ivan membalik tubuh Ririn, sekarang Ivan dan Ririn saling berhadapan, netra mereka berdua saling berpadu dengan detak jantung yang berdebar tak karuan.


"Buat cari nafkah untuk keluarga kita." Jawab Ivan dengan senyuman manis dan menampakan gigi gingsulnya. Jantung Ririn berdebar dengan kencang.


"Dasar modus." Ucap Ririn dan kemudian menundukan kepalanya menatap sprai.


Mereka berdua saling bercanda hingga mereka terlelap tidur diranjang. Ivan terbangun tengah malam seperti biasa Ivan melakukan Sholat Tahajjud, Ivan melepaskan tangan Ririn yang melingkar dipinggangnya dengan lembut dan pelan. Ivan mengecup kening Ririn. 'Bantu Aku untuk bisa melupakan masa lalu ku, dan bisa membuka hati kembali." Gumam Ivan dalam hatinya dan segera beranjak dari ranjang untuk pergi mengambil wudhu dikamar mandi.


Setelah menyelesaikan Sholat Tahajjud. Ivan kembali membaringkan tubuhnya disofa, dan memejamkan matanya. Ivan beristrahat agar dia besok tidak kecapean diperjalanan.


"Bangun sudah pagi." Ucap Ririn membangunkan Ivan.


"Mmmm, jam berapa sekarang?" tanya Ivan mengucek matanya.


"Jam sepuluh pagi." Jawab Ririn menahan ketawanya.


"Apa, yaampun aku kesiangan." Ivan beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, Ivan keluar dari kamar mandi dan melirik jam.


"Yaampun kamu mengerjai aku yah." Ucap Ivan menghampiri Ririn setelah melihat jam di dinding bahwa sekarang jam setengah tujuh bukan jam sepuluh.

__ADS_1


Seketika ketawa Ririn pecah setelah menahannya dengan susah payah.


#Bersambung


__ADS_2