
Ririn kembali menutup pintu apartemennya. Ia berjalan ke arah seorang Mbak make over.
"Boleh, saya lihat busana yang anda akan pakai?" tanya Mbaknya dengan sopan.
"Tentunya, saya ambilkan dulu tunggu sebentar.'" Ririn berjalan menuju kamar dan mengambil baju yang dikirimkan oleh Ivan yang ia letakkan di dalam lemari setelah di setrika.
"Ini mbak."
"Apa mbak sudah mandi?"
"Belum," ucap Ririn sambil geleng-geleng kepala.
"Ya ampun bagaimana mbak ini, sekarang mbak mandi setelah itu saya akan me make over mbak," ucapnya dengan panjang kali lebar.
Menurut Ririn hal itu terlalu lebay.
"Iya, mbak tunggu di sini dulu," ujar Ririn bergegas ke kamar mandi.
Nita masuk ke ruangan Desi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena itu hal yang sudah terbiasa bagi mereka berdua.
"Des, aku mau nanya sesuatu?" tanya Nita dengan intonasi menyelidiki sesuatu.
"Mau tanya apa?" jawab Desi dengan singkat karena ia sibuk mengetik di papan keyboard untuk laporan akhir tahun perusahaan.
"Kau jujur aja, apa kah kau suka sama CEO baru itu?" tanya Nita nyorocos sambil berbisik di telinga Desi.
"Kenapa kamu bisa tau?" tanya Desi gelalapan ia takut kalau Nita akan marah padanya.
"Aku tahu dari setiap gerak gerikmu terhadap CEO baru itu, siapa namanya?"
"Namanya Pak Ivan," jawab Desi singkat.
"Apa benar kau suka padanya?"
"Suitttt, suara melengking sekali, nanti gimana kalau para karyawan mendengar tentang hal ini," ucap Desi sambil membekam mulutnya Nita.
"Maaf, aku tidak sengaja kau tahu kan memang suaraku begini dari dulu, apa kau suka dengannya?" tanya Nita dengan suara pelan.
"Sini aku bisikin," sambil mendekati wajahnya pada telinga Nita.
"Bilang apa kau, aku merasa geli kalau begini," ujar Nita menjauhkan tubuhnya dari Desi.
"Yaudah kalau nggak mau tau," ujar Desi dengan cuek.
"Iya\-iya maaf, kau mau bilang apa bilang aja," ujar Nita kembali mendekatkan telinganya kearah Desi walaupun ia harus menahan rasa geli.
"Kamu janji jangan kasih tahu siapa\-siapa termasuk sama Angga," ujar Desi sambil menunjukkan jari kelingkingnya pada Nita, segera Nita meraih jari keling milik Desi itu berarti sebagai sebuah ikatan janji,
"Iya aku janji."
"Sebenarnya aku tidak tau mengapa aku bisa mencintainya, Aku sangat ingin menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya Nit," jelas Desi dengan pelan, semua kalimat itu berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Kau jangan terlalu berharap seperti itu Desi, menurutku itu sangat berlebihan." Nita memberi saran kepada sahabatnya yang sedang di mabuk oleh cinta.
"Aku tahu Nit, tetapi entah kenapa rasanya aku ingin memilikinya," ucap Desi dengan mata berbinar\-binar,
"apa ada yang salah jika aku mencintainya."
"Sebenarnya cinta kau itu tidak salah, tetapi kamunya aja yang pembawaannya berlebihan," ujar Nita sambil menertawai sahabatnya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Desi sambil memanyungkan bibirnya.
"Aku ikut bahagia karena kamu bahagia, pesanku cuma satu yaitu jangan pernah salah memilih lagi," ucap Nita menepuk pundak sahabatnya,
"Aku ke ruanganku dulu, karena masih banyak pekerjaanku," lanjut Nita sambil beranjak dari duduknya untuk keluar dari ruangan Desi.
"Pastinya," jawab Desi dengan ceria dan penuh semangat.
Setelah Ivan telah mempersiapkan semuanya, Ivan bergegas ke mesjid untuk sholat magrib, ia sengaja tidak langsung pulang ia mampir di rumah Angga untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Ivan dan Angga sudah mulai akrab, seperti seorang sahabat.
Setelah selesai melaksanakan sholat magrib Ivan langsung ke rumah Angga.
Sebelumnya Ivan telah mengirimkan pesan untuk Ririn bahwa ia akan datang menjemputnya tepat pada pukul delapan malam.
"Kamu mau kemana bro," ujar Angga merangkul bahu Ivan.
"Ada urusan penting," jawab Ivan dengan santai.
"Semoga kamu berhasil dan sukses bro," ucap Angga.
"Aamiin," jawab Ivan berlalu meninggalkan perkarangan rumah Angga.
Setelah selesai me make over Ririn, mbak itu memuji ke cantikan Ririn,
__ADS_1
"Cantik sekali."
Ririn melihat wajahnya melalui pantulan cermin, ini kedua kalinya ia di make over pertama di saat ia menikah dan sekarang yang kedua.
"Benarkah tetapi ini menurutku sangat aneh," ucap Ririn memperhatikan wajahnya yang sangat berubah dari sebelumnya.
"Aneh bagaimana mbak, benar mbak ini sangat cantik, anda memang dasarnya sudah cantik dan sekarang tambah cantik lagi," jelasnya yang tak henti\-henti menatap wajah cantik Ririn.
Ivan masuk ke dalam apartemen dengan mengucapkan salam,
"Assalamualaikum."
Ririn dan Mbak Diana segera menjawab salam dari Ivan,
"Waalaikumsalam."
"Mungkin itu suaminya Mbak sudah menjemput, saya permisi dulu," ujar Mbak Diana sambil memasukkan peralatan di dalam tasnya.
"Terimakasih," ucap Ririn sambil tersenyum bahagia serta merasa malu akan bertemu dengan Ivan.
"Iya sama\-sama Mbak," jawabnya berlalu keluar dari kamar Ririn.
"Istri Bapak ada di dalam, saya sudah selesai make overnya," ucap Mbak Diana.
"Terimakasih mbak," ucap Ivan sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya.
Ivan masuk ke dalam, di lihatnya wajah cantik milik Ririn melalui pantulan cermin.
Kedua netra mereka saling bertemu melalui pantulan cermin keduanya hanya saling melempar senyuman saja.
Ririn beranjak dari duduknya, ia berdiri tepat di hadapan Ivan. Mata Ivan tak berkedip sedikit pun karena memandang bidadari cantik yang berada di hadapannya sambil tersenyum\-senyum bahagia.
"Woy, kok loh lihat gue begitu, jelek ya," ucap Ririn dengan ekspresi murung.
Tanpa Ivan sadari kalimat itu langsung keluar dari mulutnya,
"Cantik sekali bagaikan bidadari syurga."
Ririn tersenyum hingga kedua pipinya terasa panas dan mungkin akan berwarna merah jambu untung pipinya sekarang di tutupi oleh makeup.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Ririn sambil memperhatikan penampilan Ivan yang makin terlihat tampan dengan memakai setelan jas navy yang senada dengan baju yang dikenakan oleh Ririn.
"Ayo ikut saja," ujar Ivan sambil menggandeng tangan Ririn dengan mesra.
Sepanjang perjalanan dari lantai dua menuju lantai bawah, beberapa pasangan netra memandang kami dan ada juga yang saling berbisik\-bisik,
"Mereka mesra sekali, pasangan yang serasi."
Mereka berjalan sambil tersenyum, entah kenapa sedari tadi senyuman menghiasi bibir mungilnya Ririn,
"Ya Allah apakah ini mimpi," gumam Ririn dalam hatinya.
Sesampainya di parkir Ivan membukakan pintu mobil untuk Ririn dengan senyuman manisnya,
"Silahkan masuk bidadariku."
Ririn langsung masuk dan duduk di samping Ivan, selama perjalanan kedua hanya terdiam tidak ada yang memulai percakapan.
Sesekali netra mereka bertemu tetapi dengan buru\-buru Ririn langsung mengalihkan pandangannya karena tidak berani untuk membalas tatapan dari Ivan.
Ivan memarkir mobil, mungkin tempat tujuan mereka sudah sampai.
Ivan menutupi mata Ririn dengan kain.
"Kamu mau bawa aku kemana, awas jangan macam\-macam." Ririn mengancam Ivan agar ia tidak macam\-macam.
"Iya, kamu ikuti aja," ucap Ivan sambil mengarahkan langkah Ririn.
Ivan membuka kain yang menutupi mata Ririn.
Betapa terkejutnya Ririn saat melihat ruangan gelap dan ia merasa ketakutan tetapi ada remang\-remang berwarna warni menambah kesan indah.
Tiba\-tiba sebuah tangan melingkar pada pinggang Ririn seseorang memeluknya dari belakang, menciptakan kehangatan dan jantung menjadi berdebar kencang.
Dalam hitungan detik semua ruangan bercahaya, Ririn langsung menoleh kebelakang. Ririn langsung terkejut, dengan tingkah Ivan yang berlutut di hadapannya. Ivan memberikan sebuah cincin bermata indah lengkap dengan kotak beludru merah.
__ADS_1
"Aku Ivan Wijaya menyatakan bahwa aku mencintaimu Siska Raihani," ucap Ivan dengan satu tarikan nafas panjang dengan perasaan yang dek\-dekkan.
Ririn terdiam saja tanpa merespon apapun saat Ivan mengungkapkan isi hatinya,
"Aku ingin kita menjalani mahliga rumah tangga berlandaskan cinta, apakah kamu sekarang mau menerima cinta tulusku ini untukmu," ucap Ivan dengan keringat dingin serta tangannya mulai terasa dingin.
Ririn bingung antara ia menerimanya atau tidak tetapi hatinya berkata bahwa ia harus menerimanya, ia juga mencintai Ivan.
"Apakah kamu yakin ingin memulainya bersamaku," tanya Ririn dengan ragu\-ragu.
"Memang mulanya aku kurang yakin tetapi seiring berjalannya waktu aku yakin bahwa aku akan memulainya dari awal bersamamu," ucap Ivan mengutarakan isi hatinya.
Ririn memandang dalam\-dalam netra Ivan dia mencari kebohongan dari netra elang itu tetapi kebohongan tidak ia dapat, mungkin Ivan bersungguh\-sungguh atas ucapannya barusan.
Ririn tersenyum bahagia dan menganggukkan kepala yang berarti ia terima.
Dengan senyum bahagia Ivan melingkarkan cincin itu di jari manis milik Ririn.
Ivan langsung memeluk Ririn dengan perasaan bahagia bahkan Ivan mencium pipi kanan dan kiri Ririn beberapa kali tanpa henti\-henti.
Mereka berdua langsung duduk di meja yang telah tersedia, Ivan menggenggam erat tangan Ririn dan memulai pembicaraan,
"Walaupun sekarang mungkin kamu masih belum bisa mencintaiku sepenuhnya tetapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri bahwa aku telah mencintaimu," ujar Ivan panjang lebar,
"Pernikahan kita ini bermula karena perjodohan tetapi sekarang aku ingin pernikahan kita di landasi dengan cinta dan kasih sayang," lanjut Ivan dengan pelan.
"Apakah kamu memiliki perasaan yang sama seperti yang ku rasakan sekarang?" tanya Ivan dengan lemah lembut.
Ririn menarik nafas dalam\-dalam dan mulai menjawab setiap pernyataan dari Ivan,
"Aku juga m\-e\-n\-c\-i\-n\-t\-a\-i\-mu," ucap Ririn dengan terbata\-bata.
"Benarkah?" tanya Ivan dengan berjutah rasa cinta dan kasih sayang.
"Iya, aku juga ingin membangun mahliga rumah tangga bersamamu tetapi berjanjilah kamu tak akan mengkhianatiku," ujar Ririn dengan intonasi pelan.
"Iya aku janji," jawab Ivan tersenyum manis sambil menatap netra Ririn dalam\-dalam.
Mereka berdua menikmati makanan yang telah di sajikan di atas meja dengan perasaan bahagia dan saling menyuapi satu dengan yang lain.
Karena merasa bahagia Desi memutuskan akan mentraktir Nita untuk malam ini, mereka akan makan malam di luar.
"Kau yakin kita akan makan di sini?" tanya Nita yang masih ragu untuk makan malam di tempat seperti ini.
"Kalau aku tidak yakin aku tidak akan mengajakmu untuk makan di sini," jawab Desi sambil menarik tangan Nita untuk masuk ke dalam.
Nita sempat melihat sepasang kekasih turun dari mobil,
"Des, lihat mereka, aku jadi iri deh lihatnya," ucap Nita menepuk pundak Desi yang menarik tangannya masuk.
Desi menoleh ke belakang ia pun juga melihat pasangan itu dan bergumam dalam hatinya,
"Itu seperti mobil Pak Ivan, tetapi itu tak mungkin, Desi kamu nggak boleh berpikiran seperti itu."
Kedua pasangan itu membelakangi mereka hingga mereka tidak bisa melihat wajah sepasang ke kasih itu.
"Kau kenapa bengong saja, pasti kau ikutan iri juga kan," ucap Nita dengan suara khas melengkingnya.
"Nggak, itulah mereka mudah-mudahan aku bisa seperti itu dengan Pak Ivan," ucap Desi sambil senyum-senyum sendiri.
"Kau ini cuman bisa halusin nasi saja, lebih baik kita masuk, perut terasa sudah lapar," ujar Nita yang bergantian menarik tangannya Desi untuk masuk.
Desi berkhayal seandainya pasangan tadi adalah mereka berdua, sungguh dunia terasa milik berdua.
Desi terkekeh sendiri membuat Nita kebingungan dengan sikap sahabatnya.
"Desi kau ini kenapa, malu-maluin saja lihat mereka semua," ujar Nita membuyurkan lamuan Desi. Semua mata tertuju dengan Desi yang tersenyum tanpa ada alasan.
"Memangnya kamu tau asal usul Ivan, tempat tinggalnya, statusnya atau?" tanya Nita dengan panajang kali lebar.
"Kamu bisa diam, tenang saja apapun status Ivan aku akan tetap ingin memilikinya," ujar Desi dengan angkuh.
"Yaampun Desi kamu tidak boleh begitu bagaimana kalau Pak Ivan sudah memiliki keluarga?" tanya Nita dengan ekspresi iba dengan sahabatnya.
"Sudah ku bilang apa pun statusnya aku hanya ingin memilikinya walaupun menjadi yang kedua, tetapi ingat aku yakin bahwa Pak Ivan itu masih bujangan," jawab Desi dengan senyuman percaya diri.
"Syukurlah kalau dia masih bujangan, ingat kalau dia sudah berkeluarga kamu jangan dekatin dia lagi," ucap Nita menasehati sahabatnya.
"Terserah," jawab Desi sambil menyantap makanan yang tersedia.
Ivan dan Ririn akhirnya sampai ke apartemen dengan perasaan bahagia dan berbunga\-bunga.
Karena merasa saling mencintai Ririn memutuskan untuk mengizinkan Ivan tidur seranjang dengannya.
"Selamat malam sayangku," ucap Ivan dengan lembut sambil memeluk tubuh Ririn,
"Jangan lupa baca do'a," lanjut Ivan dengan intonasi lemah lembut.
\#Bersambung.
__ADS_1