
"Ada apa yang terjadi dengannya?" Gumam Ririn dalam hati.
Ivan masih sibuk memainkan gawai miliknya, makin lama muka Ivan menjadi kusut.
Ivan melirikku sebentar dan setelah itu dia kembali melihat gawainya.
Ivan mendengus pelan. Setelah itu dia pergi menuju kamar mandi dan meletakan gawai miliknya di tempat semula, didalam laci.
Ririn masih merasa curiga dengan keadaan Ivan dengan wajah yang kusut.
Ivan keluar dari kamar mandi dan berbaring disofa, serta menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Sekarang sudah tengah malam. Ivan dan Ririn masih belum bisa tidur, tetapi mereka hanya berpura-pura tidur.
Ivan mengira kalau Ririn telah tertidur pulas kemudian dia bangkit dari sofa menuju balokan.
Malam ini malam ketiga mereka serta ini malam ketiga Ivan menginap dirumah ini. Ternyata Ivan selama ini tidak bisa tidur di kamar ini sebab tidur di sofa membuat dirinya tidak nyaman.
Ivan duduk di balokan. Dia menatap bintang dan bulan yang sangat indah.
Suasana di luar sudah sangat hening, semua makhluk sekarang sudah beristirahat kecuali mereka.
Ririn melihat sofa tempat Ivan tidur, ternyata Ivan sudah tidak ada dan melihat jendela terbuka.
"Apakah, anak itu bunuh diri?" gumam Ririn.
Ririn bangkit dari ranjang pergi untuk menutup jendela yang terbuka.
Ririn ketakutan karena melihat sok-sok makhluk yang sedang duduk di balokan.
"Apakah itu Kak Ivan?" Gumamnya lagi.
Ririn mulai mendekati ternyata benar, yang duduk dibalokan itu Ivan.
Ivan kemudian bangkit dari duduknya mencoba untuk bisa pergi kealam mimpi dan beristirahat.
"Kok Adek disini!" ucap Ivan kepada Ririn.
"Aku lagi," jawab Ririn dengan sedikit gugup karena dia tertangkap basah oleh Ivan.
Kemudian Ivan kemabali masuk kedalam dan menutup jendela kembali.
"Sudah sana pergi tidur." ucap Ivan dengan lembut sambil manarik tirai jendela.
Ririn hampir saja terpeleset untung Ivan cepat menangkapnnya. Ririn terpeleset karena embun yang masuk melalui jendela yang terbuka hingga membuat lantai basah.
Tatapan keduanya bertemu hingga membuat jantung Ririn berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Setelah beberapa lama beradu pandangan Ririn memubuka pembicaraan.
"Nggak usah cari-cari kesempatan!" ucap Ririn dengan ketus dan kembali berdiri.
__ADS_1
"Maaf," ucap Ivan dengan lembut dan menundukkan pandangannya menatap lantai.
Entah kenapa Ririn merasa jantungnya berdebar sangat kencang.
"Ada apa denganku?" Gumam Ririn dalam hatinya.
Ivan menatap Ririn sekilas dan dengan cepat kembali menundukkan pandangannya.
Ririn pergi menuju ranjangnya sedangkan Ivan pergi kekamar mandi.
Ririn masih berusaha mengendalikan jantungnya yang berdebar kencang.
Ririn melihat Ivan kekuar dari kamar mandi. Melihat Ivan, jantung Ririn menjadi berdebar kencang.
Dengan cepat Ririn menarik selimut dan menutup wajahnya karena malu.
Ivan langsung merasa bingung dengan sikap istrinya.
______________
Pernikahan Ivan dan Ririn sudah satu minggu tapi diantara mereka berdua tidak ada komunikasi berbagi cerita dan masalah.
Hari ini Ivan akan kembali berkerja di kantor miliknya, setelah seminggu libur.
"Aku pergi dulu." Ivan pamitan kepada Istrinya.
"Mm," jawab Ririn.
Ririn tak menjawab salam dari Ivan.
"Waalaikumsalam."jawab Ririn dalam hati.
Ivan pergi meninggalkan perkarangan rumah dengan mengendarai mobil miliknya.
Setelah Ivan telah pergi jauh. Ririn juga bersiap-siap untuk pergi ketempat nongkrongnya.
----------
"Hai, Bro kenapa baru main kesini lagi?" tanya salah seorang teman Ririn.
"Hehehe, biasalah Bro." jawab Ririn santai.
"Ririn kan sudah punya suami, apalagi suaminya seorang Ustadz." sindir Leni temannya Ririn.
"Apaan ngomong kayak gituh!" ucap Ririn ketus pada Leni karena tidak terima dengan ucapan Leni barusan.
"Udah-udah, nggak usah ribut." ucap Mila temanya Ririn.
"Tapi benar kan, suami loh itu Ustadz!" ucap Leni,
"masa istri ustadz berpenampilan seperti ini!" ucap Leni dengan menunjuk penampilan Ririn yang memakai celana jeans yang sobek-sobekkan, dan tidak menggunakan hijab.
__ADS_1
"Kalau bicara hati-hati Leni!" ucap Ririn yang mulai emosi.
"hidup-hidup gue, kenapa eloh yang sewot,"
"sebelum menilai penampilanku, lihat dulu dirimu, penampilanmu pun lebih parah dariku!" ucap Ririn dengan menunjuk wajah leni. Ucapan Ririn juga tak kalah pedasnya dengan ucapan leni.
Leni tak terima karena Ririn menunjuk wajahnya.
Mereka berdua saling berdebat membongkar aib masing-masing.
"Dasar perempuan murahan!" ucap Ririn.
"Dasar Anak pungut!" ucap Leni yang tak kalah pedasnya.
"Kurang ngajar kau!" ucap Ririn.
Leni pergi meninggalkan teman-temannya, dan begitu pula dengan Ririn.
"Assalamualaikum." Ivan mengucapkan salam dan membuka pintu.
tidak ada satu pun yang jawab salam Ivan karena penghuni rumah entah kemana, sedangkan Bibi ada didapur sangat jauh jaraknya dengan pintu depan.
Ivan masuk kedalam kamar dilihatnya Ririn telah tertidur pulas diranjang.
"Tumben jam segini dah tidur?" ucap Ivan kebingungan.
"Apa dia sakit?" ucap Ivan dengan nada khawatir.
Ivan mendekati Ririn yang sedang tertidur.
Tanpa Ivan sadari tangan Ivan menyentuh dahi Ririn, ternyata badan Ririn tidak panas.
Satu tamparan berhasil melayang dipipi sebelab kiri Ivan.
"Aw,," Ivan sedikit meringis kesakitan, bukan main tamparan itu sangat kuat.
"Apa loh dekat-dekat, cari kesempatan aja kamu ini!" Ketus Ririn menambah satu tamparan lagi di pipi kiri Ivan.
"Kurang ngajar kali kamu, cuman tampangnya aja yang baik ternyata perilakunya busuk!" ucap Ririn dengan ketus.
Ririn mendaratkan tamparan ketiga dimuka Ivan, tetapi dengan cepat Ivan menahan tangan itu agar tidak menyentuh pipinya yang sudah amat sakit hingga berwarna merah.
Ririn menarik tangannya dari genggaman Ivan.
Ririn masih kesal kepada Leni karena ucapannya dan sekarang ia luapkan kepada Ivan.
Dada Ririn naik turun karena emosi.
"Ada apa denganmu?" ucap Ivan dengan menggunakan nada yang lembut karena Ivan harus bisa bersikap sabar terhadap perilaku istrinya.
"Nggak usah tanya-tanya!" kata Ririn dengan ketus.
__ADS_1
#Bersambung