
"Ya Allah perasaan kemarin malam aku nggak buat sesuatu," ucapnya mengikuti langkah Ririn yang sudah keluar sedari tadi.
Setelah itu Ivan pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan pergi kemesjid yang jaraknya dekat dengan rumahnya untuk sholat magrib. Sekarang Ririn sudah mulai rajin untuk melaksanakan kewajiban untuk sholat, setelah selesai sholat magrib Ririn turun kelantai bawah untuk makan malam, tetapi niatnya diurungkan karena malas akan bertemu dengan Celi. Ririn tidak jadi untuk turun kelantai bawah dia hanya duduk diatas ranjang dan kembali memainkan gawainya.
Tring,,,
Terdengar gawai milik Ivan berdering didalam laci, Ivan memang selalu meninggalkan gawainya dilaci apabila dia pergi sholat dimesjid, Ririn hanya mengabaikannya, setelah beberapa menit gawai milik Ivan kembali berdering Ririn merasa terganggu karena gawai milik Ivan selalu berdering.
Ririn beranjak dari ranjang menuju laci meja untuk mengambil gawa milik Ivan yang sedari tadi berdering. Ririn belum sempat membuka laci terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
"Ia tunggu sebentar." Ririn tidak jadi mengambil gawai Ivan yang berdering melainkan berjalan menunu pintu kamar.
"Kamu," ucap Ririn setelah membuka pintu terlihat jelas didepan matanya Celi yang sedang berdiri diambang pintu,
"Ngapain kamu kesini?" lanjut Ririn dengan eksperesi membuang muka.
"Saya kesini disuruh sama Umik, untuk memastikan keadaanmu," ujar Celi diiringi dengan senyuma.
Ririn hanya ber'oh' saja.
Mereka berdua turun bersamaan, dimeja makan sudah ada Umik dan Abah mertuanya dan suaminya. Ririn merasa segan untuk bergabung karena mungkin dia sudah ditunggu sedari tadi.
"Ayo Nak, kita makan bersama," ujar Umiknya Ivan.
Ririn hanya tersenyum dan sedikit merasa bersalah. Ririn duduk disamping Ivan yang telah duduk sedari tadi.
Setelah selesai makan Umik dan Abahnya pergi kekamar duluan sedangkan Ririn dan Ivan masih tetap duduk dei meja makan. Celi mengumpulakan piring-piring kotor di atas meja, Celi menatap Ivan dan Ririn sekilas dan setelah itu ia melanjutkan pekerjaannya. Entah mengapa perasaan Ririn terasa tersinggun karena Celi menatap Ivan sedangkan Ivan hanya bersikap biasa-biasa saja.
Ririn dan Ivan serentak berdiri dari duduknya,
"apaan ikut-ikutan berdiri," ucap Ririn yang masih kesal,
"siapa juga yang ikut-ikutan, kamunya aja yang selalu ikut-ikutan," ujar Ivan segera meninggalkan Ririn.
"Ini kan buktinya kamu yang ikutin aku ke kamar," ujar Ivan yang berada diambang pintu, Ririn hanya memutar bola matanya dengan malas.
Setelah itu Ririn pergi kekamar mandi Sedangkan Ivan berjalan menuju laci meja untuk mengambil gawai miliknya. Ivan menghidupkan gawainya tertera dilayar gawainya sebuah pemberitahuan bahwa hari ini Rifqa berulang tahun yang kedua puluh tahun, ekspresi Ivan menjadi kusut karena hari ini sang kekasih akan bertambah umurnya. Ririn keluar dari kamar mandi langsung menatap Ivan yang matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dasar cengeng, kayak anak kecil saja," ujar Ririn menyindir Ivan yang tengah menggantung handuknya dipintu kamar mandi.
Ivan melihat Ririn sekilas dan setelah itu ia kembali fokus dengan gawainya. Tanpa Ivan sadari ternyata sedari tadi Ririn memperhatikan gerak geriknya yang tengah menatap sebuah foto digawainya.
"Foto siapa itu?" gumam Ririn dalam hatinya, terlihat betul foto yang sedang Ivan lihat mirip dengan foto yang ia lihat diruangan keluarga kemarin siang.
"Apa itu adeknya atau," guram Ririn beribu pertanyaan ingin sekali Ririn tanyakan kepada Ivan mengenai foto wanita yang sedang ia lihat.
Ririn hanya mengabaikannya saja tetapi entah kenapa hatinya begitu perih ketika suaminya sedang melihat foto wanita lain.
Ivan meletakan kembali ponselnya diatas meja dan setelah itu ia ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, melaksanakan sholat isya. Ririn sedang asyik dengan gawainya entah kenapa tiba-tiba ia ingin melihat akun milik Ivan disosial media mulai dari Fecebook, twitter dan instagram ternyata hasilnya nihil tidak ada satupun akun yang bernama Ivan hardianto.
"Aneh, dia tidak memiliki satupun akun disosial media!" Gumam Ririn yang merasa jengkel.
"Jadi dia punya ponsel digunakan untuk apa?" tanya Ririn pada dirinya sendiri.
Karena asyik Ririn terkejut karena Ivan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. "Apa-apaan ini kenapa kamu tidur disini!" ujar Ririn dengan hati yang dag dig dug.
"Ini kan kamarku dan ini juga kasurku," sambil menepuk kasurnya,
"Owh, karena ini kamarmu kamu berhak semenang-menang gituh," ujar Ririn meletakan kedua tangannya didepan dadanya,
"Aku juga istrimu jadi aku berhak atas kamar ini," lanjut Ririn yang mulai emosi karena Ivan tidak menanggapinya.
"Baru tau ternyata kamu istriku," tanya Ivan membuka kembali netranya,
"Jadi menurutmu selama ini aku budakmu ha!" ujar Ririn dengan dada yang naik turun,
"Bukan begitu, selama ini aku kira kamu masih belum tahu bahwa statusmu sekarang sudah jadi istri," ujar Ivan menatap kedua netra milik Ririn.
"Maksud kamu apa!" ujar Ririn yang tak terima dengan ucapan Ivan barusan.
"Nggak bermaksud apa-apa kok," jawab Ivan dengan santai.
"Sini tidurlah malam sudah semakin larut perdebatannya besok saja dilanjutkan," ujar Ivan menepuk bantal yang berada disebelahnya.
"Nggak mau," jawab Ririn yang turun dari ranjang.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Ivan.
"Lebih baik aku tidur disofa itu dari pada tidur disampingmu," jawab Ririn santai sambil menunjuk sofa yang tersedia didalam kamar.
"Kalau kamu tidur disana, jangan harap malam ini kamu bisa tidur nyenyak!" Ivan mengancam Ririn, Ririn kelihatan bingung untuk mengartikan setiap kalimat yang keluar dari netra Ivan.
"Nggak, nggak aku masib belum siap," guram Ririn dalam hatinya, tidak ada pilihan lain selain tetap tidur disamping Ivan.
"Jangan lewati batas ini," ujar Ririn yang meletakan bantal dan guling diantara mereka berdua.
"Kalau aku melewatinya, bagaimana?" tanya Ivan yang melihat Ririn yang tengah sibuk membuat penghalang antara mereka.
"Kalau kamu lewati berarti kamu mau cari masalah denganku," jawab Ririn yang tengah menata setiap bantal. Ivan menarik satu bantal yang berada diantara mereka.
"Jangan," ucap Ririn menegur Ivan, tetapi Ivan tidak menghiraukannya Ivan kembali mengambil bantal penghalangnya.
"Kalau ku bilang jangan ya jangan!" ucap Ririn sedikit berteriak.
"Galak amat neng," ujarnya meletakkan kembali bantalnya ditempat semula.
Ririn telah selesai membuat batasannya dan sekarang ia membaringkan tububnya dikasur.
"Selamat malam, jangan lupa berdoa sebelum tidur," ujar Ivan memunggungi Ririn begitu pula dengan Ririn ia memunggungi Ivan.
"Mmm," jawab Ririn berusaha mentup kedua netranya.
Sampai sekarang Ivan masih belum terlelap untuk tidur sedangkan Ririn sudah tertidur sedari tadi.
"Maafkan aku yang masih belum mencintaimu sepenuhnya," ujar Ivan dalam hatinya menatap wajah sendu milik Ririn yang tengah terlelap tidurnya. Ririn memang wanita berparas cantik dan manis, Ririn mempunyai gingsul sama seperti yang dimiliki oleh Ivan. Ivan mengecup kening Ririn selama beberapa detik.
"Semoga aku bisa mencintaimu sepenuhnya," ujar Ivan dalam hatinya,
"dan bisa melupakan masa laluku," lanjutnya setelah itu membaringkan kembali tubuhnya dan membetulkan posisi tidurnya.
"Bertambahnya usiamu wahai pujaan hatiku, harapakanku semoga kamu baik-baik saja disana," ujar Ivan dalam hatinya dengan diiringi senyuman untuk sang kekasih.
#Bersambung
__ADS_1