#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy

#Ceo Tampan dan Cewek Tomboy
Part 4 #Kado di lemari


__ADS_3

"Kenapa, Aku bisa menjadi gugup seperti begini?" Ririn merasa bingung dengan perasaan yang dia rasakan sekarang.


"Apakah Aku," guram Ririn dalam hati dan mengacak-mengacak rambutnya.


"tidak-tidak, mana mungkin aku mencintainya."


Sudah hampir setengah jam Ririn mengurung dirinya dikamar mandi.


Ririn membuka pintu kamar mandi, dicarinya Ivan ternyata Ivan sudah tidak ada dikamar.


"Owh, Syukurlah dia sudah keluar." ucap Ririn merasa legah.


Pagi yang cerah seperti biasanya Ivan berangkat kerja, sebagai seorang CEO, ia harus profesional tidak boleh terlambat dan harus tepat waktu. Ivan orangnya sangat gigih untuk bekerja.


"Aku pamit dulu. nanti malam aku akan pulang larut malam karena harus lembur." ucap Ivan kepada Ririn dan pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai mobil.


Setelah Ivan pergi. Ririn kembali masuk kerumah dan pergi kekamar. Hari ini Ririn tidak akan pergi nongkrong lagi dengan teman-temannya karena dia sangat benci apabila dia akan bertemu dengan Leni.


Ririn merapikan isi lemarinya, Ririn berniat untuk merubah sikap buruknya menjadi baik.


"Apa ini?" ucap Ririn dengan memegang sebuah kotak yang ia dapat dilemari tempat bajunya Ivan.


"kado buat siapa?" lanjut Ririn.


Ririn membawa kotak itu diranjang, perlahan Ririn membuka kotaknya, betapa terkejutnya Ririn saat melihat isi kotaknya.


"Buat siapa baju-baju ini?" ucao Ririn dengan nada agak emosi karena tak terima. Karena pakaian ini pakaian wanita muslimah, kan Ivan tau Ririn tidak suka memakai pakaian seperti begini.

__ADS_1


Ririn mengacak-ngacak isi kotak tersebut dengan mendapat sebuah surat.


"Buat Istriku."


"Aku berharap suatu hari nanti Aku mendapat seorang istri yang sholeha yang bisa menerima Aku apaadanya.


Wahai tulang rusukku yang hilang,


Semua isi kotak ini ku serahkan untukmu


Hanya ini yang bisa ku berikan untukmu.


Setiap doaku pasti kuselipkan namamu


Supaya kelak kita bisa bersatu sampai


Maut memisahkan kita.


Ririn tak kuat lagi membaca surat ini walaupun surat ini masih ada sambungannya. Tangannya bergetar, bibirnya juga bergetar karena membaca isi surat, dadanya pun terasa nyeri, sesak dan sakit. perasaan ini lah yang dialami Ririn sekarang.


"Buat siapakah kotak ini?" tanya Ririn dengan berlinag air mata.


"apakah Ivan mempunyai seorang kekasih sebelum menikah denganku?" lanjut Ririn dengan air mata yang mengalir sangat deras.


Ririn menangis hampir lima belas menit, hingga membuat mata Ririn menjadi sembab.


"Ririn kamu kok jadi cengeng, kamu kan wanita kuat!" gumam Ririn dengan kasar menyingkirkan air mata yang masih berada diujung matanya.

__ADS_1


Kemudian Ririn kembali meletakan kotak tersebut ditempat semula, dilemari pakain Ivan.


Pernikahan Ivan dan Ririn sudah satu bulan tetapi meraka masih belum melakukan sesuatu yang seharusnya telah dilakukan sekian lama, jangankan melakukan itu tidur seranjang pun mereka tak pernah.


Sikap Ivan terhadap Ririn masih sama seperti biasanya tidak ada yang berubah, tetapi Ririn merasa cemas bagaimana nanti kalau Ivan akan mencampakan dirinya demi wanita lain, wanita yang akan diberi hadiah itu.


Seminggu telah berlalu setelah Ririn mendapat kotak di lemari pakaian Ivan.


Wajah Ririn menjadi kusut, dia juga tak enak hati jika menanyakan soal hal itu.


Ivan yang melihat ekspresi Ririn menjadi bertanya-tanya.


"Apa ada masalah?" tanya Ivan, dan menghentikan aktivitas makan malam, Ivan dan Ririn sekarang lagi makan berdua di meja makan.


"Tidak ada." jawab Ririn tanpa mengehentikan aktivitas makannya.


"Kamu jangan berbohong?" selidik Ivan karena Seminggu ia memperhatikan Ririn banyak perubahan mulai dari caranya berbicara dan berpakaian tetapi wajahnya sangat kusut mengganggu pemandangan.


"Nggak, Aku tidak berbohong?" Ririn mengelak. Setelah selesai makan Ririn langsung masuk kedalam kamar meninggalkan Ivan sendiri dimeja makan.


"Ada apalagi dengannya?" gumam Ivan dalam hati, sambil menarik nafas panjang dan segera menyusul istrinya di kamar.


Dikamar wajah Ririn menjadi sangat kusut karena selalu kepikiran dengan isi kotak itu.


"Ada masalah, coba berbagi cerita kepadaku, apakah teman-temanmu masih membullymu?" berbagai pertanyaan dilontarkan Ivan tetapi hasilnya nihil tak satupun dari pertanyaan Ivan dijawab oleh Ririn. Ririn hanya terdiam.


"Apakah kamu menyesal telah menikah denganku?" mungkin ini pertayaan Ivan yang terakhir, Ririn melihat wajahnya Ivan.

__ADS_1


"Maaf jika Aku selalu menyakitimu," lanjut ivan.


#Bersambung.


__ADS_2